Oleh : DARMIWANDI, S.Ag. M.H
“ Kisah Teladan: PERANG UHUD”
Pedang di tangan, perisai pelindung badan/perang adalah saah satu jalan yang harus di tempuh oleh Rasulullah saw dalam menegakkan dan mempertahankan Islam. Berperang, bukan hanya masalah siapa yang kalah dan menang sebagaimana bertanding dan berlomba tetapi berperang merupakan pertaruhan nyawa antara hidup dan mati. Lari mati konyol atau maju mati syahid. Taku mati? Lari dan menjauh. Berani? Maju terus pantang mundar walau satu satu tapak kaki.
Nyali, semangat dan jiwa berperang, tidak semua orang memilikinya. Mungkin menyebutkan dan mengobarkan perang adalah mudah, tetapi untuk menghadapinya dibutuhkan jiwa dan semangat rela berkorban. Baik korban harta terutama tarusahan nyawa. Pergi dengan badan dan nama, pulangnya?? Dalam tanda tanya.
Perang sekarang, orang berhadapan dengan peluru dan bom, yang tidak tahu dan nampak datangnya. Satu kali kena peluru atau bom, mungkin langsung mati. Tetapi jauh beda dengan berperang dimasa ratusan dan ribuan tahun lalu. Panah dan pedang dihadapan mata kepala. Kilat dan kilauan pedang serta busur anak panah sangat menguji nyali seseorang. Untuk menghadapi perang, memang pantaslah orang yang seluruh darahnya telah mengalir jiwa juang.
Perang argument dan perang mulut, hampir semua orang pintar. Perang di medan juang yang mempertaruhkan nyawa antara hidup dan mati, banyak orang yang berfikir ulang bahkan menghindari diri serta lari. Bagaimanakan dengan Nabi kita? Muhammad Rasulullah saw dan para sahabat yang setia? Serta bagaimana pikiran dan sikap sebagian sehabat yang akan dan sedang menghadapi perang bersama Rasulullah saw?
Musuh akan datang dan menghadang dengan berbagai macam siasat, strategi dan tipu muslihat. Bila Nabi Muhammad saw dan para sahabat memiliki kemampuan strategi lebih rendah dari musuh serta tidak pula memelilki kekuatan jiwa yang kuat yakni sabar dan taqwa, maka kekalahan dan kehinaanlah yang akan diperoleh oleh para pejuan agama Allah.
Dari sekian banyak medan pertempuran yang dihadapi Rasulullah saw dalam mengembangkan dan mempertahankan agama Allah, Penulis akan mengutip kisah pertempuran di bukit uhud yang di kenal dengan “PERANG UHUD”. Mudah-mudahan bermafaat bagi orang yang bisa mengambil ibarat dari sebuah sejarah perjuangan di medan perang.
Setelah kaum musyrikin Quraisy mendapat kekalahan yang sangat besar di dalam peperangan Badar yang terkernal itu dan banyak pemuka mereka yang penting tewas di sana, timbullah dalam hati mereka dendam yang besar keinginan berkobar-kobar hendak menuntut balas. Untuk itu dan mulai saat itu pimpinan kaum Quraisy menentang Nabi s.a.w. diserahkan kepada Abu Sufyan. Namanya sajapun hebat, yaitu si Sakhar (elang, rajawali) anak si Harb (si perang). Abu Sufyan bersumpah, bahwa dia tidak akan mandi junub selama lamanya sesudah bersetubuh dengan isterinya sebelum dendam di Badar dapat ditebus. Untuk maksud menyerang Madinah dengan kekuatan besar, terlebih dahulu Abu Sufaan pernah memimpin sendiri 100 orang datang dengan sangat rahasia ke perkampungan Yahudi Bani Nadhir, meminta supaya kaum Yahudi itu sudi membantunya. Tetapi mata-mata Nabi s.a.w. s€gera mengetahui kedatangan mereka, maka sebelum pertemuan terlaksana, mereka telah dapat dikejar dan diusir. Mereka segera lari pulang ke Makkah, sehingga berceceranlah barang-barang perbekalan mereka di satu tempat bernama Suaik, menjadi ghanimah empuk bagi kaum Muslimin.
