Mentreng.com | Jakarta – Acara serimoni peresmian dibukanya RM. Ayam Ancur di beranda KADIN Indonesia Jl. HOS. Tjokroaminoto 122 Jakarta cukup hikmat. Ketua Umum KADIN Indonesia, Eddy Ganefo berkenan meresmikan RM. Ayam Ancur yang ditandai dengan memotong tumpeng nasi kuning yang diberikan secara istimewa kepada Bupati Indragiri Hulu, Rezira Meylani Yopi SE, yang terbilang sebagai kepala daerah perempuan termuda di Indonesia.
Eko Sriyanto Galgendu selaku pengusaha kuliner dan Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia Bidang Perencanaan & Kerjasama Strategis, ikut mendampingi bersama Prof Mufty Mubarok Wakil Ketua Umum KADIN Bidang Kerjasama Pemerintahan & BUMN serta Dokter Andini Waketum Bidang Pariwisata KADIN Indonesia.
Sebagai pelaku usaha kuliner, Eko Sriyanto Galgendu secara konseptual mengedepankan strategi yang membumi untuk mengembangkan ekonomi nasional, salah satu caranya adalah digitalisasi industri. Menurut Ketua Umum Lintas Agama ini juga, KADIN Indonesia sudah mempunyai perpanjangan tangan di sejumlah negara dan lembaga perdagangan dunia. Mulai dari Europe & Russia, Australia, New Zealand & Timor Leste, USA Canada & Mexico, Japan, China, Hongkong & Taiwan, Malaysia, Brunei, Thailand & Vietnam hingga Midle East & Organisation of Islamic. Sehingga peluang untuk investor yang ingin menanamkan modalnya di Indonesia bisa dijaring lewat KADIN Indonesia, tandasnya. Selain itu jaringan GMRI pun melalui Atase Militer di sejumlah negar sahabat bisa diberdayakan.
Sementara konsep untuk mengelola usaha kuliner yang dimulai dari titik nol, dilakuan Eko Sriyanto Galgendu dari lingkaran satu Istana Negara Merdeka Jakarta. Mulai dari ruko satu pintu yang terus berkembang menjadi dua. Lalu diperluas dengan membuat armada mobil toko (Moko) hingga berjumlah hampir 20 buah yang berada di berbagai tempat. Kemudian secara perlahan usaha kuliner yang ditekjluninya ini terus menggeliat nenjadi permanen hingga membuka semacam anak perusahaan Rumah Makan yang dikelola oleh para Bunda di berbagai tempat yang berhimpun dalam kelompok Wiramas(Wira Usaha Masyarakat). Pada pekan lalu saja Eko Sriyanto Galgendu sudah membuka dua counter sekaligus di kawasan Pasar Baru dan di Jl. Samanhudi Jakarta. Dari kedua counter usaha ini segera menyusul satu counter lagi dalam bentuk RM Moko (Mobil Toko) di Jl. Asem Reges Jakarta.
Peresmian RM. Ayam Ancuuur di beranda KADIN Indonesia Jl. HOS. Tjoktoaminoto No.122 pada Kamis, 15 Oktober 2021 telah mensepakati untuk membantu Bupati Indragiri Hulu bersama GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) untuk mengelola wisata budaya dan wisata spiritual. Hingga dalam waktu dekat GMRI akan segera melakukan kunjungan ke Indragiri Hulu guna memastikan langkah-langkah strategis yang perlu untuk segera melakukan upaya peletakan dasar dari konsep investasi spiritual dalam bidang usaha wisata religius di negeri Rantau Langsat itu.
Indragiri Hulu lebih dikenal dengan adanya Kerajaan bercorak Islam yang kuat pada masanya. Pendirinya adalah Merlang I yang berkedudukan di Malaka ketika itu. Sedangkan Untuk pemerintahan sehari-hari dijalankan oleh seorang Datuk Patih atau seorang Perdana Menteri.
