“RUMAH KU DI TAMBAK”

 

By. DARMIWANDI, S.Ag. M.H.

Kurebahkan badan, kurilekskan bahagian dari tubuhku di saat menjelang tidurku, lalu aku pejamkan mata karena sudah sedikit terasa ngantuk. Rasanya tak heran kalau ngantuk telah menghampiriku, karena hari sudah menunjukan jam 2 tengah malam atau dini hari. Entah apa yang menggeliti hati dan pikiran ini, rasa ngantuk yang sudah begitu berat, terasa hilang begitu saja. Ku coba terus memejamkan mata ini karena besok subuh aku harus bangun lagi untuk pergi sholat berjamaah ke Masjid Raya Paninggahan dan mengisi kuliah subuh. Alhasil, mata ini tidak bisa diajak kompromi untuk tidur. Apa yang terbayang di saat itu? Yakni TAMBAK.

Tambak adalah tempat tinggal aku bersama keluarga ku di waktu aku masih kecil. Masih kelas 1 SD, aku telah di bawa oleh orang tua ku ke sebuah rumah kecil yang terbuat dari kayu. Waktu itu, aku tidak terfikir untuk mengukur rumah kami tersebut. Namun, menurut perkiraan aku sekarang, ukuran rumah tersebut berkisar 6 x 7 meter.

Rumah kami sangat sederhana. Begitu sederhananya, apabila hujan lebat, kami terpaksa mencari timala atau ember untuk menampung air hujan yang menembus atap rumah kami. Ada sebuah kamar, tetapi tidak bisa di huni karena lantainya sudah lapuk dan rapuh. Satu hal yang tak terlupakan juga, di dalam kamar itu kedua tanganku pernah diikatkan ke tonggak (tiang) rumah karena tingkah laku dan kenakalanku.

Saat itu, aku telah kelas 3 Sekolah Dasar (SD) Inpres Parumahan. Yang pada akhirnya, karena kenakalan itu, aku harus mengulang lagi mendalami ilmu di kelas 3. Aku menamatkan pendidikan SD tahun 1986, berarti, kira-kira tahun 1980 aku telah menghuni rumah tersebut, karena sebelumnya kami tinggal di rumah gadang yang terletak di dalam kampung dusun Padang Palak. Rumah itu bukan di buat oleh orang tua ku, tetepi buatan dari angku ( kakek) dan anduang (nenek) ku. Saat itu, hanya kami yang tinggal di rumah itu.

Tambak merupakan bahagian dari dusun Padang Palak di dalam jorong Ganting Padang Palak. Arah dan jalan menuju ke sana cukup mendaki dan sedikit berliku. Bila di lihat dari segi jalannya, jangankan mobil dan motor, kereta angin (sepeta) saja tidak bisa lewat. Hanya bisa di tempuh dengan berjalan kaki. Dari mana jalan setepaknya? Dari rumah manjuang (Rumah Baanjuang).

Rumah ku terletak urutan nomor dua terakhir dari rumah manjuang. Sebelum rumah ku, ada beberapa rumah seperti rumah uni nur (sekarang di huni oleh uni ita), Rumah uni Er ( acik Enek), rumah Uni Pinit, rumah kak iyan, Rumah tuo Mariana, Rumahku, Rumah angah kinah. Ada satu lagi rumah yang terletak agak jauh dari belakang rumah ku, yaitu rumah kak Anih. Jarak antara satu rumah dengan rumah yang lainnya cukup berjauhan miskipun, kalau saling memanggil masih kedengaran. Tarah rumah manjuang dengan rumah penulis sekira-kira 200 meter.

Tahun 1980-an, Suasana Tambak masih terlihat ramai. Rumah angah Kinah masih ada penghuni. Tetapi pada tahun 1990-an, rumah tersebut telah kosong, karena ayah Ramali telah meninggal dunia. Masyarakat masih lalu lalang melewati jalan dan halaman rumah ku. Sebagian orang Koto Baru yang ingin pergi ke pasar Paninggahan, sudah menjadikan jalan Tambah itu menjadi jalan utama. Selain itu, masyarakat yang akan pergi ke rimba untuk bertani juga masih banyak melewati jalan ini. Mereka sering istirahat sebentar karena kelelahan menempuh jalan mendaki di halaman rumah ku. Kadang-kadang mereka istirahat di puncak bukit yang setelah itu jalannya mendatar tetapi melewati pematang sawah.

Pengalaman bermain di waktu masih SD cukup banyak di sekitar lokasi rumah ku ini. Ada namanya tanah padang, dimana disanalah kami bermain “siloloan” (siluncuran).

Permainan Siloloan adalah sebuah permainan yang mempergunakan kepala “Mangga” (pelapah daun kelapa). Mangga tersebut di potong kira-kira sepanjang 1 meter, kemudian naik dan mendayungnya dengan tangan di tanah. Karena tanah padang itu menurun, sehingga larinya cukup kencang. Sesempai di bawah, Mangga di pikul kembali ke atas dan terus turun lagi. Dalam permainan itu, kami sering juga mengadakan lomba siapa yang tercepat. Untuk lebih menantangnya lomba, kadang-kadang kami menyalakan api dan harus melewati api yang sedang menyala. Adakah yang terbakar? Boleh dikatakan tidak ada. Sasaran empuk dari perbainan Siloloan ini adalah celana. Tidak sedikit celana bagian belakang/panggul yang bolong dan robek karena permainan ini.

