Oleh : DARMIWANDI, S.Ag, MH.
“ Tukin, Terlambat “
Bel berdering sebagai tanda untuk berbaris di halaman kantor mengikuti apel pagi. Salah seorang dari pegawai meju ke depan unuk menyiapkan dan menerima laporan kehadiran dari masing-masing seksi dan disaksikan oleh pejabat yang hadir. Hasil laporan berbagai ragam dan coraknya, ada yang melaporkan bahwa seksi P jumlah sekian, hadir lengkap. Seksi H jumlah sekian, hadir sekian, keterangan ini dan tanpa keterangan sekian. Seksi B, jumlah sekian, hadir sekian, tidak hadir sekian, keterangan; 1 izin, 1 tanpa keterangan.
Di antara yang tanpa keterangan itu, mungkin saja penulis, karena pada pagi hari itu (kamis/6 Februari 2020), penulis datang terlambat beberapa minit setelah bel berbunyi. Kenapa penulis terlambat? Alasannya tentu ada bahkan bisa penulis jawab dengan beberapa alasan. Sebuah ungkapan yang sering juga penulis sampaikan kepada orang penulis tanya tentang sesuatu. Setiap di tanya, ada saja jawaban dan alasannya. Di suruh juga tidah mau dengan berbagai alasan, miskipun alasan itu tidak beralasan. Ungkapan itu adalah “Orang mau seribu akal, Orang tak mau seribu dalih”.
Perlahan tapi pasti, penulis putar kayu bulat arah ke kiri untuk memasuki gerbang kantor. Perlahan, karena teman yang biasa di beri nasehat, arahan bahkan kadang-kadang rada-rada dimarahi oleh pengarah. Namun teman-teman tetap sabar mendengarkannya, tidak ada seorang pun yang mampu menanggapi langsung. Kenapa? Karena hal seperti itu adalah bagian dari sarapan pagi kami dan setelah itu akan sarapan pagi juga. Sebelum menerima sarapan yang pertama, teh telur sudah penulis pesan menjelang memasuki gerbang kantor. Sarapan pagi pertama selesai, teh telur pun datang mengiringi. Dua kali sarapan pagi; satu sarapan rohani dan satu lagi sarapan jasmani. Bedanya juga ada, satu gratis dan satu lagi wajib bayar. Bayarnya tunai? Tidak!. Kadang-kadang dengan cara Salam dan kadang-kadang dengan cara Istisna. Apakah Salam dan Istisna itu? Bacalah bentuk-bentuk akad dalam sistem Hukum Ekonomi Syariah.
Pintu di buka, kaki melangkah menuju barisan. Berdiri di belakang sekali. Selain memperhatikan teman-teman yang telah mendengar sebelumnya, penulis berusaha mendengar yang tersisa. Kalimat humoris, simple dan bermakna yang disampaikan oleh pimpinan dapat penulis tangkap satu persatu. Ada kalimat tegas dan ada pula kalimat bersayap, bervariasi dan berseni. Biasanya kalimat-kalimat seperti itu, baik tegas mapun bersayap, disampaikan oleh orang-orang bijak. Ada saat kalimat tegas dan ada pula kalimat bersayap. Bagi orang-orang tertentu, mendengar kalimat-kalimat bersayap lebih mendalam daripada kalimat tegas.
Beliau adalah orang bijak, Rangkaian kata yang bagaikan air mengalir yang keluar dari hati dan kepala membuat teman-teman tertegun dan sesekali tersenyum mendengarnya. Apakah mereka mendengar? Iya!, Apakah mereka memahami? Tanyakan pada mereka!.
Penulis yang berdiri di belakang sekali, hanya mendengar dan menangkap bebarapa kalimat saja, yakni : “TUKIN” dan “CATAT”. Sedangkan kata “TERLAMBAT”, mungkin sebelum penulis memasuki barisan.
Hampir setiah hari dan siapapun yang memberikan arahan di apae pagi, yang namanya Tukin terus disampaikan. Tukin (Tunjang Kinerja) sangat erat kaitannya denga peperjaan harian kita. Bisa cair atau tidaknya Tukin tergantung kerja kita. Makanya, apa yang kita kerjakan setiap hari kerja di kantor, tolong di catat. “Catat apa yang telah dikerjakan!, setelah itu laporkan kepada atasan langsung dan serahkan kepada kepegawaian”. Andaikan tidak ada yang akan dikerjakan atau tidak tahu apa yang akan dikerjakan, minimal cari dan baca serta catatlah regulasi atau peraturan yang berkaitan dengan TUSI kita”. Inilah kalimat bijak yang disampaikan beliau yang berdiri agak jauh dari penulis. Siapakah beliau itu? Beliau adalah Bpk. Drs. H. Alizar Chan, M.Ag.
Berkaitan dengan mencatat kegiatan harian, penulis selalu ingat dengan kata orang bijak kita juga, yaitu Bpk. Drs. H. M. Nasir. Beliau mengungkapkan; “ Satu buah titik ( . ) saja kita tidak bisa menorehkan ke dalam buku catatan harian dalam satu hari kerja???”. Terlepas dari lupa, memang terasa sulit apa yang mau di catat, sedangkan kita tidak bekerja apalagi membaca.
TUKIN, ujung-ujungnya dalah uang. Uang hasil kerja. Ada uang ada kerja, ada kerja ada uang. Banyak kerja banyak uang, Banyak uang banyak kerja. Sedikit kerja sedikit uang, Sedikit uang sedikit kerja. Banyak kerja sedikit uang, Banyak uang sedikit kerja. Dapat kerja dapat uang. Dapat uang tidak kerja. Banyak kerja tanpa uang. Banyak uang tanpa kerja. “Dimanakah posisi kita???”.
TUKIN “ Tunjungan Kinerja”.
TUKIN “ Tunjukkan Kinerja”.
TERLAMBAT “ Jadi Pertanyaan”.
TIDAK TAMPAK, TIDAK HADIR, TIDAK BEKERJA, BAHKAN ENTAH DIMANA DAN KEMANA “ Hilang dalam ingatan dan tidak jadi perhatian”.
“ Wujuduhu ka ‘adamihi ??”.






