Oleh: DARMIWANDI, S.Ag. MH.
“Assalaamu’alaikum”, kalimat salam yang diucapkan oleh Arianto Tandika. M.Pd yang baru turun dari scoopy nya. Turun dengan kondisi basah. Basah bukan badannya tetapi hanyalah mantelnya. Penulis sedang duduk sambil membuka laptop mau menulis tentang pergerakan Muhammadiyah di Nagari Paninggahan. Di samping penulis duduk seorang yang sedang memegang tampuk pimpinan Madrasah yakni Bpk. Arlis Rusman. Dua orang tersebut, mungkin akan banyak tersebut nama beliau dalam tulisan singkat ini.
Tulisan ini mulai penulis ketik di sela-sela waktu luang sambil menunggu jam Rapat Majelis guru MTsM dan jam istirahat, makan dan sholat pada hari sabtu tanggal 08 Februari 2020. Rapat sedang berlangsung, penulis pun berhenti sejenak. Guru-guru yang hadir dalam rapat di antaranya adalah: Arlis Rusman, Arianto Tandika. M.Pd, Kartini, S.Ag, Ali Yasman, S.Pd, Febri Yenti, SH. Susi Afrita, S.Pd, Reci Fitri Yeni, S.Pd, Silvia Darawati. Revelita Neri, SP. Agenda rapat adalah evaluasi, solusi, koordinasi dan meningkatkan serta mengembangkan Pendidikan Muhammadiayah untuk masa yang akan datang. Tantangan, rintangan dan hambatan adalah tunangan bagi sebuah pergerakan untuk mencapai kemejuan dan perkembangan.
20 Tahun Muhammadiyah Bangkit di nagari Paninggahan terasa baru kemaren. Apakah belum ada Pergerakan Muhammadiayah di paninggahan sebelumnya? Sudah ada!. Namun penulis akan mengurai lebih panjang sesuai yang penulis ketahui sejak akhir tahun 1999. Mana yang tercecer, biarlah yang mengetahui melengkapi dan menyempurnakannya. Terhadap nama yang tersebut atau yang tidak dalam tulisan ini, rila dan maaf di minta terlebih dahulu.
Dari manakah penulis akan memulainya? Dari Surat undangan.
Tanggal tidak ingat karena sehelai kertas undangan itu tidak diketahui keberadaannya sampai saat ini. Andaikan terfikir di saat itu bahwa sehelai kertas tersebut akan berarti dan menjadi salah satu saksi sejarah bagi penulis, mungkin kertas itu akan penulis simpan dengan baik dan rapi sampai sekarang.
Miskipun kertas itu tidak ada lagi untuk dilihat dan dibaca, tanggal dan isinya, namun tahun yang tertullis dalam surat itu masih penulis ingat yaitu tahun 1999. Kenapa penulis ingat tahunnya? Karena saat itu penulis sedang mengajar di MTI. Selain itu, di akhir tahun 1999, penulis sedang mengikuti Tes CPNS pada Departemen Agama (Kementerian Agama). Isi dari surat undangan itu adalah untuk menghadiri rapat Ranting Muhammadiyah Paninggahan pada hari Minggu.di TK Bustanul Atfal Aisyiah Balai Usang Kampung Tangah.
Penulis keluarkan si Merah (Cup.70) dari sebuah ruangan tempat kos penulis di Ganting menuju TK Balai Usang. Sampainya di TK itu, penulis bertemu dengan beberapa orang tua, baik laki-laki maupun perempuan yang telah berusia lanjut. Di antara laki-laki yang hadir, hanya penulis yang paling muda dan masih bujangan. Sebagian dari beliau belum penulis kenal. Di antara para orang tua yang hadir dan masih teringat oleh penulis adalah: Ayah H.N. Dt. Kayo (alm), Mak. Amir.M (alm), Mak. Syamsi, Mak.Pono Hakam, Mak. H. Helmi Autad, Ibu Nurlela. Acik Nurcaya, Atun. Ayah Dt. Palindih. Mak. Rusjak (alm), Mak. H. Mayasir (alm), Mak.H. Ali, Pk. Asmuni Zam (alm).
