Terpaut 3% Dari Saparuddin Kenapa Elektabilitas Rizki Kurniawan Nakasri Mampu Bertahan ?

Mentreng.com  |  Limapuluh Kota – 
Beberapa hari yang lalu SBLF MYRISET Merilis survei yang dilaksanakan pada pertengahan Mei 2024 yang lalu, survei itu dilaksanakan dengan melibatkan 800 sampel di 79 Nagari dan diklaim memiliki margin error maksimal 3,1%. 4 orang yang elektabilitas tinggi adalah Safaruddin 23%, Rizki Kurniawan Nakasri 20%, Irfandi Arbi 15% dan Deni Asra 9%.

Ada 2 hal yang sangat mengejutkan publik adalah tentang fakta elektabilitas Safaruddin dan Rizki Kurniawan Nakasri. Safaruddin sebagai Bupati dengan segala kewenangan dalam genggamannya tidak mampu mempertahankan kepercayaan publik, terbukti dengan rendahnya elektabilitas dengan angka 23%. Bagi seorang Bupati aktif adalah angka yang sangat buruk dan secara teori akan sangat mudah dikalahkan dalam pemilihan.

Sedangkan Rizki Kurniawan Nakasri sebagai wakil bupati aktif yang diketahui publik bahwa dengan jabatannya yang tidak bisa berbuat apa-apa namun dalam survei masih mendapatkan dukungan 20%. Jika kita memperhatikan 3 1/2 tahun pemerintahan Safaruddin-Rizki, kita dapat melihat bagaimana rajinnya Safaruddin turun menemui warga, dia hampir tidak pernah absen dalam berbagai kegiatan yang menghimpun masa di tengah masyarakat, misalnya kegiatan Khatam Alquran, Perpisahan Sekolah, Wisuda Tahfidz, Gotong Royong dan sebagainya. Sedangkan Rizki Kurniawan Nakasri jarang sekali tampil dalam kegiatan formal seperti itu. Tapi wajar, karena semua kegiatan tersebut, undangan di berikan hanya masuk ke pemerintah tentu melalui satu pintu saja, arahnya semua tentu ke bupati, jika bupati berhalangan hadir maka dia akan mendelegasikan kepada Sekda atau OPD terkait, Tidak akan pernah mendelegasikan kepada wakilnya, hal ini diakui oleh staf Wakil Bupati Rizki Kurniawan Nakasri “Bapak tidak pernah mendapatkan pendelegasian tugas atau apapun” ujarnya

Sehingga menarik, kenapa elektabilitas mereka masih terpaut sangat rendah hanya 3%?, angka ini bahkan dalam rentan kesalahan 3,1% seharusnya elektabilitas Safaruddin di atas 60% dan RKN boleh pada angka 20%. Menarik pula elektabilitas 2 kandidat lainnya yaitu Irfendi Arbi yang 15% dan Deni Asra 9%. Padahal Irfandi Arbi adalah mantan Bupati dan juga baru selesai kampanye pileg DPR-RI serta mendapatkan suara lebih dari 4000 di Kabupaten Limapuluh Kota. Begitu pula dengan Deni Asra, seorang ketua DPRD aktif yang tentu saja memiliki kewenangan dan dana pokir yang besar yang bisa digunakan untuk meningkatkan pengaruh di tengah masyarakat.

Lalu kenapa elektabilitas Safaruddin sangat rendah?. Ketika kita cek lembaran survei tentang tingkat kepuasan warga terhadap pemerintahan Safaruddin-Rizki, warga yang merasa cukup puas dengan kerja pemerintah hanya 32,88%. Ketika ditanyakan tentang persepsi, Yang diingat masyarakat apabila disebut nama Safaruddin, salah satu yang sering muncul adalah “Banyak janji yang tidak ditepati.

Bagaimana dengan Rizki Kurniawan Nakasri?. Ketika kami bertanya kepada masyarakat, mayoritas warga mengatakan bahwa RKN tidak bisa disalahkan jika Pemerintah dinilai gagal.

Susi salah seorang warga simalanggang berkomentar, “Saya tahu benar bahwa RKN itu diamputasi semua kewenangan nya dan tidak ada yang bisa dia lakukan. “Dan begitu juga dengan Yosi warga pangkalan mengatakan “RKN jika membantu kami di masyarakat, pasti dengan merogoh kantong sendiri, Tidak ada cerita akan bisa menggunakan anggaran Pemkab atau Bazda, jadi bagaimana bisa digunakan leluasa oleh yang lain. Ucapnya. Dan lagi pernyataan dari Anggi warga Nagari Gurun. “RKN itu warga kami, bahkan sampai sekarang ibu beliau masih tinggal di gurun. Untuk mendorong anggaran ke Nagari Gurun saja beliau tidak bisa, apalagi merealisasikan pikiran membangun nagari-nagari lain. “Pemerintah saat ini kami nilai gagal dan kegagalan itu adalah tanggung jawab Safaruddin bukan RKN. begitu tegasnya.

Ketika survei menyatakan tentang persepsi warga apabila disebut nama Rizki Kurniawan Nakasri, maka salah satu jawaban yang sering muncul adalah, Tidak kenal, jawaban lainnya, Jarang turun ke masyarakat, maka jika jawaban ini dikaitkan dengan tingkat popularitas RKN. Persepsi tersebut BERSESUAIAN, karena popularitas RKN hanya 57%, itulah sebabnya elektabilitas RKN bertahan di angka 20% dan terpaut hanya 3% dengan Safaruddin. Bukan elektabilitas RKN yang tinggi. tapi angka Elektabilitas Safaruddin yang terlalu rendah.(*bee)

Pos terkait