Berbagai ekspresi kawan-kawan yang sedang berbaris menyaksikan dan mendengarkar apa yang disampaikan oleh salah seorang pejabat di jajaran Kantor penulis. Ada kepala yang tertunduk, ada kepalanya yang menatap lurus ke depan dan ada pula yang bergerak ke kiri dan ke kanan. Ekspresi yang berbeda tersebut, bukanlah dikondisikan tetapi bergerak dan berjalan apa adanya. Pejabat yang memberikan amanat pun bergerak dan terlihat serta terdengar berbagai ekspresinya, kadang-kadang terlihat, santai kadang-kadang sedikit adanya penegasan dalam intonasi susunan kata dan bahasa.
Penulis, sebagaimana juga kawan-kawan yang lain, berdiri santai sambil mendengarkan apa yang disampaiakan oleh seseorang yang berdiri di depan kami. Dengan pendengaran yang sayup-sayup sampai, penulis menangkap beberapa hal di antaranya: Apresiasi; Satu kata ini, seolah-olah tidak pernah lupa oleh setiap pejabat yang menerima apel pagi.
“Apresiasi yang tinggi, kami ucapkan kepada kita yang tetap setia mengkuti apel pagi ini, mari selalu kita pertahankan dan kita tingkatkan, dan kepada yang tidak hadir dalam apel pagi ini, kita berprasangka baik saja, mungkin karena adanya catin yang nikah pagi ini dan/atau adanya pekerjaan lain yang tidak bisa diwakilkan.
“Apresiasi pada dasarnya berasal dari bahasa Inggris yaitu dari kata “appreciation” yang artinya penghargaan, penilaian, dan pengertian. Jika diartikan dari asal katanya, maka apresiasi merupakan aktivitas penilaian yang berupa penghargaan terhadap sesuatu hal yang berbau dengan dunia karya seni atau pun karya sastra dan juga termasuk aktivitas yang dilaksanakan.
Pemberian apresiasi harus dengan setulus hati dan menurut penilaian aspek umum. apresiasi positif dapat diberikan kepada seseorang, atau beberapa individu atau sebuah kelompok yang melakukan karya positif dengan suatu hal yang positif juga, atau sebaliknya.
Suatu rasa penghargaan yang kita berikan kepada orang lain, itulah apresiasi. Menurut analisasi penulis, apresiasi yang hampir setiap hari diberikan kepada ASN yang rajin hadir dalam apel pagi, andaikan penghargaan itu berbentu benda dan bukan hanya berbentuk kata-kata, entah berapakah tebal dan tingginya tumpukan apresiasi tersebut. Tetapi, untunglah penulis tidak menggambarkan apresiasi itu berbentuk materil.
Kata-kata apresiasi sering penulis dengar dari seorang atasan kepada bawahan yang “mungkin” tugas yang diberikan atasan kepada bawahan sesuai dengan keinginan atasan bahkan membuat atasan merasa sangat puas dengar kerja bawahannya. Kadang-kadang kata apresiasi muncul juga sesema atasan dalam arti sesama para pejabat. Tetapi sebaliknya, jarang sekali bahkan tidak terdengar sama sekali seorang bawahan yang mengungkapkan satu kata ini “Apresiasi” kepada atasannya, sedangkan berhasilnya sebuah kegiatan yang dikerjakan oleh bawahan, juga ada intervensi dan bimbingan dari atasannya. Kenapa jarang terungkap? Mungkin karena bawahan merasa terhimpit lidah untuk sekedar mengungkapkan satu kata ini atau memang tidak diberikan kesempatan untuk sekedar menyatakan kata-kata “Penghargaan” itu.
Satu hal yang berbeda dari hari-hari lainnya, di mana setiap hari senin dilaksanakan apel gabungan dengan menghadirkan para pegawai dan pejabat khusus dari KUA dan Madrasah. Selain itu, setiap hari senin juga dibacakan Teks Kode Etik Kementerian Agama. Sesuai dengan jadwal, pelaksananya adalah seksi PAIS, yang dibacakan oleh sdr Fitrawati.
