Mentreng.com | Payakumbuh – Ketua KAN Y.E Dt.Rajo Pangulu Nan Itam bersama Ninik Mamak Koto Nan Ampek, Kunjungi Pasar Payakumbuh Pasca 12 hari musibah kebakaran, Minggu, (7/9/2025)
Kunjungan yang dihadiri oleh Ketua KAN Dt. Rajo Pangulu Nan Itam bersama jajaran tersebut adalah, Dt. Majo Nan Runciang, Dt.Rajo Sinaro, Dt.Gayua, Dt.Mantiko Alam, Dt.Paduko Sati Marajo, Dt.Pado Pangulu, Dt.Payuang Omeh, Dt. Rajo Imbang, Dt.Malingka Sati, Dt.Mangkuto Alam, Dt.Bangso Nan Putiah.
Dalam kunjungan tersebut, Niniak Mamak Koto Nan Ampek turut bersimpati dan merasakan duka cita yang mendalam kepada para pedagang yang tertimpa musibah kebakaran.
Dalam hal ini, Ketua KAN bersama Ninik Mamak lain nya meminta, agar pemerintah kota Payakumbuh dapat segera membangun pasar Payakumbuh yang telah habis di lalap api. Namun mereka (Ninik Mamak) terkait hal ini agar dapat membicarakan dahulu secara bersama antara pemerintah dengan Niniak Mamak selaku pemilik lahan.
“Bagaimanapun kawasan pasar Payakumbuh Blok Barat, terdiri dari Tanah Ulayat Nagari Koto Nan Ampek, untuk itu langkah dan kebijakan yang diambil oleh Pemko Payakumbuh hendaknya melibatkan kaum adat,” ujar Ketua KAN Koto Nan Ampek, YE. Dt Rajo Penghulu Nan Itam.
Sementara itu Zeki Dt Paduko Sati Marajo menyampaikan, Persoalan pasar Payakumbuh memilki sejarah tersendiri bagi Nagari Koto Nan Ampek. Dimana Pasar serikat Payakumbuh berdiri pada abad ke 19 sekitar pertengahan tahun 1840-1850an, disebut serikat karena pasar ini di bangun dan di kelola bersama (berserikat) oleh beberapa nagari di kota payakumbuh, seperti nagari ( koto nan 4, nagari koto nan godang, Parik Muko Aia dan balai panjang).
“Sebagai pusat perdagangan bersama, Sekitar akhir abad ke 19, Belanda mulai mengatur dan memungut pajak pasar, Ada catatan bahwa belanda mengikat perjanjian dengan niniak mamak koto nan ompek untuk pengelolaan pasar dan pemanfaatan tanah pasar, dan disinilah muncul istilah kontrak pasar serikat dengan kolonial belanda.
“Tujuan belanda adalah mendapatkan pemasukan dari pajak, sementara nagari tetap mengakui pasar itu sebagai tanah ulayat nagari koto nan ompek. “Pada tahun 1937 kolonial belanda membuat perjanjian dengan niniak mamak koto nan ompek dengan isi surat perjanjian adalah, Hak Kelola Pasar diserahkan ke belanda akan tetapi Hak Milik Tanah tetap ditangan Nagari Koto Nan Ampek dan hasil pengelolaan disalurkan lewat komite pasar
“Perjanjian ini sangat penting karena menjadi dasar bahwa tanah blok barat bukan aset pemerintah tapi tanah ulayat nagori koto nan ompek, terang Zeki
Dipertegas lagi oleh Dt Rajo Sinaro, “Kebakaran yang terjadi pada tahun 1972 pasar serikat termasuk blok barat hangus terbakar, dan pemerintah kembali membangun pasar pada tahun 1974/1975 dengan dana APBN, walaupun dibangun oleh pemerintah, Tanahnya tetap ulayat nagori koto nan ompek pungkasnya.(*bee)