Sesampai di Makkah dari petualangan l00 orang itu, Abu Sofyan langsung mengerahkan tenaga kaum Quraisy untuk menyerang Madinah. Mereka ajak juga dua kabilah sekutu mereka, yaitu Kinanah dan Tihamah, sehinqga tidak kurang jumlah angkatan perang itu dari 3000 orang banyaknya. Untuk membangkitkan semangat perang, dibawa juga perempuan-perempuan. Di antaranya, ialah Hindun binti Utbah sendiri, isteri Abu Sofyan yang sangat berdendam, sebab banyak keluarganya yang mati di Badar. Di samping itu dibawa juga seorang budak yang bernarna Wahsyi (si Liar), budak bangsa Habsyi, kepunyaan Jubair bin Muth’im. Dia diberi janji oleh Jubair, kalau dia dapat membunuh Hamzah bin Abu Thalib, paman Rasulullah, dia akan langsung dimerdekakan. Mereka juga membawa genderang-genderang perang, untuk ditabuh dan dinyanyikan oleh perempuan-perempuan untuk membangkitkan semangat juang.
Mereka telah siap hendak menyerbu kota Madinah,lslam hendak diserbu didalam tempat tumbuhnya sendiri.
Setelah berita itu sampai kepada Rasulullah s.a.w. langsunglah beliau memanggil seluruh sahabat, Muhajirin dan Anshar bersidang untuk bermusyawarat, bagaimana cara menghadapi musuh yang telah datang hendak menyerbu kota Madinah ini.Selain sahabat yang telah berusia lanjut, angkatan-angkatan mudapun hadir dalam musyawarah tersebut. Dalam musyarawah, sebagian dari sahabat yang hadir mengeluarkan pendapat dan pikiran diserta dengan alasan mereka masing-masing.
Angkatan-angkatan muda berpendapat lebih baik musuh itu dihadang di luar kota. Abdullah bin Ubay sendiri yang sudah sewajarnya dibawa bermusyawarat, sebab dia penduduk terkemuka kota Madinah mengemukakan pendapat, bahwa lebih baik bertahan didalam kota saja. Sedang Rasulullah s.a.w. mengeluarkan pendapat bersamaan dengan pendapat Abdullah bin Ubay itu.
Tetapi Rasulullah s.a.w. mengerti latar-belakang kedua pendapat yang berbeda ini. Pemuda-pemuda itu berkeras mengusulkan biar menyerbu keluar kota didorong oleh semangat jihad yang berkobaran. Sedang pendapat Abdullah bin Ubay, meskipun sama dengan pendapat Nabi, tidaklah dipercayai kejujurannya. Kalau musuh masuk belum tentu Abdullah bin Ubay dengan pengikut-pengikutnya akan bertahan dengan setia.
Setelah mengimbangi antara kedua pendapat itu, akhirnya Rasulullah mengambil keputusan menurut suara terbanyak. Yaitu bukan bertahan di dalam kota tetapi menyambut musuh itu keluar kota. Beliau telah melakukan perintah Tuhan yang tersebut juga di dalam suratAli Imrani, ayat: 159 “Ajak bermusyawarat; maka apabila tekadmu telah bulat (‘Azam-ta), bertawakkallah kepada Allah dan hilangkan segala keragu-raguan.”
Setelah keputusan itu diambil, menyerang dan menangkis musuh keluar kota, beliau lekatkanlah alat pakaian perang beliau; ketopong perisai, pedang dan tombaknya. Beliau telah siap. Dan musyawarat tidak akan ada lagi. Tetapi beberapa sahabat tertua yang berpengalaman mengambil kesempatan memberi beberapa keterangan kepada pemuda-pemuda yang bersemangat itu, bahwa pendapat Rasulullah s.a.w.lah yang benar. Musuh yang kabarnya tidak kurang dari 3000 orang banyaknya itu hanya dapat ditangkis dengan pertahanan kota yang kuat, sampai mereka tidak berdaya lagi. Taktik perang dalam hal ini, yang lebih baik ialah bertahan (defensif). Lalu pemuda.pemuda itu menjadi ragu kembali kepada usul mereka sendiri yang telah dijadikan keputusan itu dan mau tunduk kepada pendapat Rasulullah s.a.w. yang semula, biar bertahan saja, jangan menyerbu. Lalu seorang di antara mereka memberanikan diri menghadap Rasulullah s.a.w. menyampaikan, bahwa mereka sekarang telah surut dari pendapat semula dan sudi menuruti pendapat Rasulullah yang pertama. Mendengar usul itu Rasulullah s.a.w. marah, lalu berkata: “Pantang bagi seorang Rasul, apabila pakaian perangnya telah lekat ke badannya, akan membukanya kembali, sebelum Allah menentukan siapa yang akan menang, dia atau musuhnya!” Kalau keputusan sudah diambil, tidak boleh ragu lagi! Lalu semuanya terdiam dan tunduk. Dan pagi-paginya Rasulullah s.a.w. keluar dari rumahnya lalu menyusun tentara beliau, Mujahidin yang gagah perkasa itu. Yang masih saja menggerutu-gerutu ialah Abdullah bin Ubay.
