Oleh: DARMIWANDI, S.Ag. MH.
Berbicara tentang lembaga pendidikan dan pendidikan serta romantikanya yang ada di Nagari Paninggahan, mungkin tidak akan cukup satu hari satu malam untuk membahasnya dan butuh banyak lembaran untuk menuliskannya. Bila di lihat dari segi jenjang pendidikan, mulai dari PAUD, TK, SD, SLTP, SLTA telah ada di Nagari Paningahan, hanya PT (Perguruan Tinggi) yang masih dalam wacana dan rencana. Biasanya, kalau sudah ada wacana apalagi rencana, Insya Allah bisa menjadi nyata. “Bila anda berfikir bisa, Anda Bisa”. Inilah sebuah ungkapan orang bijak yang berfikir positif dan berjiwa optimis.
Berdasarkan data yang penulis ketahui, jumlah SD Negeri sebanyak 14 buah, SD swasta 2 buah, yaitu MIS di Tabing Parumahan, SDIT di Bawah Batuang Jorong Gando, TK Bustanul Athfal di Balai Usang Jorong Kampung Tangah, TKIT di Balai. SMP di Kampung Tangah, SMA di Aia Hilang Jorong Gando, MA-MTI Subarang, MTs-MTI Subarang, MTs.Muhammadiyah di Kampung Tangah serta PT yang masih berada dalam kepala dan wacana.
Dari sekian banyak lembaga pendidikan yang ada, baik tingkat SD maupun tingkat SLTA, Penulis pernah diamanahi menjadi tenaga pengajar di beberapa sekolah. Meskipun penulis bukanlah berlatar belakang Perguruan Tinggi sebagai guru, seperti Tarbiyah di IAIN ataupun IKIP/UNP. Di antara sekolah tempat penulis mengajar adalah: SDN 05 Koto Baru, MTs.TI, MA.TI, SMP Terbuka dan di MTs.Muhammadiyah.
Sekedar bercerita, sebelum penulis masuk kelas untuk mengajar, ada seorang teman bertemu di jalan simpang Ganting, dia pulang mengajar dari MTI. Sambil bercerita ringan, dia menawarkan penulis untuk mengabdi mengajar di kampung. Karena saat itu penulis masih di Padang setelah tamat dari sebuah Perguruan Tinggi. Tidak beberapa lama setelah pertemuan itu, penulis pulang kampung dan diberikan sepucuk surat undangan untuk mengahadiri rapat di Majelis Guru di MTI oleh NH. Penulis hanya mendengar dan mengikuti rapat, karena penulis orang baru dan belum pernah berpengalaman menjadi seorang guru. Hasil rapat memutuskan bahwa penulis diamanahi mengajar sebuah bidang study mata pelajaran umum yaitu Bahasa Inggris tingkat Tsanawiyah, untuk mata pelajaran agama adalah tafsir di kelas 1 MTs.
Penuis mulai menjadi seorang tenaga pengajar pada semester I Tahun1998 dengan Mata Pelajaran Bahasa Inggris. Cocokkah dengan jurusan penulis? Sudah pasti tidak. Karena jurusan penulis adalah Peradilan Agama Fakultas Syariah IAIN”Imam Bonjol” Padang. Mampukah penulis? Insya Allah, untuk tingkat Tsanawiyah saat itu, penulis masih mampu. Pada semester II Tahun 1999, Penulis diamanahi tambahan jam mengajar pada tingkat Aliyah dengan Mata Pelajaran Bahasa Inggris juga, karena “X” (suami Atun) mendahului kita untuk selamanya. Masih sanggupkan penulis? Masih sanggup sesuai kemampuan penulis. Adakah yang heran? Memang ada, karena seorang yang bukan belatar belakang jurusan bahasa Inggris, mengajar bahasa Inggris. Kalau di tanya, siapakah murid penulis saat itu? Di antaranya adalah Arnis dan Emi, yang sekarang telah menjadi PNS di bawah naungan Kementerian Agama.
Penulis akan melihat secara komprehensif dimana penulis berpengalaman mengajar di MTI ini. Bererapa bulan setalah mulai aktif mengajar, wacana dan rencana berkembang untuk mendirikan Yayasan MTI. Wacana dan rencana ditindaklanjuti oleh Pimpinan MTI yaitu Buya H. Jawaher Arsyad. Beliau mengumpulkan seluruh Majelis Guru termasuk tokoh MTI. Di antara majelis guru yang hadir di saat itu adalah H.Jawaher Arsyad, Ust. Arbai’i Mizen, Ust.Nursalim Panito Pinyalai, Alizar Mayus, Armen Ghani, Israwati, Nurhayati, Arlis.B, Arlis Rusman, Drs. Alam Sinir, Ust”X”(dari baing malalo), Lendra.
Musyawarah berjalan dengan penuh kekeluargaan, ide dan pimikiran cemerlang bermunculan. Akhir dari musyawarah itu menghasilkan kesepakan untuk mendirikan Yayasan. Nama yayasan pun menjadi wacana saat itu. Kami yang hadir minta pendapat kepada pimpinan rapat yang langsung di pimpin oleh Buya H.Jawaher Arsyad tentang nama Yayasan. Beliau mengusulkan; “ BUSTANUL ABRAR”.
