Buya, Inspirasiku…!!!

By : Edi Firman

 

Mentreng.com ———– Dahulu, suatu ketika diri dibawa seseorang Buya bermain di nirwana. Dikatakan di nirwana terkarena disana bathin terisi, jauh dari kehampaan dan kekosongan. Terisi namun tidaklah sampai meluap meletup – letup.

Disana diri menemani sembari mendengarkan tausiah – tausiah pembakar semangat ketauhidan sekaligus menyimak siraman penyejuk qolbu.

Ketika itu.

Khalayak diajarkan bagaimana menjalani pengarungan samudera dunia.

Level kajian sedikit dinaikan diatas syariat badan. Menanjak sedikit tinggi dengan maksud menunjukan perilaku hebat nan membuat derajat terangkat dimataNya.

Di level tarikat nan dinaikan itu disebutkan bahwa kesenangan dan kepiluan sama saja tiada berbeda. Kedua – duanya bisa dibawa tertawa, menangispun bisa.

Artinya.

Bila diri telah berbaur bersamaNya. Gelak tawa dan tangisan adalah sebuah kebahagiaan.

Itulah salah satu ilmu ketika itu, nan tertanam di qolbu hingga kini dari lisan Buya itu.

Senja tadi.

Seseorang Buya itu bersama badan diri. Hempasan angin rahmatNya sungguh amat terasa. Diri bercakap – cakap bersama Buya melampaui bahasa verbal non verbal, hingga terlupa bahwa Buya sedang dalam menjalani pengguguran dosa.

Tadi, kami tertawa bersama.

Pos terkait