Teks Kode Etik Pegawai Kementerian Agama, Insya Allah akan penulis coba mengupasnya dalam tulisan selanjutnya termasuk 5 Nilai Budaya Kerja Kementerian Agama yang masih terbengkalai.
Pejabat yang memberikan amanat, tidak hanya menyampaikan apresiasi tetapi memberikan motivasi untuk lebih baik kedepannya dan juga menyampaikan informasi tentang kerja serta aktivitas terutama di seksi yang beliau gandrungi. Salah satu di antaranya adalah masalah LPTQ.
Berbicara masalah LPTQ, penulis melihat ke samping kanan, terlihatlah salah seorang teman penulis yang bernama Roki. Dia kelihatan khusuk mendengarkan amanat yang disampaikan oleh seorang kasi. Apa yang dia tangkap dari sekian banyak yang disampaikan oleh atasan langsungnya sendiri,yang tak lain dan tak bukan adalah Bpk.H. Afrizen, S.Ag. M.Pd? Penulis tidak bertanya. Tetapi yang pasti, dia mengomentari tentang penulis dan tulisan penulis. Apresiasi buat seorang kawan yang bernama ROKI.
Apel pagi selesai, seluruh peserta apel membubarkan diri. Aksi dan reaksi terus bergerak dan berjalan tanpa disadari. Duduk dan berdiri adalah tidak bisa dipungkiri. Saling canda dan saling mengomentari pun terjadi. Realita setiap pagi.
“Gaek, ka masajik Agung wak lai!” inilah satu kalimat ajakan yang keluar dari saudara Roki. Dia mengingat teman-teman yang lain termasuk penulis sendiri untuk berangkat lagi ke Masjid Agung karena ada kegiatan yang di angkat oleh LPTQ Kota Solok. Tanpa banyak komentar, penulis menutup leptop yang sedang terbuka. Tas di sandang dan roda pun berputar Masjid Agung.
Masjid Agung adalah tempat yang ditetapkan oleh panitia pelakasana “Pembinaan Pengajaran Baca Tulis Al-Qur’an”. Narasumbernya didatangkan dari padang yaitu Bpk. Dr.H. Rafles. Seorang senior dalam bidang LPTQ Prov.Sumatera Barat. Peserta yang dihadirkan dari berbagai kalangan, mulai dari guru mengaji, muballig dan aktivis di bidang baca tulis al-Qur’an. Kegiatan tersebut di buka langsung oleh seorang petinggi Kota Solok dan beliau adalah Ketua LPTQ yaitu Bpk.Reinir, ST.MT. Sebelum di buka secara resmi oleh Ketau LPTQ, Kasi Bimas Islam (H.Afrizen) memberikan hantaran kata tentang kegiatan ini. Setelah prosesi pembukaan selesai, Bpk. DR. H. Rafles diberikan kesempatan untuk beraksi.
Bagaimana aksi beliau? Wah, sungguh luar biasa. Selain mengajarkan teori, beliau sesekali mengeluarkan suara emas beliau tentang seni baca al-Qur’an.
Terlepas dari cara beliau mengajarkan, penulis melihat sebuah buku karang bapak yang satu ini, yaitu: “KAIDAH SISTIMATIK: MEMBACA, MENGINGAT, MENULIS, MELAGUKAN (TARANUM) DAN MENERJEMAHKAN AL-QUR’AN”.
Penulis perhatikan judul buku beliau, memang luar biasa. Satu atau dua buah kata saja yang tercantum dalam judul itu bisa penulis terapkan dalam kehidupan sehari-hari, maka penulis yakin hasil akan luat biasa. Kata-kata itu adalah Membaca dan Menulis. Bagimana pula, seandainya bisa menerjemahkan apalagi mengamalkan Al-Qur;an? Tidak terbayangkanlah hasil dan manfaatnya. Namun demikian, penulis mengambil yang sederhana saja dari judul buku itu, yakni “Membaca dan Menulis”, tentang menerjemahkan apalagi mengamalkan Al-Qur’an secara komprehensif akan berusaha juga secara perlahan.
