BEDAH AL-QUR’AN DI BULAN RAMADHAN

 

Oleh : DARMIWANDI, S.Ag. M.H

Bacaan Lainnya

“ Kisah Teladan: Antara Cinta Harta dan Kebaikan ”

Cinta, lima huruf yang tersusun menjadi satu, memiliki makna yang luarbiasa. Cinta, tidak bisa di lihat tetapi ia dapat di rasa sebagaimana juga dengan kata-kata lain seperti benci, suka, kasih dan sayang. Cinta, memiliki kekuatan yang bisa membuat seseorang nekat dan tekat akan sesuatu dan/atau seseorang. Bila cinta tumbuh dan berkembang kepada seseorang, maka apa dan siapapun yang menghadang dan menghalangi, maka dia akan terus berusaha untuk menerobosnya. Cinta, bisa membuat orang buta. Buka n buta mata tetapi buta hati. Sebagaimana sebuah ungkapan; tiba di mata buta, tiba di hati mati. Ini melambangkan sebuah nekat dan nekat dalam diri seseorang yang telah tumbuh dan berkembang cinta di dada.

Kita sering mendengar dan mengatakan kata-kata hobby. Hobby adalah merupakan kata asing dari kesukaan seseorang. Apa hobby anda? Apa hobby si si fulan? Apa hobby si fulanah? Hobby ku adalah ini dan itu. Kata hobby ini diambil langsung dari bahasa Arab, yaitu hubb, yang bererti cinfa. Maka apabila cinta seseorang telah terpusat kepada Allah, tidaklah akan ada hobbynya yang lain lagi, sehingga belumlah dia merasa puas berbuat baik kalau belum diberikannya barang yang paling dicintainya. Seseorang akan merasa puas apabila dia telah menunaikan apa yang telah menjadi hobbynya, miskipin hooby nya itu suatu hal yang cukup berat.

Cinta; Mencintai dan dicintai adalah anugerah dari Allah. Allah telah menghiasi hati manusia dengan perasaan cinta. Baik perasaan cinta kepada manusia maupun kepada harta benda. Sebaik-baik cinta adalah orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Seberapa dan betapapun cinta kita kepada seseorang atau kepada harta benda, jangan sampai mengalahkan cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Artinya, cinta kita harus di bawah kontrol perintah dan larangan Allah dan Rasulullah.

Cinta kepada harta, biasanya kita selalu berfikir dan berusaha keras, peras keringat banting tulang, tidak menghiraukan dinginnya malam dan teriknya sinar matahari untuk mendapatkan harta yang kita inginkan. Satu harta yang diinginkan sudah di tanngan, maka keinginan untuk mendapatkan harta lainnya juga muncul. Satu tumpuk harta sudah dikantongi, maka keinginan untuk memperoleh harta selanjutnya juga tak pupus. Bila cinta terhadap harta sudah mendarah daging, maka hati dan pikiran hanya tertumpu kepada harta. Andaikan seseorang telah memperoleh sebuah gunung emas, maka dia berkei nginan gunung emas yang lainnya juga menjadi miliknya. Kira-kira begitulah gambaran bagi orang yang hati dan pikirannya diliputi oleh cinta harta. Bila dibicarakan tentang mengeluarkan harta yang telah banyak diperoleh dan dimiliki, jangankan untuk memberikan yang untuh dan bagus, yang bekas dan usang saja sudah keberatang hatinya. Kenapa? Karena pikiran dan perasaan rugi dan akan berkurang telah menyelimuti hatinya. Akhirnya, kikirlah yang diidapnya.

Orang yang kikir akan merasa sulit untuk memberikan harta yang ada padanya, tentu hal hal ini juga disebabkan karena cinta terhadap harta. Kalaupun dia memberi, hanya sekedarnya dan kadang-kadang diiringi dengan kata-kata, cara dan sikap yang tidak baik. Sebaliknya, orang yang memeliki harta dan tidak terlalu cinta terhadap hartanya, maka dia akan bermurah hati untuk menyerahkan dan memberikan sebagian dari hartanya kepada orang yang meminta maupun kepada orang yang tidak meminta. Orang yang pemurah dengan hartanya sering disebut Dermawan. Kedermawanan seseorang tergantung tingkat keimanan orang tersebut. Bagi orang yang beriman, harta yang dicari dan didapatinya hanyalah sebagai ujian dari keimanan. Menyebut dan menganggap kita orang beriman adalah mudah, tetapi mencapai hasil iman yang mulia adalah suatu ujian hati yang berat. Orang belum akan mencapai kebaikan (birr) atau hidup yang baik, atau jiwa yang baik, kalau dia belum sanggup mendermakan barang yang paling dicintainya.
“.Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai”.

