“Paninggahan Nagari Ku “ ( Batang Air/ Sungai Sumber Inspirasi)

 

Oleh: DARMIWANDI, S.Ag. MH.

Bacaan Lainnya

“Tagak maninjau jarak, duduak marawik ranjau”. Satu patah kata yang sangat sederhana tapi memiliki makna. Penulis ingat kata-kata ini saat duduk di sebuah kedai minuman di pasar Sumani. Duduk santai, karena menunggu seorang ibu dari anak-anak. Teh telur di pesan, laptop pun di buka, jemari bermain di atas keyboard mengetik satu padan kata yaitu: “Batang Air”, yang lazim disebut “Sungai”. Penulis mengetik kata “Batang Air” karena teringat dan terbayang Nagari Paninggahan di belah dua oleh satu Batang Air yang sangat panjang dan cukup lebar. Berselang beberapa minit menulis di kedai tersebut, yang ditunggupun datang. Kami sepakat melanjutkan perjalanan menuju tempat yang sama.

Sampai di rumah, bengkalai pikiran dilanjutkan. Penulis buka Al-Qur’an untuk mencari satu atau dua buah kata-kata yang artinya “Sungai/Batang Air” dalam Al-Qur’an. Istilah“sungai” dalam al-Qur’an adalah النهر . Kemudian penulis mengutip ayat-ayat tentang sungai di antaranya adalah: Q.S. Al-Baqarah (2); 25,
”Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan.

“Inilah yang pernah diberikan kepada Kami dahulu.” mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya”

“Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; Dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang Dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya”.(Q.S. Al-Baqarah (2); 266).

Penulis tidak akan menjelaskan tentang tafsir ayat di atas, karena sebagian telah penulis bahas saat kuliah subuh di Masjid Raya Nagari Paninggahan dalam kajian Tafsir Al-Qur’an meskipun penulis bukanlah Mufassir. Namun dalam tulisan ini, penulis mencoba melihat, mengamati dan menguraikan nilai-nilai dari Batang Air/sungai Paninggahan yang merupakan karunia Allah SWT yang dilimpahkan untuk masyarakat Paninggahan pada khususnya.

Batang air/Sungai memiliki peran penting dalam siklus air di bumi. Sungai merupakan sebuah mata air yang mengalir melalui celah daratan, baik lembah atau lapisan lain dengan batas yang jelas. Sungai mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah. Bagian yang tinggi disebut hulu sungai dan mengalirkan airnya ke tempat yang lebih rendah, selanjutnya air mengalir ke hilir sungai dan mengarah ke muara sungai. Biasanya sungai menuju ke laut atau danau.

Paninggahan mempunyai satu buah batang air yang memisahkan antara jorong Parumahan dengan jorong Subarang. Paninggahan yang terdiri dari enam jorong yaitu Gando, Kampung Tangah, Ganting Padang Palak, Koto Baru Tambak, Parumahan dan Subarang. Dari enam jorong tersebut, hanya jorong Subarang yang dibatasi oleh batang air. Apakah karena “manyubarang” (menyeberang)?, maka dinamakan jorongnyo Subarang?. Penulis tidak tahu pasti tentang itu.

Batang Air Paninggahan ini bukanlah suatu hal yang asing bagi penulis. Banyak suka duka yang penulis alami, Penulis lihat dan dengar serta ketahui dari batang air ini. Sekedar untuk mengejutkan di saat termenung dan mengingatkan yang sudah pasti ada yang lupa, maka penulis sengaja duduk di atas jok Vario untuk melihat langsung Batang Air Paninggahan itu pagi tadi (25/01/2020).

Penulis berdiri di atas jembatan batang air, penulis hitung tiang pagarnya, jumlah berkisar 23 buah. Jarak antara satu tiang dengan tiang lainnya, kira-kira 1,5 meter. Menurut perkiraan penulis, bahwa panjang jembatan Batang Air Paninggahan adalah 30 meter. Kalau jembatan panjangnya 30 meter, berarti lebar Batang air Paninggahan adalah sekitar 25 meter. Penulis salah? Tolong bagi yang membantah untuk mengukurnya, agar dapat kaca perbandingan sehingga didapatkan ukuran yang pasti.