Siapakah semua beliau ni? Saat itu penulis belum mengetahui dan juga tidak tahu agenda rapat. Penulis hanya melihat dan memperhatiakan serta menjalin silaturrahmi sebelum rapat berlangsung.
Rapat di mulai dan penulis di percaya untuk meminpin rapat dengan agenda pembubaran pengurus lama dan pembentukan pengurus baru. Usulan berkembang tentang sistem pembentukan pengurus baru, dan pada akhirnya diputuskan dengan sistem Voting. Setiap peserta memberikan suara. Hasil dari voting; suara untuk penulis dengan Mak.H. Helmy Autad berimbang. Bardasarkan hasil rapat ditetapkanlah bahwa: H. Helmy Autad sebagai Ketua, Darmiwandi, S.Ag sebagai Sekretaris dan H. Amin Sutan Mantari sebagai Bendahara.
Amanah in penulis terima tanpa beban, dan tidak terfikir bahwa ini adalah organisasi Muhammadiyah sementara penulis dalam saat yang bersamaan juga sebagai Sekretaris pada Yayasan Bustanul Abrar (MTI) Paninggahan. Apa itu Muhammadiyah dan apa itu Tarbiyah? Penulis tidak megetahui dan mendalami kedua organisasi tersebut. Amanah dijalankan dengan baik dan maksimal! Itu saja yang ada dalam pikiran dan hati penulis.
Tanpa mengurangi arti, setalah pengurus terbentuk, penulis mengusulkan dengan berbagai pemikiran kepada peserta rapat untuk mendirikan Lembaga Pendidikan demi perkembangan dan kelangsungan pergerakan Muhammadiyah untuk masa yang akan datang. Pemikiran ini ditanggapi positif dan mendapat dukungan dari peserta rapat. Tetapi apa Lembaga Pendidikan yang akan didirikan belum disepakati, namun yang disepakati adalah Lembaga Pendidkan Agama.
Pada minggu berikutnya, wacana untuk mendirikan Lembaga Pendidikan Agama dilanjutkan. Awal tahun 2000, penulis memberikan pertimbangan kepada peserta rapat, maka disepakati serta diputuskan untuk mendirikan Lembaga Pendidikan Agama setingkat SLTP yaitu Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah (MTs.M) Paninggahan dan ditetapkan Penulis sebagai Kepala Sekolahnya.
Wacana berkembang lagi, kapan di mulai didirikan dan diterima siswa baru? Maaf, dengan tekat yang bulat pada saat itu, penulis menyampaikan bahwa tahun 2000 ini kita langsung mensosialisasikan Penerimaan Siswa Baru (PSB). Dimanakah lokal atau gedung tempat siswa belajar nanti? Sementara sekolah lama sudah hampir roboh. Entah kenapa? Penulis jawab; kita pakai saja sebagian dari lokal TK ini untuk siswa baru MTs.M. Para jamaah setuju dan memberikan dukungan yang sangat kuat. Dukungan yang kuat dari jamaah menjadi motivasi bagi penulis dan pengurus untuk mengemban amanah yang begitu berat dan berbagai tantangan yang akan di hadang.
