“Gadang Di Rantau Ketek Di Kampuang” (Romantika Cita, Cnta dan Realita)

Oleh: DARMIWANDI, S.Ag. M.H.

Bagian : 16

“YOU TRY, YOU CAN”

Perjalanan hidup dan kehidupan tidak bisa kita menentukan. Rencana dan membuat ancang-ancang boleh saja, namun yang menentukan pada akhirnya hanya Allah SWT semata.

Pernah terfikir oleh penulis dalam perjalan dari pasar raya Padang menuju masjid Nurul Ulya; “Kenapa orang sebanyak ini bisa hidup dan memenuhi bahkan melebihi dari yang dia butuhkan?. Sedang saya, untuk mencari dan memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sangat sulit. Jangan untuk orang lain, untuk hidup sendiri saja di Kota Padang betapa susahnya”. Pikiran seperti itu muncul dan hilang sesaat itu juga dan tidak menjadi pikiran setelah sampai di masjid.

Kehidupan di Padang tetap dijalani apa adanya. Usaha di toko sudah mulai menurun. Nama bos (uni Ida) tetap mencari peluang dan jalan lain dalam berusaha. Seorang yang berdarah pedagang, beliau tidak hentinya berfikir dan mencari solusi serta selalu enerjik dalam berusaha. Suatu waktu mengajak penulis mencari informasi ke daerah Tiku. Kami melihat usaha minyak sarai sulingan di sana, dengan harapan bisa pula kami kembangankan di Kota Padang, Namun peluang untuk usaha tersebut juga tidak terbuka. Begitulah pengalaman penulis dalam mengikuti sebagian jejak uni Ida.

Pertengan tahun 1998, penulis pulang kampung. Tanpa terfikir apalaga berencana, penulis bertemu dengan salah seorang teman di Simpang Ganting Nagari Paninggahan. Dia pulang mengajar dari Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI). Sambil bercerita ringan, dia menawarkan penulis untuk mengabdi mengajar di kampung, karena saat itu penulis masih di Padang setelah tamat dari sebuah Perguruan Tinggi.

Tawaran itu penulis tanggapi ringan juga. “Ambo fakultas Syariah, ilmu dan pengalaman mengajar indak ado”. “Ambo picayo, si Wan bisa, dan nanti ambo berikan undangan ka si Wan untuk hadir rapek majelis guru. Si Wan diminta untuk mengajar Bahasa Inggris”. Ungkapnya. Kemudian penulis tanggapai lagi; “Insya Allah, akan ambo cubo, mudah-mudahan ambo bisa”.

Tidak beberapa lama setelah pertemuan itu, penulis pulang kampung dan diberikan sepucuk surat undangan untuk mengahadiri rapat Majelis Guru di MTI oleh NH. Penulis hanya mendengar dan mengikuti rapat, karena penulis orang baru dan belum pernah berpengalaman menjadi seorang guru. Hasil rapat memutuskan bahwa penulis diamanahi mengajar sebuah bidang study mata pelajaran umum yaitu Bahasa Inggris tingkat Tsanawiyah, untuk mata pelajaran agama adalah tafsir di kelas 1 MTs.

Penulis mulai menjadi seorang tenaga pengajar pada semester I Tahun1998 dengan Mata Pelajaran Bahasa Inggris. Cocokkah dengan jurusan penulis? Sudah pasti tidak. Karena jurusan penulis adalah Peradilan Agama Fakultas Syariah IAIN”Imam Bonjol” Padang. Mampukah penulis? Insya Allah, untuk tingkat Tsanawiyah saat itu, penulis masih mampu.

Bekal penulis mengajar adalah pengetahuan mempelajari Bahasa Inggris semasa masih sekolah di MAN Koto Baru Padang Panjang. Kosa kata sudah mulai penulis hafal. Sambil duduk, baik sendirian maupun bersama teman, sebenarnya di dalam tangan penulis sudah ada beberapa kosa kata yang penulis hafal. Penulis belajar secara otodidak. Saat pergi manyabit rumput untuk kerbau piaraan kami, penulis membawa sehelai kertas kecil yang isinya adalah kosa kata dan dialog berbahasa Inggris.

