Mentreng.com – Di masa lalu, wilayah yang kini dikenal sebagai Palembang hanyalah sebuah daerah yang dipenuhi hutan lebat dan sungai yang luas. Sungai Musi mengalir membelah daratan, menjadi jalur utama bagi para pedagang dan nelayan.
Di antara penduduk yang tinggal di tepian sungai, hiduplah seorang pemuda bernama Puyang Sebatang, seorang pelaut pemberani yang sering mengarungi Sungai Musi hingga ke lautan lepas. Ia dikenal bijaksana dan memiliki wawasan luas karena sering berinteraksi dengan pedagang dari berbagai negeri.
Misteri Gumpalan Lumpur
Suatu hari, saat Puyang Sebatang sedang berlayar di Sungai Musi, ia melihat sesuatu yang aneh. Di tengah sungai, terdapat gumpalan lumpur raksasa yang perlahan mengapung dan bergerak. Gumpalan itu terlihat semakin besar seiring waktu, seolah-olah ada sesuatu yang mendorongnya dari dasar sungai.
Penasaran, ia mendayung perahunya mendekat dan mencoba menyentuh lumpur itu dengan galah panjang. Tiba-tiba, terdengar suara gemuruh, dan air sungai berputar-putar membentuk pusaran kecil. Dari dalam lumpur itu, muncullah seekor naga emas yang bersinar terang!
Naga itu menatap Puyang Sebatang dan berkata,
“Wahai manusia, ketahuilah bahwa tanah ini akan menjadi tempat yang makmur. Di sinilah para pelaut akan berkumpul, para pedagang akan datang, dan negeri yang besar akan lahir. Namun, untuk menjadikannya kota yang berjaya, kau harus mengajarkan penduduk di sini tentang perdagangan, pertanian, dan keberanian di lautan.”
Setelah mengatakan itu, naga tersebut menghilang ke dalam air, meninggalkan kilauan emas yang bercampur dengan lumpur. Puyang Sebatang pun segera kembali ke desanya dan menceritakan kejadian tersebut kepada penduduk.
Lahirnya Palembang
Seiring waktu, penduduk mulai membangun pemukiman di sekitar tepian Sungai Musi. Mereka belajar berdagang dengan kapal-kapal yang datang dari berbagai negeri. Lumpur yang dahulu mengapung di sungai kini mengeras, menjadi daratan baru yang semakin luas.
Karena kota ini terbentuk dari gumpalan lumpur yang mengapung di air, penduduk menamainya “Pa-Lembang”, yang berasal dari kata “Pa” (tempat) dan “Lembang” (mengapung atau berendam dalam air). Sejak saat itu, kota Palembang tumbuh menjadi pusat perdagangan yang ramai dan makmur.
Legenda ini masih diceritakan hingga kini, mengingatkan bahwa kejayaan Palembang tak lepas dari keberanian para leluhur dalam membangun dan menjaga tanah mereka.