Wacana mulai menyebar. Dengan menyebarnya wacana dan rencana akan mendirikan Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah (MTsM) Paninggahan sampai ke tempat penulis sedang aktif mengajar, baik di SDN 05 Koto Baru, SMP Terbuka dan MTI Paninggahan. Adakah respon dari tempat penulis mengajar? Ada!. Satu kalimat pendek yang diungkapkan oleh “X” dalam suasana rapat di tempat penulis masih aktif. “X” mengatakan: “Ado urang nan manjagoan ula lalok, yang alah lalok sekian puluh tahun, kalau ula ko jago, ndak ka baagak-agak cotok e la ngah”.(Ada seseorang yang membangunkan ular tidur puluhan tahun, kalau ular itu bangun, maka gigitnya luar biasa)“. Saat penulis mendengar kalimat tersebut, penulis biasa-biasa saja, karena penulis tidak tahu sama sekali yang dimaksud oleh orang yang mengungkapkan itu. Namun, ada salah seorang “Y” yang menanggapi, bahwa yang dimaksud itu adalah Muhammadiyah dan mari kita minta kepada salah seorang pengurusnya yang ada dalam rapat ini, yaitu Darmiwandi.
Mendengar kalimat tersebut, penulis diberi kesempatan untuk bicara. Diawali dengan salam, kalimat terima kasih dan rasa hormat, penulis menyampaikan kronologis dari semua yang penulis lalui dan rencana yang disepati oleh jamaah Muhammadiyah dengan jelas dan apa adanya. Peserta rapat diam. Tetapi sesat setelah itu, terdengar lagi kalimat berikutnya dari “X”: “Wa ang hati-hati!, Taserak di kampuangkan urang, Tarumbai di putuih urang” (Kamu harus hati-hati!, terserak dikumpulkan orang, terjulur di putus orang)”. Penulis lagi-lagi diam, karena tidak mengerti maksudnya. Rapat langsung di tutup dan peserta rapat pun bubar.
Setelah penulis coba menyampaikan kalimat-kalimat tersebut kepada orang tua-tua, beliau menanggapi: Teruslah semangat dan tetaplah dengan kehati-hatian, karena kalimat-kalimat tersebut adalah ancaman.
Dua kalimat di atas (“Ado seseorang nan manjagoan ula lalok sekian puluh tahun, kalau ula ko jago, ndak ka baagak-agak cotok e la ngah”dan“ Wa ang hati-hati!, Taserak di kampuangkan urang, Tarumbai di putuih urang”), entah sampai kapan akan lupanya oleh penulis, miskipun bagi orang lain tidak akan ingat lagi. Positifnya, dari sinilah penulis mulai mengetahui adanya perbedaan dengan Muhammadiyah.
Perjalanan dilanjutkan, pergerakan diteruskan. Penulis dengan pengurus dan jamaah lainnya terus berfikir dan bergerak. Di antara pergerakan yang dijalankan adalah melaksanakan wirid/pengajian agama setiap bulan. Kami mendatang mubaligh dari dalam Nagari Paninggahan, di antanya Ust. Syahril Alen (alm), Ayah Pakih Ahmad Dalimi (alm), Mamak. H. Arbai Mizen, Mamak J. Panito Pisang, Sy. Panito Koto, Rudi Rasyid, S.Ag, Armen Ghani, S.Ag. Arlis Rusman, dan juga dari luar nagari Paninggahan seperti H.Afrizal Thaib, H. Afdhal.A. Sa’ad, Jasri, S.Ag, dll. Untuk mengenang, penulis akan tuliskan nama-nama jamaah yang sering dan semangat hadir dalam wirid bulan adalah: Mak.Azhar Kan.Ngah (alm), Mak. H. Mayasir (alm), Ayah H.N.Dt.Kayo (alm), Mak. Hakam Pono (alm), Mak.Ja’far (muaro pingai), Ayah Panito Guci, Mak. H. Helmy Autad, Mak.H. Ali Katik Batuah. Mak. Asmar Hasan. Mak.Syamsi, Mak.H.Naim ( alm), Uni Rosni, Acik Nurcaya, Atun, dan bebarapa orang ibuk-ibuk lainnya.
