Filosofi Dinding Pada Istano Basa Pagaruyung

Oleh : Meriyanto

Pagaruyung – Dinding adalah unsur yang tak kalah pentingnya dibandingkan unsur-unsur penting lainnya karena ia menutupi semua kerangka bangunan Istano Basa Pagaruyung dari semua sisi. Seluruh pemasangan dinding sejajar dengan balok-balok, penguat dinding memakai teknik pasak dan jepit sehingga tidak memerlukan paku sama sekali.

Untuk melindungi dinding dari teriknya panas matahari dan air hujan dilengkapi dengan anyaman bambu yang disebut sasak, anyaman itu ditempatkan pada bagian luar dinding belakang dan sisi bangunan yang tidak berukir.

Dilihat dari sudut Adat MINANGKABAU, dinding Istano Basa Pagaruyung dibagi menjadi dua bagian yang terdiri dari :

*Dinding Muko (Dindung Depan)
Istilah dinding muko meliputi bagian depan dan samping bangunan yang lahir dalam bentuk ukiran kayu. Kata ukiran kayu adalah gabungan kata yang terdiri dari kata ” Ukiran dan Kayu”.

Kayu mewakili dan melambangkan peran adat dan agama yang digunakan sebagai pedoman, standar dan saringan bagi masyarakat untuk berbuat sekaligus sarana bermasyarakat dalam lingkungan mereka dan orang.

Ukiran mewakili kebudayaan dan ketajaman pikiran dan peradaban yang digunakan sebagai sarana untuk tampil menrik perhatian tetangga dekat dan jauh agar datang berkunjung.

*Dinding Belakang
Dinding belakang terbuat dari bambu, ia terdiri dari dua lapis yaitu dinding tadia dan dinding sasak. Keduanya adalah pelindung bagi penghuni rumah dan isinya

*Dinding Tadia
Dinding tadia adalah dinding bagian dalam yang dibuat dari bambu jenis umum, ia melambangkan peran seorang wanita sebagai seorang ibu, pendidik utama, suri tauladan, motifator penggerak disamping pendamping dan penasehat pribadi suami.

Ia bersama suaminya bekerja bahu membahu dalam menciptakan kehidupan yang wajar, menanggulangi, menyusun semua potensi, fasilitas selanjutnya mendorong anggota keluarga untuk maju dan membuat perubahan yang berarti demi masa depan keluarga.

* Dinding Sasak
Dinding sasak melambangkan semua potensi dan fasilitas yang dimiliki sebuah kaum seperti yang digambarkan ukiran kayu yang mendominasi dinding depan.

Dinding sasak juga melambangkan peran, partisipasi aktif semua pihak mulai dari yang paling kecil sampai usia manula termasuk penghulu beserta stafnya dari pihak ibu dalam berbagai tanggung jawab.

Secara keseluruhan dinding sasak melambangkan semua potensi dan fasilitas wilayah adat dan budaya MINANGKABAU yang menjadi sarana, asset daerah ini untuk muncul.

Memperkenalkan dan nenarik perhatian dan pada gilirannya akan menjadi sarana bagi masyatakat Nasional dan Internasional untuk datang berkunjung ke Istano Basa Pagaruyung.

Dindiang sasak batandan ruyuang
Nan kokoh lua jo dalam
Nan sanang lahia jo batin
Santoso paradu ‘ain
Kok tumbuah maliang jo curi
Tuhuak nan datang di balakang
Nan darak jo badariak

Tando bakupak jo basungkik
Nan jaleh namo salahnyo
Untuak mahukum jo manimbang
Bukan malagak rancak di labuah
Dimuko sajo ukia talatak dibalakang sasak nan basusun

Ado hakikat nan tasimpan
Balun pai lah babaliak
Bulan nan sangko tigo puluah
Paham dikunci dalam gaib.

* Jendela
Jendela berperan untuk melambangkan bahwa masyarakat MINAGKABAU selalu secara aktif mengawasi dan mengikuti perkembangan setiap langkah anggota keluarga atau kaumnya yang berada ditengah-tengah masyarakat atau perubahan-perubahan yang ada didalam atau pun di luar lingkungan mereka namun mereka sangat selektif dalam menerima perkembangan.

Kemajuan dan perubahan tersebut karena mereka sangat banyak belajar dari apa yang mereka lihat, dengar dan rasakan dalam kehidupan mereka seperti yang digambarkan oleh ungkapan ” Alam Takambang Jadi Guru”.

Oleh : Mentreng
Sumber : Pariwisata Kabupaten Tanah Datar

Pos terkait