Oleh : Meriyanto
Pagaruyung – Museum Terbuka Istano Basa Pagaruyung yang berlokasi di Kabupaten Tanah Datar merupakan salah satu objek yang penting dan bahkan menjadi icon Pariwisata Sumatera Barat. Bangunan ini selain sebagai tujuan wisata adalah juga sebagai pusat pengembangan Adat dan Budaya Minangkabau. Dapat dikatakan sebagai etalase atau representasi dari Budaya Minangkabau yang terkenal ke seantero dunia.
Museum Terbuka Istano Basa Pagaruyung dipenuhi berbagai ukiran, macam ukiran, yang berada di lantai 1, lantai 2, lantai 3 dinding dalam dan luar Museum Istano Basa Pagaruyung.
Menurut hasil penelitian yang diadakan oleh Tim Universitas Bung Hatta, ukiran bertebaran seantera Alam Minangkabau yang berjumlah 214 motif ukiran. Di Museum Terbuka Istano Basa Pagaruyung ukiran yang dimanfaatkan 40 motif ukiran. Dalam memajangkan motif ukiran di rumah gadang tidak boleh melanggar keraifan lokal dan nama, makna serta tata ketak harus tersusun secara benar jujur dan rapi.
Berikut beberapa contoh ukiran yang ada di Museum Istano Basa Pagaruyung :
1. Pucuk rabuang. Motif ini memiliki makna bahwa hidup seseorang harus berguna sepanjang waktu. Motif ini bercerita bahwa hidup harus mencontoh falsafah bambu, dimana bambu selalu berguna sejak muda (rebung) untuk dimakan, dan saat tua (bambu) sebagai lantai rumah atau bahan bangunan. Motif rebung ini juga mengibaratkan bahwa tanaman ini berguna sepanjang hidupnya dan semua bagiannya memiliki banyak kegunaan.
2. Itiak pulang patang. Motif ini memiliki makna bahwa hidup dalam masyarakat haruslah seiya sekata, seiring sejalan dan mematuhi peraturan yang berlaku. Motif ini ingin mengajak masyarakat untuk bisa hidup bersama dan menggambarkan kerukunan masyarakat Minangkabau yang hidup dalam tatanan kegotongroyongan yang solid.
3. Kaluak paku. Motif ini memiliki makna bahwa kita sebagai manusia haruslah mawas diri sejak kecil, dan perlu belajar sejak dini mulai dari keluarga. Pendidikan dalam keluarga menjadi bekal utama untuk menjalankan kehidupan di masyarakat. Setelah dewasa kita harus bergaul ke tengah masyarakat, sehingga bekal hidup dari keluarga bisa menjadikan diri lebih kuat dan tidak mudah terpengaruh hal negatif. Uniknya, motif ini juga memiliki makna lainnya, yaitu seorang pemimpin harus mampu menjadi teladan bagi masyarakat yang ada disekitarnya.
4. Sajamba makan. Motif ini digunakan sebagai lambang kebersamaan dalam menikmati keberhasilan.
5. Tirai. seperti yang diketahui tirai merupakan hiasan dari kain yang diletakkan pada dinding, pintu, dan lainnya, yang berfungsi untuk menambah keindahan dan suasana yang semarak. Motif ini menggambarkan keindahan, lambang kemewahan dalam upacara adat Minangkabau.
6. Saluak laka. Motif ini memiliki memiliki arti lambang kekerabatan. Hal ini akan memberi makna dalam kehidupan masyarakat, bahwa kekuatan akan terjalin dari kesatuan yang saling terikat sehingga akan terwujud kekuatan bersama dalam menghadapi bermacam masalah.
7. Unggan seribu bukit. Ini merupakan motif terbaru yang diprakarsai oleh Samuel Wattimena yang bekerjasama dengan perajin tenun di Unggan, dan Dekranasda Sumatera Barat. Kerajinan tenun unggan ini merupakan perpaduan teknik bertenun dari pandai sikek dengan silungkang. Motif ini memiliki arti kekompakan dalam kerjasama, kegigihan dalam berusaha, dan sifat ingin maju seseorang.**
Oleh : Mentreng
(Dari berbagai sumber)