Berapakah panjang Batang Air Nagari Paninggahan? Mudah-mudahan penulis mendapatkan informasi dari ahli ukur terutama orang yang berasal dari Nagari Paninggahan sehingga melahirkan temuan baru. Penemu yang bukan hanya pandai ukur mengukur tetapi sejauh mana manfaat yang diukurnya untuk masyarakat Nagari Paninggahan.
Batang air Paninggahan berfungsi sebagai alat bantu transportasi, objek wisata, pengairan persawahan dan mata pencaharian (sumber ekonomi). Seorang perimba, yang sebagian dari pekerjaannya adalah mencari kayu dan/atau bambu (batuang), maka Batang air dapat dimanfaatkan. Mereka ikat kayu/bambu lalu mereka hanyutkan dan terus mereka iringi sampai pada batas yang memungkinkan dan ditentukan. Tetapi hal ini, jarang sekali dilaksanakan oleh masyarakat Paninggahan, karena kondisi batang air yang banyak batu dan berbelok-belok.

Air Batang Air Paninggahan cukup jernih karena berasal dari sumbernya yang jernih. Di samping kiri kanan Batang Air Paninggahan adalah perbukitan, yakni Bulit Junjung Sirih dan Bukit Batu Agung. Pada bukit Junjung Sirih maupun pada Bukit Batu Agung sangat banyak sumur atau sumber air. Sebut sajalah di antaranya air badarun dan air sumur dari Kumulau. Begitu bersih dan jernihnya air batang air Paninggahan ini, bagi masyarakat yang makan di tengah-tengah atau di pinggiran batang air tidak perlu susah payah mencari air minum, cukup meminum air Batang Air Paninggahan ini. Perlukah gelas? Tidak!, cukup dengan menggunakan kedua telapak tangan. Malas dengan menggunakan telapak tangan? Cukup dengan merundukkan kepala dan buka mulut. Minumlah sepuas-puasnya. Insya Allah, Alhamdulillah, Penulis belum mendengar bahwa orang Paninggahan yang minum langsung air Batang Air Paninggahan di bawa ke rumah sakit karena meminum air batang air yang masih mentah setalah mereka makan.
Batang Air Paninggahan adalah sumber air persawahan sebagian besar wilayah Nagari Paninggahan. Ini terlihat dan terbukti dengan banyaknya bandar-bandar kecil dan besar yang dibuat oleh pemerintah dan masyarakat Paninggahan. Bandar air di Data jorong Parumahan. Dimana air bandar tersebut berasal dari Batang Air Paninggahan dan mengaliri sebagian besar sawah yang ada dalam jorong Parumahan.

Penulis lihat dan perhatikan juga bandar air yang ada di dusun Batua, Selain Bandarnya sangat Panjung, juga cukup lebar. Airnya besar dan deras sebagaimana bandar di dusun data bahkan lebih dari itu. Berapa piringkah sawah yang dialirinya? Sepengetahuan penulis, air bandar yang melalui dusun Batur itu bisa mengairi hampir seluruh sawah yang ada di jorong Subarang. Berapa banyak bandar air selain yang penulis sebutkan di atas tadi? Yang pasti, lebih dari 3 buah lagi.

Bandar air/irigasi merupakan bangunan fisik yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat Nagari Paninggahan untuk mengairi sawah mereka. Mereka membuat irigasi, ada yang bersifat swadaya dan ada pula yang bersifat bantuan pemerintah. Kedua sifat bantuan ini sangat terbatas, sesuai dengan kemampuan anggaran yang tersedia. Penulis yakin, pembangunan beberapa irigasi lainnya selain yang telah ada ini masih diharapkan oleh masyarakat, baik yang berskala besar maupun berskala kecil, karena hamparan sawah mereka yang begitu luas.

Andaikan para pemerhati dan pemerintah lebih peduli terhadap persawahan masyarakat, maka akan lebih banyak lagi proyek-proyek irigasi yang masuk ke Nagari Paninggahan. Dengan masuknya proyek-proyek irigasi, sudah pasti mambantu sebagian kecil ekonomi masyarakat. Masyarakat bisa diberdayakan untuk bekerja sesuai dengan kemampuan mereka. Sumber Daya Alam yang adapun bisa dimanfaat dan bernilai ekonomis. Para penganggur pun bisa diberdayakan. Satu hal yang pasti, pengairan sawah para petani sangat terbantu.