Sekian bulan penulis mencoba mengunjungi dan mengundang orang yang tersebut adalah jamaah Muhammadiyah atau keturunan orang Muhammadiyah yang ada di Nagari Paninggahan, mulai dari Gando, Kampung Tangah, Ganting Padang Palak, Koto Baru Tambak, Parumahan dan Subarang, Penulis porsentasekan dari segi jumlahnya di banding dengan jumlah penduduk Nagari Paninggahan, maka boleh penulis bilang bahwa jumlah jamaah Muhammadiayah hanya 1% sampai 2 %.. Kenapa penulis mengatakan seperti itu? Karena penulis telah menelusuri seluruh pelosok nagari Paninggahan. Miskipun jumlah porsentasenya sangat kecil sekali, tetapi semangat para jamaah tersebut sangat luar biasa. Semangat yang beliau miliki terus di bagi kepada penulis. “Jangan ragu! Jangan gentar! Teruslah bergerak dan berjuang! Perjuangan Muhammadiyah adalah Amar Ma’ruf Nahi Mungkar. Penyakit TBC (Khurafat, Bid’ah dan Tahayul) harus di berantas. Aqidah masyarakat harus dibersihkan dari segala bentuk syirik. Kepercayaan kepada perdukunan apalagi menjadi dukun harus disingkirkan. Mempelajari ilmu sihir apalagi menjadi guru sihir harus dijauhi. Beribadah kepada Allah harus berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw bukan hanya berdasarkan kemauan dan keinginan sendiri. Mengkultuskan orang-orang dan tempat-tempat tertentu apalagi meminta kepada yang demikian itu harus di lawan. Cerdaskan umat dan ajari mereka agar Ittiba’ dan jauhkan mereka dari Taqlid buta.
Beratkah? Memang berat!. Sulitkah? Tantang di kiri kanan, muka belakang, dari dalam dan luarpun menghadang. Berhentikah? Tunggu dulu!. Berfikir dan bergerak adalah sebuah komitmen. Doa kepada Allah adalah handalan.
Februari 2000, penulis membuat brosur Penerimaan Siswa Baru (PSB) MTs.M Paninggahan. Penulis yang didampingi Arianto Tandika menerima calon siswa baru. Alhamdulillah, tepatnya bulan Juli 2002, MTs.M dapat merekrut siswa sebanyak 14 orang. Mereka itu adalah: Dona, Rosa, Pera, Johan Hidayat, Hemel Jaka, Feri, Miko, Neneng Nursyam, Diye, Refni, Indra, Dayat, Adri (1 orang lagi penulis lupa). Tenaga pengajarnya adalah; Arianto Tandika, S.Pd. Kartini, S.Ag. Helen Nursyam,SH, Alen Martina. Railis, S.Ag, Fatimah, S.Pd. Litra Nara, Arlis Rusman, Raflis,S.Ag, Armen Ghani,S.Ag. Riza.
Pada tahun berikutnya, siswa yang masuk MTs.M berlebih daripada tahun pertama, dan pada tahun ketiga, jumlah siswa MTs.M berkisar 70-80 orang. Tenaga pengajar pun datang silih berganti. Maklum, sekolah swasta, sedang mengajar bisa saja pindah ke sekolah lain, pergi ke rantau orang untuk merobah ekonomi dan menuruti suami.
Bagaimanakah dengan honor guru? Selain sumbernya dari uang sekolah anak yang sangat terbatas dan terbata-bata, penulis membuat kartu donator dan menjalankannya setiap bulan. Semua perjalanan menuju para donator masih ingat dalam pikiran penulis. Sebut saja pergi ke ondoh menemui Mak. H. Ali Katik Batuah, Mak.Laidin di karang, Mak. Sahar Kak.Ngah di Parumahan, Ayah Dt. Kayo di Gantiang dan beberapa orang jamaah lainnya. Lima dan sepuluh ribu, itulah yang dikumpulkan setiap bulan demi membantu operasinal madrasah.
