Kantor Kementrian Agama Kota Solok ( Romantika Story dan History) Oleh : Darmiwandi.,S.Ag.,M.H. Bagian : 1

 

Hari Jum’at tanggal 17 Januari 2020 pukul 09.45, Penulis mulai mengerakkan dan memanfaatkan  sebagian dari jemari penulis untuk menekan huruf-huruf yang terdapat di laptop sambil duduk di sebuah kursi dan sebuah meja yang terletak di pojok bagian belakang dari Kantor Kementerian Agama Kota Solok, tepatnya yang biasa di sebut kawan-kawan; tempat amak yang menjaga kantor. Kenapa sebagian dari jemari? Karena tidak semua jemari penulis fasih menekan semua huruf yang ada di keyboard laptop.

Bacaan Lainnya

Bagi seseorang yang mahir, jangankan memanfaatkan semua jemarinya, bahkan tidak melihatpun dia bisa mengetik apa yang ada dalam pikirannya. Tentu hal seperti itu sangat jauh berbeda dengan penulis, yang hanya bisa sekedarnya saja. Lebih dari itu, mengetikpun tertatih-tatih. Kemanpuan mengetik yang apa adanya, penulis manfaatkan untuk menyusun huruf-huruf yang masih berserakan sehingga menjadi sebuah kata dan kalimat. Mudah-mudahan, kumpulan dari bebarapa kalimat akan menjadi sebuah paragraf. Apakah kalimat dan/atau paragraf demi paragraf yang penulis susun bisa dimengerti dan dipahami oleh orang yang membaca? Penulis tidak mempersoalan itu.

Apa yang akan penulis tulis? Penulis akan mencoba mengabadikan dan menuangkan dalam bentuk tulisan sebagian dari aktifitas penulis sebagai Pegawai/ASN Kantor Kementerian Agama Kota Solok. Selain dari itu, penulis juga akan menorehkan apa yang penulis lihat, dengar, amati dan rasakan dari aktifitas di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kota Solok, tentu termasuk juga para ASN nya.

Sebelum penulis melanjutkan tulisan ini, terlebih dahulu penulis minta maaf kepada seluruh yang membaca tulisan penulis, andaikan ada kata, kalimat dan bentuk lainnya yang kurang berkenan. Saran dan kritik konstruktif, sangat penulis harapkan. Lebih dari itu, kalau ada yang merasa keberatan bahkan menolak, tolong sampaikan secara langsung kepada penulis, baik secara lisan ataupun tulisan.

Tulisan yang penulis angkat adalah: “KANTOR KEMENTERIAN AGAMA KOTA SOLOK (ROMANTIKA STORY DAN HISTORY )”. Kenapa penulis mengangkat ini?, karena Kantor Kementerian Agama Kota Solok pada khususnya tidak akan terlepas dengan kedua istilah ini. Ada yang pergi dan ada yang datang. Ada yang berbentuk histori dan banyak pula yang berbentuk stori. Ada rencana dan ada realita. Ada suka,  ada pula duka. Ada canda dan ada pula tawa. Semuanya tak lain dan tak bukan adalah romantika.

Entah kenapa? Penulis tidak pula bertanya. Sebagaimana biasanya, saat mengikuti apel pagi, baik itu para pejabat atau pegawai yang mendengarkan arahan dari penerima apel memainkan hp nya masing-masing. Selain melihat informasi penting, tidak ketinggalan memotret orang yang sedang memberikan arahan/penerima apel.

Sebagian lagi ada yang memotret kawan lainya. Bagaimana gaya mereka dalam potretan itu? Tentu berbagai macam, kadang ada yang auranya sedih, ada yang yang santai, ada yang khusuk/fokus bahkan ada yang sedang tersenyum simpul. Orang yang memotret sudah bisa dipastikan sengaja memotret, tetapi orang yang di potret tidak tahu bahwa dia sedang dipotret. Hasil potretan itu di share ke WA Kementerian Agama Kota Solok. Inikah yang diistilahkan terciduk?

