Oleh : DARMIWANDI, S.Ag. M.H
“Corona: Berani Mati Untuk Hidup”
Senang dan susah, tenang dan gelisah, datang dan pergi, kaya dan miskin, sehat dan sakit bahkan hidup dan mati tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia. Adakalanya senang, ada kalanya susah. Sekarang mungkin sehat, besok bisa saja sakit. Dari sakit bisa saja sehat, dan tak jarang orang yang tanpa sakit bisa saja mati. Kekuasaan siapakah ini? Allah Yang Maha Kuasa.
Akhir-akhir ini, sampai sekarang dan tidak diketahui kapan berhentinya, dunia sedang dihebohkan dengan penyakit yang disebabkan oleh virus Corona dan COVID 19. Virus yang mengakibatkan korban/ kematian. Berdasarkan informasi yang kita dapat, bahwa korban terbanyak dari virus ini adalah negara China. Virus tersebut telah menyebar ke berbagai negara di belahan dunia, bahkan Kota Mekah khususnya Masjidil Haram dalam beberapa hari belakangan ini diseterilkan dan umat Islam yang akan melaksanakan Umrah buat sementara dihentikan karena virus Corona.
Virus atau wabah yang menyebabkan ketakutan dan kematian, bukan hanya terjadi sekarang, Tetapi telah banyak terjadi sebelum lahirnya Nabi Muhammad saw. Ini digambarkan oleh Allah dalam Al-Qur’an, pada surat Al-Baqarah, ayat:243-244;
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang ke luar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati; Maka Allah berfirman kepada mereka: “Matilah kamu”, kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur (243). “Dan berperanglah kamu sekalian di jalan Allah, dan ketahuilah Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui (244)
Sebahagian ahli tafsir (seperti Al-Thabari dan Ibnu Katsir) mengartikan mati di sini dengan mati yang sebenarnya; sedangkan sebahagian ahli tafsir yang lain mengartikannya dengan mati semangat.
Mati; Berpisahnya nyawa dengan badan. Orang yang tidak memiliki semangat hidup, juga di sebut mati, yakni mati semangat. Kadang-kadang orang yang kehilangan akal, juga di sebut mati, yakti mati akal. Satu hal yang perlu ditegakkan dan diketengahkan adalah semangat berani mati untuk hidup. Supaya hidup, hendaklah berani mati. Kaum yang takut mati, karena ingin mempertahankan hidup, maka yang akan tinggal pada dirinya hanyalah hidup yang tidak berarti, hidup yang terinjak dan tertindas, hidup yang diperbudak. Apabila keperibadian suatu kaum telah hilang, samalah artinya dengan telah mati, walaupun anggota-anggota bekas kesatuan kaum itu masih ada. Walaupun masih hidup, tetapi tidak ada semangat yang hidup, sama saja dengan telah mati.
Oleh sebab itu, untuk mempertahankan hidup yang sejati itu, hendaklah berani berperang menegakkan cita-cita. Dan cita-cita yang menjadi puncak dari segala cita, dan tidak ada di atasnya lagi, yaitu cita menegakkan jalan Allah, dan sudi mengorbankan apa yang ada, harta dan jiwa untuk menegakkan jalan Allah itu. Siapa yang sudi berkorban, niscaya akan diganti Tuhan berlipatganda.
Firman Allah;
“Atau tidakkah engkau perhatikan kepada orang-orong yang keluar dari kampung-kampung mereka, padahal mereka beribu-ribu karena takut mati?” (pangkal ayat 243).
Allah di dalam ayat ini menyuruh RasulNya dan ummatnya memperhatikan suatu kaum, beribu-ribu banyaknya. Mereka keluar dari kampung halaman mereka, karena mereka takut mati. Salah satu dari beberapa riwayat tentang jumlah kaum yang keluar dari kampungnya, adalah yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas pula bahwa jumlah mereka adalah empat puluh ribu orang. Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa mereka adalah penduduk sebuah kota yang dikenal dengan nama jawurdan. Hal yang sama dikatakan oleh As-Saddi dan Abu Saleh, tetapi ditambahkan bahwa mereka dari arah Wasit.
Ibnu Abbas mengatakan bahwa jumlah mereka ada empat ribu orang; mereka keluar meninggalkan kampung halamannya untuk menghindari penyakit ta’un yang sedang melanda negeri mereka. Mereka berkata, “Kita akan mendatangi suatu tempat yang tiada kematian padanya.” Ketika mereka sampai di tempat anu dan anu, maka Allah berfirman kepada mereka: Matilah kalian! Maka mereka semuanya mati. Kemudian lewatlah kepada mereka seorang nabi, lalu nabi itu berdoa kepada Allah agar mereka dihidupkan kembali, maka Allah menghidupkan mereka.
Ulama Salaf menyebutkan bahwa mereka adalah suatu kaum penduduk sebuah negeri di zaman salah seorang nabi Bani Israil. Mereka bertempat tinggal di kemah-kemahnya di tanah kampung halaman mereka. Akan tetapi, datanglah wabah penyakit yang membinasakan, menimpa mereka. Akhirnya mereka keluar menghindari maut ke daerah-daerah pedalaman.
