Oleh : Darmiwandi, S.Ag, M.H
Harta merupakan titipan Allah kepada manusia yang pada akhirnya akan dipertanggungjawabkan di sisi Allah. Berbagai sikap manusia untuk mendapatkan harta serta harta yang diinginkan telah diperoleh. Sebagian orang bersikap kikir dan sebagian orang bersifat dermawan dengan hartanya. Bagi orang yang dermawan dengan hartanya, berarti dia mengetahui dan melaksanakan janji Allah kepada orang yang dermawan. Janji Allah, barang siapa yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, maka dia akan mendapatkan balasan yang berlipat ganda, baik dari segi jumlah maupun dari segi pahalanya. menafkahkan harta di jalan Allah meliputi belanja untuk kepentingan jihad, pembangunan perguruan, rumah sakit, usaha penyelidikan ilmiah dan lain-lain. Orang yang bermurah hati dengan harta untuk dinafkahkan, tentu didasarkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah.
Mengurbankan harta di jalan Allah bukanlah merugikan, tetapi memberikan untung. Seperti seorang dernawan mendirikan sebuah sekolah di sebuah kampung. Secara ekomoni, kehidupan masyarakat di kampung itu sangat sederhana. Dengan berdirinya sebuah Lembaga Pendidikan/sekolah, maka anak-anak tak usah belajar ke tempat jauh yang mengeluarkan biaya yang tinggi. Berkat yakin dan kemauan yang kuat, anak-anak tersebut melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
Bergulirnya waktu, anak-anak yang sekolah di kampung semakin berpendidikan. Dengan berpendidikan, mereka bisa mengabdi dan berkecimpung di tengah-tengah masyarakat untuk hal-hal yang bermanfaat dan kemajuan serta perkembangan masyarakat di kampungnya. Sedangkan orang yang menggagas dan mendirikan sekolah tempat merela belajar dulu telah tiada/meninggal dunia, tetapi bekas tangannya sebuah rumah sekolah sebagai biji yang pertama, telah menghasilkan buah berpuluh ataupun beratus, bahkan beribu dari tahun ke tahun. Kalau Tuhan mengatakan bahwa hasil itu ialah tujuh ratus, bukanlah mesti persis tujuh ratus, melainkan beribu-ribu. Inilah salah satu manfaar dan balasan bagi orang yang dermawan di bidang Pendidikan. Yang dapat mengenal dan menginsafi hal ini tentu saja orang yang beriman. Adapun orang yang mementingkan diri sendiri dan diperbudak harta, yang dipandangnya hanyalah berat mengeluarkan yang seribu dari dalam sakunya.
Mengeluarkan sebagian dari rezki yang karuniakan Allah hendaklah dengan ikhlas. Keikhlasan akan melahirkan kebahagiaan dan ketenangan hati dan pikiran. Sebaliknya, janganlah mengeluarkan dan memberikan harta diiringi dengan menyakiti dan melukai hati orang yang menerimanya serta mengungkit-ungkit yang telah diberikan, karena akan berakibat akan sia-sia yang telah diberikan.
Sebagaimana Firman Allah SWT;
“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.(Q.S.2; 262)
Dalam kehidupan sehari-hari, masih kita dengar dan temui banyak orang yang menyakiti orang menerima atas apa sedang dan telah diberikan. Menyebut dan mengungkit-ungkit jerih payah dan usahanya selama ini. Akibatnya bisa menimbulkan ketidaksenangan dan menyakiti orang yang menerima.
Seumpanya lagi, ada seseorang yang membatu keuarga miskin, dimana anak-anak dari keluarga miskin ini punya kecerdasan otak dan kemauan yang kuat untuk melanjutkan pendidikannya. Lalu ada seseorang yang bermurah hati untuk membantu anak tersebut sampai ke Perguruan Tinggi sehingga menjadi sarjana dan bekerja serta berpenghidupan yang layak. Sebut sajalah, bahwa keluarga yang miskin tadi menjadi sejahtera. Bagaimana dengan orang yang telah membantu tadi? Mungkin karena sesuatu dan lain hal, dia mengatakan; “Kalau bukan karena aku yang membantunya dulu, mungkin sekolahnya tidak akan lanjut dan ekonominya tidak akan sukses seperti sekarang ini”. Inilah yang di sebut mengungkit-ungkit atau membangkit-bangkit kebaikan yang telah diberikan. Sikap dan sifat mengungkit-ungkit ini akan menghancurkan nilai yang telah dinafkahkan, sia-sia hasilnya.
Ada lagi yang memberi tetapi menyakiti. Tangannya memberi bantuan sedangkan mulutnya mengeluarkan kata-kata yang kasar atau diceramahi dulu dengan kalimat yang panjang sehingga menimbulkan kedongkalan dalam hati yang menerima. Memberi hanya seribu namun kata-katanya sejuta.
Contoh lain, Saat akan adanya pemilihan perwakilan dan pimpinan, baik tingkat daerah dan pusat. Bila ada orang yang datang dan minta bantuan kepada yang mencalonkan diri, tanpa basa basi dan banyak cerita, apa yang diminta dikabulkan. Diminta satu diberi dua atau lebih. Setiap proposal masuk ataupun tidak, tinggal ambil dan jemput saja. Minta TV? tinggal beli. Minta mesin biduk untuk nelayan? tinggal tunggu di tempat. Mau Tikar sajadah masjid? Besok diantar. Butuh semen? Ambil di toko bangunan si anu. Kesimpulannya, semua permohonan bantuan dikabulkan. Kita sebut dia orang yang murah berinfak dan bersedekah atau dermawan.
Setelah pemilihan selesai dan usai, Pengorbanan tidak membuahkan hasil. Orang terpilih, kita tersisih. Orang berhasil, kita gagal. Pikiran dan hati sudah mulai jengkel. TV, Mesin biduk dan tikar masjid diperintahkan untuk diambil lagi. Sudah sekian banyak pengorbanan harta benda saya, tetapi hasilnya tidak ada. Kalau bukan karna bantuan saya, kamu tidak akan punya TV. Kalau bukan karena pertolongan saya, tangan kamu akan terasa letih dan payah mendayung biduk dengan pendayung. Ini madrasah atau sekolah? Kalaulah bukan karena saya, sekolah ini tidak akan ada, semuanya dari saya. Inilah karakter sebagian orang yang berinfak dan membantu bukan karena ridha Illahi.
Mengungkit-ungkit yang telah diberikan dan menyakiti hati orang yang diberi merupakan akhlak yang rendah. Inilah orang yang tidak menyadari bahwa kekayaan yang dia miliki pada hakikatnya adalah milik Allah. Maka dari itu, tanamkam rasa tulus dan ikhlas karena Allah.
Dalam Hadits Shahih Muslim, dari Abu Dzar, dia berkata; bahwa Rasullullah saw bersabda;
“Ada tiga golongan orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, tidak akan diperhatikan, dan tidak akan disucikan, dan bagi mereka azab yang pedih: Orang yang menyebut-nyebut pemberiannya, Orang yang memanjangkan kainnya (karena sombong), dan orang yang melariskan dagangannya dengan sumpah palsu”. (HR. Muslim). (Ibnu Katsir.I:439)
Kita tidak sempurna, dan terus berusaha untuk lebih sempurna.
Perkataan yang baik lebih baik daripada memberi tetapi menyakiti.






