Oleh : Meriyanto
Pagaruyung – Daerah segitiga Kabupaten Agam, Lima Puluh Kota, dan Tanah Datar, dianggap sebagai poros awal persebaran Kebudayaan MINANGKABAU. Tinjauan sejarah mempercayai ketiga daerah yang pada masa lampau berjuluk ‘Luhak Nan Tigo’ ini merupakan pemukiman awal dari masyarakat MINANGKABAU atau disebut pula wilayah darek (daratan).
Istano Basa Pagaruyung Sebagai Open Museum maksudnya adalah : Sebagai Museum terbuka yang dapat dikunjungi setiap saat dan sebagai pusat tempat pengembangan adat dan budaya MINANGKABAU. Selain dari bagunan induk berupa istano, maka dalam koleksi ini juga terdapat bangunan lainnya.
Seperri Tabuah, Surau, Balai Adat Bodi Chaniago, Balai Adat Koto Piliang, Pincuran tujuah dan bangunan menunjang lainnya. Kemudian pada masa mendatang juga akan dibangun museum budaya, Ruangan visualisasi adat budaya, Gedung Pertemuan dan Perpustakaan.
Dengan dilengkapinya komplek Istana Basa Pagaruyung dengan berbagai fasilitas, maka tempat ini dapat dijadikan sebagai museum terbuka yang dapat dikunjungi orang setiap saat.
Tempat ini akan dijadikan sebagai pusat pengembangan adat dan Budaya MINANGKABAU. Kemudian juga sebagai tempat diselenggarakannya acara-acara adat dan kebudayaan.
Istano Basa Pagaruyung adalah icon pariwisata Sumatera Barat dan bahkan pariwisata Nusantara. Bahkan juga bisa menjadi pintu gerbang bagi wisatawan sebelum mengenal tempat lainnya di Sumatera Barat.
Tempat ini bisa dijadikan sebagai pusat pembelajaran, pelatihan, penelitian, dan sekaligus sebagai tempat wisata yang bernuansa budaya. Maka harus kosisten dan dapat terus menjaga keutuhannya sebagai situs budaya yang bernilai tinggi.
Istano Basa Pagaruyung juga mempunyai lokasinperkemahan yang cukup luas dengan berbagai fasilitasnya. Salah satu iven International yang pernah dilaksanakan di bumi perkemahan ini adalah Jambore Budaya International Negara Serumpun Malysia-Indonesia pada Tahun 2010 dengan peserta mencapai 3000-an. (Mentreng)
Oleh: Mentreng






