Oleh : DARMIWANDI, S.Ag, MH.
“ DUDUAK UBI, TAGAK BARISI “
Bercanda setelah menerima santapan rohani dan mendengarkan informasi adalah suatu hal yang biasa setiap pagi di tempat penulis mengait sebagian rezki. Informasi yang disampaikan hanya sedikit dan sederhana, tetapi setelah itu pembahasannya bisa menjadi panjang dan dalam. Informasi yang benar dan serius bisa juga menjadi mentah dan bahan pembicaraan bahkan candaan. Namun candaan tentang informasi tentu masih dalam batas-batas yang normal dan tidak melampaui batas. Begitulah kebiasaan kami termasuk penulis sendiri setelah apel pagi.
Kebetulan pagi tadi (12 Februali 2020), yang memberikan arahan, santapan rohani dan informasi adalah seorang pejabat kelas tinggi. Suara beliau datar, bawaan tenang dan penuh simpati. Jabatan beliau adalah Kepala Sub. Bagian Tata Usaha, dengan nama lengkap; H. Samsidir, S.Ag.
Satu, dua bahkan lebih dari tiga point yang beliau sampaikan. Semua informasi dan nasehat itu penting baik bagi pejabat lain maupun bagi pegawai yang berdiri di hadapan beliau. Satu hal yang sering beliau ingatkan adalah; “Jangan lupa catat apa yang telah dikerjakan hari ini. Aplikasi SI-Eka harus di isi. Tunjangan Kinerja barbasis laporan harian dan di rekap setiap bulan. Andaikan belum bisa menginput, mengisi dan membuat laporan kinerja harian melalui SI-EKA, maka tulislah secara manual atau catatan harian biasa”.
Apalagi yang disampaikan oleh Kasubbag TU? Yakni Tingkatkan kedisiplinan kehadiran. Setelah itu, apa lagi? Penulis kurang ingat, kecuali mari di mulai kegiatan hari ini dengan sama-sama mengucapkan “Bismillahirrahmaanirrahiim”.
Bagaimanakah tanggapan dari teman-teman yang lain tentang apel pagi tadi? Menurut Kasi Pontren, yang penulis kutip komentar beliau dari WA Kemenag Kota Solok, beliau mengungkapkan bahwa;”Khusu’ Bana”. Bahasa “khusu’ bana” keluar disaat beliau mengamati beberapa orang pegawai yang beliau photo tanpa bergerak dan berbicara. Kelihatan sekali dalam photo itu sebagian wajah Helmi Diana yang berdiri dibelakang Ibuk Eti tanpa seulas senyum. Buk Eti menghadap lurus ke depan dengan memegan jari manis. Apakah karena cincin di jari manis yang longgar? Atau ada semut yang membuat jari itu gatal. Yang pasti; Penulis tidak tahu dan tak ingin pula tahu. Itu adalah bagian dari ekspresi saat apel pagi.
Penilaian dan hasil pandang bisa saja berbeda, karena kita tidak memliki cara pandang yang sama. “Sudah mandanga kabar pertakut bantuaknyo mah”. Inilah salah satu komentar yang di tulis oleh Irawadi Uska yang tidak hadir saat itu. Caaf Dalena yang tidak tampak dalam photo tersebut mengomentari hanya dengan imoji tutup mulut.
Duduak Ubi, bukan duduak basi. Ungkapan seperti itulah kira-kira antara penulis dengan seorang Kasi di halaman setelah apel . Duduak ubi, duduak barisi sedangkan duduak basi, duduak bakarek (berkarat) yang tidak mengandung arti. Duduk santai yang ditemani segelas teh telur, kami bercerita dan bercanda ringan karena sudak capek berdiri. Sedang duduk datanglah beberapa orang teman yang akan lari pagi, dan disempatkan juga memotho kami. Setelah kena photo, Penulis duduk langsung berdiri dengan membawa agenda dalam pikiran yakni mempelajari menginput kinerja harian ke dalam aplikasi SI-EKA.
Aplikasi SI-EKA telah disosialisasikan lebih setahun yang lalu. Kinerja harian pegawai harus di input dalam aplikasi SI-EKA. Sebagian dari teman-teman telah merealisasikan SI-EKA ini. Kenapa disebut sebahagian? Karena sepengetahuan penulis, masih ada teman-teman yang belum mengetahui apalagi mahir dengan aplikasi ini. Siapakah mereka yang tidak tahu itu? Yang pasti adalah Penulis sendiri.
Saat orang bertanya tentang si Eka, penulis sering juga menjawabnya dengan candaan; Si-Eka di ruangan Haji dan tidak pernah mengajari. Selain dari itu, Si “X” dan si “Y” kan juga belum bisa mengeoperasikan Aplikasi SI-EKA. Begitulah dalih penulis yang malas dan tidak mau belajar.
Berbeda di hari ini, Setelah duduk di halaman, penulis membawa laptop ke ruangan Penmad dan menemui Atris Heldayanti dan Cici Kardena. Kedua teman ini adalah orang yang tahu tentang aplikasi SE-Eka selain teman yang pintar lainnya. Penulis buka laptop dan bertanya dari mana harus memulainya. Jangankan untuk melanjutkan yang telah di isi, memulainya saja, sudah bertanya. “Apa yang harus ditulis terlebih dahulu Helda? Ketik“ SI-EKA Login” jawabnya.Yaa..begitulah orang yang tidak mengerti sama sekali.
Mencoba melihat apa saja yang ada dalam aplikasi SI-EKA. Karena tidak tahu lagi langkah selanjutnya, Cici Kardena menyuruh penulis membawa laptop ke mejanya, sambil mengerjakan pekerjaannya, disempatkan juga menunjukkan penulis mengisi SI-EKA. Sesekali muncul juga canda si Cici karena penulis lelet mengetik. “Paniang maaja pak.Wandi ko mah uni Helda”. “Hehe..” Koment penulis.
Selangkah demi selangkah, aplikasi SI-EKA penulis akhirnya berisi juga. Apa yang baru telah di isi? Kinerja Tahunan!. Yang lainya gimana? Untuk sekarang cukuplah itu dulu. Panas juga kepala, karena mengisi Aplikasi SI-EKA butuh pemikiran dan kecerdasan otak juga.
Penulis berdiri dari duduk, sedikit ilmu telah mulai didapatkan. Penulis kembali lagi ke dalam ruangan yang paling besar di antara ruangan yang ada di Kantor. Orang mencari raungan sempit, biarlah penulis memanfaatkan ruangan yang lapang. Sempit dan lapangnya sebuah ruangan tergantung pandai atau tidaknya kita memanfaatkannya. Bersusah payah mencari sebuah ruangan, bahkan dengan berbagai macam cara, tetapi setelah ruangan yang di cari itu sudah ditangan, dimanfaatkankah?? Dimanfaatkan untuk kemaslahatan atau sebaliknya??
Bagi penulis, mulai belajar adalah sebuah langkah yang positif miskipun salah, daripada tidak pernah salah karena tidak berbuat apalagi pandainya menyalahkan dan mencari-cari kesalahan orang lain.
“Lamo tagak, panek. Lamo duduk kapiradan” (**)