Sangat banyak riwayat yang memberikan teladan kepada yang mengetahui, memahami dan yang ingin mengamalkannya. Baik kisah atau teladan dari Rasulullah saw sendiri maupun dari para sahabat. Dari sekian bayak kisah teladan tentang jiwa dermawan, penulis akan sampaikan satu atau dua buah saja, di antaranya adalah:

Seorang sahabat Nabi dari kaum Anshar bernama Abu Thalhah mempunyai kekayaan satu-satunya yang amat dibanggakannya, yaitu sebuah kebun bernama Bairuhaa’ tidak berapa jauh dari mesjid Madinah. Nabi s.a.w. kerap kali singgah ke kebun itu meminum airnya yang sejuk. Nama Abu Thalhah amat terkenal, karena kebunnya yang subur itu. Tetapi setelah ayat 92 dari surat Ali Imran turun, menyelinaplah pengaruhnya ke dalam hati Abu Thalhah. Dia terus menemui Nabi s.a.w. dan berkata: “Aku ingin mengamalkan wahyu llahi itu, ya Rasul Allah! Kekayaan yang paling aku cintai, sehingga tidak ada yang lain lagi, ialah kebun yang di Bairuhaa’ itu. Terimalah dia sebagai sedekahku, ya Rasul Allah dan Rasul Allah sendiri aku kuasakan menyerahkannya kepada siapa yang patut menerimanya.” Dengan amat gembira Rasul Allah menerima sedekah itu dan menghargai tinggi iman Abu Thalhah. Lalu beliau menguasakan kepada Abu Thalhah sendiri membagikan harta yang amat dicintainya itu kepada keluarga yang dekat. Menurut riwayat Hadis Muslim, harta itu telah diberikannya kepada Zaid bin Tsabit dan Ubay bin Ka’ab.

Bekas anak angkat Nabi s.a.w. yang terkenal, Zaid bin Haritsah, datang kepada beliau membawa kuda tunggangannya yang amat dikasihinya yang diberinya nama “Subul”. Berkata dia kepada Nabi s.a.w.: “Aku ingin mengamalkan ayat itu, ya Rasul Allah! Inilah kuda tungganganku yang sebagai engkau tahu, adalah yang paling aku sayangi. Terimalah dia sebagai sedekahku dan sudilah Rasul Allah memberikannya kepada yang patut menerimanya, moga-moga diterima Tuhan.” Kuda tunggangan yang tangkas itu diterima oleh Rasul Allah sampai beliau melihat pada wajah Zaid membayangkan kesedihan berpisah dengan kuda itu. Terbuktilah, bahwa kuda itu benar-benar dicintainya. Tetapi pimpinan Rasul Allah memanglah pimpinan yang amat tinggi dan mulia serta bijaksana. Setelah kuda tunggangan itu terpaut di hadapan beliau, dia suruh orang menjemput Usamah, anak Zaid sendiri, yang dicintai Rasul Allah pula sebagai mencintai ayahnya. Setelah dia hadir, bersabdalah Rasul Allah: “Kuda tunggangan yang cantik ini, telah diserahkan Zaid kepadaku, aku telah menerimanya dan berhak menyerahkannya kepada siapa yang kukehendaki. Sekarang kuda ini aku serahkan kepada Usamah.”

Demikianlah bijaksana Rasul s.a.w. Kebun yang amat dicintai oleh Abu Thalhah disedekahkannya dan dimintanya Nabi s.a.w. sendiri menyerahkannya kepada siapa yang patut. Lalu beliau kuasakan Abu Thalhah sendiri menyerahkan kepada Zaid bin Tsabit dan Ubay bin Ka’ab. Kuda tunggangan Zaid bin Haritsah beliau serahkan kepada Usamah anak Zaid. Sehingga kedua barang yang dicintai itu tidak jauh dari yang memberikan.

Menurut yang dinukilkan oleh Abu Thalib al-Makki dalam kitabnya Qutul Quluub dan Imam Ghazali dalam Al-Ihya’, bahwa Umar bin Khathab pernah menghadiahkan sebuah kepala kambing yang telah dimasak dengan enaknya kepada seorang sahabatnya. Sesampai di tangan orang yang diberi itu, merasalah dia bahwa sahabatnya si Anu barangkali lebih ingin akan makanan yang enak itu, lalu dikirimkannya ke sana. Oleh sahabat itu dikirimkannya pula ke rumah sahabatnya yang lain, yang dirasanya mungkin lebih menginginkan, sehingga kepala kambing itu pindah berpindah sampai tujuh buah rumah; sehingga akhirnya rumah yang ketujuh memandang pula bahwa Umar bin Khathab barangkali lebih menginginkan gulai yang enak ini. Maka tibalah kembali kepala kambing itu dengan tidak kurang suatu apapun ke rumah Umar bin Khathab.