Pemerintah Nagari Paninggahan harus terus melaksanakan komonikasi dan koordinasi yang intensif dengan masyarakat baik yang berada di kampung maupun yang berada perantauan untuk melakukan pendataan dan perencanaan tentang hal irigasi ini. Seluruh data dan rencana yang terkumpul, dibuatkan skala perioritasnya. Tentang teknis pelaksanaaan, tertu orang pintarlah yang lebih tahu. Berjalanlah, lihatlah, perhatikanlah sawah yang terbentang luas di Nagari kita Paninggahan, dan berbuatlah yang terbaik.

Batang Air Paninggahan! Dengan mata kepala dan mata hati kami memandangmu. Saat mata kepala melihatmu, maka teringatlah Yang Maha Kuasa yang telah menciptakamu. Kamu diciptakan Allah bukan sia-sia sebagaimana yang banyak kami perbuat, banyak pula sia-sianya. Sebaliknya, apa pun yang telah Engkau ciptakan, tidak ada satupun yang sia-sia. Kami saja yang tidak pandai mengalisa dan memanfaatkan serta mensyukurinya.

Sekitar tahun 80-an dan 90-an, hampir setiap minggu penulis menyeberangi Batang Air Paninggahan ini. Berangkat dari sebuah nama kecil dalam dusun Padang Palak, yakni Tambak, penulis menelusuri jalan melewati Koto Baru. Sampai di Jua, penulis menuruni bukit dan persawahan sehingga sampai di tepi Batang Air. Penulis seberangi Batang Air dengan penuh kehati-hatian dan sampailah di sebuah nama daerah kecil yaitu KOTO BASI.

Menyeberangi Batang Air, ternyata juga punya cara dan strategi, artinya; bukan hanya menyemberang sekehendak hati. Ketika air kecil dan tidak terlalu deras, penulis bisa berjalan dengan santai saja. Bagaimanakan di saat air agak besar dan deras? Maka di saat ini pikiran dan hati mulai berjalan untuk memikirkan strategi. Penulis mengambil ancang-ancang dari mana mulai melangkah memasuki tepi batang air. Penulis mulai dengan kalimat Bismilah, dilangkahkan kaki kanan terus berjalan dengan posisi merencong/miring agak ke atas, antara melawan arus air dengan tidak. Seulas tongkat kecil tetap di tengan untuk berpegang dan menahan badan. Kaki melangkah dengan hati-hati karena banyak batu yang licin. Tongkat ditancapkan untuk mencari posisi dan mata tetap memperhatikan kemungkinan yang akan terjadi. Saat badan sampai di seberang, tenanglah hati. Perjalanan dilanjutkan melalui Koto Basi untuk menuju KUMULAU karena disanalah ladang kopi.

Dengan siapakah penulis belajar strategi menyemberangi batang air? Yakni; Bapak penulis sendiri, nama beliau adalah BAINI. Beliau adalah seorang petani yang tangguh, yang tidak kenal takut miskipun berangkat di tengah malam hari.
Batang Air Paninggahan adalah bagian dari sumber ekonomi. Apabila ada acara baralek ataupun memdo’a adat kematian seratus hari, sebagian masyarakat yang kurang mampu pergi ke rimba untuk mencari ikan. Apakah di rimba ada ikan? Tentu saja tidak. Maksud pergi ke rimba di sini adalah pergi ke bagian dari hulu Batang air Paninggahan. Mereka tahu, bahwa di bagian hulu Batang Air Paninggahan ini banyak terdapat ikan, terutama ikan Garing.

Selain banyaknya ikan di hulu Batang Air, sepanjang Batang Air Paninggahan pun banyak ikan. Bukan hal yang asing lagi, sebagian masyarakat sering memancing, memutas dan menyentrum ikan sepanjang Batang Air ini. Untuk apa? Tentu membantu belanja sambal anak dan istri, meringankan beban ekonomi. Bagaimanakah perasaian mereka? Tanyakan kepada yang pernah mengalami dan pada hati yang peduli. Bagi kita yang tidak pernah mengalami kesulitan ekonomi, tentu tidak akan bisa merasakan pahit getirnya mengarungi hidup ini.

Batang air Paninggahan ada hulu dan pasti ada Muara. Kata “Muara” di sebut dengan “Muaro”. Kata “Muaro” telah lekat menjadi sebuah nama daerah perkampungan kecil di Nagari Paninggahan, di mana daerah perkampungan penduduk ini berada di sekitar muara Batang Air Paninggahan. Umumnya, mata pencaharian mereka selain bertani, juga nelayan. Bagaimanakah kehidupan nelayan mereka? Insya Allah, tulisan selanjutnya akan bercerita lagi.

