Oleh: DARMIWANDI, S.Ag. MH.
Bagian : I
“ BATU BASUREK PANINGGAHAN“
Kira-kira jam 10.10.WIB. penulis ditelphon oleh Ustadz H. Arba’i Mizen (Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nagari Paninggahan). Beliau mengingatkan bahwa acara mau dimulai dan kemarilah lagi. Setelah menerima telphon tersebut, penulis langsung berdiri dari tempat duduk dan pergi mandi. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, penulis menuju Kantor Wali Nagari Paninggahan dengan berjalan kaki. Tidak habis rokok satu batang dalam perjalanan, penulis sampai di kantor Wali Nagari dan langsung masuk ruangan. Sampai di lokasi, acara baru dimulai.
Memperhatikan peserta yang hadir, ternyata yang banyak hadir dalam ruangan tersebut adalah Tim dari Padang. Mereka berjumlah lebih dari 8 orang. Di antara Tim yang penulis kenal nanama adalah: DR. Dian Hardiansyah, DR. Upik dan Fadli. Sedangkan yang menerima tamu hanyalah beberapa orang saja, di antaranya adalah: H. Yoserizal, S.Ag (Wali Nagari Paninggahan), N. Dt. Rajo Dulu (Ketua KAN Paninggahan), H. Arba’i Mizen (Ketua MUI Nagari Paninggahan), Drs. Suardi. B (Ketua MUI Kecamatan Junjung Sirih), Manti Jambak dan Penulis sendiri (Ketua Koperasi Syariah Paninggahan).
Dalam pertemuan yang tidak terlalu lama tersebut, Ketua Tim ( DR. Upik) menyampaikan bahwa beliau dan kawan-kawan ingin mengetahui benda-benda bersejarah, Geografi Nagari Paninggahan termasuk bakti terjadinya gempa tahun 2007 yang lalu kalau masih ada, seperti patahan atau kerusakan akaibat gempa. Setelah Tim menyampaikan tujuan dan maksud mereka, maka wali Nagari Paninggahan memberikan informasi tentang geogafik Nagari Paninggahan dan tempat-tempat yang bernilai sejarah seperti Goa dan Batu Basurek/tulis yang ada di Nagari Paninggahan. Selesai itu, kami langsung turun ke lokasi.
Tempat pertama yang kami lihat adalah Goa Beringin, yang terletak dekat Puskesmas Nagari Paninggahan. Selain sering lewat disana, penulis memang pernah mendengar bahwa di situ memang ada Goa. Sudah 50 tahun umur penulis, baru sekali itu penulis melihat langsung Goa tersebut secara dekat.Melihat dan memperhatikan Goa Beringin itu, memang tidak berani untuk melihatnya masuk ke dalam karena penulis tidak punya ilmu apalagi pengalaman tentang Goa. Sedangkan yang berani masuk ke dalam adalah beberapa orang dari Tim. Sejauh manakah mereka melihat, penulis juga tidak tahu. Penulis dengar penjelasan dari Kakanda Suardi.B bahwa beliau mendapatkan informasi dari orang tua beliau bahwa kejauahan Goa ini mencapai ke Masjid Raya Nagari Paninggahan. Kalau memang sampai ke Masjid Raya Nagari Paninggahan, maka bisa diperkirakan, kejauhannya kira-kira 200 meter. Tentu untuk membukti ini adalah orang yang melihat dan mengukurnya langsung ke dalam Goa tersebut.
Berdasarkan ilmu pengetahuan dari Tim GEOPARK tersebut, Goa ini terbentuk sudah ratusan tahun yang lalu dan tidak tertutup kemungkinan bahwa di bawah Goa ini ada aliran sungai/air. Tim juga memberikan komentar, seandainya Goa ini terawat, terjaga dan terpelihara dengan baik, baik tempat ini akan menjadi tempat bersejarah dan juga bisa menjadi objek wisata. Kalaulah menjadi bagian dari tempat wisata, maka sudah bisa dipastikan akan menjadi income untuk Nagari Paninggahan.
