Oleh : DARMIWANDI, S.Ag. M.H
Thema: Nabi Muhammad saw: “Mari kita ambil Taurat”
Dalil: Qur’an Surat Ali Imran, Ayat: 23-25
Arti Ayat: 23. Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah diberi bahagian Yaitu Al kitab (Taurat), mereka diseru kepada kitab Allah supaya kitab itu menetapkan hukum diantara mereka; kemudian sebahagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu membelakangi (kebenaran).
24. Hal itu adalah karena mereka mengaku: “Kami tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari yang dapat dihitung”. mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-adakan.
25. Bagaimanakah nanti apabila mereka Kami kumpulkan di hari (kiamat) yang tidak ada keraguan tentang adanya. dan disempurnakan kepada tiap-tiap diri Balasan apa yang diusahakannya sedang mereka tidak dianiaya (dirugikan)(25).
Asbabn Nuzul:
Menurut riwayat dari lbnu Ishaq dan lbnu Jarir dan lbnu Abi Hatim dari lbnu Abbas, pada suatu ketika Rasulullah s.a.w. masuk ke rumah tempat orang Yahudi mempelajari agama mereka, mengajak mereka kepada Jalan Allah. Maka bertanyalah kepada beliau dua orang pemuka Yahudi yang ada disana di waktu itu, yaitu an-Nu’man bin ‘Amr dan al-Haris bin Zaid: “Engkau datang membawa agama apa ya Muhammad?” Lalu Nabi s.a.w. menjawab: “Aku datang dengan agama lbrahim dan peraturannya.” Maka kedua penanya itu bertanya pula: “Tetapi lbrahim adalah Yahudi.” Dengan tegas Nabi s.a.w. menyambut kata mereka itu: “Mari kita ambil Taurat, dia kita jadikan alat pemutus di antara kita dalam soal ini. Apa betulkah Yahudi agama lbrahim atau lslam!” Tetapi kedua orang itu tidak mau dan menolak kembali kepada Taurat. Demikian salah satu riwayat tentang sebab-sebab turun ayat 23,24.( Hamka; 739, dan Qamaruddin Shaleh: 93).
Penjelasan:
Orang-orang Yahudi itu menyangka bahwa Nabi Muhammad saw tidak mengerti. Memang beliau tidak tahu menulis dan membaca, akan dapat saja beliau ditipu dan dikelabui dengan perkataan demikian; mengatakan Nabi lbrahim orang Yahudi. Padahal nama Yahudi diambil dari Yahuda, anak dari cucu beliau Ya’kub. Dan Nabi lbrahim telah meninggal seketika Yahuda lahir ke dunia. Akan mungkinkah si nenek penganut agama yang memakai nama anak dari cucunya? Alias cicitnya? Nabi Muhammad saw suruh bawa Taurat itu dan mari baca bersama-sama, di fasal dan di ayat berapa ada tersebut bahwa Nabi lbrahim orang Yahudi? Maka si penanya yang berdua itu terpaksa berpaling, bahkan membelakang, karena takut akan diperhadapkan dengan kebenaran.
Berbagi pengalaman, bertukar pikiran, berdialog dan berdebat tentang satu dan banyak persoalan adalah suatu hal yang biasa dalam kehidupan sehari-hari. Menanggapi, menyikapi satu persoalan saja apalagi berbagai macam coraknya bisa memakan waktu yang cukup lama dan melelahkan serta membosankan. Dalam berdialog ataupun bermusyawarah, ada sebagian orang yang menggunakan akal pikiran dan bisa diajak berunding. Bagi orang seperti ini, mereka akan menerima sebuah kebenaran yang disampaikan oleh orang lain. Apalagi hal yang dibicarakan itu berkaitan langsung dengan agama Islam dan ajaran Islam itu sendiri. Dalam arti, bahwa agama yang benar dan diakui disisi Allah adalah agama Islam.
Hakikat dari Islam adalah menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, tunduk dan patuh atas perintah Allah serta menjauhi larangan-Nya. Tetapi bagi sebahagian lainnya, karena tebalnya pengaruh kehendak hawanafsunya, sehingga ajakan yang dilakukan secara lemah-lembut tidak berfaedah, malahan bertambah diajak mereka bertambah benci dan menjauh. Orang yang menolak kebenaran adalah orang-orang yang kufur kepada perintah Allah.Mereka menutup telinga dan hati mereka.
