Oleh: DARMIWANDI, S.Ag. MH.
“ BERTABUR INTELEK “
Paninggahan merupakan salah satu Nagari dari sekian banyak Nagari yang berada di sekililing Danau Singkarak. Di antara Nagari yang mengelilingi danau Singkarak adalah Nagari Muaro Pingai, Saning Bakar, Sumani, Singkarak, Tikalak, Kacang, Ombilin, Sumpu dan Nagari Malalo. Nagari Paninggahan berbatasan dengan, Nagari Muaro Pingai dan Nagari Malalo. Maaf sebelumnya, kalau ada nama Nagari yang tidak penulis sebutkan atau salah menuliskan nama nagarinya, karena hanya sekedar itulah yang penulis ketahui.
“Lain lubuk lain ikan, lain padang lain belalang”, Adat salingka Nagari, Pusaka Selingka Kaum. Artinya; setiap Nagari mempunyai karakter dan kebiasaan yang berbeda. Baik dari segi adat istiadat maupun dari segi dialeg dan bahasanya. Bagi orang yang memahami pribahasa tersebut di atas, maka dia akan lebih pandai menyesuaikandiri dan beradaptasi.
Alam Nagari Paninggahan terdiri dari perbukitan dan persawahan. Selain itu juga berada di pinggir danau Singkarak. Biasanya, orang yang tinggal di tepi danau suaranya agak keras atau tinggi, karena di pengaruhi oleh bunyi deburan ombak. Bila di lihat dari segi jumlah penduduk nagari Paninggahan lebih kurang 12 ribu jiwa, maka yang tinggal di pinggiran danau tidak sampai 10 %. Namun, pada umumnya, nada suara masyarakat bernada tinggi. Tentang ini, ada sebuah pameo bagi orang paninggahan,yakni “ bisiak kadangaran dan maimbau kalampauan”. Biasanya, orang yang berbisik hanya kedengaran oleh orang yang bersangkutan, tetapi lain dengan orang Paninggahan; mereka berbisik tetapi kedengaran juga oleh orang lain.
Apakah karena bunyi deburan ombak Danau singkarak saja? Menurut analisa penulis, ada faktor alam lainnya yang mempengaruhi nada suara masyarakat Nagari Paninggahan tinggi, yaitu angin. Di Nagari Paninggahan, ada satu nama angin yang populer di debut dengan angin dulu. Angin dulu ini sangat kencang, sedangkan batang kelapa pada khususnya sangat banyak juga. Bila seserang berbicara atau memanggil dengan suara yang lembut dan lunak, maka panggilan tersebut tidak akan terdengar oleh orang yang di panggil. Jadi, faktor angin juga mempengaruhi juga tingginya nada suara masyarakat Nagari Paningggahan. Selain dari kedua faktor tersebut, adakah faktor lain? Mudah-mudahan ada ahli yang meneliti tentang ini.
Secara pribadi, penulis mulai masuk dan berkecimpung aktif dalam sosial kemasyaratan Nagari Paninggahan adalah sejak tahun 2000. Apakah sebelumnya penulis tidak pernah aktif dengan elemen masyarakat Paninggahan?.Sudah!.
Waktu masih menjadi pelajar di Madrasah Aliyah Negeri (MAN)/MAPK Padang Panjang tahun 1991, Penulis pernah di percaya menjadi Ketua Ikatan Pemuda Pelajar (IPPP) Padang Panjang. Bukan hanya pemuda dan pelajar Padang Panjang tetapi juga Bukit Tinggi dan sekitarnya. Dalam waktu bersamaan, penulis juga di percaya menjadi Ketua Ikatan Pelajar Kabupaten Solok (IPKAS). Bagaimanakah pengalaman penulis saat itu? Sesuai dengan kemampuan dan keterbatasan yang penulis miliki, Alhamdulillah, hampir semua agenda dapat kami laksanakan dengan baik. Kami melaksanakan salah satu kegiatan yang kami laksanakan adalah bakti sosial yakni mengeluarkan pasir dan batu dari Batang Air untuk MTI. Andaikan dokumentasinya penulis buka kembali, maka teringatlah bagaimana kenangan saat menimba ilmu dan pengalaman semasa sekolah.
Susahkah menjadi orang yang didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting? Nama pimpinan harus punya ilmu pengetahuan, pengalaman, komonikatif, koordinatif dan komitmen yang tinggi.
Setelah menamatkan pendidikan di MAN/MAPK Padang Panjang, penulis mencari lagi pengalaman di Perguruan Tinggi. Di MAN aktif di Pramuka tetapi di IAIN”IB” Padang, penulis masuk salah satu organisasi kemahasiswaan yaitu RESIMEN MAHASISWA (MENWA). Dalam organisasi MENWA ini, penulis juga mendapatkan pengalama yang cukup untuk mendidik mental dan moral. SECATA.B Padang panjang merupakan salah satu lokasi penulis dalam menimba ilmu tentang dasar-dasar Kemeliteran.
