Oleh: DARMIWANDI, S.Ag. M.H.
Bagian : 6
“ Dari Rumah Kos Ke Mesjid”
Perjalanan belum sampai, perjuangan belum usai, tetapi jangan dibilang hidup merasai. Dibalik semua ada rahasia yang kita sendiri tidak mengetahuinya.
Pagi itu hari jum’at, penulis duduk termenung di kursi bagian belakang sambil memikirkan masalah dan berusaha juga mencarikan solusi sendiri. Penulis mau tak mau harus pindah dari rumah kos.
Tidak ada yang mengingatkan apalagi menyarankan dari masalah yang dihadapi karena yang tau tentang masalah itu hanyalah penulis. Dalam ketermenungan itu, tergeraklah hati dan pikiran penulis ke sebuah Masjid yang biasa penulis sholat jum’at di sana. Masjid itu berlokasi dekat simpang nagari Paninjauan, namanya BAITURRAHMAN.
Jam sekolah habis, penulispun pulang ke rumah. Waktu sholat jum’at menjelang, penulis bersama teman-teman berangkat ke masjid untuk melaksanakan sholat jumat. Sampai di masjid, penulis sholat tahiyatul masjid, setelah itu melihat ke depan dan memperhatikan siapakah pengurus masjidnya.
Setelah khatib berkhutbah, imam telah mengimami jamaah, sholat jum’atpun selesai. Semua orang telah pulang ke rumah dan ke tempat tujuan mereka masing-masing termasuk teman-teman penulis sendiri. Bagaimana dengan penulis sendiri? Penulis tinggal sebentar dan memperhatika para pengurus yang tinggal yang sedang menghitung uang infaq/sedeqah yang dapat pada hari itu.
Kaki terasa berat melangkah, dada berdebar dan lidahpun terasa kelu untu berucap. Kepala berfikir, dari mana kata-kata harus di mulai.Bismillah diawali langkah dari tempat duduk, penulis menghampiri beberapa orang pengurus yang sedang duduk.
“Assalaamualaikum dan mohon maaf sabalunnyo pak. Ambo murid Tsanawiyah gantiang, Ambo mohon kapado Bapak untuk bisa diterimo untuk tingga sajo di masjid ko pk. Ambo ingin melanjutkan sekolah ambo, tapi pitih untuk mambaia rumah kos indak ado pk. Ambo indak paralu digaji dan dibantu dengan makanan, tetapi hanyo sekedar tampek tingga pak.
Beliau saling pandang dan bertanya beberapa saat. Lalu salah seorang dari beliau menyuruh penulis memanggil garin yang bernama Bujang. Penulis berdiri dan memanggil uda Bujang. Beliau bertanya kepada uda Bujang tentang pembicaraan dan permohona penulis untuk tinggal di Masjid dan hanya sekedar tinggal. Uda bujang tersebut menjawab: “indak baalah pk. Rancaklah nyo tu”. Kemudian pengurus masjid bilang kepada penulis: “ tinggallah di sini, tetapi memang hanya sekedar tempat tinggal dan tidak ada honor ataupun gaji. Penulis jawab::”Terima kasih pak, Insya Allah, beko ambo langsung mambao dipan/tampek tidua ambo pak”.
Sore harinya, penulis pamit kepada amai yang punya rumah dan minta tolong kepada teman-teman kos untuk membantu membawakan tempat tidur penulis ke Masjid BAITURRAHMAN itu. Dan semenjak itulah penulis tinggal di masjid. Saat itu, penulis sudah kelas 2 semester II.
Besok harinya, tepatnya hari Sabtu pagi. Seluruh siswa MTsN ganting berdatangan ke Masjid itu karena ada kegiatan peringatan Hari Besar Islam. Apakah Maulid Nabi atau Isra’ Mi’raj, penulis tidak ingat lagi. Sebagai siswa yang mulai beranjak remaja, perasaan di saat itu memang agak terasa berat. Dari ratusan jumlah siswa, “mungkin” hanya penulislah yang tinggal di Masjid saat itu sedangkan teman-teman berulang ke rumahnya masing-masing dan tinggal di rumah kos. Miskipun penulis hanya sekedar tinggal di masjid, bagamanapun kebersihan masjid tentu menjadi perhatian juga. Rasanya tidaklah elok, kalau kita menumpang, lalu kita tidak memperhatikan di mana kita tinggal menumpang tersebut.
Baru saja penulis tinggal di masjid, ternyata juga banyak teman-teman yang tinggal disekitar masjid tersebut, seperti Delmus Puneri Salim, Peto.dan ada lagi teman-teman lainnya, tetapi penulis tidak ingat semuanya.
1,2,3 hari, perasan penulis masih gamang. Biasanya kita sering makan bersama, main bersama, bercanda bersama dengan teman-teman satu kos, sekarang hanya tinggal sendirian. Tinggal di MDA sebalah masjid dengan ruangan yang terbuka, kaca nakonya banyak yang pecah sehinga angin malam masuk begitu kencang. Dingin di waktu malam sangat terasa, tidak seperti tinggal di rumah kos dulu. Apa hendak dikata, ini harus penulis lalui sampai menjadi biasa. Allamdulillah. Akhirnya hanya menjadi biasa.
Bagaimana suka dan senangnya tinggal di masjid? Wah, memang lain juga. Selain jadwal sholat kita terjaga, kita sudah mulai belajar beradaptasi dengan jamaah dan masyarakat sekitarnya. Teman penulis bukan hanya teman-teman sekolah, tetapi masyarakat disekitar masjid juga bisa menjadi bagian dari keluarga penulis. Pernah teman sekitar masjid bertanya kepada penulis karena keraguannya melihat dan memperhatikan penulis dalam bersikap dan bicara. Katanya: “ Wan, apakah si Wan menjadi seorang Datuk atau Penghulu di kampung si Wan? Kami takut, kalau kami datang ke kampuang si Wan,kami memanggi nama si Wan. Penulis menjawab “sengeang”/senyum saja sambil berucap: Ambo urang biaso sajonyo uni. Dan tidak lama setelah itu, memang kawan-kawan yang berada disekitar masjid datang ke kampung penulis di Paninggahan. Masjid adalah temapt melihat, belajar dan menimba pengalaman. Di Masjid inilah penulis mulai menjadi KHATIB JUM’AT, sedangkan waktu penulis masih kelas 2 Tsanawiyah.
Di masjid Baiturrahman Bukit Surungan inilah penulis mengakhiri tempat tinggal sampai penulis tamat menuntut ilmu di MTsN Ganting Padang Panjang.
URANG BALARI, AMBO MARANGKAK,
URANG TIBO, AMBO SAMPAI,
URANG BARANANG DI AIA BANYAK,
AMBO BASILEK DI PAPAN SAHALAI.
DULU TINGGA DI RUMAH AMAI,
KINI PINDAH KA RUMAH SAJIK,
LAMO HIDUIK BANYAK DIRASAI,
JAUAH BAJALAN BANYAK DILIIK.
“EXPERIENCE THE BEST TEACHER”
Satu langkah telah penulis lewati di Gantiang Padang Panjang, kemana dan bagaimanakah langkah kedua??
Bersambung…………..






