Oleh : Meriyanto
Tonggak Tuo :
Dalam adat Minangkabau tonggak tuo adalah tonggak yang paling tua (yang pertama) dalam mendirikan Museum Terbuka Istano Basa Pagaruyung. Tata cara dalam mendirikan tonggak tuo ditentukan pula menurut adat Minangkabau.
“Tonggak banamo tiang tuo
Tuo nan sajak dari rimbo
Tampuak tangkai nan punyo kayu
Kayu nan mulo jolong dicacak
Piliahan cati bilang pandai
Tukang nan tahu jo jini kayu
Tanah nan tidak kadibandiangkan
Takalo kayu karabah
Tujuah hari tawa manawa
Tujuah malam bajago jago
Tando alamat kabasaran adat
Dielo jo tali tigo rupo
Kabasaran Allah Minangkabau
Taserak bareh jo padi
Dimakan ayam nan sapasang
Babunyi unggeh katitiran
Tunggak tuo badiri batua
Kato mufakat nan jadi rajo”.
Tonggak Gantung:
Dua buah tiang yang tegak diujung sebelah kanan dan kiri bangunan Museum Terbuka Istano Basa Pagaruyung tidak menyentuh permukaan tanah,
Kedua tiang tersebut dinamakan “Tunggak Gantuang” yang mewakili keberadaan Datuk Ketemanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sabatang sebagai peletak dasar kerangka adat Minangkabau dengan segala kebesaran dan peranannya dalam kehidupan adat Minangkabau.
“Tonggak gantuang
Tonggak pagantungan anjuang nan tigo
Parenjeng tingkah nan tigo
Panumpu si sondak langik
Ujuang ukia tupai managun
Baselang cokilek padang basentak
Alamat barani dinan bana
Nan luruih tantangan alua
Kato nan turun dari ateh
Titah nan turun dari mangkuto
Mangkuto alam kulah kamar
Rajo alam rajo kuaso
Rajo badiri sandirinyo
Lahia tunggak nan tagantuang
Bathinyo titah nan cucua dari ateh
Ikutan alam Minangkabau.”
Tiang pada Museum Terbuka Istano Basa Pagaruyung, tidak hanya sekedar tonggak bangunan, tapi juga terdapat unsur-unsur yang terkandung dudalamnya, yaitu :
“Unsur Pemersatu”
Walaupun masing-masing tiang bisa berdiri dengan kokoh diatas batu sandi yang kuat. Tiang-tiang tersebut tidak akan pernah membentuk kerangka bangunan,
Berarti dalam kehidupan adat Minangkabau tanpa kehadiran unsur penghubung dan pemersatu diantara semua kaum beserta pemimpin mereka. Mereka tidak akan bersatu dan tidak akan memiliki rasa kebersamaan sama sekali .
Diantara unsur-unsur pemersatu tersebut ada beberapa unsur yang penting yang perlu diketahui :
– Rasuak
Adalah balok pemersatu tiang dengan tiang menurut lebar bangunan.
– Paran
Adalah balok pemersatu antara tiang dengan tiang menurut panjang bangunan.
Kehadiran rasuak dan palanca sebagai unsur pemersatu ini membentuk sebuah kerangka bangunan yang berdiri kokoh dan semua unsur saling menunjang dan membutuhkan.
Kedua unsur pemersatu ini mewakili dan melambangkan peran yang diemban oleh Langgam Adat dan Undabg-Undang Luhak sebagai pedoman utama yang akan menyatukan semua versi masyarakat dalam jehidupan sosial.
“Unsur Pengokoh”
Keberadaan rasuak dan paran belum menjamin kekuatan, kestabilan dan kedataran permukaan lantai. Kehadiran unsur-unsur pengokoh berikut sangat dibutuhkan:
– Singgitan
Adalah balok kayu yang diletakan diatas permukaan rasuak untuk membentuk permukaan datar antara rasuak dan palanca. Ia mewakili dan melambangkan peran “Mungkin Jo Patuik” yang menjadi standar dalam setiap kegiatan ditengah-tengah masyarakat Minangkabau.
– Jariau
Adalah balok kayu yang dipasang paralel dengan palanca dan kedua ujungnya diletakkan pada singgitan. Ia mewakili dan melambangkan peran aktif masyarakat. Tungganai dan pembantu penghulu sebagai pelaku dalam pengawas kehidupan sosial yang berpedoman kepada agama dan adat.**
Oleh : mentreng
Sumber : Museim Terbuka Istano Basa Pagaruyung






