Dari Kebangkitan Nasional Menuju Kebangkitan Spiritual Bersama Aspirasi Emak-emak pada 28 Oktober 2021

Oleh : Jacob Ereste 

 

Mentreng.com  |  Jakarta – Menurut banyak pengamat, dunia sekarang memang sedang berada di persimpangan peradaban. Jadi peluang untuk kebangkitan spiritual yang ditandai dari bilik agama sudah ditandai oleh zaman para Nabi. Sekarang gilirannya untuk kebangkitan suku bangsa — khusus Indonesia — akan menjadi mercu suar (penerang) jagat. Peralihan siklus 7 abad pertama dan siklus 7 abad babak kedua telah menghantar masuk dalam siklus perakihan 7 abad babak ketiga sekarang.

Pemahaman terhadap satria pinandita pun — sebagai sosok pemersatu — semakin relevan guna membangun pengertian untuk saling menghargai antara yang satu dengan yang lain. Hingga akhirnya bisa segera menghentikan kecendrungan untuk saling memerangi atau menghancurkan antara yang satu dengan yang lain.

Bunda berhati pualam — dalam pengungkapan Eko Sriyanto Galgendu untuk Emak Wati Imhar Burhanudin, sebagai Ketua Aspirasi kelompok Emak-emak jadi semacam bagian ekspresi nyata betapa keras dan tegarnya hati yang kelak akan jadi penjemput cahaya penerang jalan hidup dan kehidupan yang harus ditapaki oleh manusia hari ini. Sehingga, ketika sakit pun sikap ogah untuk disuntik dapat dihentikan sendiri, sehingga tak lagi boleh dimonopoli oleh otoritatifnya seorang dokter yang telah melakukan pekerjaannya secara profesional sekalipun. Sebab hak asasi manusia — meliputi otoritas pada segenap bagian dari tubuh semua manusia yang patut diberi kebebasan untuk menentukan pilihan sendiri yang dianggap paling sesuai dengan kebutuhan serta keperluan masing-masing — yang paling asasi — dan sangat pribadi sifatnya itu.

Agakny, begitulah fenomena dari ketegaran hati seorang wanita — tatkala sakit pun –tetap tegar memegang hak pribadi — seperti sikap dan hak bagi Bunda Wati — tak ingin menginap di Rumah Sakit — karena merasa lebih nyaman menjalani masa istirahatnya di sebuab hotel sekalipun biaya untuk itu harus dibayar mahal. Karena yang penting, agaknya menjadi sangat pribadi hingga tak perlu tersita oleh orang lain, termasuk dari pihak rumah sakit maupun para pengunjung yang bersifat pribadi sekalipun.

Fenomena serupa ini semakin riap menandai cerita akhir jaman gelap sekarang menuju jalan terang itu sebagai hasil dari buah kesasadaran spiritual yang akan segera menandai peradaban baru manusia di bumi.

Bunda Wati Imhar Burhanudin Selasa 12 Oktober 2021 pekan lalu jatuh sakit. Uniknya justru musibah itu terjadi di halaman Masjid Istiqlal Jakarta saat bersama keluarga. Kejadian itu dalam pemahaman sufisme sebagai pertanda untuk mengingatkan dari segenap aktivitas yang dilakukan selama ini, ada yang sudah terlalu jauh, katanya menduga-duga, saat membezuk Bunda Wati di lantai 5 hotel mewah itu.

“Jadi saya merasa seperti sedang diingatkan, agar mengevaluasi kembali beragam kegiatan yang saya ikuti”, ujarnya Sabtu, 16 Oktober 2021 kemarin.

Bahkan dokter pun, bila diperlukan bisa didatangkan ke hotel dalam suasana santai. Jadi tak hanya patut mentaati protokol Covid-19 saja yang belum sepenuhnya mereda di Indinesia.

“Jadi kalau cuma disuruh makan obat, saya mau. Tapi untuk disuntik ogah, ah” kata Bunda Wati dalam nada berkelakar. Dan dia pun mengaku dirinya kini sudah mulai pulih, hingga Senen 18 Oktober 2021 bisa kembali beraktivitas seperti biasa. Dan tentu volume dari kegiatannya yang maha sibuk itu, sudah dipastikan ingin dikurangi. Sebab isyarat dari musibah kecil di Masjid Istiqlal Jakarta itu dia pahami sebagai isyarat dari laku spiritual yang sudah dia tekuni dengan serius bersama Eko Sriyanto Galgendu.

Meski begitu toh dalam waktu dekat, momentum 28 Oktober 2021 akan dia isi dengan acara serimoni bersama “geng” Emak-emak yang dia pimpin akan menggelar acara besar kaum perempuan se Indonesia dalam bentuk orasi, baca puisi serta menebar sejuta bunga sambil mendendangkan nyanyian para bunda bagi Ibu Pertiwi untuk kembali ceria, ikut menyambut derap langkah gerakan kebangkitan kesadaran spiritual bangsa Indonesia untuk segera menjadi penerang jagat.

Kisah musibah kecil itu juga yang memberinya inspirasi untuk mengundang seluruh Emak-emak (kaum perempuan) Indonesia untuk ambil bagian dalam ragam kegiatan yang akan diadakan pada hari Kebangkitan Nasional itu nanti — yang memiliki nilai historis bagi kebangkitan anak bangsa Indonesia — untuk menyambut kebangkitan suku bangsa Indonesia yang kini bertekad untuk bersatu dalam satu wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dan ragam warna serta corak keindahan taman sari bangsa Indonesia — suku bangsa, bahasa serta keragamam budaya hingga adat istiadat yang luhur itu akan menjadi mercu suar — penerang — arah peradaban bangsa-bangsa di dunia.

Begitulah rakhmat bagi kaum sufi, dari bencana dan malapetaka pun — termasuk musibah — tetap memberi hikmah. Setidaknya bagi Bunda Wati, ketika menikmati masa istirahat beberapa hari untuk kembali memulihkan kesehatannya, ide dan gagasan yang cemerlang itu akan terus memicu drap kreatibitas kaum wanita Indonesia untuk menandai hari kebangkitan nasional dengan acara dpesial bagi Emak-emak — kaum wanita Indonesia — pada 28 Oktober 2021 yang spektakuler dan secara besar-besaran. Tentu untuk kaum Bapak, bisa saja ikut menyaksikan peranan kaum wanita Indonesia yang juga tidak kalah semangat ingin mengubah tatanan dunia agar dapat lebih baik dan lebih beradab.

Ya, kita tunggu saja. Toh, tidak lebih dari 10 hari lagi acara yang menghebohkan itu akan disaksikan dan dapat menjadi cacatan sejarah yang melagenda puls bagi negeri Ibu Pertiwi ini.

Jakarta, 17 Oktober 2021

Pos terkait