Setelah melihat Goa ini, kami melanjutkan perjalanan menuju Tabing Biduk. Tidak beberapa meter dari Goa pertama, ternyata ada lagi Gou kedua. Goa kedua ini agak jauh berbeda dengan Goa pertama. Pada Goa kedua, di dalamnya agak luas dan kelihatannya tidak terlalu jauh ke dalam.
Melihat dan memperhatikan kedua buah Goa ini, sepertinya semua anggota Tim semakin bersemangat untuk melanjutkan perjalanan. Sambil jalan, ada seorang tim yang terus melakukan wawancara dan menggali sejarah dengan Bapak Manti Jambak. Sepertinya Bapak Manti Jambak, cukup mengetahui tentang sebagian sejarah tentang nagari Paninggahan.
“MENGETAHUI SEJARAH APALAGI PELAKU SEJARAH AKAN BERMAKNA BAGI DIRI SENDIRI DAN ORANG LAIN.
PERILAKU DAN PERKATAAN BAIK, AKAN DICATAT DAN TERCATAT DI BENAK ORANG BANYAK APALAGI KATA, SIKAP DAN TINDAKAN YANG SERING MEMBUAT CABUH”
Sekian langkah dari Goa yang ketiga, terlihatlah sebuah biduk yang masih dalam rakitan dan belum selesai. Bagi orang yang tidak mengerti dan memahami, maka dia akan melihatnya biasa-biasa saja. Namun bagi orang tertentu dan pernah berpengalaman tentu memiliki makna yang cukup tinggi bagi dia. Mata kepalanya melihat biduk, tetapi dia akan ingat bagaimana dia dan orang tuanya mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya di Danau Singkarak sebagai nelayan. Dingin air dan angin malam tidak mereka pedulikan. Sebelum matahari memunculkan dirinya, mereka telah merangkak menuju danau untuk memasang jaring, pukat dan lain sebagainya utnuk mendapatkan seliter ikan bilis. Dari hasil usaha kerja seperti itu setiap hari, para orang tua menghidupkan anak dan istrinya, bahkan seorang istri tidak tinggal diam membantu suaminya untuk membantu ekonomi.
Kondisi ini langsung kami lihat di tepi Tabing Biduk. Beberapa orang ibu-ibu sedang asyik “mamaruik”/membersihkan ikan bilis. Miskipun yang penulis lihat adalah ibu-ibu yang berada di Tabing Biduk, tidak tertutup kemungkinan keluarga kita juga banyak yang berprofesi sebagai nelayan. Profesi sebagai nelayan adalah pekerjaan yang sangat menantang dan berisiko. Angin kencang mereka hadapi, Air dingin mereka tidak peduli, Badaipun datang, mereka tetap menghadapinya dengan tenang dan penuh pertimbangan untuk mengendalikan diri dan biduk yang mereka duduki.
Sebagai bagian dari usaha, kadang-mereka mendapatkan ikan yang banyak, kadang-kadang sedikit dan tidak tertutuk kemungkinan hanya menghabiskan energi dan hari. Ikan banyak, harga murah. Harga mahal, ikan susah. Begitu kehidupan sebagai nelayan.
Sebagai bagian dari warga Nagari Paninggahan, Penulis kadang-kadang angkat tangan dengan teman-teman yang berprofesi sebagai nelayan karena begitu kuat mental dan fisik mereka dalam menjalani kehidupan sebagai nelayan. Mereka begitu santai mengayuh biduk, sedangkan penulis hanya duduk di atas biduk merasa gamang apalagi melihat air yang sudah kelihatan biru. Miskipun waktu kecil, penulis sering juga pergi ke pasir muaro untuk memancing ikan jabus, namun penulis hanya berdiri di tepi dengan kedalaman air hingga paha. Lewat dari itu, perasaan kwatir telah menghampiri.