Beliau menyusun tentara pagi-pagi itulah yang diperingatkan pada ayat 121 dalam surat Ali Imran. “Dan (ingatlah) tatkala engkau keluar dari (rumah) keluargamu pagi’pagi, menyiapkan tempat-tempat kedudukan untuk berperang bagi orang-orang yang beriman; Allah Mendengar lagi Mengetahui.”
Pada hari Sabtu pagi-pagi benar, 15 Syawal tahun ketiga Hijrah, Rasulullah s.a.w. telah memimpin 1000 orang tentara Islam menuju Uhud. Tempat itulah yang beliau pilih menjadi Maqa’ida lilqitali, yaitu tempat-tempat kedudukan untuk berperang, artinya tempat yang beliau pandang sangat strategis, baik untuk menangkis serangan ataupun sebagai pangkalan untuk menyerbu.
Dengan kisah yang pendek ini terbayanglah bagi kita betapa Rasulullah sebagai kepala perang. Terlebih dahulu rupanya beliau telah mengetahui betapa pentingnya bukit Uhud itu dalam taktik dan teknik perang, asal saja tentara yang berada dibawah perintah beliau taat memegang disiplin. Dari lereng bukit Uhud yang tidak berapa tinggi, dengan alat-alat yang sederhana pada zaman itu dapat diketahui dari mana datangnya musuh dan bagaimana gerak-gerik mereka. Dari sejemput kata Maqa’ida lilqitali kita ummat Muhammad diberi isyarat betapa pentingnya dan wajibnya mmgatur siasat perang; strategi, taktik dan teknik, mempelajari medan perang dan cuaca.
Tetapi sedikit lagi akan sampai ke bukit Uhud itu, terjadilah suatu pengkhianatan besar; Abdullah bin Ubay dengan 300 orang pengikutnya menarik diri, tidak mau melanjutkan perjalanan dan langsung pulang ke Madinah. Dia berkata: “Pendapat saya tidak dipertimbangkannya. Hanya kehendak pemuda-pemuda yang belum tahu apa-apa itu yang diperturutkannya. Saya tidak mau mati konyol menghadapi musuh sebesar itu. Mari kita pulang!”
Tampaknya beliau telah memperhitungkan juga pengkhianatan Abdullah bin Ubaylni. Sebab meskipun pada mulanya pendapat Abdullah bin Ubay sama pendapat beliau, beliau Juga sudah tidak percaya akan kesetiaan orang ini. Sebab itu beliau tidak ragu sedikitpun. Beliau pimpin terus kaum beriman yang setia yang 700 orang itu. Asal orang yang 700 orang itu teguh mengikuti pimpinan beliau, mereka tidak akan kalah. Beliau mengetahui kelemahan pihak musuh. Dan kaum Muslimin hendaklah teguh memegang persenjataan batin yang ampuh, yaitu SABAR dan TAKWA.
Di ujung ayat ini dikatakan, bahwa Allah Mendengar dan Mengetahui. Yaitu Allah mendengar kata-kata khianat yang keluar dari mulut Abdullah bin Ubay dan Allahpun mengetahui betapa keteguhan hati Rasul-Nya meneruskan perjuangan. Rasul meneruskan perjalanan, tetapi perbuatan khianat Abdullah bin Ubay itu hampir pula mempengaruhi yang lain. Inilah yang diingatkan ayat yang selanjutnya: “(Ingatlah) tatkala dua golongan antara kamu hampir saja lemah, Allahlah menjadi pelindung mereka keduanya. Dan kepada Allah lah bertawakkal orang-orang yang beriman” (ayat 122).