Selain permainan Siloloan ini ada lagi permainan Giliang Galuk. Permainan ini juga sangat mengasikkan dan menantang serta kreatif. Giliang Galuk seperti main motor-motoran atau mobil-mobilan. Rodanya ada 4. Roda yang 4 itu terbuat dari kelapa yang sudah bolong atau hampa. Kelapa hampa dilobangi kiri kanan lalu dimasukan kayu kedalamnya. 2 buah di depan dan 2 buah dibelakang. Dirakit dengan kayu sehingga kita bisa duduk di atasnya. Di bagian depan di kasih kayu yang melingkung sebagai stirnya. Cara bermainnya hampir sama dengan Siloloan. Permainan Siloloan dan Giling Galuk ini, boleh dikatakan tidak ada di tempat lain kecuali di tanah padang yang terletak di depan rumah ku. Ramaikah saat-saat itu? Iya, cukup ramai juga.

Tahun 1986, suasana ramai di sekitar rumah penulis sudah mulai berkurang. Selain penulis melanjutkan pendidikan ke Padang Panjang, rumah angah kinah juga telah kosong. Kawan-kawan yang sepermainan telah pergi melanjutkan pendidikan ke tempat lain dan ada juga yang pergi mengadu nasib ke rantau orang. Tempat bermain telah menjadi semak belukar. Sesekali juga dijadikan ladang menanam jagung oleh pemiliknya. Semuanya hanyalah tinggal kenangan yang tak akan terulang kembali.

Sebagaimana yang aku ungkapkan sebelumnya, aku seorang “penyabar”, buktinya aku dua tahun duduk di kelas 3. Di waktu kelas 3 itu, rasanya kenakalan aku seorang anak cukup kelihatan. Aku sering bolos pergi sekolah. Berangkat memang pagi seperti teman-teman lainnya, tetapi jarang sekali yang sampai ke sekolah. Kadang-kadang pergi sekolah di SD Inpres Parumahan, aku membawa anjing yang biasa di bawa berburu oleh bapak kuk. Anjing itu aku ikatkan di batang kasia yang ada di dekat sekolah. Buku-buku sering aku letakkan di rumah angku Langgak (sekarang rumah kak Iyan) dan kadang-kadang juga aku gantungkan di pohon saos yang ada di belakang rumah gadang kami. Saat aku tidak sekolah, aku pergi dengan mobil mak sami Tanggiliang mengangkut tanah dan pasir. Selain itu, juga pergi main kajai (karet), kelereng dan gambar-ganbaran ke sekolah lain seperti di SD Tambak. Saat orang pulang sekolah, aku juga pulang ke rumah. Selain dari itu, aku sering mengambil telur ayam dan beras amak lalu aku jual untuk belanja. Jangankan pergi sekolah, pergi mengaji pun aku juga sering bolos. Saat itu, kami mengaji di surau Darek. Di Surau Darek itulah aku pernah di rendam bahkan orang pertama yang disuruh mandi oleh Mak.Enek Mawi (mamak kandung), beliau juga salah seorang guru mengaji selain mak.Ramidi. Kenakalan aku di saat itu, terasa sulit aku ungkapkan semuanya. Karena juga berhubungan dengan orang lain.

Tahun 1992, rumah lama diperbaiki oleh orang tua ku. Ukuran tidak jauh berbeda tetapi bentuknya saja yang tidak sama. Dulu semuanya papan dan tidak bertingkat, tetapi sekarang bertingkat dan dindingnya semi permanen. Namanya orang tua sebagai petani tanggu dan tidak memiliki harta yang banyak, sehingga rumah kami masih sangat sederhana. Untuk sekedar berteduh di saat hujan dan berlindung d saat panas, cukuplah.

Rumah kami yang dibuat tahun 1992 tersebut harus kami tinggalkan dan tidak di huni sampai sekarang karena amak kami telah meninggalkan kami untuk selamanya pada tahun 2005. Maafkan kami amak, jasamu tidak akan pernah kami lupakan. Bapak masih menyempatkan diri dengan sisa-sisa kekuatan beliau mengunjungi dan merawat rumah kita mak. Sepeninggalan amak, kak Anih sudah meninggal pula. Rumah kita kosong, Rumah angah kinah kosong, rumah kak.Anih juga kosong. Rumah Tuo Mariana kadang-kadang di huni kadang-kadang tidak. Rumah acik Maya ( uni pik nit) juga seperti itu. Rumah cik Enek (uni Er) tidak ada orang lagi.

Penduduk di sekitar kita dulu telah banyak yang meninggal. Tambak yang dulu cukup ramai dan terang, tetapi sekarang sudah menjadi semak dan sudah jarang sekali orang melewati jalan di depan rumah ku. Hanya ada satu rumah yang masih di huni, yaitu rumah kak.Iyan. Sawah yang begitu luas di halaman rumah ku telah menjadi seperti tanah yang tidak bertuan. Si penggarap tanah dan sawah tersebut telah banyak yang tiada. Kenangan dan pengalaman sudah cukup banyak aku dapatkan semasa kecilku. Lampu togok dan andang adalah penerang kami disaat malam datang.**

Pos terkait