Di dalam kitab lhya ‘ulumiddin,lmam Ghazali pun menceritakan riwayat Abdullah bin Ja’far yang terkenal dermawan itu. Beliau adalah anak Ja,far Bin Abu Thalib, pahlawan yang tewas dalam perang Mu’tah. suatu kali dia berjalanjalan pergi memeriksai kebun-kebunnya. Karena hari panas, berhentilah dia melepaskan lelah pada sebuah kebun kepunyaan orang lain. Di sana ada penjaganya seorang budak hitam.

Sedang hari panas terik itu, tiba-tiba masuklah seekor anjing ke pekarangan kebun itu, sedang lidahnya sudah hampir terjela, karena haus dan laparnya. Digoyang-goyangnya ekornya menghadap kepada budak hitam itu minta dikasihani. Di tangan budak hitam itu ada tiga buah roti. Lalu dilemparkannya sebuah. Anjing itu memakannya sampai habis. setelah habis dia menengadah lagi, meminta lagi. Dilemparkannya pula sepotong lagi dan dimakan habis lagi oleh anjing itu. Dan dia menengadah lagi, meminta lagi. Lalu dilemparkannya pula, roti satu-satu yang masih tinggal dalam tangannya dan tidak ada lagi yang lain. Anjing itupun sudah kenyang, lalu meninggalkan tempat itu. sedang budak hitam tadi, tidak lagi mempunyai persediaan roti, telapak tangannya telah disapukannya ke celananya.

Abdullah bin Ja’far lalu memanggil budak itu dan bertanya: “Hai anak! Berapa engkau mendapat pembahagian makanan dari tuanmu satu hari?.

Anak itu menjawab: “sebanyak yang bapak lihat itulah.” (tiga potong roti). Beliau bertanya pula: “Mengapa lebih engkau pentingian makanan buat anjing itu daripada dirimu sendiri?”

Dia menjawab: “Hamba lihat anjing itu bukanlah anjing sekeliling tempat ini. Tentu dia datang dari tempat jauh, mengembara karena kelaparan. Maka tidaklah hamba sampai hati melihatnya pergi dengan lapar dan tidak berdaya lagi”.

Beliau bertanya pula: “Apa yang akan engkau makan hari ini?”
Budak itu menjawab: “Biar hamba pererat ikat pinggang hamba”.

Mendengar jawab yang demikian, termenunglah Abdullah bin Ja’far dan berkatalah dia kepada dirinya sendiri: “sampai di mana aku dikenal sebagai seorang pemurah dan dermawan, padahal budak ini lebih daripadaku. Bersedia dia memberikan makanan yang akan dimakannya satu hari, hanya karena tidak tahan melihat seekor anjing yang nyaris mati kelaparan.”

Lalu dimintanya kepada anak itu supaya ditunjukkan rumah orang yang punya kebun yang dipeliharanya itu. Setelah bertemu orang itu ditawarnyalah kebun itu. Setelah dapat harganya, langsung dibayarnya. Lalu ditawarnya pula budak penjaga kebun itu dan setelah dapat harga dibayarnya dan dibelinya pula segala alat perkebunan itu. Setelah selesai semua, kembalilah dia ke tempat budak itu, lalu katanya: “Kebun ini telah kubeli dari tuanmu yang lama dan engkaupun telah ku beli pula. Mulai saat ini engkau aku merdekakan dari perbudakan dan kebun ini aku hadiahkan kepadamu. Hiduplah engkau dengan bahagia di dalam memelihara kebunmu ini!”

Tercengang dan terharu budak itu memandang kedermawan yang demikian tinggi, padahal bagi Abdullah bin Ja’far masih dirasakan, bahwa kedermawanan budak itu masih lebih tinggi daripada kedermawanan dirinya sendiri.

Beratkah hati memberikan harta yang dicintai? Betul!. Itulah ujian atas kekuatan Iman dan kedermawanan hati seseorang. Suatu hal yang memprihatinkan, jangan memberikan harta yang dicintai, disayangi dan disukai, memberikan harta yang tidak berguna saja sudah begitu beratnya hati. Kadang-kadang, kalaupun memberi tetapi diiringi pula dengan cara dan sikap yang menyakiti.
“Dan apa saja dari sesuatu yang kamu dermakan itu, sesungguhnya Allah mengetahuinya”.

Bernilai maupun tidak derma dan pengurbanan yang kamu keluarkan, barang yang sangat engkau cintaikah atau barang yang telah bosan engkau memakainya, barang mahalkah atau murah, ikhlaskah atau riya’, mungkin orang lain tidak tahu apa maksudnya, namun Allah tetap mengetahuinya.
( Dalil tulisan: Q.S. Ali Imran, Ayat: 92 ).

Pos terkait