Penulis kutip di antara ayat al-Qur’an tentang membaca dan menulis, dan ayat ini adalah ayat yang pertama diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW.
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Dan Tuhanmu yang maha mulya. Yang mengajarkan manusia dengan perantaan qalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. (Q.S. al-Alaq (96): 1-5).
Dalam ayat yang singkat di atas, selain diawali dengan kalimat perintah “Bacalah”, ada dua kali perintah Allah untuk “Membaca”. Yang mengetahui secara pasti tentang maksudnya adalah Allah yang memerintahkan. Manusia hanya bisa mengambil pelajaran dan mengamalkan dari apa yang diperintahkan Allah. Hanya orang-orang yang mempergunakan akal dan pikiran yang bisa memahami ayat-ayat Allah. Salah satu untuk bisa memahami ayat-ayat Allah SWT adalah orang yang membaca. Baik membaca yang tersurat maupun membaca yang tersirat. Ayat-ayat Allah SWT ada yang berbentuk Qauliyah dan Qauniyah.
Bacalah! Bacalah! Dan Tulislah!. Allah SWT akan mngajarkan yang tidak kita ketahui. Kalau penulis hubungkan dengan pipatah orang Minangkabau, maka tepatlah pribahasa tersebut : “ALAM TAKAMBANG JADI GURU”.
Sambil menulis, penulis sambilkan membaca berbagai Group WA yang ada di HP penulis. Salah satu dari group WA adalah WA Kementerian Agama Kota Solok. Saat di buka, muncul berbagai macam gambar dan komentar. Kasi PAIS yang sedang melaksanakan koordinasi dan komonikasi dengan stafnya, Kasubag dan Mantan Ka.KUA dengan Mantan ASN Kankemenag Kota Solok, dan banyak lainnya.
Setiap komentar dan gambar bukan tidak mempunya arti dan makna, hanya tergantung bagaimana kita bisa memaknainya. Ada carita, ada canda dan ada juga berita. Tidak tertutuk kemungkinan, untuk menyampaikan yang benar ( yang Bana) melewati canda dan tawa. Semuanya tergantung kepada seni menyampaikan dan mengungkapkannya. Hanya orang-orang bijaklah yang bisa mempergunakannya.
Kutipan dari berita, canda, tawa bergumam dan saling menjalin silaturahmi
IY: bismillah.pagi barokah.apel pagi oleh bpk H.Afrizen.kasubag.kasi kasi.ibuk pengawas dan asn kemenag.
JN: Koordinasi Tanjung Harapan dengan Kasi Bimas
OF: Insya Allah, kembali berikhtiar.
AK: untuk mengetahui keabsahan pencatatan peristiwa nikah bisa di KUA mendomisili, namun untuk perbaikan data dan atau duplikat wajib pada KUA asal, itu makanya pakai
AH: Breafing pagi dgn PLT Kasi Penmad.. Ttg Kegiatan yg akan dilakukan secepatnya… Sesuai Tupoksi masing2 dan Kerjasama dlm melaksanakan kegiatan
AZ: Barumah baduo lo pak kasi pais…
CD: Iyo pk kasi mamak ambo, tp kini pk kasi pais mamak ambo lbih betah di rmh istri muda liau, Labih Acok ka t4 istri mudo, Berharap istri tua bisa pngertian.
Jn: Mantap pak kasi, semangat buat kawan di penmad, bravo,
SS: Makan tengah hari di kebun
RA: ondeeeh seronyo laii mkn basamo.
selamat pk h marion atas pelantikan ka man kota smg lbh sukses lg.
Lihat, dengar, rasa, baca dan tulislah.
Bersambung…………..






