Pertemuan Tonganai
Mentreng.com – Penulis yakin bahkan tahu bahwa ada pertemuan demi pertemuan yang diadakan oleh pengurus KBSP yang diamanahi untuk menjalankan roda perkumpulan suku Pinyalai Nagari Paninggahan, baik secara resmi maupun pertemuan biasa untuk membicarakan bagaimana dan apa yang harus dilakukan untuk pergerakan dan kemajuan suku Pinyalai. Bisa jadi pertemuan tersebut berbentuk mengunjungi para ninik mamak dan tokok-tokoh dalam suku Pinyalai maupun pertemuan sesama pengurus yang terpilih.
Dari beberapa pertemuan dimaksud, penulis baru bisa dan sempat hadir pada hari Sabtu tanggal 22 Juni 2024 di Rumah Gadang Dt. Jomulia di Panyalaian Jorong Kampung Tangah. Ini adalah pertemuan pertama penulis setelah terbentuknya pengurus KBSP periode 2024-2029. Pertemuan tersebut dilaksanakan malam hari setelah sholat Isya.
Setelah sholat isya, dengan memetik sebatang rokok, penulis berjalan kami menuju tempat dilaksanakannya rapat. Tidak menghabiskan setengah batang rokok, penulis telah sampai di lokasi, karena jaraknya memang tidak jauh dari tempat tinggal penulis.
Dengan mengucapkan Assalaamu’alaikum, penulis memasuki rumah gadang. Penulis lihat ke depan, kiri dan kanan, ternyata penulis tidaklah terlambat disebabkan acara rapat belum dimulai karena hanya bebarapa orang saja yang baru hadir. Yang tampak hadir saat itu di antaranya Doni Puta, Gio, Sal, Arpan, Manti Pinyalai.
Sedangkan bundo kanduang tidak terlalu penulis perhatikan karena duduk mereka agak ke ujung rumah dan juga belum banyak yang penulis kenal. Sambil menunggu yang lain datang, kami hanya bincang -bincang ringan saja. Adakalanya yang berkaitan dengan komunikasi dalam WA group; bahwa adanya kiriman-kiriman atau kalimat-kalimat yang berbaukan politik. Salahkah berbicara dan berdiskusi masalah politik? Tidak!. Tapi janganlah di dalam GWA Keluarga Besar Suku Pinyalai, karena tidak seluruh anggota dalam GWA tersebut satu suara atau sama jalan pikiran serta partai politiknya.
Seandaikan dibiarkan bebas saja membicarakan masalah politik dalam GWA KBSP, boleh dikatakan pasti akan memunculkan perdebatan yang tidak berkesudahan dan pada akhirnya menimbulkan perpecahan dalam GWA KBSP pada khususnya.
Sudah lebih dari 25 minit menunggu orang yang diharapkan datang, acara rapat baru bisa dimulai miskipun tidak semua yang diundang datang.
Rapat dibuka dan dimulai oleh sekretraris Keluarga Besar Suku Pinyalai (Gio Panesta). Diawal pembuka kata, Gio menyampaikan tentang kehadiran anggota rapat yang belum lengkap sebagaimana yang diharapkan, namun peserta rapat yang hadir sepakat untuk melanjutkan rapat untuk membicarakan hal-hal pokok dan penting termasuk penyisipan susunan pengurus KBSK. Dalam rapat malam itu, kami lebih bersifat diskusi, tanya jawab dan saling menanggapi serta saling berbagi informasi dan pengalaman khususnya sebagai tonganai rumah gadang.
Diantara pemikiran yang muncul disaat itu adalah: “Setiap Tonganai seharusnya memilki blangko surat menyurat yang diberikan kepada anak kemanakan yang mengurus urusan pernikahan. Kalau bisa format surat menyurat yang dikeluarkan oleh tonganai suku pinyalai memiliki format yang lengkap dan sama bentuknya demi keseragaman”.
Pemikiran tersebut bagus, maka disetujui oleh semua yang hadir. Yang menjadi permasalahan, pemikiran dan ide yg bagus itu, apakah akan ditindaklanjuti dan menjadi kenyataan?. Kalau alasannya sulit? Maka alasan itu tidak beralasan, karena hanya masalah membuat data dan mengitiknya.
Berbincang-bincang tentang Tonganai tentu tidak terlepas dari pembicaraan Rumah Gadang, khususnya Rumah Gadang Suku Pinyalai se Nagari Paninggahan.
Melihat dari jauh dan memperhatikan yang tampak, dari segi jumlah; Rumah Gadang suku Pinyalai dan Rumah Gadang se Nagari Paninggahan sudah banyak yang berkurang dan tidak terhitung lagi barapa banyak yang tidak aktif bahkan tidak sedikit juga yang telah roboh tanpa ada lagi puing-puingnya. Tulisan tentang “RUMAH GADANG KAMI ROBOH” dengan judul bukunya “PANINGGAHAN NAGARIKU”, Penulis telah menoreskan panjang lebar tentang hal tersebut di atas.
Untuk mengaktifkan bahkan untuk membangun kembali Rumah Gadang yang telah rusak berat bahkan roboh, peranan Tonganai pemeliki peranan yang sangat penting, yakni menggugah hati dan pikiran anak kemanakan untuk memperhatikan rumah gadang sebagai simbol pemersatu anak kemanakan.
Selesai membicarakan masalah Tonganai termasuk pengukuhannya, kami lanjutkan dengan masalah susunan pengurus yang belum sempurna dan juga pengukuhannya.
Sebelum dikukuhkan, Surat Keputusan (SK) tentang Susunan Pengurus Keluarga Besar Suku Pinyalai tentu harus tuntas terlebih dahalu.
Untuk membuat SK Pengurus KBSP, Ketua terpilih Doni Putra dengan bahasa yang cukup dipahami minta tolong kepada penulis untuk membuatnya. Dengan bahasa yang tegas dan jelas, penulis langsung menanggapi; “Tidak bisa”. Kita punya sekretaris yang mumpuni untuk membuat konsep SK. Coba berusaha dan buat dulu. Kalau ada kendala atau kesulitan, biar dibantu”.
Tujuan penulis menanggapi seperti itu, tujuannya adalah supaya pengurus mencoba berusaha dan bekerja.
Sebelum acara sekesai, sebagian Bundo Kandung minta izin dan kami izinkan utnuk lebih dahulu pulang karena waktu sudah lewat dari jam 9 malam. Setelah lewat dari jam 10 malam, baru kami tutup rapat dan pulang ke rumah masing-masing. (Darmiwandi)