Kerajaan Indragiri persisnya terletak di Kabupaten Indragiri Hilir dan Kabupaten Indragiri Hulu di Provinsi Riua. Kerajaan bernafas Islam yang kuat ini didirikan pada akhir abad ke-13. Namun baru menjadi Kerajaan yang terbilang kuat dan besar pada abad ke-15. Fenomena ini pula yang meyakinkan adanya siklus peralihan setiap tujuh abad di Nusantara. Dan sekarang telah memasuki siklus peralihan tujuh abad babak ketiga (sejak 2001). Jadi cukup meyakinkan bahwa sekarang adalah abad kebangkitan dari siklus peralihan tujuh abad babak ketiga. Keyakinan akan datangnya abad pencerahan bagi suku bangsa Nusantara yang telah bersatu dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, adalah bagian dari keyakinan serta fenomrmena alam yang menjadi literatur hidup atas keyakinan pada sunnatullah.
Kesultanan Samudra Pasai dan Aceh sangat meyakinkan telah memberi corak dan pengaruh pemahaman Islam yang dominan bagi Kerajaan Indragiri hingga berjaya pada masanya. Dari berbagai sumber sejarah Kerajaan Indragiri, tercatat cukup rajin untuk memberi upeti kepada Kerajaan Malaka. Dari catatan sejarah ini pun, Kerajaan Indragiri baru bisa dibangun lebih permanen oleh Nara Singa II yang menjadi Sultan Indragiri IV. Pada saat yang sama berdiri pula Rumah Tinggi di Kampung Dagang yang meruoakan bagian dari situs sejarah. Sejak saat itulah Raja Indragiri mulai menetap di Ibukota Kerajaan, yaitu Pekan Tua sekarang.
Setidaknya, sejarah juga mencatat sejak 1641, Kerajaan Indragiri telah menjalin hubungan dengan bangsa Portugis. Karena dari daerah dan wilayah sekitar Kerajaan banyak menghasilkan komoditas, mulai dari lilin, kayu gaharu hingga emas murni. Baru pada tahun 1765, Sultan Hasan Salahuddin Kramat Syah memindahkan Ibukota Kerajaan Indragiri ke Japura.
Dan sejak Malaka dikuasai Belanda, Kerajaan Indragiri mulai menjalin hubungan dengan VOC. Hingga pada masa Sultan Indragiri XVII yaitu Sultan Ibrahim, Ibukota Kerajaan kembali dipindah ke Rengat. Artinya, dengan rentangan sejarah sepanjang itu — abad ke-13 hingga abab ke-19 sampai Indonesia merdeka — cukup banyak nilai dan peninggalan sejarah dan budaya para luhur pada zaman itu — yang patut dan wajib dipelihara untuk kemudian dikembangkan sebagai modal dasar budaya dan tradisi untuk bisa membangun kembali masa kejayaan yang pernah digapai pada masa lalu.
Modal termahal itu adalah budaya dan tradisi yang bersifat non fisik, karena tidak dimiliki oleh bangsa-bangsa manapun. Karena itu modal spiritual dan investasi spititual yang sarat dengan nilai religius akan menjadi unggulan investasi wisata dalam arti luas.
Konsep wisata spiritual inilah yang telah menjadi titik temu antara GMRI dan Pemerintah Daerah Indragiri Hulu yang dikomando oleh Rezira Meylani Yopi SE. Setidaknya, hasrat Bupati ingin mensinergikan segenap potensi anak bangsa, tercatat sudah berulang kali dia tawarkan kepada Eko Sriyanto Galgendu agar RM. Ayam Ancur pun mau ikut berinvestasi di Indragiri Hulu yang kini berada dibawah kendalinya untuk bangkit dan maju menjadi daerah terdepan dan terpandang di tengah pulau Sumatra. Sebab Bupati pun sangat berharap dalam masa tiga tahun jabatan formalnya memimpin daerah itu, ingin semua gagasan yang ditawarkan GMRI pun dapat segera terwujud. Minimal, program untuk wisata religius itu sudah bisa dimulai dalam waktu dekat, agar hasilnya dapat segera dirasakan buahnya yang manis itu. Tentu saja konsep wisata religius ini akan semakin laju percepatan dari perwujudannya dengan dukungan penuh dari KADIN Indonesia.**(Jacob Ereste)






