Kau dan Aku Satu Dalam Cita dan Cinta

Oleh : Atris Heldayanti.S.A.P

Episode terakhir…..Bermagna simple

Bacaan Lainnya

Bab : 1

Tuhan…
Desahan tarikan nafas, diiringi pandangan yang sedih, dalam hati Ridha berguman
Tidak disangka, orang yang pernah Ridha kenal.

Yang dahulu begitu sederhana
Sekarang , Kesombongan sedang
melanda hatinya.
Dia merasa tidak mengungkapkan apa apa.

Namun dibalik semua itu,
Dia begitu bangga dengan dirinya
Dia begitu mabuk pujian
Dari orang orang yang dianggapnya memujinya.

Padahal rasa bangga dan
mabuk pujian telah melanda hatinya.
Kenapa dia bisa berubah seperti itu?
Bangga di puji oleh perempuan perempuan yang entah bagaimana terhadapnya.

Pujian telah membutakan mata hatinya
Seakan dia adalah bintang diatas segalanya.
Bintang yang sedang bersinar
Bintang yang sedang mabuk pujian
Bintang yang lupa kontrol diri.
Ridha masih ingat kata katanya
Tidak ingin menganggu Ridha saat bersama.

Tapi kenapa???
Rupanya tanya terjawab, pikiran terungkap
Dia sibuk dengan teman wanitanya di grup reunian yang selalu memuji mujinya.
Dia terlonjak dengan pujian dan rayuan yang terpampang di depan matanya.
Rupanya dia yang tidak ingin di ganggu
pada saat bercanda dan bergurau dengan grup reuniannya dengan rayuan yang manis.
Desahan nafas kecewa membuat Ridha memejamkan mata rasa keputus asaan.

Tuhan…
Semoga kesadaran kembali memasuki hatinya.
Semoga dia bisa kembali seperti dahulu.
Sederhana, tampil apa adanya.
Akibat aktif di grup reunian…!!
Semoga engkau bahagia.

####

Lembayung sutra menghiasi batas pandangan mata Ridha, helaan nafas kepasraan di keluarkan Ridha dengan beratnya.

Kenapa ini harus terjadi?
Rasa bersalah memenuhi relung hatinya, karena telah membuat sebuah keputusan yang salah, rasa bersalah itu menghantui dirinya setiap saat.
Ridha telah berusaha meminta maaf setiap saat dan di setiap kesempatan namun yang di dapat sebuah ketidak acuhan dan kemarahan, mengapa begitu cepat dia berubah?, Ditahannya malu demi tetap bisa untuk komunikasi, ditahannya sebuah harga diri, karena memang Ridha belum sanggub untuk sebuah perpisahan.
Jarak telah di buatnya, dalam setiap kesempatan, dia hanya ingin menjalankan keputusan yang telah dibuat Ridha, tanpa mau mempertimbangkan permintaan maaf dan permintaan Ridha untuk sebuah perjumpaan.

Kadang Ridha menangis sendiri, mengapa semua begitu cepat berubah tanpa Ridha tahu apa kesalahannya, apa yang telah di dengarnya tentang Ridha.

Rasa rindu ingin berjumpa selalu di tahan Ridha, karena Ridha tidak sanggub dengan sebuah penolakan, namun saat tertentu Ridha tetap meminta walau sebenarnya Ridha sudah tahu akan jawaban yang akan di dengarnya.
Hati menangis, bathin tersiksa itu yang selalu di rasakan Ridha setiap saat..
Bersambung……

Pos terkait