Sekedar pengantar, ujung dari Batang Air Paninggahan adalah muara. Muara menyatu langsung dengan Danau Singgkarak. Di Maura itu, masyarakat memanfaatkan air Batang Air Paninggahan untuk membuat Alahan (bukan Alahan Panjang). Muara yang begitu luas, mereka bagi menjadi beberapa petak. Setiap petak di pasang “Hirok”. Ikan bilis yang senang menantang arus air, mereka siati agar terdampar di Hirok mereka. Ikan yang terdapar di Hirok inilah yang dinamakan Ikan Bilis Alahan.

Perasaan penasaran dan ingin melihat kembali yang telah lama tidak dikunjungi, penulis sengaja membelokkan si Vario menuju daerah muaro untuk melihat Alahan. Vario diparkirkan di halaman rumah penduduk dan penulis berjalan kaki menuju ke sana. Sebelum sampai di lokasi, penulis tersesat karena jalan buntu karena air danau. “Sasek di ujuang jalan, baliak ka pangka jalan”. Namun penulis belik kanan saja beberapa langkah ke belakang untuk mencari jalan yang benar, akhirnya bertemu dengan jalan menuju lokasi Alahan. Panjang jalan dari rumah penduduk menuju alahan hanya sekitar 50 meter, tetapi kondisinya sangat memprihatinkan, melewati semak dan pimatang sawah. Adakah orang Paninggahan yang peduli dengan jalan setapak ini? Jalan menuju jatung ekonomi.

Beberapa langkak sebelum sampai di Alahan, penulis bertemu dan melihat seorang perempuan yang sedang membersihkan ikan bilis dan seorang laki-laki yang sedang memperbaiki jalo dan jaring nya. Ngobrol singkat pun terjadi, termasuk tentang Alahan. “Beginilah kondisi kami dan Alahan kami”. Penulis sempat mendengar keluhan seorang laki-laki yang sedang bekerja; tentang “Batu Baronjong”. Cerita, wacana dan rencana sudah cukup lama, tetapi semuanya hilang saja entah kemana apalagi akan menjadi nyata. Kalimat singkat namun bermakna.

Penulis yang ditemani oleh seorang perempuan dari sejak pagi, merasa terkejut dan heran melihat kondisi Alahan. Biasanya, beberapa Hirok terbentang panjang menghambat jalannya air batang air dari hulu. Di setiap hirok terdapat banyak ikan bilis yang terjaring. Pemandangan indah pun menghiasi mata yang yang memandangnya. Para nelayang saling bercanda dan ketawa sambil mengambil dan mengumpulkan ikat bilis di hirok itu. Tapi apa yang kami lihat? Semua yang dilihat dan dibayangkan sebelumnya tidak kelihatan lagi. Rumput dan semak menjulang tinggi, itulah yang menghiasi. Air Danau Singkarak telah menutupi lawah/wilayah alahan. Tak satu pun hirok yang terbentang di Alahan tersebut. Penulis menoleh ke kanan dan kiri, terlihatlah satu buah hirok terpampang dan tersandar di dinding rumah penduduk yang berdiri kokoh namun terlihat sepi.

Batang Air Paninggahan dalam sekilas cerita dan berita. Cerita dan berita tanpa makna?? Penulis melihat dan perhatikan dari berbagai macam sisi, selain dari sisi Agamis juga sisi Ekonomis?
Tersimpan nilai Budaya, pertanian, perikanan, nelayang, wisata dan lapangan kerja. Kita punya SDA, SDM, Pemerintah dan banya Anggota Dewan yang terhormat. Kemana dan dimanakah kita??
Paninggahan butuh SDM dan/atau Sarjana bidang Pertanian, Peternakan, Perikanan, Sarjana Ekonomi, ahli bidang wisata dan budaya yang bernuansa agama. Sarjana yang berfikir dan bekerja nyata bukan seperti penulis ini yang hanya bisa bicara dan bercerita.

“BATANG AIR NAGARI PANNGGAHAN” : “KAU ADALAH KARUNIA ALLAH TA’ALA”
(red)

Pos terkait