By. Edi Firman (PHU)
Mentreng .com – Tiada jauh berbeda dari hari – hari sebelumnya. Di pepagian nan cerah merekah ini, di Rabu penghujung Tanggal di bulan ini, rutinitas pembiasaan mingguan, dengan baris berbaris guna memberi dan mendapatkan, wewarta seputar tupoksi sebagai ASN dan warga negara nan baik dan info kekinian, disurahkan pepara unsur pimpinan secara ganti berganti, bergiliran nan pada akhirnya kalam dibungkus dengan apik oleh pimpinan tertinggi di rumah ini, kepala Kantor.
Ke elok molekan dunia dan terkadang sebuah cermin kesengkarutan tingkah polah penuh cela, nan jauh dari kata terdidik, dipaparkan. Semua untuk diperuntukan sebagai bahan ajar pelajaran, bagi nan mau menajamkan fikiran, mengasah hati akan perbedaan, mana yang boleh diperbolehkan, mana nan cela lagi menjijikan. Ada benang merah nan membedakan.
Sungguhlah itu mudah dibedakan, si buta pun tiada alpa akan warna, namun acapkali disamakan, terkarena bukanlah tidak paham, tapi tetapi kekuatan iman nan terkalahkan, akan perkasanya syaitan dalam rayuan.
Pagi ini, hati meringis tersayat perih. Dengan rasa sayang nan mendalam ke peserta nan berbaris, pimpinan menuturkan contoh perilaku nan tidak patut di contoh. Di dalam kaca kalam berkata, contoh nan terjadi masih di bumiNya, tidak disini tapi disana. Tapi tetapi hal serupa, bisa terjadi dimana saja.
Sutan merenung dengan kawannya, sesekali berbisik dalam rona irama muka nan sama. Ucap nan tiada keras benar, bisik nan tiada telinga mendengar, namun dengan hati sahut bersahutan.
Menggeleng kepala menahan perih, bergelora jiwa tertahan rasa. Sutan teringat terbayang, bidadari dunianya nan sekarang tidak dalam pegangan, nan berjalan di sisi bumi nan lain, sunnatullah dariNyalah nan berbicara. Mustahil putri selalu di genggaman, dalam pelukanpun dia bisa hilang.
Di hati, Sutan berucap gemetar ‘Tuhan lindungilah anak – anak kami, jaga dari segala permarabahayaan.”
Tersedu pasrah, Sutan mengakhiri.
Editor : Helda






