Oleh : Darmiwandi, S. Ag, M.H
Senang dan susah, tenang dan gelisah, datang dan pergi, kaya dan miskin, sehat dan sakit bahkan hidup dan mati tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia. Adakalanya senang, ada kalanya susah. Sekarang mungkin sehat, besok bisa saja sakit. Dari sakit bisa saja sehat, dan tak jarang orang yang tanpa sakit bisa saja mati. Kekuasaan siapakah ini? Allah Yang Maha Kuasa.
Akhir-akhir ini, sampai sekarang dan tidak diketahui kapan berhentinya, dunia sedang dihebohkan dengan penyakit yang disebabkan oleh virus Corona atau COVID-19. Virus yang mengakibatkan korban/kematian. Berdasarkan informasi yang kita dapat, bahwa korban terbanyak dari virus ini adalah negara China. Virus tersebut telah menyebar ke berbagai negara di belahan dunia, bahkan Kota Mekah khususnya Masjidil Haram dalam beberapa hari dan tahun ini diseterilkan dan umat Islam yang akan melaksanakan Umrah untuk sementara dihentikan karena virus Corona. Alhamdulillah, Tahun ini sudah bisa melaksanakan ibadah Haji dan Umrah miskipun dalam jumlah yang sangat terbatas dan ketat. Mudah-mudahan tahun-tahun yang akan datang bisa kembali lagi normal.
Di kampung penulis, wabah Corona cukup meresahkan dan mencemaskan sebagian masyarakat. Cemas karena sebagian masyarakat “terindikasi” Corona. Resah karena begitu ketatnya peraturan-peraturan yang disampaikan dan diterapkan di tengah-tengah masyarakat. Bukan hanya bepergian keluar kampung bahkan pergi sholat berjamaahpun di masjid-masjid dilarang. Di samping itu, Umumnya masyarakat mengabaikan wabah ini. Mereka beranggapan dan mengatakan bahwa tidak percaya akan penyakit tersebut karena tidak ada bukti yang pasti tentang itu. Semakin mereka dilarang ke masjid, semakin “memberontak” jiwa dan sikap mereka. Bahkan ada yang mengatakan tanpa takut; “Corona itu tidak ada dan saya berani mati bila ada yang melarang saya untuk sholat berjamaah ke masjid”. Begitu beraninya masyarakat menyikapi dan menanggapi wabah Corona, sehingga boleh dikatakan tidak ada masjid yang ditutup. Jangankan di hari biasa, shalat tarwih dan witirpun mereka laksanakan berjamaah di masjid dan di mushalla miskipun penuh dengan kewaspadaan terhadap Satgas Covid-19.
Virus atau wabah yang menyebabkan ketakutan dan kematian, bukan hanya terjadi sekarang, Tetapi telah banyak terjadi sebelum lahirnya Nabi Muhammad saw.
Ini digambarkan oleh Allah dalam Al-Qur’an, pada surat Al-Baqarah, ayat:243-244;
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang ke luar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati; Maka Allah berfirman kepada mereka: “Matilah kamu”, kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur (243). “Dan berperanglah kamu sekalian di jalan Allah, dan ketahuilah Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui (244)
Sebahagian ahli tafsir (seperti Al-Thabari dan Ibnu Katsir) mengartikan mati di sini dengan mati yang sebenarnya; sedangkan sebahagian ahli tafsir yang lain mengartikannya dengan mati semangat.
Mati; Berpisahnya nyawa dengan badan. Orang yang tidak memiliki semangat hidup, juga di sebut mati, yakni mati semangat. Kadang-kadang orang yang kehilangan akal, juga di sebut mati, yakni mati akal. Satu hal yang perlu ditegakkan dan diketengahkan adalah semangat berani mati untuk hidup. Supaya hidup, hendaklah berani mati. Kaum yang takut mati, karena ingin mempertahankan hidup, maka yang akan tinggal pada dirinya hanyalah hidup yang tidak berarti, hidup yang terinjak dan tertindas, hidup yang diperbudak. Apabila keperibadian suatu kaum telah hilang, samalah artinya dengan telah mati, walaupun anggota-anggota bekas kesatuan kaum itu masih ada.