Karena 300 orang mengundurkan diri, maka dua kabilah Anshar yaitu Bani Salmah dari kaum Aus dan BaniHaritsah dari Khazraj, timbul keragu-raguan mereka. Kalau kita hanya tinggal 700 saja ke depan dan disuruhnya anak buahnya itu berkumpul. Dia sadarkan apa perang dilanjutkan keluar kota, lebih baik bertahan saja di Madinah. Dan merekapun telah hampir hendak pulang saja. Tetapi di dalam mereka ragu-ragu itu, bertindaklah salah seorang pemimpin mereka, yaitu Abdullah bin Amr bin Haraam dari persekutuan Bani Salmah. Dia tampik mereka dengan berkata: Ingatlah Allah, hai kaumku. Jangan kamu kecewakan kaum kamu dan Nabi kamu. Mari kita berperang pada jalan Allah, atau kita bertahan sampai mati! Tidak ada kata lain!.
Perkataan Abdullah bin Amr yang pendek itu sangat mempengaruhi Bani Salmah. Semangat mereka bangkit kembali. Melihat itu Bani Haritsah pun bangkit pula semangat mereka. Biar bersama mati dengan Rasulullah dan nama persukutuan mereka jangan dikotori, sebagaimana yang diperbuat Abdullah bin Ubay yang telah mengotori nama pengikut-pengikutnya. Dan bilangan tidak lagi berkurang dari 700 orang. Dan kalau hati sudah bulat, orang yang beriman mulailah menegakkan tawakkalnya kepada Allah, sebagai tersebut di ujung ayat. Demikian tinggi semangat, sehingga antara orang itu terdapat tidak kurang dari 17 orang kanak-kanak yang usianya lebih kurang di bawah 15 tahun. Mereka tidak mau ditinggalkan, walaupun memikul tombak masih berat bagi mereka: Untuk menyenangkan hati mereka, mereka dipanggil disuruh bergumul. Mana yang lebih kuat dibawa tampil ke depan dan mana yang lemah disuruh bersedia-sedia di garis belakang.
Ada seorang tua, Khaisamah namanya. Pada waktu peperangan Badar dahulu dia berebut dengan puteranya hendak pergi, sehingga ayah dan anak membuat undian. Lalu menang undian anaknya itu, dia syahid di perang Badar.
Tiba-tiba sebelum pergi ke perang Uhud, orang tua yang bernama Khaisamah itu bermimpi melihat puteranya itu bermain-main bersukaria di sebuah taman yang indah di dalam syurga, memetik buah-buahan dan merenungi air jernih mengalir. Setelah anaknya itu melihat ayahnya, diapun memanggih “Ayah! Ananda disini sekarang. Rupanya janji Tuhan telah berlaku sebenar-benarnya pada diriku. Mari ayah, marilah turuti aku”.
Dia tersentak bangun pagi-pagi, hatinya gelisah, lalu dia datang menghadap Rasulullah s.a.w. minta dimasukkan dalam daftar untuk berperang ke Uhud. Dia berkata: “Ya Rasulullah! Aku telah tua, tulangku sudah mulai lemah, dan aku ingin sekali hendak menemui Tuhanku. Bawa aku serta ya Rasulullah dan doakan daku moga-moga akupun mendapat syahadah sebagai anakku dan hidup bersama dia di syurga.”
Dengan rasa terharu Rasulullah mengangkatkan tangannya ke langit, mendoakan Khaisamah tua agar permohonannya terkabul. Dan diapun turut berperang uhud dengan gagah beraninya. Di sana doa Rasulullah terkabul. Khaisamah tua beroleh syahidnya.
Satu macam semangat lagi, ialah semangat Nu’aim bin Malik. Dia datang kepada Rasulullah sebelum perang berkecamuk, lalu berkata dengan penuh keharuan: “Ya Rasulullah, aku ingin masuk syurga. Ya Rasulullah, demi Allah, izinkan aku pergi ke syurga. Bekal ku ialah cinta kepada Allah dan Rasul. Aku sekali-kali tidak akan mundur bila berhadapan dengan musuh.” Mendengar itu Rasulullah bersabda: “Engkau benar! ” Nu’aim bin Malik turut dalam peperangan dan tidak mengenal mundur walau setapak, keinginannya meneruskan perjalanan ke syurgapun terkabul.
