Kantor Kementrian Agama Kota Solok (Romantika Story dan History

 

Oleh : DARMIWANDI, S.Ag, MH.

Bacaan Lainnya

“ PANTUN TAK BERBALAS “
“ IBARAT MENGULAS”

Entah dari mana asal dan siapa yang memulainya, sudah menjadi kebiasaan umumnya pejabat untuk berpantun sebelum dan sesudah menyampaikan anamat, arahan dan informasi. Sedikit berbeda dengan penulis dengar dalam acara Rapat Dinas di Kantor Kementerian Agama Kota Solok. Biasanya berbalas pantun, dimana seorang yang berpantun, dan yang lainya juga berpantun. Namun pada hari ini Kamis, 13 Februari 2020, hanya pimpinan tertinggi yang berpantun.

 

 

Dari sekian banyak yang berbicara tidak ada seorangpun yang mengeluarkan satu bait pantun. Apakah mereka tidak pandai berpantun? Penulis yakin bardasarkan yang pernah penulis dengar sebelumnya, di antara beliau orang yang pandai berpantun. Apakah beliau lupa? Mungkin tidak ada yang memancing atau memulainya. Andaikan saja ada di antara beliau yang memulai, pasti ada yang lain memcari-cari dan membuat konsep pantun pula. Karena tidak ada seorangpun, maka pantun di borong saja oleh Pimpinan Kantor. Sepertinya,
Beliau hanya memberi kepada seluruh pejabat meskipun tak seorangpun pejabat yang memberi dan mengeluarkannya. Beliau berpantun tanpa berfikir-fikir panjang terlebih dahulu apalagi gagap dalam mengungkapnya. Ibaratkan air lalu tanpa ada sahelai daun pun yang menghalanginya.

 

 

Sesekali beliau mengeluarkan kata-kata ibarat di sela-sela arahan yang beliau sampaikan. Diawali dengan pantun diselingi dengan ibarat. Samakah antara ibarat dengan pantun? Untuk membedakannya, Insya Allah, penulis melalui tulisan ini akan mengeluarkan sebuah ibarat bukan sebuah pantun. Ibarat itu masih tertulis dalam kepala penulis, dan akan dikopikan ke dalam tulisan ini. Bagaimanakah mutu sebuah ibarat di bandingkan dengan pantun? Penulis adalah orang biasa, tentu mutunya tak bisa dibandingkan.

 

 

Seluruh peserta yang hadir terdiam sesaat. “Assalaamu’alaikum awal kato” Salam dan hormat mengiringi, pantun salih berganti mengikuti”. Salam taserak ka urang banyak, pantun tacurah ka nan satu. Pantun selesai, amanah dan nasehat mengalir tanpa henti. Satu persatu beliau tanggapi dan carikan solusi terhadap apa yang telah dikeluhkan oleh para pejabat atau pengambil kebijakan di masing-masing satker.

 

 

Sebelum beliau menanggapi, semua pimpinan satker dipersilahkan oleh Kepala Sub.Bagian TU untuk berbicara hal-hal yang penting. “Waktu kita terbatas, maka sampaikan saja point-pointnya”. Itulah yang di wanti-wanti oleh Bpk.H.Samsidir sebelumnya. Para Kasi terlebih dahulu diberikan kesempatan, namun dibuka dulu oleh sekjend. Setelah para kasi, baru di beri kesempatan kepada sekolah kepala Madrasah, Penghulu, Penyuluh Agama dan Pengawas.

 

 

Ada di antara mereka yang menyampaikan informasi sekian minit saja, lalu berhenti. Ada juga yang mengemukan pemikiran-pemikiran dan kronologis terlebih dahulu, baru masuk kepada inti. Ada juga yang hanya menyampaikan, kita tunggu regulasi!, Cukup.

 

 

Bidang Madrasah menyampaikan tentang kemadrasahan, bidang penghulu menyampaikan bidang kepenghuluan, bidang pegawai menyampaikan tentang kepegawaian. Setelah penulis dengar, miskipun penulis tidak hadir dalam ruangan rapat, semuanya informasi dan permasalahan baik bidang kemedarasahan dan kepenghuluan, bagi penulis tidak asing lagi. Karena penulis sampai saat ini masih bergelut di bidang kemadrasahan. Pastinya bukan dalam wilayah Kota Solok. Begitu pula dalam bidang kepenghuluan, hanya masalah dan perkembangannya betis (beda-beda tipis) dari yang pernah dialami.

