Oleh : DARMIWANDI, S.Ag, MH.
“Silahkan! Tanpa ada suara”. Satu kalimat perintah ini terdengar jelas oleh penulis dan juga beberapa orang yang berada di sekitar orang yangmengungkapkannya. Beliau adalah salah seorang pejabat teras yang ditugaskan dari Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat. Nama beliau bukanlah asing lagi bagi penulis dan para ASN Kementerian Agama Kota Solok, Yakni Bpk H.Samsuir, S.Ag. M.Si.
Kalimat tersebut ditujukan kepada siapa?
Apakah kepada penulis atau orang yang berdiri di sekitarnya? Tidak!. Kalimat “Silahkan! Tanpa ada suara”, ditujukan kepada beberapa orang yang berpakaian seragam putih hitam yang sedang bersiap-siap menggunakan HP Android untuk menjawab banyak pertanyaan sekiatar Haji dan segala yang berkaitan dengan Haji. Bagi yang lulus dan memenuhi kriteria, Insya Allah, mereka akan diberi amanah untuk menjadi petugas pembimbing jamaah Haji Sumatera Barat.
Hampir semua orang yang ada dalam ruangan memegang HP mereka masing-masing. Apa yang mereka lihat dan mainkan? Penulis tidak tahu secara pasti, tetapi yang jelas, para peserta sedang konsentrasi membaca dan menekan keyboard HP mereka. Tak seorangpun peserta yang berjalan miskipun hanya sekedar bertanya apalagi berselfi sebagaimana biasanya di saat duduk bersama-sama. Instruksi yang disampaikan oleh Bapak H. Samsuir, S.Ag. M.Si dilaksanakan dengan baik dan sempurna oleh semua peserta ujian. Selamat Ujian! Semoga Sukses!.
Penulis rehat sambil melangkahkan kaki dengan santai melintasi beberapa ruangan kerja. Pada salah satu ruangan, penulis melihat dan mendengar Bapak H. Samsuir sedang bercengkarama dan bercanda ringan dengan beberapa orang ASN. Penulis masuk dan mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan beliau. Beberapa saat penulis berdiri sambil mendengar perbincangan beliau, lalu penulis amati dengan seksama miskipun dalam suasana santai. Satu persatu kalimat yang keluar dari beliau sangat mengandung makna.
Tes adalah menguji kompetensi. Kompetensi bukan hanya kepintaran rasional tetapi juga kepintaran emosional. Apalagi tes berkaitan dengan mengurus jamaah Haji. Rasa tanggung jawab yang sangat tinggi harus tertanam dalam diri seorang petugas. Jamaah calon haji berasal dari berbagai latar belakang pendidikan, kehidupan dan ekonomi tentu akan mempengaruhi cara berfikir, bicara dan bersikap. Oleh karena itu, seorang petugas haji sangat di tuntut memiliki kompetensi yang tinggi.
Selain kompetensi yang dituntut dari calon petugas haji, integritas dari penitia dan pengambil kebijakan tentu juga harus di junjung tinggi. Beliau ( H. Samsuir) sempat sedikit berbagi pengalaman beliau tentang rekrutmen petugas haji. Miskipun seorang Profesor tetapi nilainya berada di bawah seorang kasi atau pegawai biasa, maka nilai yang tinggi harus menjadi sebuah standar untuk meluluskan seseorang. Profesor harus bersabar dulu, karena ada nilai yang lebih tinggi. Beliau, dengan cirikhas tersendiri; lambat, pasti dan mudah dimengerti bercerita lepas di hadapan salah seorang pejabat (H. Samsidir/Kasubag TU),di depan dan di samping bapak H. Samsidir ada H. Syafiaddin, Asparidon, Atris Heldayanti, Maifitri Yeni dan ibu Yurni).
“Experience the best teacher”, Kalimat inilah yang teringat sama penulis saat melintas di depan ruangan kepala. Para pejabat ( Bpk. H.Samsuir, Bpk. H. Alizar, Bpk. H. Burhanuddin Chatib, Bpk. H. Amril dan Bpk. Rabamis) sepertinya saling share pengalaman tentang petugas jamaah haji. Suasana cerita dan canda penuh dengan keakraban. Apabila satu orang saja menyampaikan pengalaman yang berbeda satu sama lain, maka muncullah 5 pengalaman yang bisa menjadi pelajaran dan /atau guru bagi yang bersangkutan. Sekilas yang penulis dengar serta dua petik yang penulis potrek, kemudian penulis kembali ke pangkalan untuk melanjutkan yang terbengkalai. Sebenarnya penulis ini menimba ilmu dengan orang-orang yang punya kapabilitas dan berpengalaman mengadapi aral melintang di Kementerian Agama, namun penulis tentu juga harus tau posisi. Seorang yang bijak, bukan hanya bijak dalam berbicara tetapi harus tau dan bisa menempatkan diri. The short Story, penuh arti.
Romantika dilanjutkan di WA group Kemenag Kota Solok. Ada informasi suka dan duka. Indormasi duka, dimama salah seorang mantan Kepala KUA Kecamatan di kota Solok, yakni Drs. Alimar Khatib sedang di rawat di rumah sakit. Sebagian dari ASN kantor Kementerian Agama Kota Solok telah melihat kondisi beliau. Bagi ASN yang melihat di WA, umumnya mengucapkan rasa prihatin dan mendoakan beliau agar cepat sehat dan bisa lagi bercanda dan bekerja seperti biasa bersama dengan teman-teman lainnya.
Edi Firman, salah seorang ASN mengirimkan photo-photo suasan ujian calon petugas Haji tahun ini. Photo-photo yang di kirim tanpa ada komentar dari yang mengirimkan. Bagi orang yang tidak mendengarkan informasi, maka akan menimbulkan pertanyaan, ada kegiatan apa ya? Yang berpakaian seragam sedang asyik dengan HP nya sedangkan yang barpakaian dinas harian sedang mondar-mandir mendampingi yang berpakaian putih hitam.
Penulis perhatikan ekspresi beliau-beliau yang sedang duduk sangat bervariasi sekali. Sepertinya ada wajah-wajah yang tegang, khusuk dan ada juga biasa-biasa saja. Santai dengan satu tangan di HP, sedangkan tangan yang satu lagi dengan berbagai style; ada yang di pipi, ada yang di kepala, ada yang menumpu dagu, dan adalagi yang keduanya memegang HP. Apakah ekspresi tersebut mereka sengaja? Menurut penulis, ekspresi itu berjalan dengan spontan saja.
Bagaimanakah penafsiran kita tentang sebuah ekspresi? Pasti tidak akan sama, karena kita punya cara pandang yang berbeda. Mau dan mampukah kita menyikapi sebuah dan berbagai macam perbedaan? Tergantung kepada orangnya. Orang yang berfikiran sempit dan hanya membenarkan apa katanya saja, boleh dipastikan sangat sulit menerima perbedaan. Tetapi bagi mereka yang memiliki berbagai pengalaman dan di tambah pula dengan hati yang lapang, maka perbedaan adalah makanan dia.(**)






