PERJALANAN (Kisah, Kasus dan kasih)

BAB 1

Aku berdiri dipinggir jalan memandang orang orang berjalan, berkendaraan melintas di jalan raya, anak anak berlari dengan bahagianya. Pemandangan yang setiap hari akan aku lihat seterusnya, karena aku tahu inilah tempat terakhir dari semua perjalananku terdahulu. Lalu lintas yang ramai dengan kendaraan yang simpang siur, suatu daerah yang bisa hidup perekonomiannya dengan baik. Kulihat begitu banyak nya masyarakat membuka tempat usaha untuk bisa menghidupi keluarganya, daerah yang dahulunya sepi, yang dianggap orang daerah yang terpinggir, sekarang menjadi daerah tempat pusat perkantoran dan rumah Dinas Pejabat Tinggi.

Bacaan Lainnya

Aku putar hamparan pandangan dimana begitu banyak berdiri rumah perumnas yang dibangun oleh para developer, mulai dari yang sederhana terjangkau oleh masyarakat awam sampai perumahan elit untuk masyarakat golongan menengah dan atas.

Begitulah kehidupan yang kita sendiri tidak mengetahui akan sebuah perjalanan panjang yang akan kita lalui. Semua sibuk dengan aktifitas masing-masing, hingga banyak hal hal kecil yang tidak kita amati sebelumnya. Aku naiki motor kesayangannku, berjalan dengan pelan mengamati semua hal yang nampak dimata dan merekamnya dalam kepala, agar aku bisa menuangkannya dalam sebuah tulisan.

Mataku tertuju pada sebuah rumah yang bisa dikatakan setengah sederhana yang dihuni oleh seorang wanita yang sudah bisa dikatakn tua, aku berhenti dan berbincang dengannya menanyakan tentang keadaannya, wanita tua yang sedikit enak untuk diajak berbicara, namun lama kelamaan baru aku menyadari bagaimana keadaan wanita tua tersebut, kumulai perbincangan dengan menyapa wanita tua itu dengan ramah, “apa kabar emak”, kemudian dijawabnya dengan tersenyum, baik, “siapa kamu?”.

Kujawab juga denga tersenyum, “Aku orang yang ingin tahu bagaimana kehidupan yang ada di derah ini, juga pingin tahu dengan keadaan manyarakatnya termasuk pingin tahu tentang keadaan emak”, jawabku.

Emak itu bertanya lagi, “anak mau minum?, Masuklah ke dalam”, aku jawab dengan ucapan “terima kasih”,

Emak itu bercerita tentang keinginannya dan harapannya, rasa sepi karena tidak ada lagi tempat untuk menyandarkan kepala, hidup dengan anak anak yang masing-masing telah sibuk dengan kehidupannya mencari nafkah untuk keluarga. Disini aku berfikir betapa pentingnya sebuah keluarga, makanya saat mereka masih berada di dekat kita peliharalah dengan baik, pembelajaran bermagna yang diberikan oleh seorang nenek tua yang telah mempunyai banyak cucu namun tidak ada yang berada di sisinya saat dibutuhkan, air mata mengembang dimatanya saat bercerita keinginan dan harapannya.

Beliau teringat saat mereka masih kecil-kecil, emak memasak didapur dengan senangnya, hatinya gembira anak-anaknya tidak kekurangan dalam hal makanan. Walau sederhana, emak menyajikan dengan rasa yang sangat lezat, sehingga anak-anak dan suaminya selalu menikmati hidangan yang disuguhkannya.

Aku dengar dengan baik setiap kalimat yang keluar dari mulut wanita tua itu, rasa sepi dimasa tua, tanpa suami tersayang dan anak-anak yang mendampinginya, yang selalu bertengkar memperebutkan makanan dan minuman. Keinginan yang wajar dari seorang wanita tua, yang rindu dengan suasana seperti dahulu saat masih bersama suami dan anak-anaknya.

Kembali ku alihkan pandanganku ke arah jalan raya yang masih sibuk dengan aktifitas keramiannya, aku mendengar suara emak itu berkata, dahulu suami emak membawa kendaraan besar, mencari nafkah menghidupi kami sekeluarga, mungkin karena beliau seorang sopir mobil, maka beliau selalu mau makan nasi dan sambal yang serba baru, makan siang dan malam sambalnya harus berbeda dan selalu dimasak oleh emak, makanya emak selalu berada di dapur, memasak untuk menunggu kedatangan suami setiap hari, secara tidak langsung anak-anak emak juga terbiasa dengan makanan yang serba baru.

Setelah bercerita hari itu dengan emak, aku pamit pulang dan berjanji untuk datang kembali sore besok untuk mendengarkan cerita tentang kehidupan emak, jaga kesehatan ya emak, jangan lupa sholat dan tidurlah dengan nyenyak. Emak silahkan masuk kedalam rumah, aku pamit dulu.

Kulihat emak jalan memasuki rumahnya dan aku merenung, teringat kedua orangtuaku yang telah tiada. Hidup di alam yang berbeda semoga mereka tenang dialam sana. (Helda)
#Solok, 29 Mei 2021.

Pos terkait