“Enam Tahun di Padang Panjang” (Romantika Cita, Cinta dan Realita)

Oleh: DARMIWANDI, S.Ag. M.H.

Bagian : 4

“ UANG KOS TIDAK TERBAYAR”

Perjalanan belum berhenti, perjuangan akan terus mengiring kecuali nyawa di badan telah meninggalan diri. Namun yang perlu diketahui dan dipahami, apa yang telah kita perjuangkan akan dipertanggungjawabkan nanti. Hidup harus berjuang. Hasil dari sebuah perjungan merupakan taqdir dari Illahi Rabbi.

Barakik-rakik ka hulu,
Baranang-ranang ka tapian,
Basakik-sakik dahulu,
Basanang-sanang kamudian

Berjuang di jalan Allah, janji Allah telah disediakan yaitu surga.
Bila kita lihat dan perhatikan ayat-ayat Allah dalam Al-Quran, ternyata masuk surga yang merupakan keinginan dari setiap insan wajib juga untuk berjuang untuk mencapai dan menggapainya. Jangan kita mengira bahwa masuk surga itu mudah, tertapi butuh perjuangan yang hebat dan berat. Hal ini penulis kemukakan satu atau dua Firman Allah dalam Al-Quran:

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat” ( Q.S. 2 : 214)

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, Padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar”.
“Sesungguhnya kamu mengharapkan mati (syahid) sebelum kamu menghadapinya; (sekarang) sungguh kamu telah melihatnya dan kamu menyaksikannya”. ( Q.S. 3 : 142-143)

Jihad dapat berarti: 1. berperang untuk menegakkan Islam dan melindungi orang-orang Islam; 2. memerangi hawa nafsu; 3. mendermakan harta benda untuk kebaikan Islam dan umat Islam; 4. Memberantas yang batil dan menegakkan yang hak.

Penulis sebagai anak kecil yang baru tamat Sekolah Dasar telah diberikan jalan oleh Allah dalam menuntut ilmu dan bukan untuk mencari Pangkat, Jabatan dan Harta Kekakayan. Berkaitan hasil dari menuntut ilmu pengetahuan lalu kita mendapat jabatan dan harta kekayaan, itu persoalan lain bagi penulis.

Awal menuntut ilmu di negeri orang ( Panjang Panjang ), penulis telah diberikan jalan untuk berjuang semasa tinggal di Pasar Rabaa. Setelah sekian bulan, penulis mencoba pula sebagaimana teman-teman yang lain, yaitu kos di rumah orang agar bisa ikut belajar bersama minimal berbagi ilmu dan pengalaman sesama teman. Waktu tinggal di Pasar Rabaa, penulis tidak banyak bergaul dengan teman-teman kecuali dengan teman selokal. Kalaupun ada dengan teman yang bukan se lokal, tentu tidak seberapa karena penulis harus pulang cepat karena ada pekerjaan lain yang akan dikerjakan.

Entah hari apa? Penulis tidak ingat. Entah Tanggal berapa? Penulispun lupa. Entah bulan apa? Penulis juga tidak bisa memastikan. Yang bisa penulis ingat adalah tahun 1987. Pada Tahun itulah penulis mulai kos di sebuah rumag penduduk. Nama yang punya rumahpun penulis juga tidak ingat, tetapi yang penulis ingat adalah panggilan kami kepada pemilik rumah yaitu AMAI. Namun demikian, anak dari amai ini adalah Mon nama panggilanya. Da Mon ini bekerja sebagai seorang montir tip di rumah beliau sendiri. Letak rumah tersebut tidak jauh dari sekolah dan dekat dengan rumah kos di Nova dan Fitrianof dan rumah Kos Firdaus Fuad. (Kepada nama-nama teman yang tertilus di dalam tulisan ini, terlebih dahulu penulis minta maaf), karena tidak tertutup kemungkinan, ada diantara orang yang keberatan nama dicatut dalam sebuah tulisan.

Sebagai manusia biasa, dan memang memiliki dayat ingat apa adanya, penulis merasa kesulitan mengingat seluruh nama kawan yang sama tinggal dalam satu kos. Namun demikian, mungkis bisa penulis tulis beberapa orang saja, di antaranya adalah: Asbon Effendi, Afrizal (mak etek), Charles Sevenson, Faizal Yanmar, DM, dan Zulkifli). Hanya itulah yg penulis ingat dari belasan nama kawan-kawan sama kos di rumah amai.

Satu, dua hari, satu, dua bulan, penulis tentu berusaha beradaptasi dengan kawan-kawan karena penulis adalah pendatang baru di rumah tersebut. Alhamdulillah, berkat sedikit ilmu dan pengalaman dan pengajaran juga dari orang tua, penulis bisa bergaul dengan teman-teman secara baik. Selama tinggal di sana, tidak seorangpun penulis berselisih paham apalagi bertengkar dan berkelahi dengan kawan-kawan. Yang terasa banyak disaat itu adalah bercanda, bersenda gurau, main pimpong/tenis meja dalam rumah dengan memakai meja makan sebagai mejanya dan papan sebagai netnya. Bagaimana dengan belajar? Ini adalah tujuan dan fokus penulis. Belajar meluluh tentu akan membuat jenuh, maka selingannya adalah yang tersebut tadi. Bagaimana dengan cerita para pelajar yang beru menginjak remaja? Tentu kami banyak juga bergunjing dan menyebut nama teman-teman wanita laiinya, baik yang tinggal di asrama putri maupun yang berulang ke rumah mereka masing-masing. Uduh menguduh adalah bagian dari cerita kami di kos. Siapa nama teman-teman yang kami bicarakan itu?? Op, ini adalah rahasia.

Bagaimana dengan penulis? Inilah adalah cerita antara cita dan cinta. Cita adalah sebuah keinginan untuk mencapai sesuatu sedangkan cinta adalah anugrah Yang Maha Kuasa diberikan kepada setiap hamba-nya.

Penulis punya banyak teman di lokal, Sebagai ketua kelas di saat itu, sedikit banyaknya tentu mengetahui karakter teman-teman. Setiap mereka punya sifar dan tingkah yang berbeda. Ada yang pendiam, aktif, over aktif, pintar dan tidak ada yang tidak pintar. Di antara sekian banyak teman dan sekian pula banyak karakternya, ada seorang teman yang penulis ingat orangnya tapi lupa namanya panjangnya.

Dalam mengahdapi masa-masa belajar dan sekaligus masa-masa remaja, penulis menempel satu kalimat di dinding temat penulis belajar. Kalimat tersebut berbunyi :
“NO TIME FOR LOVE BUT TIME FOR STUDY”
“STUDENT TODAY AND LEADER TOMORROW”.

Bersambung………..

Pos terkait