Oleh: DARMIWANDI, S.Ag. M.H.
Bagian : 14
“SARJANA DENGAN TENAGA”
Awal bekerja sebagai karyawan toko memang terasa canggung karena ini adalah sebuah pekerjaan yang baru bagi penulis. Untuk beradaptasi dengan pekerjaan, penulis berusaha terus agar bisa berkomunikasi baik dengan kawan-kawan dan atasan/bos. Dengan sering berkomunikasi tersebut, penulis cepat juga menyesuaikan diri dengan pekerjaan yang semulanya terasa asing.
Penulis bekerja di toko Uni Ida yang bertempat di Pondok. Setelah bebarapa hari bekerja di sana, penulis baru tau bahwa beliau juga punya toko di Bandara Tabing. Satu buah berada diluar dan satu lagi bertempat di Waiting Room.
Saat penulis dibawa ke Toko yang berada di Bandara Tabing, disanalah penulis kenal dengan karyawati beliau yang lain, yakni; Uni Rat dan Yanti. Mereka adalah telah lama bekerja dengan Uni Ida. Uni Rat dan Yanti sangat komunikatif sehingga tidak sulit juga bagi penulis untuk berkomunikasi dan beradaptasi dengan beliau.
Seminggu dua minggu penulis bekerja dengan Uni Ida, penulis beliau ajak untuk pergi ke hotel-hotel untuk bernegosiasi dengan pimpinan hotel agar para pengunjung hotel diarahkan untuk belanja ke Toko kami “ Souvenir Silungkang : yang terletak di jalan Dobi Pondok.
Alhamdulillah, Berkat komunikasi dan kerjasama yang baik, sebagian dari pengunjung hotel memang ada yang belanja ke toko kami yang sebelumnya diarahkan oleh pemilik/karyawan hotel.
Sudah sekian bulan penulis bekerja sebagai karyawan toko, namun kerja sebagai petugas masjid tetap dijalankan miskipun tidak maksimal lagi. Kadang berangkat jam 2 sore, baru jam 10 malam pulang ke Masjid. Untung saja teman-teman yang sama bertugas di masjid cukup pengertian. Penulis punya dua orang teman yang sama-sama bekerja di Masjid, yakni; Suprianto, yang sedang kuliah di IKIP dan Abdul Salam, yang sedang kuliah di Fakultas Dakwah.
Namanya berdagang, memang tidak terlepas dari maju dan mundur. Kadang-kadang penjualan banyak, kadang-kadang hanya pelaris saja, bahkan tidak ada jual beli sama sekali.
Ada suatu penomena alam yang yang sangat berpengaruh kepada omset penjualan yakni sering terjadikan kabut asap saat itu. Kalau sudak terjadi kabut asap yang tebal, tentu berpengaruh kepada penerbangan. Dengan kurangnya pengunjung di Bandara Tabing khususnya, itu sangat berpengaruh terhadap jual beli.
Memperhatikan omset kami semakin turun, maka kami berusaha mencari usaha tambahan lain. Mas Narto berusaha menjual buah-buah/jeruk manis, sedang penulis mencoba menegosiasi jualan beras ke Koperasi-koperasi dan rumah makan .
Penulis membawa beras dari Paninggahan. Penulis minta tolong kepada amak untuk membelikannya di Pasar Paninggahan dan kadang-kadang langsung dibeli di Heller Acik. Hj. Gadis Parumahan Bawah. Beras tersebut penulis bawa dengan Bus Tanjung Jaya yang langsung ke Padang di subuh hari. Sampai di Padang, barulah kami antarkan ke koperasi-koperasi Pegawai perkantoran dengan sistem; setelah terjual baru uang diminta.
Usaha dagang beras ini cukup berat juga persaingannya. Karena sebelum kita memasukkan tawaran ke rumah-rumah makan, pemilik rumah makan sudah ada kontrak dengan orang lain. Kalaupun ada koperasi yang bersedia menerima titipan, tetapi mengangkat beras itu juga terasa berat.
Sampailah terungkap kalimat oleh penulis sendiri:
“Iyo barek dan susah mancari pitih dengan mampagunokan tanago. Kalau sarupo iko, bialah bausaho mancari pitih dengan mampagunokan isi kapalo”.
Bekerja menjadi karyawan toko dan mempromosikan beras tidak semerta berhenti miskipun hasil usaha semakin menurun. Toko yang berada di Pondok tetap kami buka sampai masa kontrakan habis.
Sebagai mahasiswa, tugas di kampus terus dilaksanakan. Semester berganti semester, maka habislah mata kuliah. Tugas yang wajib diselesaikan untuk syarat menjadi seorang Sarjana adalah membuat skripsi. Membuat skripsi butuh pikiran, waktu dan dana. Nasib mujur juga oleh penulis, karena ada teman yang bekerja sebagai karyawan PT Kargo di sebelah toko kami yang membantu mengetikan skripsi penulis di saat waktunya luang. Kalau tidak salah, nama teman tersebut adalah Yanti. Terima kasih banyak buatmu kawan miskipun keberadaanmu tidak diketahui laga sampai sekarang, namun jasa baikmu akan aku kenang.