Waktu penulis kuliah, belajar bahasa inggris secara otodidak ini terus penulis coba. Selain kosa kata, bentuk-bentuk kalimat juga penulis hafal. Koran JAKARTA POST pun penulis coba untuk membeli, membaca dan menerjemahkannya. Alat bantu dalam belajar sendiri ini adalah Kamus Bahasa Inggris, karangan HASAN SADILY.

Belajar secara otodidak, sudah dipastikan sangat jauh bedanya dibanding dengan belajar melalui pendidikan formal. Itu penulis sadari.
Hanya berbekal ilmu seadanya, penulis yakinkan diri bahwa untuk mengajar Bahasa Inggris pada Tingkat SLTP/Tsanawiyah, penulis mampu. Karena bahasanya tidak terlalu berat dan bisa dipahami.

“YOU TRY, YOU CAN”

Pada semester II Tahun 1999, Penulis diamanahi tambahan jam mengajar pada tingkat Aliyah dengan Mata Pelajaran Bahasa Inggris juga, karena “X” (suami Atun) mendahului kita untuk selamanya. Masih sanggupkan penulis? Masih sanggup sesuai kemampuan penulis. Adakah yang heran? Memang ada, karena seorang yang bukan belatar belakang jurusan Bahasa Inggris, mengajar bahasa Inggris. Kalau di tanya, siapakah murid penulis saat itu? Di antaranya adalah Arnis dan Emi, yang sekarang telah menjadi PNS di bawah naungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Solok.

Penulis juga akan melihat secara komprehensif dimana penulis berpengalaman mengajar di MTI ini. Bererapa bulan setalah mulai aktif mengajar, wacana dan rencana berkembang untuk mendirikan Yayasan MTI. Wacana dan rencana ditindaklanjuti oleh Pimpinan MTI yaktu Buya H. Jawaher Arsyad. Beliau mengumpulkam seluruh Majelis Guru termasuk tokoh MTI. Di antara majelis guru yang hadir di saat itu adalah: H. Jawaher Arsyad, Ust. Arbai’i Mizen, Ust. Nursalim Panito Pinyalai, Alizar Mayus, Armen Ghani, Israwati, Nurhayati, Arlis.B, Arlis Rusman, Drs. Alam Sinir, Ust. Andah, Lendra.

Musyawarah berjalan dengan penuh kekeluargaan, ide dan pimikiran cemerlang bermunculan. Akhir dari musyawarah itu menghasilkan kesepakan untuk mendiriran Yayasan. Nama yayasan pun menjadi wacana saat itu. Kami yang hadir minta pendapat kepada pimpinan rapat yang langsung di pimpin oleh Buya H. Jawaher Arsyad tentang nama Yayasan. Beliau mengusulkan; “ BUSTANUL ABRAR”. Nama tersebut langsung kami sepakati bersama.

Rapat pun berlangsung dengan agenda Susunan Kepengurusan Yayasan Bustanul Abrar. Peserta musyawarah menyepakati bahwa: Ketua Yayasan Bustanul Abrar adalah Buya H. Jawaher Arsyad dan Darmiwandi, S.Ag menjadi Sekretaris.

Setelah kesepakatan mendirikan Yayasan Bustanul Abrar dan susunan pengurusnya selesai, maka kami melanjutkan untuk mendaftarkannya ke Notaris. Penulis bersama dengan yang lainnya mengurus urusan ini. Alhamdulillah, Akta Notaris pun akhirnya kami dapatkan.

MTI adalah satu-satunya Lembaga Pendidikan Agama di nagari Paninggahan sebelum berdirinya MTs Muhammadiyah Paninggahan di Kampung Tangah pada tahun 2000. MTI telah banyak melahirkan kader-kader mubaligh dan tenaga pendidik serta pengusaha sukses. Mereka tersebar di berbagai daerah. Ada yang di kampung dan ada pula yang di rantau orang. Ayah H. Jawaher, adalah sosok ulama kharismatik di nagari Paninggahan terutama oleh para anak didik dan jamaah beliau. Setiap persoalan, apakah berkaitan dengan pendidkan, agama dan sampai masalah keluarga, beliau adalah tempat bertanya.