Orang-orang Yahudi selain berdusta kepada Allah juga mengaku bahwa mereka tidak akan disentuh oleh api neraka. Kalaupun mereka disentuh oleh api neraka, hanya beberapa hari yang dapat dihitung. Kata yang sebahagian, kalau dimasukkan ke neraka orang Bani Israil, hanya selama empat puluh hari saja, yaitu selama mereka menyembah berhala anak sapi, seketika ditinggalkan oleh Nabi Musa empat puluh hari.
Penafsiran ayat 24, senada dengan ayat ke 80 dalam surat Al-Baqarah. Dalam satu riwayat oleh Ibnu Jarir dan lbnu Ishaq dan lbnu Mundzir dan lbnu Abi Hatim dari lbnu Abbas, bahwa: Menurut kepercayaan orang Yahudi umur dunia kita ini adalah 7.000 tahun. Maka mana yang berdosa diantara mereka akan di azab dalam neraka sehari dalam 1.000 tahun. Menjadi hanya tujuh hari saja mereka di neraka, kemudian dikeluarkan dan dipindahkan ke syurga.
Menurut Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Bukhari, seketika memerangi Khaibar, benteng pertahanan orang Yahudi yang terakhir, Nabi s.a.w. menanyakan kepada mereka, siapa ahli neraka? Mereka menjawab bahwa kami hanya akan masuk neraka sebentar, sesudah itu keluar. Inilah menurut setengah riwayat asal turunnya ayat 80 Surat al-Baqarah.
Andaikan ada orang Islam yang berfikiran bahwa mereka hanya sebentar saja di dalam neraka kemudian akan masuk juga ke dalam syurga, karena berfikiran umat Nabi Muhammad saw adalah umat yang istimewa di sisi Allah, berbeda dengan pemeluk agama lain. Lalu mereka tidak sholat, tidak puasa, Tidak membayar zakat, kerjanya hanya mencuri dan berbuat jahat, yang penting adalah Islam dan akan masuk syurga juga. Kalau seperti itu cara berfikir umat Islam. Apa bedanya mereka dengan orang Yahudi atau Nasrani?.
Imam Syafi’i , seorang zuhut, memiliki derajat iman yang tinggi serta tunduk akan perintah Illahi. Beliau salah satu di antara ikutan kaum Muslimin yang berempat di dalam memahamkan hukum-hukum agama, dan besar jumlah pengikut rnazhabnya di tanah air kita ini, selalu beliau bermunajat kepada Allah dengan syairnya yang terkenal:
“Ya Tuhan ku, Semacam aku ini tidaklah layak buat jadi ahli syurga tetapi Aku pun tiada kuat jika masuk ke dalam neraka. Oleh sebab itu, yaTuhanku, anugerahilah aku ini taubat dan ampunilah kiranya dosa dosa ku.Sesungguhnya Engkau adalah Maha Pengampun atas dosa yang besar”.
Sedikit kita membanding dan merenung atas diri kita, sejauhmana dan seberapakah amal kebaikan kita, seberapa kuatkah Aqidah kita kepada Allah? Apakah kita bisa menghitung perbuatan jahat dan kesalahan serta dosa yang telah kita lakukan? Sebesar apa pun kebaikan yang menurut kita baik, belum tentu menjadi pahala di sisi Allah, tetapi sekecil apapun kejahatan yang kita lakukan, sudah menjadi dosa di sisi Allah.
Segala perbuatan baik dan perbuatan buruk, sudah pasti akan kita pertanggungjawabkan di sisi Allah di hari kemudian/kiamat nanti. Suatu hari yang tidak diragukan datangnya. Dimana pada hari tersebut, kita akan ditanya tentang apa yang telah kita laksanakan di dunia fana ini.Tidak seorang pun dari manusia akan dizalimi atau dirugikan. Allah Maha Adil. Tidak ada keadilan lagi kecuali keadilan Allah…**






