Kantor Kementerian Agama Kota Solok (Romantika Story dan History)

 

Oleh : DARMIWANDI, S.Ag, MH.

Bacaan Lainnya

“Pimpinan Kami Berganti Lagi,
Dunia pilih memilih sepertinya tidak akan pernah usai dan selesai. Barusan kita siap memilih calon legeslatif, mulai dari tingkakat daerah sampai tingkat pusat, dilanjutkan pemlihan presiden. Pemilihan presiden selesai, kita sudah disibukkan pula dengan pemilihan kepala daerah. Pemilihan kepala daerah masih dalam proses penentuan siapa yang menang dan kalah, pemilihan Wali Nagari sudah dipersiapkan.

Pemilihan wali nagari barusan siap, kita dihadapkan dengan pemilihan ketua KAN. Pemilihan ketua KAN sedang berlangsung, pemilihan ketua MUI sudah di ambang pintu. Pemilihan MUI sudah siap, skarang sedang berlangsung pemilihan pengurus masjid. Begitulah seterusnya, yang tidah henti-hentinya persoalan pemilihan. Inti dari sebuah kegiatan pemilihan adalah mencari dan menetapkan seorang atau beberapa orang pemimpin.

Penetapan seorang peminpin ada yang bersifat musyawarah dan mufakat dan ada juga berdasarkan hak/wewenang dari yang diberikan amanah untuk menetapkan seseorang pimpinan. Pinpinan yang dimaksud di sini adalah dalam arti yang luas. Artinya bahwa pada prinsipnya setiap kita adalah pimpinan.

Lembaga Kementerian Agama khususnya Kantor Kementerian Agama Kota Solok tidak terlepas dari persoalan pimpinan/pejabat. Pimpinan datang dan pergi silih berganti.

Penulis yang masuk ke Kantor Kementerian Agama Kota Solok pada 3 Januari 2015, sudah beberapa kali terjadi pergantian pimpinan/Kepala Kantor. Kepala kantor yang penulis tepati pertama adalah Bpk. Drs. H. M. Nasir. Setelah beliau memasuki masa pensiun, di gantikan oleh Bpk. Drs. H. Kardinal, M.M. sebagai Plt. Kepala. Sekian bulan beliau menjadi Plt. Bpk. Drs. H. Burhanuddin Chatib datang mengggatikan. Beliau masuk masa pensiun, Bpk. H. Afrizen, S.Ag. M.Pd ditunjuk menggatikan beliau menjadi Plt.Kepala. Lebih kurang 7 bulan Bapak H. Afrizen menjadi Plt. Kepala, Diamanahkan pula Bpk. Drs. H. Alizar, M.Ag menjadi Plt. Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Solok dari bulan September 2019 sampai sekarang.

Bagaimanakah karakter setiap Pimpinan Kantor Kementerian Agama Kota Solok yang penulis kenal ini? Tentu ada perbedaan dan persamaan serta memiliki gaya tersendiri. Apa perbedaan dan persamaan serta gaya beliau? Biarlah penulis sendiri yang mengetahui dan merasakannya. Yang Pasti, setiap beliau pasti ada yang perlu di contoh dalam kepemimpinan.

Selain Kepala Kantor masih Plt, Kepala Seksi Pendidikan Madrasah juga telah Plt. Karena Kepala Seksi Pendidikan Madrasah sebelumnya yakni Bpk. Jasril, S.Ag telah memasuki masa pensiun. Kalau seperti kondisinya, bararti ada dua jabatan yang strategis yang belum difinitif. Pertama Kepala Kantor dan kedua Kepala Seksi Penmad. Kedua-duanya adalah jabatan dengan eselon berbeda, dan orang yang menduduki jabatan biasanya di sebut pejabat.

Siapakah yang mengisi dan menduduki salah satu dari jabatan tersebut? Bisa saja penulis. Tetapi yang pasti, itu bukan urusan penulis.

Pada awal tahun 2020, telah terjadi rotasi dan mutasi pejabat khususnya pimpinan atau kepala madrasah di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kota Solok. Kebijakan seperti ini adalah hak dan wewenang dari pimpinan.
Miskipun yang menentukan pihak yang berkompeten, tetapi (menurut penulis) tidak terlepas memperhatikan hal-hal atau aspek-aspek yang berkaitan dengan kriteria seorang pemimpin yang ideal.

Banyak pertimbangan dan pemikiran untuk dijadikan dan diangkatnya seseorang sebagai peminpin. Apalagi Kantor Kementerian Agama adalah sebuah lembaga percontohan bagi lembaga lainnya. Orang yang memilih peminpin/pejabat mempunyai tanggungjawab terhadap orang yang diangkat jadi pemimpin. Kesalahan memilih peminpin atau pejabat, akan berakibat tidak baik terhadap yang di pimpin/bawahan dan lembaganya.