Teman-teman penulis sudah banyak yang tidak berprofesi sebagai nelayan lagi, tentu mereka tidak akan lupa dengan dasar kehidupan mereka. Mereka mungkin sudah menjadi orang kaya. Hanya duduk di rumah saja, uang pun tiba. Ingatkan ereka dengan dasar mereka? Kalaupun ingat, akankah mereka peduli dan memperharhatikan orang yang pernah sama dengan kehidupan mereka?
Perjalanan dari Tabing Biduk, kami lanjutkan ke Muaro Tabuh melihat Batu Basurek (Batu Tulis). Kawan yang pakai mobil, memparkir kendaraan mereka di halaman Surau Gadang. Sedang penulis yang membawa honda Ustadz H. Arba’i Mizen juga ikut memparkir honda di sana. Kami berjalan kaki menelusuri pimatang sawah menuju tempat Batu Basurek tersebut.
Dalam perjalanan, barulah penulis ingat dan menyadari bahwa; sudah setengah abat umur penulis, baru sekali itu menempuh yanh namanya Muaro Tabuh atau lokasi Batu Basurek tersebut, miskipun penulis pernah mendengar cerita itu.
Dalam perjalanan di anatara sawah-sawah warga, penulis banyak juga menjumpai masyarakat Paninggahan yang sedang berladang bawang, lado dan bersawah. Ladang dan sawah mereka cukup selamat. Penulis lewat saling bertegus sapa dengan warga karena sebagian besar dari warga banyak juga yang kenal dengan penulis, miskipun penulis sendiri yang kurang ingat dan kenal dengan mereka. Penulis berjumpa dengan Kanda Kamiyus, Bapak Arlis Karibo, Kanda Inyiak dan lain-lainnya.
Sambil jalan, penulis bertukar pikiran dengan tim Geopark. Alangkah menguntungkan dan meringankan beban para petani seandainya ada irigasi yang dan jalan menuju persawahan penduduk ini.Selain meringankan,mengurungi biaya pengelolaan, tentu akan mempermudah akses menuju tepi Danau Singkarak terutama Batu Basurek yang bersejarah tersebut. Untuk merealisasikan pemikiran tersebut, tentu kita butuh orang-orang pemikir, peduli dan pengambil kebijakan.
Adakah warga Paninggahan yang Pengambil Kebijakan tentang hal ini??
Tanpa disadari, akhirnya kami sampai di lokasi Batu Basurek. Menurut cerita yang disampaikan oleh Bapak Manti Jambak yang ikut bersama rombongan, beliau menjelaskan bahwa Batu Barusek ini awalnya bukan terletak di tempat ini namun di tempat yang tidak jauh dari lokasi sekarang. Setiap kali dipindahkan, Batu Basurek ini kembali lagi ke tempat semula. Setelah Batu Basurek ini dipermanenkan letaknya di lokasi sekarang, sampai sekarang masih berada dan tetap di lokasi sekarang, namun kondisi dan posissinya sudah tidak baik dan sempurna lagi. Hal ini disebabkan abrasi air Danau Singkarak yang terus menghantamnya.
Siapakah yang akan merasa peduli dan merealisasikan rasa kepeduliannya terhadap benda bersejarah yang ada di Nagari Paninggahan ini?? Atau akankah Batu Bersurat bersejarah ini akan sama saja dengan batuan besar lainnya??
Tidak berapa lama kami berada di lokasi itu, kami makan siang bersama dan kembali lagi pulang. Kira-kira jam 14.00.WIB / jam 2 siang setelah sholat zuhur di Surau Gadang, Penulis bersama Ustadz Arba’i Mizen telah sampai lagi di Kantor Wali Nagari Paninggahan, karena penulis sebagai sekretaris Pengadaan Tanah dan Pembangunan Kantor KAN Paninggahan mengundang Panitia dan sebagian tokoh/pemuka masyarakat untuk Rapat Koordinasi.
“BILA TIDAK AKAN BISA MENJADI NAGARAWAN, MAKA BERUSAHALAH MENJADI NAGARIWAN”






