Lampung Selatan | Mentrengnews.com – Selasa (02 /12/2025)Angin pembangunan di desa-desa Lampung Selatan mendadak terhenti. Bukan karena hujan badai, bukan karena musim paceklik, tapi karena Dana Desa Tahap II 2025 masih belum cair, meninggalkan ratusan kepala desa dan perangkat desa dalam drama birokrasi yang tak kalah menegangkan dari sinetron primetime.
Semua naskah kegiatan sudah jadi, plot pembangunan siap berjalan, tapi pemeran utamanya “Dana” tidak muncul di panggung.
Adegan demi adegan di desa kini berubah:
Masyarakat bertanya: “Kapan pembangunan mulai?” Perangkat desa menjawab: “Sedang proses.” Masyarakat bertanya lagi: “Sudah sampai mana?” Perangkat desa ingin menjawab jujur: “Sampai nihil.” Namun yang keluar hanya senyuman getir profesional pemerintahan.
Anggaran Perubahan Disetujui — Tapi Realisasi Masih Menunggu Takdir
Lebih dramatis lagi, desa-desa sudah menyusun dan mengesahkan anggaran perubahan, lengkap dengan verifikasi pemerintah kabupaten. Semua prosedur ditepati. Semua dokumen dipenuhi. Semua perencanaan siap direalisasikan.
Tapi apa daya — pembangunan tidak bisa dijalankan hanya dengan tumpukan map dan stempel.
Seorang perangkat desa menuturkan dengan nada pilu yang disamarkan humor pahit:
“Rasanya seperti sudah akad nikah tapi pesta tidak boleh mulai karena sound system belum datang. Semua orang menunggu, tapi tidak ada yang tahu kapan datangnya.”
Banyak Pilihan, Semua Tidak Enak
Kepala desa berada pada titik paling dramatis:
Mau menjalankan program tanpa dana → risiko hukum.
Mau menunggu dana → dicap tidak bekerja.
Mau ngomel → dinilai tidak loyal.
Mau diam → dianggap menyembunyikan sesuatu.
Apa pun pilihan, tetap salah di mata seseorang.
Tidak heran belakangan ekspresi kepala desa mirip tokoh protagonis sinetron yang jarang tersenyum.
Pembangunan Tertahan — Tetapi Tuntutan Tidak Pernah Tertunda
Masyarakat wajar menuntut pembangunan, ini hak mereka. Tapi sayangnya, hak itu bergantung pada aliran dana yang belum turun.
Ironi Lampung Selatan saat ini:
Jalan belum diperbaiki, tetapi keluhan sudah mulus.
Program belum berjalan, tetapi laporan pertanggungjawaban sudah banyak ditanyakan.
Dan mungkin yang paling dramatis: Ucapan “dana dalam proses” telah diulang begitu sering sampai terdengar seperti mantra keberuntungan.
Epilog Dramatis — Tapi Masih Fakta
Desa bukan tidak bekerja. Desa ingin bekerja. Namun pembangunan tidak bisa dijalankan dengan niat baik saja.
Kalau Dana Desa Tahap II masih terus tertahan, maka bukan hanya proyek yang berhenti, tetapi harapan masyarakat untuk melihat kemajuan di desa juga ikut berhenti di persimpangan waktu dan birokrasi.
Pada akhirnya, sejarah pembangunan Lampung Selatan akan mencatat satu babak besar:
Bukan desa yang berhenti membangun. Yang berhenti — adalah aliran dana. ( Red )