Penulis mencoba mengemukakan beberapa kriteria dan persyaratan yang harus dimiliki oleh seorang calon peminpin dan pimpinan atau pejabat berdasarkan apa yang tersurat ataupun tersirat di dalam Al- Qur’an dan beberapa pendapat orang bijak yang berkaitan dengan kepemimpinan. Di antaranya adalah:

1. Lulus Ujian
Manusia mempunyai kemampuan yang terbatas. Sejauh manakah kemampuan manusia, perlu diuji sesuai dengan kemapuan manusia pula. Ujian bukan hanya kekuatan fisik tetapi mental dan iman manusia tersebut. Orang yang memiliki tubuh yang kekar dan kuat, belum bisa menjamin mentalnya juga kuat. Sebaliknya juga demikian, bisa jadi fisiknya kecil tetapi mental dan imannya kuat. Menurut istilah penulis, emosional dan rasional seseorang harul diketahui sebelum seseorang itu dijadakan sebagai pemimpin.

Dalam Al-Qur’an, Allah telah mengisyaratkan bahkan dengan jelas mengungkapkan tentang seseorang yang akan dijadikan sebagai pemimpin, seperti kisah Nabi Ibrahim.a.s. Firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat:124.
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”[88]. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”.

Nabi Ibrahim a.s. adalah nenek moyangnya Bani Ismail. Beliau adalah seorang besar yang telah lulus dari berbagai ujian. Tuhan telah mengujinya dengan beberapa kalimat, artinya beberapa ketentuan dari Tuhan. Dia telah diuji seketika menentang orang negerinya dan ayahnya sendiri yang menyembah berhala. Perdebatannya dengan raja Nambrudz tentang kekuasaan Allah menghidupkan dan mematikan. Kesabaran hatinya tatkala dia dilemparkan ke dalam api bernyala; tidak lain karena mempertahankan pendiriannya tentang keesaan Allah. setelah itu dia hijrah dari kampung halaminnya, karena Tuhan yang menyuruh. Dia telah diuji sampai dibakar orang.

Dia telah diuji, apakah kampung-halaman yang lebih dikasihinya ataukah keyakinannya? Dia telah tinggalkan kampung halaman karena menegakkan keyakinan. Dia telah diuji karena sampai tua tidak beroleh putera. Dan setelah dia tua mendapat putera yang diharapkan, maka diuji pula, disuruh menyembelih puteranya yang dicintainya itu. Dan masih banyak ujian-ujian lainnya yang diberikan Allah kepada Nabi Ibrahim.a.s. Semua ujian tersebut, bisa dilaksanakan dan dipenuhi oleh Ibrahin dengan sabar yang pada kahirnya selamat, sukses dan jaya.

Di sini kita mendapat suatu pelajaran yang dalam sekali, tentang jabatan yang begitu mulia yang dianugerahkan Tuhan kepada seorang di antara Rasul- Nya. setelah beliau lulus dalam berbagai ragam ujian yang berat itu dan diatasinya segala ujian itu dengan jaya, barulah Tuhan memberikan jabatan kepadanya, yaitu menjadi Imam bagi manusia. Imam, ialah orang yang diikut, orang yang menjadi pelopor, yang patut ditiru diteladan, baik berkenaan dengal agama dan ibadat, atau akhlak.

Seorang pimpinan akan mengangkat dan menjadikan orang lain untuk memimpin, maka orang tersebut hendaknya juga harus lulus dulu dari ujian. Jangan sebaliknya, Ujian ada tetapi tidak mengikuti ujian lalu lulus dan di angkat jadi pimpinan. Siapakah yang salah??

2. Lemah lembut
Setiap manusia memiliki karakter masing-masing. Peminpin punya karakter dan yang di pimpin juga punya karater. Pemimpin yang memiliki karakter yang sama dengan yang di pimpin, bisa saja akan berhasil dan bisa saja akan sebaliknya. Seorang peminpin yang kasar dan keras, lalu dia memimpin bawahan/rakyatnya yang juga kasar dan keras, apakah yang akan terjadi? Besar kemungkinan, kesuksesan dan kemajuan akan sulit tercapai. Oelh karena itu, Islam telah telah mengajarkan bahwa seorang pemimpin seyokyanya memiliki karakter lemah lembut, dan menjauhi sikap dan perkataan kasar. Perkataan dan sikap kasar, akan menjauhkan yang dipimpin dari pemimpinnya.