Mereka bertempat di sebuah lembah yang luas, dan jumlah mereka yang banyak itu memenuhi lembah tersebut. Maka Allah mengirimkan dua malaikat kepada mereka; salah satunya dari bawah lembah, sedangkan yang lainnya datang dari atasnya. Kedua malaikat itu memekik sekali pekik di antara mereka, akhirnya matilah mereka semuanya seperti halnya seseorang mati. Kemudian mereka dikumpulkan di kandang-kandang ternak, lalu di sekitar mereka dibangun tembok-tembok (yang mengelilingi) mereka. Mereka semuanya binasa dan tercabik-cabik serta berantakan.
Setelah lewat masa satu tahun, lewatlah kepada mereka seorang nabi dari kalangan nabi-nabi Bani Israil yang dikenal dengan sebutan Hizqil. Lalu Nabi Hizqil meminta kepada Allah agar mereka dihidupkan kembali di hadapannya, dan Allah memperkenankan permintaan tersebut. Allah memerintahkan kepadanya agar mengucapkan, “Hai tulang belulang yang telah hancur, sesungguhnya Allah memerintahkan kepada kamu agar berkumpul kembali!” Maka tergabunglah tulang-belulang tiap jasad sebagian yang lain menyatu dengan yang lainnya. Kemudian Allah memerintahkan kepada nabi tersebut untuk mengucapkan, “Hai tulang belulang yang telah hancur, sesungguhnya Allah memerintahkan kepadamu untuk memakai daging, urat, dan kulitmu!” Maka terjadilah hal tersebut, sedangkan nabi menyaksikannya. Kemudian Allah Swt. memerintahkan kepada nabi untuk mengatakan.”Hai para arwah, sesungguhnya Allah memerintahkan kepadamu agar setiap roh kembali kepada jasad yang pernah dimasukinya!” Maka mereka bangkit hidup kembali seraya berpandangan; Allah telah menghidupkan mereka dari tidurnya yang cukup panjang itu, sedangkan mereka mengucapkan kalimat berikut: Mahasuci Engkau, tidak ada Tuhan selain Engkau.
Di dalam kisah ini terkandung pelajaran dan dalil yang menunjukkan bahwa tiada gunanya kewaspadaan dalam menghadapi takdir, dan tidak ada tempat berlindung dari Allah kecuali hanya kepada Dia. Karena sesungguhnya mereka keluar untuk tujuan melarikan diri dari wabah penyakit mematikan yang melanda mereka agar hidup mereka panjang. Akan tetapi, pada akhirnya nasib yang menimpa mereka adalah kebalikan dari apa yang mereka dambakan, dan datanglah maut dengan ccpat sekaligus membinasakan mereka semuanya.
Sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Disebutkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda:
“Apabila wabah berada di suatu tempat, sedangkan kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar untuk menghindarinya. Dan apabila kalian mendengar suatu wabah sedang melanda suatu daerah, maka janganlah kalian mendatanginya”.
Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkannya di dalam kitab sahihnya masing-masing melalui hadis Az-Zuhri dengan lafaz sama, Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya wabah ini pernah menimpa umat-umat sebelum kalian sebagai azab. Karena itu, apabila kalian mendengar wabah ini berada di suatu daerah, maka janganlah kalian memasukinya. Dan apabila ia berada di suatu daerah, sedangkan kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar darinya karena menghindarinya”.
Firman Allah Swt.:
“Dan berperanglah kalian di jalan Allah, dan ketahuilah sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (Al-Baqarah: 244)”
Yakni sebagaimana sikap waspada tiada gunanya dalam menghadapi takdir, demikian pula melarikan diri dari jihad karena menghindarinya tidak dapat memperpendek atau memperpanjang ajal, melainkan ajal itu telah dipastikan serta rezeki telah ditetapkan takaran dan bagiannya masing-masing, tiada yang diberi tambahan, tiada pula yang dikurangi, semuanya tepat seperti apa yang dikehendaki-Nya. Perihalnya sama dengan makna yang ada dalam ayat lain, yaitu firman-Nya:
“Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang, “Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh.” Katakanlah, “Tolaklah kematian itu dari diri kalian, jika kalian orang-orang yang benar.” (Ali Imran: 168)
Corona adalah sebuah wabah yang melanda manusia yang cukup membahayakan. Namun demikian, Allah dalam firman-Nya dan Hadits Rasul-Nya telah mengingatkan manusia, bagaimana menyikapi musibah/wabah yang melanda sebuah negeri atau kaum. Sebagaimana penulis sebutkan di awal, bahwa wabah Corona telah dan sedang di antisipasi oleh pemerintah Arab Saudi dan menseterilkan Ka’bah. Di saat CORONA menjadi wajah, di saat itulah sebagian manusia kenal dengan kekuasaan dan kekuatan Allah.
BAITULLAH: Ka’bah : Rumah Allah. Yakinlah! Allah Maha Tahu, Maha Kuasa, Maha Suci untuk menjaga, memelihara, melindunginya. Allah punya cara. Tidak seorangpun manusia yang tahu bagaimana cara Allah menjaganya.
Kita masih ingat, Bagaimana tentara Abrahah yang gagah dengan pasukan bergajah untuk menghancurkan Ka’bah.(*)