Ada lagi seorang pincang, namanya Amir bin Juwamah. Dia beranak laki-laki berempat; keempatnya pergi berperang mengikuti Rasulullah ke Uhud. Setelah orang berangkat, dia mengikuti dari belakang. Anak-anaknya menyuruh pulang, karena mereka berempat sudah cukup, lagi pula dia pincang. Dia tidak wajib berjihad. Tetapi Amr pincang tidak merasa puas dengan penolakan itu, lalu dia langsung menemui Rasulullah dan berkata: “Anak-anak ku menghalang-halangiku turut berperang, ya Rasulullah, padahal aku ingin sekali mati syahid, .hanya dengan kaki pincang ku ini akupun dapat menginjak tanah syurga!” Rasulullah s.a.w. menjawab: “Tetapi sebenarnya engkau tidak wajib beriihad, karena cacat badanmu ini.” Air matanya menggelanggang dengan jawab beliau, sambil berkata pula: “Walaupun aku pincang ya Rasulullah, tanganku masih kokoh menetak leher musuh!” Mendengar permintaan sungguh-sungguh itu menoleh lah Rasulullah s.a.w. kepada keempat puteranya itu dan berkata: .,Biarkanlah dia moga-moga Tuhan mengabulkan keinginannya!” Keempat anaknya terpaksa mengizinkan dia dan dengan pincangnya dia menyerbu musuh. Keinginannya dikabulkan Tuhan!
Pada hari akan berangkat malam Sabtu itu jugalah Abdullah bin Jahasy menyatakan sumpahnya, bahwa dia hendak menemui musuh besok. Dia berkata: “Mungkin besok musuh akan membelah perutku; mungkin mereka akan mengerat hidungku dan memotong telingaku. Namun aku tidak perduli, aku akan tetap bertempur.”
Apa yang disangkanya itu memang terjadi, dia bertempur dan diapun membunuh musuh juga, tetapi adat perang bunuh-membunuh dan terbunuh, diapun terbunuh, perutnya dibelah, hidungnya dipotong dan telinganya dikerat musuh; diapun syahid.
Inilah contoh betapa tingginya semangat pada waktu itu, tetapi sayang sekali, perang di Uhud membawa satu kekalahan yang tidak diduga. Hanya oleh karena salah satu sayap barisan melanggar disiplin. Ketika memulai peperangan, Rasulullah telah mengatur susunan pertahanan dan penyerbuan. Kompi yang mana penyerbu dan yang mana penjaga garis belakang telah diatur. Abdullah bin Jubair diperintahkan memimpin barisan 50 orang pemanah, dan menjaga dilereng bukit Uhud. Mereka diberi perintah sekali-kali tidak boleh meninggalkan tempat itu, sebab tempat itu adalah kunci pertahanan. Mana musuh yang mendekat, mesti terus mereka panah, atau dilempari dari tempat itu.
Rasulullah s.a.w. bertitah: “Jangan diberi musuh itu lewat ke rusuk kita, walaupun bagaimana. Kalau kami mundur karena desakan mereka, segera kalian hantam dengan panah. Kalau kami maju, sekali-kali kalian tidak boleh turun dari pertahanan ini, sebelum musuh hancur sehancur-hancurnya atau lari. Kalian baru boleh meninggalkan tempat itu setelah datang perintah dari aku sendiri”.
Beliau telah merasa puas dengan perintah demikian. Maka kepada yang lain diperintahkannya pula. “sekali-kali jangan kita yang memulai. Kita wajib tenang di tempat kita. Sebelum ada perintah dari Rasul sendiri tidak boleh ada yang menyerbu.
Setelah beliau memberikan perintah-perintah, lalu beliau kenakan dua perisai. Pertempuran terjadi dengan hebatnya. Musuh telah menyerbu. 3000 lawan 700 orang. Tetapi semangat yang 700 terlalu tinggi, sehingga pihak musuh memandang seakan-akan mereka berhadapan dengan 7000 orang, bukan dengan 700. Rasulullah menawarkan pedangnya kepada siapa yang berani, asal saja hak pedang itu dibayar, tidak boleh dipulangkan sebelum mencincang musuh. Tampil ke muka Abu Dijanah, diambilnya pedang itu dan diapun menyerbu ke tengah-tengah musuh, laksana panah lepas dari busurnya.
Pembawa bendera Quraisy ialah Thalhah bin Abu Thalhah. Dia bersorak-sorak menantang kalau-kalau ada pengikut Rasulullah yang berani berperang tanding dengannya, yaitu berduel. Maka menyerbulah Zubair bin ‘Awwam menjawab tantangan itu. Bersama-samalah keduanya menyerbukan untanya sekencang-kencangnya. Unta Zubair lebih kuat, unta Thalhah tersungkur jatuh, Zubair laksana kilat melompat turun, terus menikam Thalhah dan memotong lehernya.
