Bangkit dan Bergerak Lagi
Mentreng.com – Pinyalai merupakan salah satu nama suku dari lima suku yang ada di Nagari Paninggahan. Suku yang lima dimaksud adalah Suku Pinyalai, Suku Jambak, Suku Guci, Suku Koto dan Suku Pisang.
Setiap suku bergerak aktif dalam rangka menjalin dan mempererat silaturrahmi dan rasa berdunsanak/bersaudara sesuku pada khususnya. Pergerakan tersebut dimotori dan/atau gagas oleh ninik mamak termasuk tokokh-tokoh masing-masing suku karena rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap pembinaan anak kemanakan baik di bidang adat maupun agama. Gagasan-gagasan itu ditindaklanjuti oleh anak kemanakan.
Suku Pinyalai sudah lama bahkan dari dahulu juga telah mengadakan pergerakan dalam menjalin dan mempererat silaturrahmi antar suku pinyalai, Sepengetahuan dan pengalaman penulis, Suku Pinyalai telah mengadakan pertemuan dan perkumpulan sekitar tahun 1998.
Pada saat itu, penulis dipercaya sebagai sekretaris, ketuanya Zulkifli (Alm) dan bendaharanya Asma Yulinda (Almh).
Bagaimakah jalannya pergerakan perkumpulan saat itu?. Selain mengadakan pertemuan dan pembinaan adat oleh ninik mamak, juga disepakati dan terbentuk sebuah “Koperasi Suku Pinyalai Saiyo” yang telah berbadan hukum resmi/legal.
Namun karena ketua pengurus sakit dan akhirnya meninggalkan kita untuk selama, maka pergerakan perkumpulan suku pinyalai terutama KSPS (Koperasi Suku Pinyalai Saiyo) tidak bisa berjalan sebagaimana yang diharapkan bahkan boleh dikatakan “mati”.
Beberapa tahun kemudian, yaitu sekitar tahun 2015/2016, telah muncul lagi pemikiran-pemikiran untuk menggerakkan suku Pinyalai. Hal ini terwujud dengan adanya pertemuan beberapa kali saja. Entah kenapa penyebab yang sebenarnya (penulis tidak mengetahui secara pasti), pertemuan-pertemuan serupa hilang lagi. Kira-kira seperti itulah yg penulis ketahui dan alami sejak tahun 1998/1999 sampai tahun 2024.
Bagaimanakah sejak tahun 2024 sampai batas yang tidak ditentukan?, yang jelas penulis akan terus berusaha untuk ikutserta sesuai dengan keadaan penulis dan akan mengamati serta mendokumentasikannya sesuai juga dengan kemampuan ala kadarnya yang penulis miliki.
“Pak KUA, rencana kita akan mangadakan pertemuan di Rumah Gadang kaum S. Dt. Mulia Nan Ketek pada hari jum’at tanggal 4 Mei 2024”. “Insya Allah Datuk”. Kira-kira seperti itulah isi telponan penulis dengan J. Dt. Maninjun, salah seorang ninik mamak dalam suku Pinyalai nagari Paninggahan. Beliau memanggil ‘Pk. KUA” karena memang penulis pernah diamanahi oleh pemerintah untuk menjadi Kepala KUA beberapa tahun yang lalu.
Komunikasi kami berlanjut lagi pada hari dan tanggal yang disebutkan sebelumnya. Saat itu, penulis sedang barada di dalam Masjid Raya Nagari Paninggahan mengikuti pertemuan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nagari Paninggahan. Dt. Maninjun bertanya “ Sedang dimana pk. KUA? Kami sudah berada di Rumah Gadang Data”. Penulis jawab: “ Saya lagi di Masjid Raya sedang mengikuti rapat MUI Nagari Datuk. Kalau cepat selesain Insya Allah, saya akan hadir nanti”. Tidak beberapa lama setelah telphon pertama, datang lagi telphon kedua, yang isinya bertambah sedikit; “kemarilah lagi pk. KUA, disini orang sudah ramai”. “Ya Datuk, lanjutlah dulu Datuk, Rapek sedang berlangsung Datuk”.