Sebagaimana Firman Allah dalam surat Ali Imran,ayat 159;
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu, kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

Sifat dan sikap seorang pemimpin telah digambarkan oleh Rasulullah saw, bahwa seorang pemimpin yang ingin berhasil dalam kepempinannya haruslah bertutur kata yang lembut, dalam arti tidak kasar. Peminpin yang kasar dalam bicara dan kasat hati, maka orang akan menjauhi dan menghindarinya.” Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu”.

3. Pemaaf
Meminta maaf dan memberi maaf adalah dua hal yang berbeda. Yang pertama adalah meminta dan yang kedua adalah memberi. Meminta bisa saja lebih sulit dibanding dengan memberi dan begitu juga sebaliknya. Ini tergantung kepada konteksnya. Seseorang merasa keberatan untuk meminta harta kepada orang lain, sebaliknya, banyak juga orang yang tidak banyak pikir dan pertimbangan untuk memberikan dan menyerahkan hartanya kepada orang yang tidak meminta.
Dalam hal kepemimpinan, sebagian pemimpin tidak sungkam untuk meminta maaf kepada masyarakat atau bawahannya apabila dia merasa bersalah dan kekurangan atau kelalaiannya, baik kesalahan itu disengaja ataupun tidak. “Maafkan saya kalau ada yang tersinggung atau tidak berkenan sama saudara atas apa yang telah saya sampaikan. Saya hanya menyampaikan dan mengatakan apa yang terasa oleh saya”. Inlah kalimat sebagian dari pemimpin yang bijak miskipun bahasa dan tutur katanya telah menyayat dan menyakiti orang lain.

Mudah minta maaf? Iya!. Mudah jugakah memberi maaf? Tunggu dulu!.
Mudah minta maaf, karena orang tidak sanggup dan mampu membantah dan melawan kekuasaan dan kekuatan yang tampuknya berada di tangannya.Orang akan diam seribu bahasa, tetapi pimpinan tidak mampu membaca kalimat mata orang yang memandangnya apalagi suara hati yang sedang menahan kata.
Mudah jugakah pimpinan memberi maaf? Inilah yang sangat jarang dimiliki oleh seorang pemimpin. Ibarat pipatah Orang Minangkabau;”Seribu maha satu”. Kenapa jarang dimiliki? Karena yang banyak dimiliki adalah sebaliknya, yakni; DENDAM.

Diam, di simpan. Yang pada khirnya akan dibalaskan lagi pada saat yang tepat. Balasannya akan lebih berat dan besar dari pada hanya sekelumit kesalahan yang dibuat dan ddikatakan oleh masyarakat atau bawahannya. Tidak salahlah banyak peringatan-peringatan dan nasehat kepada masyarakat dan bawahan yang sedang di pimpin agar berhati-hati dengan pimpinan ini dan itu karena sedikit saja kamu keseleo atau tersalah, maka kamu akan hancur dan habis.

Kalau seorang pemimpin pendendam, lalu suatu saat yang dipimpin juga menjadi pemimpin dan mencontoh pimpinan yang dahulu? Apakah yang akan terjadi? Lingkaran syetan akan menyelimuti.
Pemimpin yang ideal adalah pimpinan yang memiliki jiwa pemaaf. Pemimpin yang pemaaf biasanya memeliki jiwa bertanggungjawab, karena kesalahan dan kekurangan serta kelalaian yang dilakukan oleh bawahannya adalah akibat dari kelalaian dan kelemahannya juga dalam memimpin. Lebih dari seorang pemimpin yang pemaaf (jauh dari pendendam) adalah pemimpin yang memohonkan ampunan kepada Allah atas kekurangan dan kesalahan orang yang dipimpin.
Abdullah Bin Umar berkata,

“Sesungguhnya saya menemukan sifat Rasulullah saw dalam kitab-kitab terdahulu; Sesungguhnya tutur katanya tidak kasar, hatinya tidak keras, tidak suka berteriak-teriak di pasar-pasar dan tidak suka membalas kejahatan orang dengan kejahatan lagi, namun dia memaafkan dan mengampuninya”(Ibnu Katsir.).

Berapa banyakkah karakter seorang pemimpin yang ideal menurut para ahli? Sangat banyak sekali. Tetapi cukuplah sebanyak yang diatas penulis goreskan. Jangankan lebih dari tiga, satupun sangat sulit bagi penulis untuk menerapkannya. Namun demikian, apa yang lebih dari usaha karena kita telah membaca. Setiap kita adalah pemimpin dan akan di minta pertanggungjawaban atas apa yang kita pimpin.