 

 

“Ndak ado karuah nan indak janiah, ndak ado kusuik nan indak salasai”. Inilah sebuah ungkapan (bukan pantun) yang ada pada Pimpinan, sehingga segala persoalan dan informasi telah beliau rangkup dalam pikran beliau. Miskipun beliau duduk santai yang ditemani oleh seorang mantan Pimpinan di Kantor yang sama, semua jawaban telah ada dalam pikiran beliau. Tanpa terbata-bata apalagi bertanya, beliau mengurai secara tenang, sistimatis, dan bijaksana.

 

 

Dari sekian banyak yang disampaikan oleh Bpk. H. Drs. Alizar Chan, M.Ag sebagai Pimpinan, ada bebara hal yang sangat penting penulis kutip, di antaranya: Komonikasi, Koordinasi, Kerja sama, Saling memahami dan tak lupa jangan hanya mengedepankan pribadi apalagi emosi.

 

 

Kalau penulis mengibaratkan apa yang telah beliau sampaikan terutama tentang meningkatkan dan mengembangkan Madrasah khususnya, seperti orang jual beli. Kalau kita ingin beruntung dan berkembang, mari bersama-sama kita menjual produk kita sendiri. Bersama-sama kita mempromosikan barang kita. Produk kita layak jual dan bisa bersaingan dengan perusaaan lain, bahkan lebih dari itu. Produk kita bisa di jual ke UI, UNAND, UNP, UIN dan lain-lain. Bukan hanya di dalam Negeri, keluar negeri pun kita telah membuktikan.

 

 

Seorang pimpinan harus pintar berkomonikasi dan berkoordinasi. Bisa saja pimpinan yang yang menghitam dan/atau memutihkan, tapi komonikasi yang tidak baik/bagus dan benar, pimpinan bisa dihitamkan juga. Memahamikah? Penulis tidah tahu!, yang lebih paham adalah orang yang lebih mengerti.

 

 

Penulis tidak pandai berpantun, apalagi berbalas pantun. Kalau ada sebuah pantun yang akan diungkapkan, mungkin penulis pikir-pikir dan catat terlebih dahulu, baru dibacakan dihadapan orang banyak. Di saat orang minta untuk pantun kedua, penulis nyerah. Tidak bisa lagi. Kalaupun bisa, penulis akan minta bantuan kepada orang lain untuk membuatkannya. Pantun yang dibuatkan orang itulah yang akan dibacakan.

 

 

Pimpinan menekankan kepada pimpinan lainnya untuk menjalin komonkasi yang baik, saling menghargai dan menghormati. Menurut penulis, kalimat-kalimat yang disampaikan oleh pucuk pimpinan, agaknya seiring dengan pantun dan/atau ibarat sebagai berikut:

 

 

Dek ribuik rabahlah padi,
Dek cupak datuak tumanggguang,
Kalau hiduik indak babudi,
Duduak tagak kamari cangguang.

 

 

Nan kuriak yolah kundi,
Nan merah yolah sago,
Nan baik yolah budi,
Nan indah yolah baso.

 

 

Nan cadiak indak mambuang kawan,
Nan gapuak indak mambuang lamak,
Si tukang indak mambuang kayu.
Panulih ketek; umua alun satahun jaguang.

 

 

Darah alun satampuak pinang,
Alun bakuku bak balam,
Alun pambao bak sikek.
Kok tinggi, dek karano anjuang,
Kok gadang, dek karano hamparan.
Capek tangan kok tajambauan,
Capek kaki kok talangkahan,
Capek muluaik kok takatoan,
Ringan tangan kok pamacah,
Ringan kaki kok panaruang.
Nak ado gadiang nan indak ratak,
Dek ratak, makonyo gadiang.
Rila dan maaf, penulis minta.

 

 

Penulis adalah bawahan, Bapak-bapak adalah atasan dan pimpinan kami. Pimpinan ibaratkan;
“Batang kayu di tangah padang,
Daun rimbun tampek balinduang,
Balindung dek kapanasan,
bataduah dek kahujunan,
batang gadang tampek basanda,
urek menjelo tampek baselo.
Ka pai tampek batanyo,
ka pulang tampek babarito.
Mahukum adia, bakato bana.
Tibo di mato indak dipiciangkan,
Tibo di paruik indak bakampihkan.

 

 

Kok tibo dek penulis,
Pinggalan singkek, pandapek kurang.
Ilimu tabateh, pangalaman jauh sakali.

(Isi adalah Tanggung Jawab Penulis)

Pos terkait