Ka’ab bin Malik, sahabat Anshar yang terkenal berceritera: “Aku lihat dari’ jauh seorang musyrik menyerbu dengan kelengkapannya. lalu berhadapan dengan seorang Muslim. Berdebar jantungku melihat, sebab kelengkapan mereka tidak sepadan. Alat yang di tangan si Muslim hanya sebilah pedang. Setelah berhadapan berdesak si Muslim mengayunkan pedangnya, tepat pada bahu si musyrik, putus badannya dan mati.” Dan kata Ka’ab bin Malik pula: “Aku kagum sekali dan aku tidak tahu siapa- Muslim yang gagah berani itu.- Setelah aku mendekat, disimbahkannya serban merah yang mengikat kepalanya, lalu dia berkata: “Aku Abu Dijanah!” lnilah pemuda yang dipinjami Nabi pedang beliau itu yang beliau minta dibayar haknya! Apatah lagi Hamzah bin Abdul Muthalib. Diapun menyerbu laksana kilat tidak tertahan-tahan. Mana yang bertemu disapunya. Bergelimpangan bangkai dibawah kakinya. Tetapi Wahsyi, budak Habsyi kepunyaan Jubair bin Muth’im yang dijanjikan akan diberi kemerdekaan bila dapat membunuh Hamzah itu melihat kesempatan yang baik ini. Sedang Hamzah menyerbu, dicobakannyalah kepandaiannya yang istimewa itu, yaitu melempar dengan lembing dari jauh. Lemparan cara Habsyi itu jarang yang tidak mengenai sasarannya. Hamzah jatuh tergelimpang, perutnya kena, sehingga terburai isi perut beliau. Hamzah mencapai syahidnya.
Meskipun Hamzah telah mati, semangat perang kaum Muslimin tidak mundur. Mereka bertambah mengganas, sedang semangat Quraisy sudah mulai patah. Mereka sudah mulai lari terbirit-birit; barang-barang rampasan telah berceceran dan beberapa bangkai mereka telah bergelimpangan. Cuma satu saja pahlawan Quraisy yang memimpin barisan berkuda yang tidak lari, tetapi setengah terkepung. Orang itu ialah Khalid bin Walid. Mundur tidak bisa, majupun tidak. Sebab lereng bukit terjaga keras. Nyaris kaum Muslimin mencapai kemenangan terakhir.
Tetapi apa boleh buat? Demi melihat kaum Muslimin yang menang memunguti harta rampasan dan musyrikin telah bersimpang-siur meninggalkan harta benda mereka, si pemanah 50 orang di lereng bukit mulai goncang semangatnya dan mulai lupa disiplin. Mereka lupakan perintah Rasul dan merekapun turun sambil berkata: “Kawan-kawan telah mendapat ghanimah, mengapa juga kita di sini?” Dengan keras Abdullah bin Jubair menyeru mereka, supaya ingat akan perintah Rasul, supaya bertahan, tidaklah mereka dengarkan lagi. Dan dengan turunnya mereka, pertahanan penting jadi bocor. Khalid bin Walid cepat bertindak menyerbu tempat tersebut. Khalid bin Walid, pemimpin tentara berkuda Quraisy, dapat merebut tempat pertahanan terakhir ketika itu, sebab 50 orang pemanah turun dari sana, mengejar ghanimah, takut ketinggalan, tidak kebagian. Bocorlah pertahanan strategi yang telah diatur Nabi. Tempat beliau berteduh memberikan komando segera diserbu oleh musuh. Sedang dari tadi perempuan-perempuan Quraisy bernyanyi-nyanyi untuk membangkitkan semangat berperang laki-laki mereka, kadang-kadang dengan kata-kata cabul. Kalau mereka menang, mereka akan disambut dengan pelukan dan ciuman dan seketiduran hangat.
Setelah benteng pertahanan Nabi diserbu nyanyi mereka bertambah hebat kembali, padahal tadinya mereka sudah lari. Keberanian kaum Muslimin cukup besar mempertahankan Nabi mereka, tetapi seorang musyrik telah menyerbu ke tempat itu dan melemparkan sebuah batu besar ke wajah Rasulullah s.a.w. kena hidung beliau dan patah gigi-saing beliau; ketopong beliau sendiri membenam ke dalam pipi beliau, sehingga terpancarlah darah. Yang melemparkan batu secara pengecut itu lalu lari dan bersorak-sorak meneriakkan, bahwa Nabi telah kena dan mungkin telah mati. Musyrikin menyambutnya dengan bersorak-sorak kegirangan. Setengah kaum Muslimin sudah mulaikehilangan semangat, sehingga ada yang lari pulang ke Madinah.
