Oleh : Darmiwandi, S.Ag. M.H
“Kekuasaan : Kemuliaan dan Kehinaan”
Apa yang tidak dicari dan dikejar oleh banyak orang kalau bukan kekuasaan. Awalnya mungkin hanya mencari sesuap nasi untuk mengisi perut yang tidak berisi, berusaha tanpa peduli lelah dan letih untuk menghidupi keluarga. Bekerja dengan tekun dan giat, sehingga harta semakin hari semakin bertambah. Pada awalnya mencari dengan susah payah, tetapi sekarang sudah bisa bersedekah. Kekayaan telah berlipat ganda. Boleh di bilang, telah menjadi orang kaya dan berekonomi matang. Setelah harta didapatkan, timbul lagi pemikiran untuk meraih dan menggapai kekuasaan.
Sebagian orang hanya berfikiran untuk menuntut ilmu. Keadaan ekonomi yang tidak mampu, tidak mematahkan orang untuk mencari dan berusaha mencari ilmu pengetahuan. Dia diberikan oleh Allah kecerdasan berfikir tetapi dibatasi dalam masalah ekonominya. Tamat Sekolah Dasar, berusaha melanjutkan ke Sekolah Menengah bahkan sampai ke Perguruan Tinggi. Setelah tamat dari satu perguruan Tinggi, melanjutkan lagi ke Perguruan Tinggi lainnya. Sehingga pada kahirnya juga mengajar di berbagai Perguruan Tinggi.
Secara akademik, orang tersebut telah sukses dalam bidang pendidikan. Pergi tempat bertanya, pulang tempat berberita. Dia menjadi orang yang tenar dan terkenal di berbagai Perguruan Tinggi. Kalau di bilang masalah ekonomi, tidak diragukan lagi bahwa dia memiliki gaji dan tunjangan yang tinggi. Uang banyak dan hartapun berlimpah. Dia di sebut juga orang yang pintar. Jangankan bahasa Minangkabau dan Indonesia dia lancar, bahasa Mandarin, Jepang, Prancis dan Inggris jangan di tanya lagi. Apa motivasi awalnya? Adalah menuntut ilmu pengetahuan. Semua jenjang pendidkan telah didapatkan, muncul lagi ide baru yakni ingin memegang kekuasaan.
Ada lagi sebahagian dari orang, memang karena keadaan ekonomi yang sederhana bahkan kurang mampu menginginkan kekuasaan. Berbagai macam cara dia usahakan untuk menggapai itu. Jangankan akan menambah yang ada, yang ada saja bisa habis terjual dan tergadai karena mengejar kekuasaan.
Pokoknya, banyak orang menginginkan kekuasaan. Mendapatkan kekuasaan tentu butuh pengorbanan, baik pengorbanan materil mapun pengorbanan moril. Bagi orang yang telah memegang kekuasaan, ada yang langgeng atau bertahan lama dengan kekuasaan dan ada pula orang yang hanya sesaat memegang kekuasaan yang telah didapatkan bersusah payah. Sebahagian orang, bisa mulya dan terhormat karena kekuasaan dan juga tidak sedikit yang hina karena kekuasaannya.
Berkenaan dengan kekuasaan, penulis mengutip Firman Allah dalam Surat Ali Imran, ayat 26. Selain itu, dikutip juga pandangan dan pemikiran Ulama tentang ayat yang berkaitan dengan kekuasaan.
Nabi Muhammad Saw dari awal perjuangan beliau tidak ada terindikasi bahwa dalam perjuangan beliau mengejar kekuasaan, bahkan ditawarkanpun menjadi Raja beliau menolak, karena bukan itulah tujuan beliau. Tujuan pokok Nabi Muhammad Saw adalah mengajarkan kepercayaan dan keyakinan kepada Allah swt, tetapi hasilnya adalah sesuatu kekuasaan. Suatu pemerintahan yang mempunyai wibawa dan kemegahan, membuat perjanjian perang atau damai, menghukum yang bersalah, sampai juga berhak menghukum bunuh. Ini sudah menjadi kenyataan.
Beliau berjuang bukanlah untuk mencapai suatu kekuasaan, atau untuk mencapai jabatan tertinggi sebagai kepala negara. Sekali-kali dia tidak mengingat itu. Yang ditujunya ialah kebesaran agarna, tegaknya syiar Allah dan keluar manusia dari gelap gulita syirik, kepada terang benderang iman. Tetapi meskipun beliau tidak menuju kekuasaan, namun kekuasaan pun tercapai. Akhimya kekuasaan bukanlah tujuan, tetapi menjadi alat buat melancarkan agama.
Demikianlah telah ditakdirkan oleh Allah. Beliau datang membawa satu ldeologi, yaitu Islam. Kernudian dengan sendirinya terbentuk satu kekuasaan di Madinah. Bukan beliau terlebih dahulu mengejar suatu kekuasaan, lalu kemudian disusun ldeologinya.
Naiknya Nabi Muhammad Saw memegang kekuasaan, menimbulkan iri dan dengki dari kalangan Yahudi atau Bani Israil. Karena beratus-ratus tahun lamanya, pucuk pemerintahan hanya dipegang oleh mereka. Kekuasaan terbesar adalah dibawah bawah naungan kerajaan Persia dan yang lain di bawah perlindungan kerajaan Rornawi. Sekarang timbul saja suatu kekuasaan baru di tanah Arab yaitu Nabi Muhammad S.A.W. diutus Tuhan menjadi Rasul.
Tampuk kekuasaan yang di pegang oleh Nabi Muhammad tidak disenangi oleh musuh-musuhnya. Mereka berpandangan bahwa Nabi Muhammad Saw telah memporak-porandakan dan mengacaukan tanah Arab. Dengan berpandangan seperti itu, timbullah pemikiran dan perintah dari Kaisar Persia untuk menangkap Nabi Muhammad Saw baik dalam keadaan hidup atau mati.
Dalam suasana demikian, Allah menyuruh Nabi Muhammad Saw mengucapkan doa:
Katakanlah: “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Kekuasaan adalah milik mutlak Allah, Dia berhak penuh untuk memberikan kekuasaan kepada orang yang dikehendaki-Nya dan tidak sulit bagi Allah untuk mencabut kekuasaan itu. Banyak kekuasaan yang telah berurat berakar di tangan seseorang sehingga telah menjadi sebuah dinasti, namun mudah bagi Allah untuk mengalihkannya kepada yang lain dengan cara Allah sendiri. Habis kekuasaan tinggallah gelar, habis tanah tinggallah istana. Kekuasaan hanyalah pinjaman sementara dari Allah.
“Dan Engkau mulyakan orang-orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki”
Izzah artinya kemuliaan dan Dzillah artinya kehinaan. Izzah bisa juga diartikan gengsi, prestise atau wibawa. Sinarnya tidak akan dapat ditutup walaupun oleh kemiskinan dan kekurangan harta. Dzillah bisa juga diartikan jiwa rendah, tidak berwibawa, yang tidak dapat disembunyikan walaupun dibalut dengan emas, permata dan tahta.***






