Oleh : DARMIWANDI, S.Ag. M.H
“Apabila Berjanji dan Bersumpah Sudah Menjadi Mainan Bibir”
Titian biaso lapuak, janji biaso mungkia. Titian binaso lapuak, janji binaso mungkia. Biaso basumpah tando urang panduto. Inilah sebuah ungkapan yang sering kita dengar dalam khidupan sehari-hari. Orang yang mudah berjanji, biasanya juga mudah untuk memungkiri dan begitu pula orang yang gampang bersumpah, biasanya banyak bohong atau dustanya dari apa yang dia sumpahkan itu. Kadang-kadang dengan perkara kecil dan nilai rendah saja, orang terlalu mudah untuk berjanji dan bersumpah dengan menyebut nama Allah. Mereka yang enteng saja melanggar janji dan bersumpah tidak menyadari bahwa kebiasaan tersebut memiliki konsekwensi yang berat di sisi Allah baik di dunia apalagi di akhirat.
“Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat”(Pangkal surat Ali Imran:77).
Surat Ali Imran, ayat 77 ini diturunkan disebabkan beberapa riwayat. Menurut riwayat pertama dari Bukhari dan Muslim, ada seorang sahabat Rasulullah s.a.w. bernama Asy’ast. Dia ini berkata bahwa di antaranya dengan seorang Yahudi terjadi satu perkara tanah. Yang empunya tanah itu saya, tetapi dikuasai oleh Yahudi dan dia tidak mau mengaku. Lalu saya datang mengadukan hal itu kepada Rasulullah. Kami keduanya dipanggil. Lalu Rasulullah s.a.w. bertanya kepada saya: “Adakah engkau mempunyai keterangan lengkap tentang tanah itu?” saya menjawab: “Tidak ada!” Lalu beliau berkata pula kepada yahudi itu: “Bersumpahlah bahwa tanah itu memang tanahmu!” sebelum dia mengucapkan sumpah, aku berkata: “Ya Rasut Allah, Jika dia bersumpah, hilanglah hartaku.” Dan di waktu itu turunlah ayat ini.
Riwayat kedua dari Bukhari juga yang diterima dari Ibnu Abu Aufa, bahwa ada seorang yang berdagang di pasar dan menjual barang dagangannya, kemudian bersumpah atas nama Allah;”Demi Allah”, bahwa barangnya telah diserahkan padahal dia belum memberikannya, karena maksudnya hendak merugikin seseorang Muslim, maka turunlah ayat ini.
Riwayat ketiga ialah yang dibawakan oleh lbnu Jarir dari Ikrimah bahwa ayat ini diturunkan mengenai diri dua orang yahudi Huyay bin Akhtab dan Ka’ab bin Asyraf dan lain-lain, yang sengaja menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah di dalam kitab Taurat, sengaja mereka tukar-tukar isinya, lalu mereka bersumpah bahwa apa yang mereka sebutkan itu benar-benar turun dari Allah
Perselisihan dan persengketaan tentang tanah, mulai dari dahulu sampai sekarang dan sudah dipastikan untuk masa yang akan datang tidak akan selesai-selesainya. Orang semakin berkembang sedangkan tanah tidak akan semakin luas. Persoalannya hanya masalah penting atau belumnya. Bila kepentingannya sudah mulai nampak dan muncul, maka tanah yang dahulunya biasa-biasa saja akan bisa menjadi pokok persoalan. Tanah milik orang lain, bisa diperkarakan agar bisa menjadi milik sendiri. Tanah yang telah diwakafkan atau dihibahkan kepada orang lain, akan bisa diambil kembali dengan berbagai macam alasan. Salah satu alasan atau cara mengambil tanah milik orang lain adalah dengan cara bersumpah palsu, karena orang yang memiliki tanah, mungkin secara administrasi kurang kuat karena surat-menyuratnya telah hilang dan saksi pun tidak lengkap lagi. Bagi orang yang ingin mengambil hak orang lain, maka mudah saja mempergunakan janji di atas narna Allah, dan mudah saja mengucapkan sumpah-sumpah.