Tetapi Rasulullah s.a.w. sendiri tidaklah beranjak dari sikap beliau yang gagah perkasa lantaran luka, patah saing, pecah hidung, robek pipi dan patah salah satu jari beliau. Beliau berseru dengan gagah suaranya: “Mari kemari hai hamba Allah sekalian, mari-kemari.” Maka segeralah berkumpul 30 orang laki-laki. Tetapi musyrikin telah bersemangat kembali. Yang 30 itu mereka serbu pula. Pada saat itulah Thalhah bin Ubaidullah dan Sahl bin Hunaif dengan gagah perkasanya berdiri di samping kiri-kanan Nabi. Satu anak panah menembus sebelah tangan Thalhah bin Ubaidullah. Waktu itu menyerbulah seorang pemuda musyrikin ke dekat Nabi, demi melihat Thalhah tidak berdaya lagi karena anak panah terselip pada lengannya. Orang itu ialah musuh lama, Ubay bin Khalaf.
Ubay telah bersumpah hendak membunuh Nabi. Dia merasa, bahwa inilah saat yang sebaik-baiknya. Sambil menyentak pedangnya, dia tampil dan berkata: “Hai pembohong besar! ke mana engkau hendak lari lagi?” Tetapi Rasulullah menyambut musuh itu dengan tenaganya dan berkata: “Sayalah akan membunuhmu, Insya Allah!” Lalu seketika Ubay mengangkat pedangnya hendak menghantam Rasulullah, beliau menyodorkan pula pedang beliau ke sebalik kantong perisai Ubay, menembus perutnya. Ubaypun jatuh tersungkur memancar darah dari lukanya dan tidak beberapa lama kemudian diapun mati. Hanya sekali itulah tangan beliau sendiri membunuh musuh di dalam perang selama hidupnya.
Meskipun luka beliau belum dibebat, beliau masih terus memanggil kaum Muslimin yang nyaris bercerai-berai itu; beberapa orang telah datang berkumpul keliling beliau dan rasa cemas karena tersiar kematian beliau telah mulai hilang. Diceriterakan bahwa Anas bin an-Nadhr melihat beberapa Muslimin telah berkumpul-kumpul sebagai orang patah hati. Lalu Anas bertanya: “Apa yang kalian menungkan di sini?” Mereka jawab: “Rasulullah telah mati terbunuh!” Lalu Anas berkata pula: “Kalau benar demikian, apa guna kita hidup lagi? Mari bangun, mari mati terbunuh sebagai beliau pula. Mari!” Merekapun bangkit dan Anas bin an-Nadhr memimpin mereka. Anaspun tewas karena kepungan kaum musyrikin.
Musyrikin terus menyerang. Tetapi Thalhah yang tangannya sebelah telah luka kena panah dan Abu Dijanah yang memakai pedang Nabi serta beberapa sahabat Anshar dan Muhajirin yang lain, tidak lebih dari sembilan orang menyediakan diri masing-masing mati terlebih dahulu sebelum badan Nabi tersinggung. Tujuh orang Anshar gugur di hadapan Rasulullah. Sahabat-sahabat sisa yang telah berserak-serak, segera datang pula ke tempat pertahanan Nabi itu, memberanikan diri mereka, biar mati terlebih dahulu sebelum badan Nabi tersinggung.
Melihat kesediaan mati yang demikian hebatnya, musyrikin jadi bingung dan tidak mengira sama sekali. Hal itu beliau perhatikan benar, Dan ketika itu pulalah beliau menyerahkan busur panahnya ke tangan sa’ad bin Abu waqash: Panah dengan tepat! Panah,” kata beliau. Dan setiap Sa’ad membidikkan panahnya, beliau berdiri melihat kenakah sasarannya atau tidak. sedang Abu Thalhah tegak mendindingkan dirinya, agar jangan sampai Nabi kena oleh panah musuh. Diapun memanah pula dan jarang yang tidak mengenai sasarannya. Dia berkata kepada Nabi: “Aku cukup kebal, ya Rasulullah, hadapkanlah aku ke mana engkau suka dan perintahkanlah apa yang engkau kehendaki!”
