Kementerian Agama Kota Solok (Romantika Story dan History

 

Oleh : DARMIWANDI, S.Ag, M.H.

“Saat Bantuan berebut, saat berjuang kabur”

Bekerja, bercerita dan bercanda merupakan kebiasaan sehari-hari bagi seluruh ASN di lingkungan Kementerian Agama Kota Solok. Kadang kala bekerja saja tanpa diiringi dengan canda. Adakalanya sambi bekerja diselingin dengan cerita dan ada juga yang bercerita setelah mengerjakan beban kerja dihadapannya. Berbedakah cara dan karakter masing-masing mereka? Iya. Namanya manusia yang berasal dari berbagai macam latar belakang berbeda, maka tidak dapat dipungkiri bahwa cara dan perilaku juga berbeda. Andaikan kita tidak bisa memahami perbedaan dalam realita, maka caranya adalah menjauh dan menghindarlah dari kehidupan bersama, minimal lihat, dengar dan perhatikan saja.

Sudah menjadi kebiasaan penulis dalam menjalankan aktifitas sehari-hari,yakni menyempatkan diri untuk duduk menyendiri Aula Kantor. Apakah penulis tidak mempunya ruang kerja yang dilengkapi kursi, meja dan almari? Semuanya telah tersedia dengan kondisi yang baik dan rapi. Duduk di antara sekian banyak kursi dan meja yang ada, tujuannya adalah untuk menjaga rasa aman dan nyaman teman-teman seruangan kerja. Sebuah kebiasaan penulis yang “mungkin” kurang baik menurut pandangan dan kebiasaan banyak orang juga, yaitu; bekerja disambilkan juga menghisap sebatang rokok. Apakah merokok bisa merangsang dan melahirkan inspirasi? Jawabannya sangat relatif sekali. Namun demikian, kalau asap rokok mengganggu orang lain, maka hendaklah yang merokok harus tahu diri.

Kira-kira jam 11 tadi, setelah melaksanakan kegiatan rapat panitia penyembelihan hewan kurban tahun 1441.H yang berlangsung sangat kondusif dan pro aktif peserta yang hadir demi yang lebih baik, masuk dan duduklah salah seorang ASN ke dalam Aula Kantor. Beliau duduk agak berjauhan dari penulis. Miskipun duduk berjauhan, suara kami saling kedengaran dengan jelas. Teman yang masuk Aula tersebut adalah Bapak Zahibul.

Bapak Zahibul bukanlah orang senior di banding penulis dari segi lamanya menjadi Pegawai Negeri pada Kementerian Agama. Beliau di terima menjadi CPNS pada tahun 2007. Berarti masa kerja beliau lebih kurang 13 tahun. Sekarang umur beliau sudah masuk 46 tahun. Andaikan tidak ada perubahan regulasi tentang masa pensiun, maka 2 tahun lagi, bapak Zahibul akan memasuki purnabakti.

Mungkin saja, bagi sebagian orang mengetahui dan banyak bercerita dengan Bapak Zabibul ini tidak terlalu penting, Beliau seorang staf biasa-biasa saja. Sepengetahuan penulis, Bapak Zahibul ini belum pernah membuka laptop apalagi menjadi operator untuk mengoperasikan Aplikasi. Dalam kegiatan yang resmi pun, beliau jarang juga nampak hadir. Kalau kegiatan sudah melibatkan seluruh ASN di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kota Solok, jarang sekali beliau tidak kelihatan.

Bapak Zahibul adalah salah seorang staf yang duduk di rungan bagian umum. Penulis tidak mengetahui secara pasti tentang JFU beliau, namun beliau sering mengantarkan surat masuk ke seksi Bimas Islam. Menurut informasi, beliau juga sering mengantarkan surat menyurat yang harus didistribusikan kepada orang yang diluar Kantor Kementerian Agama Kota Solok.

Terlepas dari kerja rutin beliau di kantor, penulis juga bertanya tentang pribadi dan keluarga beliau khususnya tentang anak-anak beliau. Bapak Zahibul mempunyai 4 orang anak. Semuanya perempuan. Anak pertama dan kedua beliau sedang menempuh pendidikan diluar negeri, tepatnya di Masir. Mendengar informasi ini, penulis memang penasaran. Karena panasaran tersebut, penulis menambah bertanya lagi tentang anak-anak beliau. Bapak Zahibul ,memberikan keterangan singkat;

“Anak saya yang pertama kuliah di Mesir. Sekarang sudah tingkat tiga. Sebelum melanjutkan pendidikan ke Mesir, saya membawa anak saya ke Kantor untuk mendapatkan do’a dan restu dari kawan-kawan. Saat itu, Kantor Kementerian Agama Kota Solok di pimping oleh Bapak. Drs. M. Nasir. Anak kedua saya juga menuruti kakaknya yang sedang menuntut ilmu di Mesir. Meraka sudah hafal al-Qur’an 30 Juz (Hafidzah 30 Juz). Meraka berdua tinggal dalam satu tempat. Tentang belanja dan biaya kuliah mereka, saya mengirimkannya melewati rekening Bank. Selain anak saya yang berdua ini yang sedang menuntut ilmu di Mesir, ada seorang lagi anak saya yang sedang mengikuti kursus bahasa Arab untuk melanjutkan pendidikannya juga ke Mesir. Bahasa Arab adalah modal utama untuk melanjutkan pendidikan ke Mesir. Karena bahasa di sana adalah bahasa Arab dan kitab-kitab yang dipelajari juga berbahasa Arab”.

Mendengar keterangan singkat dari Bapak Zahibul ini, penulis menatap beliau dengan pikiran salut. Salut, bukan karena kepintaran beliau berbicara dan berdalih. Salut, bukan penampilan beliau yang serba mewah dan elit. Salut, bukan karena beliau orang pintar di bidang IT. Salut, bukan karena beliau orang yang berpengaruh dan menentukan kebijakan. Salut, karena beliau bisa mengantarkan anak beliau melanjutkan pendidikan keluar negeri (Mesir). Bukan hanya seorang tetapi telah berdua dan akan menyusul pula anak perempuan yang ketiga. Bagaimanakah dengan kita? Apalagi penulis sendiri. Jawabannya adalah pada diri kita masing-masing.

Membuat narasi laporan terus penulis lanjutkan. Namun belian masih betah duduk bersama penulis sambil bertukar pikiran tentang Corona (Covid-19). Dalam bicara lepas tanpa beban tersebut, muncul beberapa kalimat yang sedikit agak mengkritis tentang sikap sebagian orang dalam menyikapi Corona. Kalimat tersebut, dapat menulis susun dalam bentuk sederhana, yakni;”Disaat diberitahukan, di panggi atau mendapatkan informasi untuk menerima bantuan, maka kita berbondong-bondong menuju bantuan tersebut, sanggup menunggu antrian yang sangat panjang tanpa mengenal lelah dan letih. Panas terik dan hujan tidak mereka hiraukan, bahkan yang lebih parahnya adalah mengaku dan tanpa merasa beban menyatakan dirinya juga orang yang tidak mampu serta berhak juga mendapatkan bantuan sementara harta kekayaannya telah melebihi dari orang sederhana. Tetapi saat diminta untuk berjihad/berjuang, mereka satu persatu lari dan berdiam diri bahkan mengajak orang lain untuk menghindar dan kabur.

Wassalam, Maaf dan Terima kasih.

Pos terkait