Oleh : DARMIWANDI, S.Ag. M.H
“ ALI IMRAN ”
Al-Qur’an terdiri dari 30 Juz dan 114 Surat. Salah satu nama dari 114 surat adalah Ali Imran. Surat ini adalah surat ke tiga. Yang pertama surat Al-Fatihah, surat kedua adalah Al-Baqarah, sedangkan surat ketiga adalah Ali Imran. Nama-nama surat dari al-Qur’an, ada yang di ambil dari nama Rasul/Nabi, seperti surat Nuh, surah Yusuf dan lainnya. Apakah Ali Imran yang merupakan salah satu dari nama surat juga seorang Rasul atau Nabi? Atau nama satu orang saja? Seperti Ali Imran? Atau Imran adalah nama seorang kepala keluarga? Bagaimanakah sejarah dan silsilahnya Ali Imran? Inilah yang akan penulis urai secara singkat berdasarkan al-Qur’an dan tarikh dari mufassir.
Di dalam al-Quran ada tersebut dua Imran, tetapi jaraknya lebih kurang 1,800 tahun. Imran yang pertama adalah ayah dari Nabi Musa, dan Imran yang kedua ialah ayah dari Maryam. Maka yang dimaksud Ali Imran yang merupakan salah satu nama surat dari al-Qur’an adalah Imran yang kedua ini. Imran dan keluarganya adalah keturunan Bani Israil yang merupakan keturunan dari nabi Ishak putra dari Ibrahim. Ishak punya putra yakni ya’kub. Dan ya’kub inilah yang bergelar israil.
Imran, sebagaimana orang banyak lainnya, beliau adalah seorang bapak dari anak, seorang suami dari seorang istri. Artinya, Imran adalah seorang kepala keluarga. Keluarga Imran/ Ali Imran merupakan keluarga pilihan Allah. Imran adalah seorang suami yang taat kepada Allah dan seperti itu juga istrinya.
Imran adalah seorang laki-laki yang shalih, senama dengan ayah Nabi Musa yang hidup 1,800 tahun sebelumnya. Sebab sejak zaman purbakala sampai kepada zaman kita ini, orang-orang yang shalih dalam agamanya suka sekali memakai nama orang-orang yang mulia buat menjadi nama anaknya. Ayah Imran ini menamai anaknya demikian karena ayah Nabi Musa yang besar itu. Imran ini mempunyai seorang isteri yang shalih seperti dia pula. Lalu dia hamil. Dalam dia hamil itu, bernazarlah dia, kalau lahir anaknya akan diserahkannya menjadi Abdi-Tuhan, menyelenggarakan Baitul Maqdis, karena di antara keluarganya sendiri ada orang yang menjadi penyelenggara rumah suci itu, yaitu Nabi Zakaria, suami dari kakaknya.
Istri Imran yang juga taat kepada Allah, dia berdo’a dan bernazar agar nazarnya dikabulkan Allah; “Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku telah bernazar (anak) yang dalam perutku ini akan diperhambakan kepada Engkau, Sesungguhnya Engkau adalah Maha Mendengar”
Do’a yang tumbuh dari lubuk hati dan nazar yang tumbuh dari hati yang ikhlas. Maka lahirlah anak itu setelah genap bulannya, Ternyata bahwa anak itu perempuan. Tentu yang diharapkannya dari semula ialah anak laki-laki, sebab penyelenggara rumah suci adalah orang laki-laki belaka, sedang nazarnya sudah bulat. Diapun berkata; Tuhanku, Sesungguhnya aku telah melahirkannya perempuan.
Dengan lahirnya seorang anak perempuan, nampaknya menimbulkan keterharuan dalam hatinya. Bagaimana tidak, di dalam hatinya mengharapkan akan lahir seorang anak laki-laki yang akan di antar ke rumah suci. Apakah Allah bisa menerimanya? Sedangkan aku telah bernazar sebelumnya. Lalu datanglah keterangan Allah bahwa Allah terlebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu.
Meskipun anak itu dilahirkan perempuan, bukanlah dia perempuan biasa. Ibunya tidak mengerti hal itu. Yang diketahuinya hanya bahwa anak itu perempuan. Pada pendapatnya niscaya tenaganya mengurus mesjid Allah tidak akan sama dengan tenaga laki-laki, dan ada lagi beberapa hari dalam sebulan dia tidak boleh mendekat ke tempat beribadat yang agung itu. Dia tidak mengetahui apa yang diketahui Tuhan. Anak perempuan yang dilahirkan tersebut diberi nama Maryam. Dalam do’a istri Imram: “Dan aku telah menamainya Maryam, dan sesungguhnya aku memperlindungkannya dan keturunan-keturunannya kepada Engkau daripada syaitan yang terkutuk”
Istri Imran merasa bahwa Maryam yang dilahirkannya adalah perempuan yang lemah yang tidak akan bisa banyak berbuat dibandingankan dengan laki-laki apabila nanti diserahkan kepada pengelola Masjid Baitul Maqdis. Namun demikian, nazarnya akan tetap dia laksanakan.
Maryam diantarkannya ke rumah suci. Untung baik baginya, karena kepala penyelenggara rumah suci itu adalah suami saudara perempuan ibunya, yaitu Nabi Zakaria. Miskipun Nabi Zakaria kepala pengelola dan penyelenggara Baitul Maqdis, namun yang lain minta untuk dilakukan undian, siapa yang berhak memelihara, menjaga dan mendidik serta mengasuh Maryam. Karena yang lainpun punya keinginan yang kuat untuk mengasuh Maryam. Hasil dari undian tersebut jatuh kepada Zakaria yang merupakan bapaknya juga.
Maryam semakin hari semakin besar dalam asuhan Nabi Zakaria. Zakaria menempatkan Maryam pada tempat tersendiri yakni di Mihrab, sebuah tempat Nabi Musa as beribadah. Setiap Zakaria memberikan makanan kepada Maryam, Zakaria merasa terkejut dan tercengang serta heran, karena didapatinya sudah ada saja makanan di sisi Maryam. Karena herannya Zakaria, beliau bertanya kepada Maryam; “ Wahai Maryam, darimanakah engkau mendapatkan makan ini? Maryam menjawab: “Makanan ini dari Allah!, karena Allah memberikan rizki kepada hamba-Nya yang dikehendaki-Nya tanpa di duga-duga”.
Kekuasaan Allah memang diluar jangkauan pikiran dan perasan manusia. Secara logika, suatu hal yang tidak masuk akal dengan adanya makanan yang tersedia di sisi Maryam, sedangkan Zakaria telah berusaha mencarikan makanan untuk disuguhkan kepada Maryam. Bila Allah berkehendak, siapakan yang bisa membantah apalagi menghalanginya?.
Kisah di atas terdapat dalam surat Ali Imran, ayat 33 – 37.
Dari seorang wanita yang bernama Maryam, lahirlah seorang Nabi, nabi Isa.a.s. Memperhatikan kekuasaan Allah kepada Maryam, maka timbul niat dalam hati Nabi Zakaria untuk bermohon kepada Allah untuk dikaruniakan seorang anak, karena pada saat memngasuh dan mendidik Maryam, Zakakia yang telah tua dan berumur lebih kurang 120 tahun belum juga punya keturunan. Akhirnya Allah juga mengabulkan doa Nabi Zakaria dengan lahirnya seorang anak yang bernama Yahya.
Bersambung……..Insya Allah.






