“Menyembunyikan Kebenaran”

(Q.S. Al- Baqarah : ayat : 174)

Oleh : Darmiwandi, S. Ag. M.H

ان الذين يكتمون ما انزل الله من الكتاب و يشترون به ثمنا قليلا اولاءك ما يائكلون في بطونهم الا النار ولا يكلمهم الله يوم القيامة ولا يزكيهم ولهم عذاب اليم ( 174)

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, Yaitu Al kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang Amat pedih”.( Q.S. Al- Baqarah: Ayat: 174)

Asbabun Nuzul:
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ikrimah; bahwa turunnya ayat 174 Surat Al-Baqarah di atas dalam peristiwa sebagai berikut; Pemimpin dan ulama Yahudi biasa mendapatkan persembahan dan sanjungan rakyat bawahannya. Mereka berharap agar Nabi yang akan diutus itu diangkat dari kalangan mereka. Ketika Nabi Muhammad saw diutus bukan dari kalangan Yahudi, mereka takut kehilanagn sumber keuntungan, kedudukan dan pengaruh. Mereka ubah sifat-sifat Muhammad saw yang ada di kitab Taurat dan mengumumkan kepada pengikutnya dengan berkata : “Inilah sifat nabi yang akan keluar di akhir zaman dan tidak sama dengan sifat Muhammad ini”( KH.Qamaruddin Shaleh. Asbabun Nuzul: 52).

Miskipun Asbabun Nuzul ayat ini tentang pendeta-pendeta Yahudi di Madinah yang sengaja memutar arti ayat Kitab, yaitu Taurat, yang mencoba menyembunyikan isi Taurat karena isi Taurat itu menjelaskan kenabian Nabi Muhammad saw, namun kta berpeganglah kepada pokok pikiran ulama ushul fiqh yang terkenal:
العبارة بعموم اللفظ لا بخصوص السبب

“Yang menjadi perhatian adalah umumnya tujuan kata, bukan khusus sebab terjadinya”

Mengungkap kebenaran kadang terasa rumit. Kalaupun kebenaran itu sudah terungkap dan tampak jelas namun untuk menyampaikan sulit, bahkan diusahakan untuk menutupi, mengaburkan dan menguburkan kebenaran itu. Hal ini tidak terlepas dari orang yang pintar. Dalam segala agama dan masa ada saja orang pintar. Orang pintar yang tahu dengan hukum-hukum agama, tahu mana suruh dan larangan namun ilmunya tidak diikat dengan iman yang kuat. Kebenaran yang disembunyikan dan dikaburkan oleh orang pintar, akan ada saja orang dan waktunya membuka kebenaran itu. Biasanya orang pintar yang menyembunyikan kebenaran disebabkan untuk menimbang atau menenggang orang yang diseganinya dan untuk menancapkan serta memperkokoh pengaruhnya. Untuk itu, kebenaran mesti disembunyikan.

Kekuasaan dan rasa ingin menjadi orang terpandang dan dipuji-puji sangat berpengaruh untuk menyatakan dan menyembunyikan kebenaran. Untuk terus menerus menjadi orang terpandang, disanjung, dipuji dan ingin mendapatkan kedudukan maka tidak ada rasa takut bahwa hukum yang sebenarnya telah disembunyikan dan agamanya telah terjual serta kemerdekaan jiwanya telah tergadai.

Orang-rang yang menyembunyikan kebenaran dan menjual ayat-ayat dengan harga yang murah, mereka tidak menyadari bahwa yang mereka makan dari sikap dan pekerjaan itu sama dengan mamakan dan memasukan api ke dalam perutnya. Sifat api adalah panas, maka jiwa, mental dan sikapnya selalu memancarkan bara api yang ada dalam perutnya.

Bagi orang yang menyembunyikan kebenaran, mungkin mereka akan mendapatkan untung di dunia. Apakah dipandang, dipuji, disanjung dan diberikan kedudukan/kekuasaan, tetapi di akhirat kelak meraka akan mendapatkan balasan yang tidak bisa ditawar-tawar disebabkan menyembunyikan kebenaran.

Diantara balasan Allah SWT pada hari kiamat pada orang-orang yang menyembunyikan kebenaran adalah;
Pertama, Allah tidak akan bercakap-cakap dengan mereka.

Di kala hidup di dunia, hampir semua orang merasa segan dan takut kepada kita. Kita dihormati dan dimulyakan serta disanjung-sanjung. Belum kita datang, orang banyak telah mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kehadiran dan kedatangan kita. Orang bersedak-desakan untuk minta salam dengan kita. Jangankan untuk berbincang-bincang dan bercakap, dapat saja duduk bersama kita, alangkah bangga dan senangnya mereka. Ditambah pula dapat berphoto bersama. Begitulah pandangan orang banyak kepada kita, karena mereka tidak mengetahui tentang kita yang sebenarnya. Kalaupun mereka mengetahui sedikit banyaknya tentang kebohongan kita, mungkin mereka diam saja disebabkan rasa takut.

