Mentreng.com | Ogan Komering Ilir – Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern yang serba cepat, seringkali manusia terlupa akan tujuan akhir dari perjalanan hidupnya. Kesibukan mengejar materi, ambisi duniawi, dan berbagai kenikmatan sesaat, membuat banyak orang kehilangan arah dan makna sejati dari eksistensinya. Padahal, hakikat hidup adalah sebuah perjalanan sementara yang akan berujung pada kematian.
Kematian, sebagai sebuah kepastian yang tak terhindarkan, seharusnya menjadi pengingat bagi setiap individu untuk senantiasa mempersiapkan diri. Bukan berarti harus berhenti beraktivitas dan mengasingkan diri dari dunia, melainkan lebih kepada bagaimana menyeimbangkan antara urusan duniawi dan ukhrawi. Mencari nafkah, meraih pendidikan, dan membangun relasi sosial adalah bagian dari kehidupan dunia yang tidak boleh diabaikan.
Namun, semua itu hendaknya dilakukan dengan tetap berpegang pada nilai-nilai spiritual dan moral yang luhur. Jangan sampai kesibukan mengejar dunia membuat kita menghalalkan segala cara, melupakan kewajiban kepada Tuhan, dan mengabaikan kepentingan orang lain. Ingatlah, bahwa segala sesuatu yang kita lakukan di dunia ini akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak.
“Sejauh mana pun kita mengejar dunia, garis akhir yang pasti adalah kematian. Hidup ini dimulai dengan membuka mata dan diakhiri dengan menutupnya. Bukan kematian yang seharusnya ditakuti, melainkan bekal yang belum mencukupi untuk menghadapinya,” ujar Musrikin, Redaksi mediaipk.com, dalam sebuah kesempatan diskusi daring. Kutipan ini menjadi pengingat yang kuat akan pentingnya mempersiapkan diri menghadapi kematian.
Bekal yang dimaksud bukan hanya berupa harta benda atau jabatan yang tinggi, melainkan lebih kepada amal ibadah, ilmu yang bermanfaat, dan akhlak yang mulia. Semua itu akan menjadi penolong kita di alam kubur dan syafaat di hari kiamat. Oleh karena itu, selagi masih diberi kesempatan hidup, mari kita perbanyak bekal untuk menghadapi kematian.
Salah satu cara untuk mempersiapkan diri adalah dengan senantiasa mengingat kematian. Bukan dengan meratapi nasib atau merasa takut berlebihan, melainkan dengan merenungkan makna kehidupan dan tujuan penciptaan kita di dunia ini. Dengan mengingat kematian, kita akan lebih termotivasi untuk melakukan hal-hal yang positif dan bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.
Selain itu, penting juga untuk memperbanyak amal ibadah dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Shalat, puasa, zakat, dan haji adalah ibadah-ibadah yang dapat mendekatkan kita kepada-Nya. Selain itu, berbuat baik kepada sesama, membantu yang membutuhkan, dan menyebarkan kebaikan juga merupakan amal yang sangat dicintai oleh Tuhan. Dengan demikian, kita akan merasa lebih tenang dan siap menghadapi kematian kapan pun datangnya.(Agung)