Bidang Pendidikan terus dijalankan, bidang pembangunan fisik terus digerakkan. Berkat kerjasama dan komonikasi serta komonikasi yang baik antara pengurus, jamaah yang berada di kampung dengan perantau, maka lambat laun, bangunan fisik yang lama dirobohkan melalui gotong royong. Hanya dengan seulas tali yang diikatkan pada bangunan lama tersebut, bangunan bisa runtuh. Begitulah kondisinya saat itu.
Dari manakah sumber dana untuk membangun bangunan Madrasah yang beru? Secara pribadi, penulis tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata ucapan terima kasih berlebihan kepada Mamak. H.Ismet Roza. Beliau adalah sorang yang peduli terhadap masyarakat baik dalam bidang sosian apalagi tentang pendidikan. Dari manakah dana puluhan juta yang beliau kirim untuk membangun gedung Pendidikan Muhammadiayah? Penulis tidak pula bertanya. Sepengatahuan penulis, beliaulah salah seorang yang pasang badan untuk berdirinya bangunan MTs.M Paninggahan ini. Jamaah dan Pengurus terutama Mak. H. Helmy menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya, bukan hanya tenaga dan pikiran tapi juga dana.
Mulai merintis tahun 2000, penulis di percaya menjadi Kepala MTs.M Paninggahan. Amanah ini dijalankan sambil bekerja sebagai Pegawai Nageri. Penulis dinotadinaskan bekerja ke KUA Kecamatan X Koto Di Atas di Nagari Tanjung Balit, miskipun SK pertama penulis di KUA Kecamatan Junjung Sirih. Dalam menjalankan tugas, kadang-kadang penulis singgah ke sekolah, kadang-kadang tidak. Kadang-kadang saat singgah di sekolah, tidak jadi saja pergi ke kantor, kalau pun pergi ke kantor sudah jam 9 lewat. Begitulah penulis menjalankan amanah. Tapi…, Berkat kerja sama dengan seluruh majelis guru, terjalinnya komonikasi dan koordinasi yang baik serta terciptanya suasana yang kondusif, Alhamdulillah, semua proses belajar dan mengajar bisa berjalan dengan baik dan lancar. Bapak Arlis Rusman dan Arianto Tandika yang mambantu sebagai Wakil Kepala Sekolah mampu menghandel dan mengembangkan potensi siswa sehingga nama MTs.M Paninggahan bisa berbicara baik di dalam nagari Paninggahan maupun diluar Nagari Paningggahan.
Adakah tantang, rintangan bahkan konflik selama penulis menjadi Kepala Sekolah? Tidak terhitungkan banyaknya. Luar dalam datang menghadang dan menghalang. Satu tekat dan kepercayaan dijadikan modal.
Pada tahun 2008, penulis menyerahkan estapet Kepala MTs.M kepada Bapak Arlis Ruman, karena di akhir tahun 2007, penulis diamanahkan menjadi Kepala KUA di Kota Sawahlunto. Semenjak itu, bolah dikatakan bahwa penulis tidak bisa terlalu aktif lagi di Madrasah karena keterbatasan waktu dan tenaga. Bapak Arlis Rusman dengan tenaga pengajar meneruskan perjuangan Pendidikan Muhammadiyah sampai sekarang. Tantangan dan kendala pun tidak bisa beliau helakkan. Perjuangan Muhammadiyah terus berjalan, tahun ke tahun, MTs.M mempunya Alumni. Ada yang melanjutkan ke Jenjang pendidikan agama dan ada yang melanjutkan ke jenjang pendidikan umum. Di antaro Alumni MTs.M yang penulis ingat sampat tamat di Perguruan Tinggi adalah: Yesriva Nursyam (Dosen ISI Padang Panjang), M. Jaiz (Tamatan UNP Padang), Hana Pertiwi (Mengabdi pada Perguruan Tinggi di Padang), Silvivi Yasminika (di CITY BANK –Jakarta). Diri (Garu SDN Paninggahan), Iqbal (Guru SDN Muaro Pingai).