Melengkapi lika-liku penulis menjalani masa kuliah, disamping menjadi karyawan, penulis pernah juga menggantikan teman yang sama tinggal di masjid (Supriyanto) menjadi CLEANI SERVISE di Notaris Yanti yang berada di Jalan Damar juga. Ketika itu, Yanti pulang kampung ada urusan keluarga. Dengan rasa saling pengertian dan senasib seperjuangan, penulis berangkat setelah sholat subuh me Kantor Notaris tersebut untuk membuka pintu, mengepel lantai dan membersihkan semua peralatan kantor. Sepulang dari kerja itu, penulis kembali lagi ke masjid untuk persiapan kuliah. Pulang kuliah, kembali lagi ke masjid dan sorenya menuju toko.
Inilah segelintir pengalaman penulis dalam menggapai dan mencapai Sarjana (S.1). Penulis sadari bahwa pengalaman ini belum apa-apanya dan seberapa sulit dan susahnya bila dibanding dengan teman-teman dan/atau orang lain untuk menggapai yang nama Sarjana.
Bagaimanakah dengan organisasi salama masa kuliah? Penulis hanya sekali saja mengikuti MASTA ( Masa Ta’ruf) di bawah naungan IMM ( Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah). Setelah itu, penulis tidak pernah lagi mengikuti tingkatan-tingkatannya. Sehingga penulis tidak terlalu mengetahui dan memahami apa itu Muhammadiyah.
Mungkin karena telah pernah aktif di organisasi di masa Aliyah dulu sebagai anggota Pramuka, maka di masa kuliah penulis mencoba pula masuk ke organisasi yang berbeda yakni MENWA (Resimen Mahasiswa). Di organisasi MENWA inilah sebagai tambahan ilmu dan pengalaman penulis dalam menjalani kehidupan yang penuh halangan, rintangan dan tantangan. Dua hal yang sulit penulis lupakan selama menjadi MENWA ini, di antaranya adalah makan muntah kawan di saat DIKSAR di SECATA “B” Padang Panjang.
Saat itu kami di suruh makan bersama di tengah lapangan dalam hujan lebat. Dalam makan, perintah lain datang pula. Kami berlari ke tempat yang telah ditentukan. Kemudian kembali lagi ke tempat ompreng nasi yang penuh dengan air hujan. Pada kali kedua, teman disebelah penulis, mengeluarkan nasi yang sudah dimakannya/muntah. Itu nampak betul sama penulis. Sesaat nasi keluar dari mulutnya, perintah datang lagi untuk berlari dan menuju tempat yang ditentukan tadi. Setelah itu disuruh lagi memakan nasi yang dalam ompreng. Mana ompreng nasi yang kita dapati, itulah yang harus dimakan. Kebetulan, penulis pas duduk di hadapan ompreng nasi teman tadi. Dalam pikiran penulis, akan ada lagi perintah selanjutnya, namun perintah itu tidak datang-datang juga, bahkan harus menghabiskan nasi yang ada dihadapan kita. Terpaksalah penulis memakan nasi tersebut. Penulis mencoba untuk mengelabui pelatih dengan menyeludupkan nasi ke bawah ompreng.
Setelah nasi habis di dalam ompreng, penulis disuruhnya untuk mengangkat ompreng nasi dan mengambilnya kembali. Terpaksa lagi, penulis memakan nasi tersebut sampai habis. Satu kalimat hardikan dari pelatih sampai memukul helm di kepala dengan ucapan; “Kamu main watak ya?”. Penulis diam sambil menghabiskan nasi yang basah oleh air hujan.
Pengalaman kedua yang tak terlupakan juga adalah kena tampar oleh MENWA senior. Kedua pipi penulis ditamparnya dulu, baru dia bertanya. Apa Kesalahanmu? Penulis jawab; “ saya makan goreng sambil jalan. “Ya, sudah! Masuk lagilah ke dalam ruangan”. Perintah kakak senior itu.
Tahun 1997, tepatnya pada tanggal 17 September 1997, penulis akhirnya selesai juga menembuh jenjang Perguruan Tinggi di IAIN “IB” Padang. Nilai akhir (IPK) penulis hanya biasa-biasa saja.
Seandainya tidak ada nilai semester yang tidak anjlok (2,5), mungkin IPK penulis akan melebihi dari 3,29. Namun penulis masih bersyukur, karena Yudisium: “SANGAT MEMUASKAN”. Dengan judul Skripsi: “SANKSI HUKUM ADAT PERKAWINAN SEPERSUKUAN DI NAGARI PANINGGAHAN DITINJAU DARI HUKUM ISLAM”.
Alhamdulillah, Untuk mendapatkan gelar Sarjana dan sehelai kertas Ijazah, Jangankan sepiring sawah, sebatang kelapa pun tidak ada yang tergadai.
Gelar Sarjana sudah di pundak. Ijazah sudah di tangan. Kemanakah gelar dan Ijazah ini mau di sandang?
Bersambung……………