Dalah hal jual beli begitu juga. Mudah dan lancang saja menyebut nama Allah dalam sumpah. Padahal harta yang hendak dipunyai hanya sedikit, baik ketika membeli atau ketika mengikat janii yang lain. Seseorang yang bersorak-sorak menjajakan jualannya di pasar, mengatakan barang dagangannya jauh lebih tinggi mutunya daripada barang si anu. Dia membayar harga yang lebih tinggi daripada harga yang dapat dibayar oleh si fulan. Dia memakai sumpah pula. Dia hendak mencari laba dengan merugikan orang lain. Mudah dan murah saja mengeluarkan janji bahkan sumpah dengan nama Allah untuk meyakinkan orang lain dengan tujuan mendapatkan keuntungan.
Sungguh amat berat ancaman Allah kepada orang-orang yang suka mengubar janji dan bersumpah palsu, karena dia telah memporak-porandakan kehidupan dunia dengan peralat nama Allah. Bagi orang seperti ini, Allah memperingatkan bahwa orang itu tidak ukan mendapat bahagia di akhirat. Dan selain itu, “Dan tidaklah Allah akan bercakap-cakap dengan mereka dan tidaklah Dia akan memandang kepada mereka di hari kiamat.” lnilah dua siksaan yang amat hebat di akhirat. orang yang luhur budinya akan merasai betapa hebat bekas ancaman Tuhan ini ke dalam hati. Apa lagi arti diri kalau Tuhan tidak mau lagi mengajak kita bercakap? usahkan bercakap, menoleh saja pun Tuhan tidak suka. Orang ini adalah seorang yang kotor tadinya, karena hendak mencari sedikit dia mempermudah janji Allah dan mengucapkan sumpah, tidak dihargainya orang lain, lagi tamak dan loba. “Dan tidaklah Allah akon membersihkin mereka”.
Orang yang mudah berjanji dan memungkiri janji serta ringan lidahnya bersumpah dengan menyebut nama Allah, mungkin dia akan mendapatkan keuntungan dari orang lain, baik dalam bentuk memiliki tanah ataupun keuntungan dalam berdagang, namun pada hakikatnya mereka itu adalah mergi yang sangat besat. Selain harta yang tidak mendatangkan berkah dan pahala dari dari Allah, di akhirat nanti, mereka tidak akan diacuhkan dan di pandang Allah serta tidak akan dibawa oleh Allah untuk berbicara. Jangankan di akhirat, bagaimanakan rasa kita yang tidak diacuhkan orang dalam bicara atau orang melengah di saat kita memandangnya? Akibat dari janji dan sumpah palsu juga.
Betapa seorang Kepala Pemerintahan, Pejabat Negara dan/atau pejabat lainnya seketika dia mula menjabat pangkat/jabatan itu bersumpah bahwa dia akan jujur melaksanakan tugas dan kewajibannya. Sumpah itu disanggupinya dan lantaran itu pangkat dan jabatan tinggi dipikulkan kepada dirinya. Lebih lagi , jabatan dan pangkat di dapatkan sebagaimana kebiasaan orang di pasar, ada penjuan adan ada pembeli, dalam arti jabatan didapatkan dengan jual beli, tawar menawar dan iringi dengan janji-janji yang meyakinkan lagi. Kemudian ternyata janjinya kepada Allah dengan sumpahnya yang telah diucapkannya itu dilanggarnya dengan berbagai alasan dan kilahnya. Apalah harga orang seperti ini di sisi Allah? Didunia dia boleh sementara waktu duduk di istana dan tempat yang indah dan megah, naik kendaraan yang mahal dan cukup dihormati ke mana saja dia pergi. Tetapi tidaklah ada harganya di sisi Allah. Dan dikutuk, dilaknat Tuhan di akhirat dan Allah tidak akan memandangnya walau sebelah mata. Apabila janji dan sumpah sudah menjadi mainan bibir untuk mendapatkan keuntungan sedikit dan sesaat, apalah arti hakiki yang diperoleh dari semua janji dan sumpah itu.
Fikirkanlah ini. Ambil kiasnya kepada hidup di dunia.
(Dalil Tulisan: Q.S. Ali Imran, Ayat: 77)