Nama tersebut langsung kami sepakati bersama. Rapat pun berlangsung dengan agenda Susunan Kepengurusan Yayasan Bustanul Abrar. Peserta musyawarah menyepakati bahwa Ketua Yayasan Bustanul Abrar adalah Buya H.Jawaher Arsyad dan Darmiwandi,S.Ag menjadi Sekretaris.
Setelah kesepakatan mendirikan Yayasan Bustanul Abrar dan susunan pengurusnya selesai, maka kami melanjutkan untuk mendaftarkannya ke Notaris. Penulis bersama dengan yang lainnya mengurus urusan ini. Alhamdulillah, Akta Notaris pun akhirnya kami dapatkan.
MTI adalah satu-satunya Lembaga Pendidikan Agama di nagari Paninggahan sebelum berdirinya MTsM di Kampung Tangah pada tahun 2000. MTI telah banyak melahirkan kader-kader mubaligh dan tenaga pendidik serta pengusaha sukses. Mereka tersebar di berbagai daerah. Ada yang di kampung dan ada pula yang di rantau orang. Ayah H. Jawaher, adalah sosok ulama kharismatik di nagari Paningggahan terutama oleh para anak didik dan jamaah beliau. Setiap persoalan, apakah berkaitan dengan pendidikan, agama dan sampai masalah keluarga, beliau adalah tempat bertanya.
Mubalig-mabaligh muda sekarang ini, umumnya pernah mengecap pendidikan di MTI kecuali penulis sendiri. Karena penulis, setamat SD langsung melanjutkan jenjang pendidikan keluar Nagari Paninggahan. Di antara mubaligh/Guru/wirausahawan yang pernah menimba ilmu agama dan umum di MTI/ Yayasan Bustanul Abrar adalah: Armen Ghani, Joni, Arlis Rusman, Ahmad Muar Panito Pinyalai, Doni Iskandar, Rudi Rasyid, Nurhayati, Israwati, Yulia, Arlis.B, Syafril, Railis, Murni.K. Hj.Nurhayati, Asrul Bakri, Arnis, Emi, Suardi.B.
Dulu beliau-beliau adalah pelajar sekarang adalah pengajar bahkan tidak sedikit telah menjadi pemimpin. “STUDENT TODAY ANN LEADER TOMORROW’.
Dilihat dari segi historis awal berdirinya MTI ini, penulis tidak mengetahuinya secara pasti, tetapi berdasarkan ngobrolan dari kawan-kawan, bahwa sebelum berdirinya bangunan MTI di tepi batang air (sungai) di jorong Subarang itu, MTI telah melaksanakan Proses Belajar Mengajar di Tabing Jorong Parumahan. Hanya sekedar itu yang penulis ketahui.
Terlepas dari histori tempat, yang jelas bahwa MTI telah memberikan sumbangan yang tidak ternilai dalam bidang pendidikan dan dakwah kepada Nagari Paningggahan. Kita berdo’a kehadirat Allah SWT, agar segala amal jariah yang telah diberikan kepada anak bangsa dan masyarakat Paninggahan khususnya bernilai ibadah bagi yang masih ada dan juga yang telah meninggalkan kita.
Pengalaman penulis mengajar di MTI tidak bisa penulis lupakan, ada canda, ada tawa dan berbagai romantika, meskipun penulis tidak lama mengajar di sana, hanya dua semester saja. Selain mengajar di MTI, Penulis juga berbagi hari dan waktu penulis mengajar di SDN 05 Koto Baru sebagai guru Agama. Pada sore-sore hari, penulis dipercaya oleh Bapak Maninsar (alm) menjadi tenaga pengajar di SMP terbuka. Semuanya penuh romantika. Siapa yang tahu dan merasakannya? Tak lain dan tak bukan adalah penulis saja.
Sebagaimana yang telah penulis paparkan sebelumnya, bahwa penulis sedikit berpengalaman mengajar di sekolah-sekolah yang ada di Nagari Paninggahan. Apakah itu di SD, SMP dan MTI. Ada satu hal yang agak berbeda dengan tempat penulis pernah mengajar, yaitu Selain mengajar, penulis pelaku sejarah berdirinya sebuah sekolah Agama (Madrasah) yang ada di Nagari Paninggahan. Nama sekolah itu adalah:” MADRASAH TSANAWIYAH MUHAMMADIYAH (MTs.M) Paninggahan.
Sekelas saja, Proses berdirinya MTsM Paninggahan yang tertelak di Jorong Kampung Tangah ini, adalah semasa penulis masih aktif mengajar di MTI. Bagaimana alur cerita dan historisnya? Insya Allah, dalam tulisan berikutnya.
Sebagai penutup dari tulisan singkat ini, Lembaga Pendiddikan yang ada di Nagari Paninggahan, baik umum maupun agama telah dan sedang mendidik anak-anak nagari kita. Niat dan tujuan utama mereka (peduli pendidikan) adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, agar anak-anak dan generasi muda tidak menjadi pembantu rumah tangga di rumah mereka. Kekurangan dan kelemahan pasti ada. Bagaimanakah kita memperbaikinya…???
SD sudah banyak, SLTP sudah tiga, SLTA sudah dua, di kiri kanan kita ada beberapa nagari yang dekat dengan nagari kita, Prof, DR. Ir, Magister, Sarjana. Ahli Madya tidak terhitung lagi jumlahnya.
Pertanyaan…” KAPANKAH “PERGURUAN TINGGI” BERDIRI DI NAGARI PANINGGAHAN YANG KITA CINTAI INI ???…..(red)