Tamat kuliah tahun 1997. Mengajar di MTI tahun 1998/1999. Menjadi Kepala MTs.M dari 2000 s/d 2008. Menjadi Ketua PCM dari 2005 s/d sekarang. Menjadi Ketua Pengurus Masjid Raya Nagari Paninggahan dari tahun 2002 s/d 2008. Sekretaris MUN Paninggahan dari tahun 2000-2005. Menjadi anggota BPN selama 3 tahun.
Dari beberapa pengalaman penulis berkecimpung langsung dengan masyarakat Nagari Paninggahan dan pada organisasi masyakarakat pada khususnya, memang cukuplah penulis mengetahui tentang karakter masyarakat Nagari penulis sendiri. Sulit atau mudahkah mengurus masyarakat banyak? Hanya orang yang berpengalamanlah yang bisa merasakannya. Bagi yang belum pernah berpengalaman menjadi orang yang dipercaya di tengah-tengah masyarakat, maka mereka hanya bisa banyak komentar. Ini salah, ini tidak benar. Pimpinan tidak becus. Masak mengurus ini saja tidak pandai??
Sulit memimpin masyarakat banyak? Hal ini tidak bisa di bantah. Jangankan mengurus orang banyak, mengurus keluarga kita yang jumlahnya hanya sekian orang sangat susah termasuk mengurus diri kita sendiri. Dengan demikian, apapun dan siapapun yang kita urus termasuk orang banyak, pastilah menghadapi kesulitan. Seorang peminpin yang bijak, kesulitan dalam menghadapi berbagai masalah, bukanlah menjadi halangan dalam meminpin tetapi dijadikan pemicu untuk mencapai kesuksesan dan keberhasilan. Perjuangan akan lebih terasa bila menghadapi tantangan yang menantang. Se ekor ikan yang menantang arus, rasa dagingnya akan terasa lebih padat dan manis di banding se ekor ikan yang hidup dalam sebuah kolam dengan air yang timbakan dan makanan yang disuapkan.
Penulis sering mendengar bahwa memimpin masyarakat Paninggahan sangat sulit dan susah. Pemikiran dan pendapat seperti itu mungkin bisa diterima karena karakter dan SDM masyarakat Nagari Paninggahan. Umumnya masyarakat Paninggahan mempunya kompetensi yang sangat variatif. Sebut saja di bidang ekonomi, Paninggahan memiliki sarjana ekonomi dan ahli di bidang ekonomi. Artinya, meskipun mereka bukan sarjana ekonomi, tetapi pengetahuan dan pengalaman mereka tentang berekonomi melebihi sarjana ekonomi.
Di bidang pendidikan, paninggahan memiliki sarjana pendidikan yang cukup banyak. Bukan hanya S.1 tetapi sudah ada yang Doktor bahkan Profesor di bidang pendidikan. Selain di bidang ekonomi dan pendidikan, masih banyak lagi bidang lainnya seperti Pertanian, Perikanan, Nelayan, Perdagangan, Kehutanan, Peternakan, Keagamaan, Kesenian, Olah raga dan lain sebagainya.
Penulis mencoba mendata acak para sarjana dan atau ahli yang berasal dari Nagari Paningggahan, baik itu yang berada di rantau orang maupun yang berada di kampung, diantara beliau adalah:
1. Prof. Masri Mansour
2. Prof. Saldi Isra
3. Prof. Karnedi.
4. Prof. Rusydi Thaib (alm)
5. DR. Lukman.
6. DR. Alimin Djisbar
7. Ir. Abu Bakar Bulek
8. Ir. Yuherman Yuna
9. Charles .M.Pd
10. Ismet Roza, SH
11. DR. Hendra Syarifuddin
12. Ust. Jawaher Arsyad
13. Ust. Arba’i Mizen
14. Ust. Syafroni Panito Koto
15. Drs. Ahmad Muar Panito Pinyalai
16. Drs. Nazar Bakri
17. Armen Plani
18. Nursiyan,SH
19. Rudi Hartono, S.Ag
20. Arlis Rusman.
21. Zainal Jusmar.MM
22. Drs. Suardi Mak.Adang
23. Raflis,S.Ag.
24. Drs. Marlis Munir.
25. Drs. Indra Yomayor.
26. Lendra Rustam.S.Pd.
27. Dra. Murni.K.
28. Dra. Nurhayati.MM
29. Drs. Kamaruzzaman, M.Ag
30. Remiadi, ( S.2)
31. Herman Mukhtar, S.Pd.
32. N. Nasmar.Dt.Rajo Dulu.SH
33. Alizar Mayus,S.Ag
34. Nurhayati,S.Ag
35. Drs. Bermalis
36. Daliyus
37. Ust.Asrul Bakri.
38. Ust.Betrizal
39. Jufrizal, S.Ag
40. Candra, S.Ag
41. Hamdani, Lc.MA
42. Jawaher.Lc.MA
43. Rita Zahara, M.Ag
44. Drs. Syafril.
45. Railis,S.Ag
46. Drs. Dasril
47. Hendra Saputra, M.Sc
48. Nike Kusumawati. S.Pd
49. Desi, S.Kes.
50. Yul. S.Kes
51. Yulia, S.Ag
52. Irwadi
53. Yoserizal, S.Ag
54. Kartini, S.Ag
55. Drs. Maifal
56. Mikel Jekson, S.Pd.
57. Zubirman.BA.
58. J.Datuk Maninjun
59. Ali Yasman, S.Pd
60. Jufri
61. Alen Martina, S.Pd
62. edison,S.Ag
63. Helen Nussyam,SH
64. Aan. Nursyam, M.Sn
65. Romi Nursyam. M.Sn
66. Yesriva Nusyam, M.Sn
67. Astuti Budisar
68. Hafiz, S.Pd
69. Eva, S.Ag.
70. Herman, S.P
71. Fit, S.Pd
72. Lendra, S.Pd
73. Harmaini limra
74. Ahmad Syam Basigar
75. H. Hermanto
76. Harmoni Ali
77. Irwadi.Dt. Rangkayo Basa
78. Erpagal Agustina, SE
79. H. Usman Latif
80. Arpen Mukhtar
Apakah hanya sebanyak yang penulis sebutkan di atas para sarjana dan pakar atau intelektual Nagari Paninggahan? Boleh penulis pastikan jawabannya; Tidak!. Karena masih banyak lagi yang tidak tersebutkan dan diketahui penulis. Izinkan penulis memperkirakan bahwa jumlah para intelek Paninggahan mencapai 5 % dari jumlah penduduk Nagari Paninggahan. Mereka tersebar hampir di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Penulis teruskan menganalisa Nagari Paninggahan dari segi intelektual. Intelek adalah orang mempunyai kecedasan, kejernihan berfikir berdasarkan ilmu pengetahuan dan orang yang mempunyai kesadaran terutama menyangkut pemikiran dan pemahaman. Penulis merasa bangga sebagai anak Nagari Paninggahan karena memiliki banyak pemikir dan orang-orang cerdas. Pemikir di bidang pendidikan, pemikir di bidang perekonomian, cerdas dalam bidang kesenian dan keolahragaan serta bertaburannya pemikir di bidang agama.
Penulis perhatikan juga kondisi sekarang, memang jauh berbeda dengan 20 tahun yang lalu. Berkisar tahun 1999, Penulis mencoba meinisiasi pertemuan para sarjana yang berasal dari Nagari Paninggahan. Kami berkumpul di SMP membicarakan sejauh mana eksistensi para sarjana Paninggahan terhadap Nagari yang kita cintai. Pada saat itu, penulis hanya bisa mendata dan mengumpulkan teman-teman para sarjana lebih kurang 20 orang. Hasil dari pertemuan tersebut, kami sepakat membentuk Ikatan Sarjana Paninggahan (ISP), dengan ketuanya: Kakanda Hendra Syarifuddin. Pada sat itu, beliau baru saja menyelesaikan S.2. Sedangkan yang menjadi sekretaris ISP adalah Penulis sendiri.
Bagaimanakah perjalanan ISP? Ya seperti itulah. Setelah terbentuk, fakum lagi. Mungkin salah satu penyebabnya adalah jarak yang berjauhan serta sibuk dengan kepentingan pribadi dan kedinasan masing-masing. Miskipn demikian, minimal penulis dan kawan-kawan mengetahui; betapa dan berapa banyak para pemikir akademisi Nagari Paninggahan. Pada tahun tersebut, jumlahnya masih sekitar 20-30 orang, tetapi sekarang, berapakah jumlahnya?? Dan akan berapakah jumlah para sarjana Nagari Paninggahan pada 10-20 tahun yang akan datang??.
Intelek, bukanlah semata-semata seorang yang menyandang gelar sarjana di depan dan di belakang namanya. Tetapi sarjana adalah orang yang mempunyai wawasan serta pemikiran yang cerdas, kreatif dan inovatif. Jangan kita merasa bangga dengan gelar yang kita sandang, tetapi sejauh mana eksistensi kita dalam berbagai bidang terutama dengan bidang atau skill kita miliki. Berapa banyak di antara masyarakat Paninggahan tidak memiliki gelar, teapi mereka melebihi orang yang punya gelar. Rasa peduli mereka tinggi kepada nagari. Secara ekonomi, mereka matang dan sukses. Dalam bidang pertanian dan nelayan, yang cepat-cepat mengajari mereka. Dalam bidang agama, hati-hati dalam berdakwah, berkhutbah dan berceramah.
Terlepas dari cara kita menyikapi dan menanggapi, Andaikan saja berkumpul seluruh para intelek Nagari Paninggahan, tanpa melihat Sarjana atau tidaknya. Mereka berkumpul dalam satu waktu dan tempat tertentu serta memikirkan Nagari Paninggahan. Bukan hanya sekedar memikirkan tetapi pikiran-pikiran yang tertuang itu diimplementasikan dalam bentuk realita. Apakah yang akan terjadi???.
.