Bagaimana dengan maut telah datang dan akhirat pasti menanti?. Allah Maha Adil dan Maha Melihat. Kebenaran yang disembunyikan di waktu hidup di dunia dulu akan dibalasi oleh Allah. Allah tidak akan memandang, tidak memperhatikan, tidak menyapa dan tidak berkata-kata dengan mereka. Mereka dibiarkan begitu saja. Sedangkan pandangan dan bercakap-cakapnya Allah dengan manusia adalah kebahagiaan yang tidak terhingga. Sementara bagi kita yang menyembunyikan kebenaran adalah bagian dari siksa yang tiada tara.

Azab Allah di akhirat sudah pasti. Bahkan di dunia telah diperlihatkan sedikit saja oleh Allah terhadap orang yang menutupi kebenaran dengan kebohongan. Bukan hanya ditutupi dengan kebohongan tetapi ditambah pula dengan fitnahan kesana kemari.

Setelah kebenaran sedikit terkuak, orang banyak sudah mulai beralih pandangan dan sikap kepada kita yang sebelumnya adalah orang yang disegani, dihormati dan ditakuti. Orang banyak tidak segan-segan lagi menghujat, menghina dan melecehkan kita. Jangan untuk bertemu dan bersalaman, melihat kita saja mereka telah mengalihkan pandangan mereka. Bagaimanakah perasaan kita bila tidak diacuhkan orang? Di saat bersalaman mereka melengah dan memalingkan wajahnya?. Apalah harga diri kita?. Ini baru di dunia, apalagi di akhirat nanti; Allah yang tidak memandang dan tidak mau bercakap-cakap dengan kita.
Kedua; Allah tidak membersihkan mereka.

Bagi orang-orang yang menyembunyikan kebenaran, maka mereka tidak akan diberi ampunan oleh Allah atas perbuatan mereka itu. Mereka tidak akan dapat membela diri dan juga tidak akan orang lain yang akan memberikan pembelaan. Seperti kehidupun di dunia, mungkin mereka bisa melepaskan diri dari segala tuntutan dan dinyatakan tidak bersalah. Kemudian nama mereka dibersihkan kembali. Hal ini jangan diharap di akhirat kelak. Kebenaran yang yang disembunyikan akan diperlihatkan oleh Allah karena Allah Maha Melihat terhadap apa yang disembunyikan.
Ketiga; Mereka akan mendapatkan azab yang pedih.

Balasan terhadap mereka yang menyembunyikan kebenaran adalah azab yang pedih. Pedihnya azab Allah jangan dibayangkan bagaimana pedihnya hati dan fisik yang kita rasakan di dunia ini. Pedih dan sakitnya badan yang kita rasakan di dunia, mungkin masih bisa kita tutupi dan tahan. Tetapi pedihnya azab Allah di akhirat kelak, tidak bisa kita bayangkan di dunia ini.

Kebenaran itu dari Allah. Kebenaran itu mutlak. Bagaimanapun kita menutup-nutupi kebenaran dengan kebohongan, maka suatu saat akan terkuak dan terbuka juga. Mungkin banyak orang bisa kita kelabui dan tipu, namun Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui. Di dunia, Allah belum membuka semuanya, tetapi di akhirat tidak ada sedikitpun yang tersembunyi. Kita tutupi kebenaran demi pangkat, jabatan, kehormatan dan kemulyaan namun di akhirat kehinaan dan azab telah menanti. Oleh karena itu; “Jangan tutupi kebenaran dengan kebohongan apalagi diiringi dengan menyebarkan fitnahan”.

Menutupi kebenaran dengan kebohongan, selain akan menyesatkan pelakunya tentu juga akan menyesatkan orang-orang yang mengikuti dan membenarkannya. Kalau ini terus dilakukan dan dikuti, betapa dan berapa banyaknya orang yang akan sesat. Yang pada akhirnya “Sesat dan Menyesatkan”.

Kita dengar, lihat dan perhatikan cerita dan berita baru-baru ini tentang matinya salah seorang anggota POLRI yang dilakukan oleh anggota POLRI juga. Betapa sulit dan rumitnya mencari akar masalahnya. Hal ini disebabkan juga dengan upaya menutupi kebenaran dengan kebohongan. Namun sedikit demi sedikit, kebenaran itu akhirnya terungkap juga.

Tutupi kebenaran itu. Tapi ingat!; “ Kebenaran itu Dari Tuhanmu Sebab Itu Jangan Sekali – Kali Kamu Termasuk Orang – Orang Yang Ragu”. (Q.S. Al-Baqarah : 147).

Wallaahu A’lam Bissawab.
Wassalam.

Pos terkait