Pimpinan kami berganti lagi.
“Jangan di tanya! Itu bukan urusan kita. Urusan kita adalah bekerja dan laksanakan tugas dan fungsi kita masing-masing”. Inilah salah satu kalimat tegas yang disampaikan oleh salah seseorang pimpinan kami, Drs. H. Syamsul Arifin (Kepala Bidang Pendidikan Madrasah pada Kantor Wialayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat di Kantor Kementerian Agama Kota Solok. Beliau menyampaikan itu di saat serah terima jabatan Plt. Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Solok dari Bapak Drs. H. Alizar Chan, M.Ag kepada Bapak Drs. H. Marjanis, M.M.

Gaya bahasa mencerminkan jiwa, pengetahuan dan pengalaman seseorang. Bial kita belum pernah kenal dengan seseorang, maka perhatikanlah bahasanya, baik bahasa tulisan maupun bahasa lisannya.

Beranjak ketidaktahuan dan kekurangan pergaulan penulis dengan para pejabat tinggi di lingkungan Kantor Wilayah Kementerian Agama rovinsi Sumatera Barat, membuat penulis hanya melihat dan memperhatikan siapa yang datang dan duduk di kursi yang berjejeran di barisan depan. Ada sekitar 7 (tujuh) orang pejabat yang duduk dari ujung sampai ke ujung. Semua beliau boleh penulis kenal kecuali yang duduk di tengah yang di apit oleh Bpk. H. Alizar dan Bapak H. Marjanis. Kepan penulis kenal dengan nama dan jabatan orang yang duduk di tengah itu? Setelah para pejabat silih berganti mengucapkan selamat dan hermat kepada beliau. Ternya yang duduh di tengah adalah Bpk. Drs. H. Syamsul Arifin. Beliau adalah Kabid Penmad pada Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat. Salahkah penulis yang banyak tidak kenal dengan pejabat teras termasuk beliau? Jawabannya adalah: Itulah penulis dari awal masuk menjadi ASN yang “ Tidak Pandai” apalagi “Pandai-pandai” dengan para pejabat atau pimpinan.

Satu kalimat yang keluar dari Bapak H. Syamsun Arifin dan diiringan dengan kalimat berikutnya, penulis mulai mengetahui bahwa beliau ini adalah orang bijak, pintar dan berpengalaman. Suara beliau keras tetapi tegas. Kerendahan hati dan kebiksanaan tergambar dari tutur bahasa yang terpancar. Kata-kata dan kalimat keluar bagaikan air mengalir tanpa ada yang merintangi. Bahasa beliau lugas, simple dan mudah dipahami. Nasihat dan informasi keluar silih berganti. Etika dan sistimatika bicara perlu di contoh. Apakah ini sebuah pertanda orang yang berpengetahuan, berpengalaman dan telah melalangbuana dengan tugas dan jabatan? Orang yang mengetahuilah yang pantas untuk menjelaskannya.

Dari sekian banyak yang beliau sampaikan, ada beberapa kalimat pendek yang menjadi catatan bagi penulis sabagai orang bawahan dan pegawai biasa di tempat tugas. Di antaranya adalah:

1. Kenapa Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Solok masih Plt? Yang sudah sudah di tinggal oleh Kepala Difiritif sejak awal tahun 2019? Itu tidak urusan kita!.

2. Kenapa Plt. Kepala dari Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Padang? Itu tidak urusan kita!.

3. Kapan adanya Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Solok yang difinitif? Itu tidak urusan kita!.

4. Siapakah yang akan menjadi Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Solok yang difinitif? Itu tidak urusan kita!.

5. Urusan kita adalah bekerja dan laksanakan tugas dan fungsi sesuai yang dibebankan kepada kita. Siapa suami dari ibu kita, itulah ayah kita.

6. Bapak H.Marjanis adalah orang yang ditugaskan menjadi Plt. Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Solok menggantikan Bapak. H. Alizar Chan, mari bantu bersama-sama demi lembaga kita Kementerian Agama.

7. Selamat bertugas Bapak H. Marjanis!. Silaturrahmi, komonikasi dan koordinasi serta ciptakan suasana kerja yang harmonis.

Ucapan terima kasih dan salam adalah sebagai penutup dari arahan beliau dalam rangka mengantarkan pimpinan baru Plt. Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Solok. Turun dari mimbar, saling berjabatan tangan dilangsungkan sebagai ucapan selamat kepada yang baru datang dan ucapan teriam kasih yang akan meninggalkan kami. Acara serah terima usai dan selesai, penulis kebali ke tempat duduk untuk melanjutkan tulisan yang terbengkalai dan meminum teh telur yang masih tersisa.

Pos terkait