Kantor Kementerian Agama Kota Solok (Romantika Story dan History)

 

Oleh : DARMIWANDI, S.Ag, MH.

Bacaan Lainnya

“POJOK LITERASI”
Aku buka apa-apa dan bukan juga siapa-siapa, tetapi aku hanyalah orang biasa.Pejabat tidak, penguasa jangan di sebut lagi. Pintar bukan, Ulama pun bukan. Pandai untuk orang banyak, tidah tahu adalah milikku. Orang berangkat, aku juga pergi. Orang berangkat dengan pangkat dan jabatannya sedangkan aku pergi dengan diriku sendiri. Kalau di bilang tentang harta, orang berjejeran dengan hartanya, sementara aku sekedarnya saja. Orang lain bangga karena banyak yang dibanggakannya, sementara aku hanya memanfaatkan apa yang ada. Orang lain telah banyak mengajar, sementara aku masih dalam proses belajar.

Belajar apa? Belajar menulis!. Baru belajarkah? Dikatakan baru, mungkin tidak juga karena satu buah skripsi dan satu buah tesis telah penulis selesaikan. Kenapa dikatakan masih belajar? Karena belum pernah mengajar orang banyak tentang menulis. Selain itu, terasa bahwa ilmu dan pengetahuan masih sangat kurang, dan setelah dipelajari juga semakin terasa kurang. Penulis juga teringat dengan ungkapan orang bijak, bahwa Ilmu Penegtahuan itu ibaratkan kuda liar, agar kuda yang liar itu menjadi jinak maka ikatlah dia dengan tali. Untuk mengikat ilmu pengetahuan adalah dengan menulis. Inilah salah satu faktor yang memotivasi penulis untu menulis.

Dalam perjalanan belajar menulis pada bulan Desember 2019, baru pada bulan ini penulis tahu bahwa salah satu ikon utama pada Kantor Wilayah Kementerian Agama Sumatera Barat adalah Giat Leterasi khususnya bagi guru-guru madrasah yang di kenal dengan istilah SAGU-SABU. Bararti penulis tidak mengetahui perkembangan informasi? Yaa..seperti itulah!. Penulis memang tidak terlalu mengetahui informasi tentang Pegiat Leterasi, tetapi secara otodidak, penulis telah membuat belasan judul tulisan seseuai dengan keilmuan penulis yang ala kadarnya. Dimanakah tulisan penulis itu? Telah berkentayangan di Medsos (FB, WA dan Media Online-Opini). Bermanfaatkah? Yang pasti, waktu-waktu penulis telah terisi dengan mempelajari, menggali dan memahami sebagian kecil dari alam ini.

Kebijakan dan gebrakan Kepala Kanwil Kementerian Agama Prov.Sumatera Barat yang dinahkodai oleh Bpk. H. Handri, S.Ag. M.Pd, telah dan terus ditindaklanjuti oleh jajaran beliau di Tingkat Kabupaten/Kota se Sumatera Barat. Dimana-mana telah diadakan pelatihan menulis dan telah ratusan bahkan ribuan buku telah berjejeran di Pustaka Kanwil Kementerian Agama Prov.sumbar yang merupakan hasil karya tulis pegawai dan guru-guru madrasah pada khususnya.

Kantor Kementerian Agama Kota Solok tidak ketinggalan pula menindaklanjuti kebijakan dan gebrekan Kanwil Kementerian Agama Prov.Sumbar. Dengan arahan dan bimbingan Bpk. H. Afrizen, M.Pd sebagai Kepala Seksi Bimas Islam Kementerian Agama Kota Solok, kami sebagai anggota beliau dengan semangat melaksanakan kegiatan Konten Dakwah berbasis IT. Tujuan dari kegiatan tersebut adalah agar Pewagai di Lingkungan Kementerian Agama Kota Solok khusunnya para Penyuluh Agama Islam untuk lebih mengetahui langkah-langkah menulis Karya Ilmiah. Karya Ilmiah yang di tulis, agar tidak diketahui dan dipahami oleh beberapa orang saja, maka perlu diekspose melalui media, baik media cetak maupun media elektronik/ media sosial.

Bimbingan dan pelatihan hanya berjalan selama dua hari, tetapi para peserta mendapatkan ilmu yang signifikan. Selain peserta yang bersemangat, para nara sumbernya adalah para Ahli menulis dan ahli IT. Di antara nara sumbernya adalah: DR. H. Wakidul Kahar dan DR. Radian Zainul. Beliau-beliau ini adalah memang pakarnya menulis dan IT, sehingga tidak terlalu sulit bagi peserta memahami dan mengaplikasikan ilmu yang diberikan.

Bpk. H. Afrizen, M.Pd yang juga sebagai nara sumber, selain memberikan teori-teori dan berbagi pengalaman tentang menulis, beliau memberikan motivasi yang kuat kepada peserta, bagaimana pentingnya menulis ini. Seorang juru dakwah termasuk Penyuluh Agama Islam, jangan hanya mengandalkan bahasa lisan menyampaikan materi dakwahnya tetapi harus juga dengan bahasa tulisan. Tulislah apa yang akan dan yang telah disampaikan kepada masyarakat. Dampak positif dari yang disampaikan Bpk.H. Arizen, sehari, hari setelah itu, sebagian peserta telah mulai muncul kepermukaan dengan style yang berbeda menyampaikan informasi. Tingkatkan kompetensi dan kembangkan kemampuan diri dan teruslah berkreasi serta berinovasi! Hidupkan LITERASI. Itulah penutup kalimat beliau.

Berdasarkan pengalaman penulis bahwa “bicara itu mudah dan menulis itu susuh”. Untuk bicara selama 1 jam, mungkin penulis tidak terlalu kehilangan bahan untuk membicarakan suatu persoalan. Mulai dari A melompat ke B, setelah itu langsung ke E, diteruskanke P dan C. Setelah C langsung ke B dan kembali ke P. Habiskah bahan penulis berbicara? Tidak!, bahkan sampai ke Z. Apakah bermakna dan bermanfaat apa yang penulis sampaikan secara lisan? Penulis sendiri bingung, karena bicara tidak karuan dan tidak sistimatis. Bagaimana orang lain akan memehami sementara yang berbicara saja tidak mengerti apa yang dia bicarakan. Mudahkah bicara? Mudah!. Bagaimana dengan menulis?

Memulai satu kalimat saja, alangkah sulitnya. Jangankan membuat satu paragraf, memikirkan kata apa yang pertama dituliskan untuk menjadi sebuah kalimat saja telah menghabiskan waktu sekian jam. Bisa menulis sebuah kalimat, kalimat selanjutnya, apa lagi? Nah, bagaimana untuk membuat satu paragraf dan selembar kertas.

Kunci dan solusi dari kesulitan menulis di antaranya adalah: KEMAUAN.
Mau belajar, Mau diajar, Mau membuka hati dan pikiran bila dikritik. Mau mengakui kelebihan orang lain, Mau menyadari kekurangan diri. Mau memperhatikan, Mau Melihat, Mau mendengar, Mau mengkoreksi diri sendiri. Intinya adalah MAU. Orang mau, Insya Allah akan bisa. “BILA ANDA BERFIKIR BISA, ANDA PASTI BISA”.
Menulis butuh kejernihan hati dan pikiran, maka perhatikanlah makananmu!.(**)

Pos terkait