Perjalanan dan pergerakan Muhammadiyah di Nagari Paninggahan memang berat, dari segi jumlah yang masih sangat minim (1 % sampai 2 %), apalagi orang benar-benar berjiwa dan bermantal Muhammadiyah masih bisa di hitung dengan jari. Namun demikian, pergerakan Muhammadiyah baik di bidang pendidikan, Aqidah, Sosial dan ekonomi akan terus digerakkan. Semangat perjuangan Muhammadiyah harus dibangkitkan. Organisasi Muhammadiyah bukanlah sebuah tujuan, tetapi adalah sebagai alat pergerakan untuk memajukan dan mencerdaskan serta mensejahterakan umat.
Sejauh manakah pengaruh perjuangan pergerakan Muhammadiayah di Paninggahan? Menurut penulis yang dipercaya lagi menjadi Ketua PCM Junjung Sirih dari tahun 2005 sampai sekarang bahwa: “Secara kuantitas tidak terlalu signifikan, tetapi secara umum; pergerakan muhammadiyah telah membuka kran cara pandang dan karakter pemikiran masyarakat termasuk sebagian tokoh masyarakat dan tokoh agama. Dimana sebelumnuya, mendengar Muhammadiyah dan pergerakannya seolah-olah suatu hal yang tabu dan alergi. Berkaitan dengan muballigh apalagi Ulama, secara keorganisasian Muhammadiyah Paninggahan masih sedikit memilikinya, namun sebagian dari mubaligh/ulama nagari Paninggahan telah bisa menerima terjadinya perbedaan cara pandang/berfikir terutama dalam perkara furuiyah.
Mencerdaskan cara pandang dan cara berfikir untuk mengiring masyarakat umum dan tokoh-tokoh masyarakat kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul saw merupakan tugas kita bersama terutama para muballigh dan ulama. Khusus untuk penulis, adalah fardhu “ain untuk mengkaji lebih jauh dan lebih dalam tentang Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw untuk mencarikan solusi dari persoalan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, baik yang berkaitan dengan Aqidah, Ibadah dan Muamalah (ekonomi).
Saran dan kritikan konstruktif terhadap penggerak Muhammadiyah di Nagari Paninggahan perlu diberikan. Bidang Pendidikan telah dan sedang berjalan, bidang dakwah sangat kurang, bidang ekonomi belum kelihatan, SDM belum seberapa. Kalaupun ada, entah di mana. Kenapa? Mungkin penulis sebagai pimpinan bukanlah seorang ahli strategi, politisi dan pintar bernegosiasi.
“Bergerak dan berjuang adalah sebuah tekat, Hasil dari perjuangan, suatu hal yang relatif. Gagal dalam perjuangan adalah hal yang biasa. Ingatlah! Anda akan tercatat dalam sejarah bahwa Anda telah berjuang bahkan seorang pejuang” (Darmiwandi). “Perjuangan akan terasa apabila mendapat tantangan yang menantang. Jangan bilang anda berjuang kalau hanya mengikuti apalagi terbawa arus” (Darmiwandi).
Tak salahnya penulis bertanya kepada diri penulis sendiri. Apa yang anda cari? Apa yang anda perjuangkan? Apa yang anda gerakkan? Mencari nama agar dikenal orang? Tak perlu penulis jawab dengan tulisan.
Muhammadiyah adalah nama lekat kemudian kepada penulis termasuk jabatan yang ditenggerkan ke pundak penulis. Andaikan jabatan dan nama muhammadiyah di ambil dan hilang dari penulis? Insya Allah, belajar dan belajar lagi tentang Al-Qur’an dan Sunnah Rasul saw serta mendakwahkannya akan terus dijalankan.Kekuatan adalah milik Allah. Organisasi Muhammadiyah adalah alat dan bukan milik pribadi. Tujuan hakiki adalah Mencari Ridha Illahi. Mudah-mudahan…!! (*)