Mubalig-mabaligh muda sekarang ini, umumnya perrnah mengecap pendidikan di MTI kecuali penulis sendiri. Karena penulis, setamat SD langsung melanjutkan jenjang pendidikan keluar Nagari Paninggahan. Di antara mubaligh/Guru/wirausawan yang pernah menimba ilmu agama dan umum di MTI/Yayasan Bustanul Abrab adalah: Armen Ghani, Joni, Arlis Rusman, Ahmad Muar Panito Pinyalai, Doni Iskandar, Rudi Rasyid, Nurhayati, Israwati, Yulia, Arlis.B, Syafril, Railis, Murni.K. Hj.Nurhayati, Asrul Bakri, Arnis, Emi, Suardi.B. Dulu beliau-beliau adalah pelajar sekarang adalah pengajar bahkan tidak sedikit telah menjadi pemimpin. “STUDENT TODAY AND LEADER TOMORROW’.

MTI telah memberikan sumbangan yang tidak ternilai dalam bidang pendidikan dan dakwah kepada Nagari Paningggahan. Kita berdo’a kehadirat Allah SWT, agar segala amal jariah yang telah diberikan kepada anak bangsa dan masyarakat Paninggahan khususnya bernilai ibadah bagi yang masih ada dan juga yang telah meninggalkan kita.

Pengalaman penulis mengajar di MTI tidak bisa penulis lupakan, ada canda, ada tawa dan berbagai romantika, miskipun penulis tidak lama mengajar di sana, hanya dua semester saja. Selain mengajar di MTI, Penulis juga berbagi hari dan waktu penulis mengajar di SDN 05 Koto Baru sebagai guru Agama. Pada sore-sore hari, penulis dipercaya oleh bpk. Maninsar (alm) menjadi tenaga pengajar di SMP TERBUKA.

Semuanya penuh romantika.

Suatu ketika akan mengajar, penulis ketinggalan spidol untuk menulis. Penulis pergi dengan motor/honda Cup-70. Sampai di pasar Paninggahan, ada anak-anak sedang main layang-layang. Benang layang-layang tersebut menyangkut ke leher penulis yang sedang mengendarai motor. Akibatnya, penulis menabrak sebuah kedai milik mamak Ajis. Honda rebah dan tidak bisa dihidupkan, maka kakak Nandid yang ada pada saat itu membantu untuk mendorong honda penulis ke Ganting tempat kos penulis. Carita punya cerita saat kejadian itu, keluarlah sepatah kata dari istri mamak H. Ajis: “Ondeh calon minantu kironyo”. Kalau penulis tidak salah, uda Tono yang menjadi kakak ipar sedang duduk santai dekat kejadian itu. Penulis minta maaf, dan langsung melanjutkan perjalanan serta kembali lagi mengajar di SMP Terbuka.

Mengajar Bahasa Inggris di MTI, mengajar Agama di SD Jorong Koto Baru. Mengajar banyak Mta Pelajaran di SPM Terbuka dan menjadi Kepala MDA di Masjid Baitus Salam Gando terus dilaksanakan. Dalam beraktifitas seperti itu, Penulis pelaku sejarah berdirinya sebuah sekolah Agama (Madrasah) yang ada di Nagari Paninggahan, yakni: ”MADRASAH TSANAWIYAH MUHAMMADIYAH (MTs.M) Paninggahan. Proses berdirinya MTs Muhammadiyah (MTsM) Paninggahan yang tertelak di Jorong Kampung Tangah ini, adalah semasa penulis masih aktif mengajar di berbagai tempat dan tingkat. Bagaimana alur cerita dan historisnya? Telah ada dalam tulisan sebelumnya, namun akan diperbaiki dan dilengkapi.

Bersambung… “13 Maret 2021”

Pos terkait