Apel pagi tadi, penulis tidak melihat adanya Fhoto yang berkaitan dengan aktifitas wajib setiap pagi itu, meskipun penulis tahu, bahwa yang menerima apel adalah salah seorang Kepala Seksi. Nama populer beliau adalah Rabamis. Beliau adalah Kasi Haji dan Umrah. Amanat yang beliau sampaikan yang pertama dan utama adalah perkembangan informasi tentang Haji dan Umrah. Sebagai penutup dari arahan beliau; “marilah kita mulai aktifitas kita dengan sama-sama mengucapkan: “Basmalah”. Peserta apel bubar dan penerima apel langsung meninggalkan tempat berdirinya. Saling bersalamanpun dilanjutkan, cerita sudah mulai terbuka. Apa yang diceritakan? Yang pasti penulispun bercerita.

Tanpa disengaja sebelumnya, penulis masuk ke dalam ruangan Kasi PD Pontren. Di dalam ruangan beliau, sedang duduk salah seorang pejabat teras Kantor Urusan Agama (KUA). Beliau duduk dengan santai sambil bercerita lepas dengan Kasi PD Pontren. Siapa lagi, kalau bukan Irawadi Uska. Penulis masuk dan menghampiri beliau-beliau. Cerita pun semakin bertambah dan berkembang, apa lagi di tambah lagi dengan suka bercerita.

Pertengahan cerita beliau diselingi dengan sebuah pertanyaan ringan; Bagaimana dengan tulisan Pak wandi? penulis jawab aja dengan “ hehe”, biasa aja, tidak ada istimewanya, sekedar mengisi waktu aja Pak KUA”.

Cerita yang pergi kian kemana, tetapi “kalau di pilih atah satu-satu dalam beras” lalu dikumpulkan dan ditumbuk, maka atah tersebut akan menjadi beras. Berbagi pengalaman tentang organisasi adalah bagian dari cerita kami. Orang akan merasa besar dan lebih kalau dia hanya tau dengan yang dia miliki. Tetapi orang akan merasa kurang atau kecil apa bila tau dengan kelebihan seseorang. Itulah intisari yang kami bahas tentang dua organisasi masyarakat (Ormas) Islam besar yang ada di Indonesia. Selain itu, kami juga menganalisa pepatah orang tua-tua. Seperti yang penulis ungkapkan; “ Tagak Maninjau Jarak, Duduak Marawik Ranjau”.

Duduk santai, Watshapp (WA) pun dibaca. Penulis membaca dan melihat beberapa fhoto yang dikirim oleh salah seorang staf PAIS ke WA Kemenag Kota Solok. Dalam WA tersebut penulis membaca sebuah kalimat sederhana; “Siap menjalani 5 budaya kerja dan selalu menjaga integritas”. Tulisan yang diiringi oleh fhoto dikirim oleh Fitrawati. Fhoto Kasi PAIS tampak begitu dekat dengan stafnya, semangat mengepalkan tangan dengan mengacungkan ibu jari mereka. Ini melambangkan bahwa Kasi PAIS (H.Amril ,S.Ag. MM) mempunyai komitmen yang tinggi mengimplementasikan 5 Budaya Kerja Kementerian Agama. Dalam kalimat yang dikirim itu, ada satu kalimat ” selalu menjaga integritas”.

Sebagai informasi awal, kalimat ini mungkin sudah cukup dimengerti oleh sebagian anggota group, dimana Kepala seksi PAIS sedang melaksanakan rapat koordinasi dengan rekan kerja beliau. Namun, 5 Nilai Budaya Kerja Kementerian agama perlu diketahui, dipahami dan diamalkan oleh ASN Kementerian Agama. Untuk memahami apalagi mengimplementasikan, 5 nilai itu, tentu ASN kementerian Agama harus hafal ke 5 nilai Budaya Kerja tersebut. Sebagai pertanyaan ringan saja oleh penulis, apakah sebagian besar ASN Kementerian Agama hafal dan lancar dengan 5 kata-kata pendek itu?. Sekedar mengingatkan saja, penulis akan tuliskan 5 Nilai Budaya Kerja Kementerian Agama, yakni:

INTEGRITAS – PROFESIONALITAS – INOVASI – TANGGUNG JAWAB – KETELADANAN.

Apa penjelasan dari 5 kata di atas dan bagaimana implementasinya…???
Bersambung…………..

Pos terkait