Dari beberapa kali kami komunikasi lewat telphon tentang menghadiri pertemuan tersebut, akhirnya penulis tidak hadir. Bagaiamakah hasil dari pertemuan tersebut? Penulis tidak pula bertanya tetapi beberapa hari kemuadian, penulis mendengar bahwa telah terbentuk pengurus Keluarga Besar Suku Pinyalai (KBSP) Nagari Paninggahan, yang diketuai oleh Doni Putra dan Penulis diamanahi menjadi salah seorang pembina, sedang susunan pengurus secara lengkap belum penulis ketahui. Setelah penulis tanya kepada Doni Putra sebagai ketua, ternyata susunan pengerus belum lengkap dan perlu tambahan dan sisipan.
Bagaimana suasana rapat/pertemuan Ninik mamak, anak kemanakan serta bundo kanduang di Rumah Gadang kaum S. Dt. Mulya Nan Ketek saat itu? Yang pasti tidak hadir dan melihat langsung, tetapi penulis dapatkan sekilas dari ketua terpilih melalui telphon.
Menjelang pertemuan itu, Doni Putra juga mendapatkan telphon dari beberapa orang termasuk Ninik mamak untuk bisa hadir dalam pertemuan tersebut. Karena Doni Putra punya kesempatan untuk hadir, maka hadirlah Doni miskipun sedikit terlambat, dalam arti; saat sampai di lokasi, orang sudah mulai. Diantara ninik mamak yang hadir adalah AL. Dt. Bungsu, J. Dt. Maninjun, Dt. Panjang Nan Hitam, S. Dt. Mulia Nan Ketek, M. Manti Pinyalai. Sedangkan anak kemanakan diantaranya: Gio, M. Fitir, Dandi, Man Blo, Hen Pado, Eti, Lena, Os, Suryani Farma, Jasman, Tidak beberapa lama Doni duduk hadir, agenda pertemuan adalah sepakat membentuk pengurus Keluarga Besar Suku Pinyalai.
Dengan beberapa pendapat dan usulan, akhirnya Doni Putra ditunjuk dan dipercaya menjadi Ketua KBSP,Wakil Ketua Salman, Sekretaris Gio Panesta, Wakil Sekretraris Ulfa Sahfah dan Bendahara Suyani Farma, sedang seksi/bidang lainnya sudah ada tetapi belum lengkap dan perlu disisip/ditambahkan. Setelah dilaksanakan beberapa kali pertemuan, akhirnya lengkaplah susunan pengurus KBSP periode 2024-2029 ( bisa dilihat dalam SK).
Menurut cerita yang disampaikan oleh Doni Putra, baik sedang rapat maupun setelah terpilih menjadi ketua, bahwa pada prinsipnya Doni Putra tidak sanggup memikul beban sebagai ketua karena belum berpengalaman bergabung secara langsung dengan Keluarga Suku Pinyalai Nagari Paninggahan, Namun berkat bimbingan dan saling komunikasi dan koordinasi dengan ninik mamak dan dengan orang-orang yang telah berpengalaman, maka Doni Putra berusaha untuk mengemban dan menjalankan amanah ini.
Setelah Doni Putra pulang kampung beberapa bulan berikutnya, kami semakin sering berkonsultasi dan berkoordinasi baik lewat HP maupun berkunjung ke rumah penulis tentang bagaimana kegiatan, program kerja Keluarga Besar Suku Pinyalai Nagari Paninggahan. Kami berbagi informasi, ilmu dan pengalaman tentang bagaimana langkah-langkah dan cara yang harus dipikirkan dan dikerjakan untuk pergerakan Keluarga Besar Suku Pinyalai Nagari Paninggahan. Yang pada prinsipnya; “Mari kita berusaha semaksimal mungkin, menjaga amanah dan menjauhi krisis kepercayaan dari dunsanak dan masyarakat nagari Paninggahan pada umumnya. Kita bangkit dan bangun lagi serta terus bergerak demi perkembangan dan kemajuan Keluarga Besar Suku Pinyalai”. (Darmiwandi)