Kaum Muslimin sungguh-sungguh telah sangat payah, namun semangat sekali-kali tidak patah. Dan di keliling Rasulullah mereka mulai mendapatkan peribadi kembali. Tetapi kaum Quraisypun tidak pula kurang kepayahan mereka. Mulanya sudah lari pontang-panting, kemudian ada kesempatan menyerbu, dilihat pihak Muslimin rupanya tidak bisa dihancurkan, Nabi mereka ternyata masih hidup. Melihat hal yang demikian, semangat merekalah yang mundur, mereka cukupkan, sehingga begitu saja. Perempuan-perempuan, terutama Hindun, isteri Abu Sufuan memuaskan hatinya dengan membelah dada mayat Hamzah, lalu menguis-nguis dan memakan jantung beliau untuk melepaskan sakit hati. Setelah itu mereka mengundurkan diri.
Dan dengan luka-lukanya yang agak berat itu Rasulullah tetap memberikan komando. Beliau perintahkan Ali bin Abu Thalib memperhatikan apa yang akan dilakukan musuh. Kata beliau: “Kalau mereka naiki unta dan mereka giring kuda alamat mereka menuju ke Makkah, tetapi katau mereka naiki kuda dan unta yang mereka giring alamat mereka hendak menyerang Madinah. Kita mesti waspada dan segera kejar mereka, kita hancurkan di Madinah!”.
Berkata Ali: “Setelah perintah itu aku laksanakan, ternyata bahwa mereka naik unta dan menggiring kuda, menuju Makkah. Kata Ibnu Ishaq, setelah Abu sofyan hendak berangkat meninggalkan Uhud itu, naiktah dia ke puncak sebuah bukit, lalu menyeru dengan suara lantang: “sekarang aku merasa senang, perang berganti kalah dan menang. Kemenangan kami hari ini adalah tebusan atas kekalahan di Badar. Biarlah berhala Hubal tetap dalam kejayaannya!” Mendengar seruan itu Rasulullah menyuruh Umar menyambut “Berdirilah Umar dan jawab kata itu lekas! Allah Maha Mulia dan Maha Tinggi daripada berhalamu itu. Persamaan tidak ada, orang-orang yang tewas di kalangan kami masuk syurga dan orang-orang yang tewas dari kalangan kamu meniadi isi neraka!”
Umar pun menyerukan kalimat-kalimat itu. Lalu Abu Sufyan berseru: “Datanglah ke mari, hai Umar!” Nabi bersabda kepada Umar: “Pergi temui dan periksai hendak mengapa dia!” Dengan gagah berani Umar melaksanakan perintah Nabi, lalu dia datang ke tempat Abu Sufyan itu. Abu Sufyan langsung bertanya: “Katakan kepadaku terus terang, Umar! Apakah Muhammad berhasil kami tewaskan?” Dengan tegas Umar menjawab: “Beliau hidup dan apa yang kamu ucapkan ini semuanya beliau dengar.” Abu Sufyan menjawab: “Perkataanmu lebih aku percayai dari perkataan Ibnu Umaiyah. Ibnu Umaiyah inilah yang menyebar-nyebarkan berita, bahwa Nabi s.a.w. telah tewas.
Akhirnya berkatalah Abu Sofyan: “Antara orang-orang yang tewas yang demikian ada yang dikoyak-koyak badannya oleh barisan kami. Hal yang demikian tidaklah aku sukai dan tidak pula aku benci, tidak aku melarang dan tidak aku menyuruh.” Akhirnya sekali dia berkata pula: “Kita bertemu lagi di Badar tahun depan.”
Setelah perkataan ini disampaikan Umar kepada Rasulullah s.a.w. dengan tegas beliau suruh jawab bahwa janji itu akan dipenuhi. Dalam pada itu luka-luka Rasulullah diobati. Fatimah puteri beliau sendiri mencabut potongan besi ketopong dari pipi beliau dengan giginya. (Beberapa perempuan ikut dalam peperangan itu guna mengobati yang luka. Antaranya Fatimah).
Tidak berapa lama sesudah perang Uhud, Khalid bin walid dan Amru bin Ash telah hijrah dengan sukarela dan sembunyi-sembunyi ke Madinah. Dan Abu sofyan akhirnya taubat ketika futuh (penaklukan) Makkah. Dan wahsyi lah yang membunuh Nabi palsu Musailamah pada zaman pemerintahan Abu Bakar.
Demikianlah kisah ringkas tentang peperangan Uhud yang menyedihkan itu.
(Dalil Tulisan : Ali Imran, ayat: 121-129).**