Allah di dalam ayat di atas menyuruh Rasul-Nya dan ummatnya memperhatikan suatu kaum yang beribu-ribu banyaknya. Mereka keluar dari kampung halaman mereka, karena mereka takut mati. Dalam satu Riwayat dari beberapa Riwayat yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa jumlah kaum suatu kampung itu berjumlah bahwa jumlah mereka adalah empat puluh ribu orang. Menurut Riwayat dari Ibnu Abu Hatim dari Ibnu Abbas mengatakan bahwa mereka adalah penduduk sebuah kota yang dikenal dengan nama jawurdan. Hal yang sama dikatakan oleh As-Saddi dan Abu Saleh, tetapi ditambahkan bahwa mereka dari arah Wasit.
Kampung yang berpeduduk sekitar empat puluh ribu orang tersebut diserang dan timpa musibah penyakit Ta’un. Untuk menghindari penyekit itu, mereka meninggalkan kampung mereka dan mendatangi kampung yang aman dan tidak ada kematian. Pada saat mereka di sebuah kampung, Allah berfirman kepada mereka; “Matilah kalian”! Maka mereka semuanya mati.Dalam kondisi seperti itu, seorang nabi. Lalu nabi itu berdoa kepada Allah agar mereka dihidupkan kembali, maka Allah menghidupkan mereka.
Di dalam kisah ini terkandung pelajaran dan dalil yang menunjukkan bahwa tiada gunanya takut dalam menghadapi takdir, dan tidak ada tempat berlindung dari Allah kecuali hanya kepada Dia.
Sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Disebutkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda:
“Apabila wabah berada di suatu tempat, sedangkan kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar untuk menghindarinya. Dan apabila kalian mendengar suatu wabah sedang melanda suatu daerah, maka janganlah kalian mendatanginya”.
Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkannya di dalam kitab sahihnya masing-masing melalui hadis Az-Zuhri dengan lafaz sama, Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya wabah ini pernah menimpa umat-umat sebelum kalian sebagai azab. Karena itu, apabila kalian mendengar wabah ini berada di suatu daerah, maka janganlah kalian memasukinya. Dan apabila ia berada di suatu daerah, sedangkan kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar darinya karena menghindarinya”.
Firman Allah Swt.:
“Dan berperanglah kalian di jalan Allah, dan ketahuilah sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (Al-Baqarah: 244)”
Sikap takut tiada gunanya dalam menghadapi takdir, demikian pula melarikan diri dari jihad karena menghindarinya tidak dapat memperpendek atau memperpanjang ajal, melainkan ajal itu telah dipastikan serta rezeki telah ditetapkan takaran dan bagiannya masing-masing, tiada yang diberi tambahan, tiada pula yang dikurangi, semuanya tepat seperti apa yang dikehendaki-Nya. Perihalnya sama dengan makna yang ada dalam ayat lain, yaitu firman-Nya:
“Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang, “Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh.” Katakanlah, “Tolaklah kematian itu dari diri kalian, jika kalian orang-orang yang benar.” (Ali Imran: 168)
Masalah mati merupakan misterius. Tidak seorangpun yang mengetahui kapan dan dimana dia akan mati. Seseorang yang sedang mengidap penyakit parah dan mengkawatirkan akan keselamatan jiwanya, namun masih hidup. Ada orang yang sehat-sehat saja, namun tanpa disangka dia meninggalkan kita untuk selamanya. Seseorang yang aktifitasnya tidak menantang dan banyak rintangan, tanpa diduga mati juga sambil duduk. Sedangkan tidak sedikit orang yang sengaja menghadapi dan menghadang mati seperti dalam perperangan; dimana peluru lalu lalang di atas kepala mereka, sebagian tubuh mereka tembus oleh peluru, namun maut belum juga menjemput.
Inilah ungkapan seorang pemberani; “Tidak Ajal Pantang Mati”.






