Oleh: DARMIWANDI,S.Ag.MH.
“Bertani”, apakah yang terpikir oleh kita tentang satu kata ini? Adakah di antara kita mempunyai pengetahuan dan pengalaman kehidupan seorang petani?. Mungkin saja ada dan mungkin saja tidak sama sekali. Kalaupun ada, hanya melihat dan mempelajari teori, minimal pernah berpengalaman dalam waktu sesaat saja.
Penulis yakin bahwa sebagian besar dari yang mebaca tulisan ini berasal dari petani, artinya pembaca memang seorang petani atau orang tuanya seorang petani minimalnya berteman dengan petani. Kalau kita pernah berpengalaman hidup bertani, maka kita akan terbayang bagaimana kehidupan seorang petani, bagaimana suka dukanya seorang petani.
Penulis berangkat dari rumah menuju sebuah tempat musyarawah Majelis Ulama Nagari (MUN) Paninggahan. Kira-kira 10 meter menjelang penulis mematikan mesin yang menggerakkan si Putih, penulis menyapa masyarakat yang keluar dari ladang, penulis bertanya kepada salah seorang perempuan yang keluar dari ladang tersebut. “Sadang manga cik dih? (sedang mengapa ibu tu?), ibu itu menjawab; “Kami sadang batanam bawang” (kami sedang bertanam bawang). Penulis layangkan pandangan jauh dan tukikkan pandangan dekat, ternyata memang ibu-ib itu bertanam bawang.
Mereka keluar dari ladang karena mereka mau ishoma (Istirahat Sholat Makan). Mereka makan bersama di sebuah tempat yang teduh dan terlindung dari sengatan matahari, yaitu dalam perkarangan KUA Kecamatan Junjung Sirih, tempatnya diparkiran sepeda motor. Mereka makan dengan lahap dan santainya serta penuh gurauan jua. Ada yang duduk di tras, ada yang duduk di tanah dan ada yang duduk di atas motor.
Melihat suasana singkat seperti itu, kami saling menyapa dan bertanya yang ringan-ringan saja. Salah seoranng dari mereka bertanya, Mau kemana Buya? Saya mau mengikuti rapat Majlis Ulama Nagari (MUN) Paninggahan. Setelah itu dia melanjutkan kata-katanya; “Undang jugalah saya, karena saya kan ulama juga bahkan ulama-ulama dan masukan saya menjadi khatib jum’at di masjid itu sekian kali dan di masjid itu juga sekian kali”. Seloroh petani yang sedang makan itu, penulis tanggapi dengan senyum simpul saja. Lalu penulis minta izin mengikuti rapat yang sedang berlangsung.
Beberapa saat setelah itu, penulis keluar sebentar dari dalam ruangan rapat, kejauahan penulis menyempatkan “mengodak” (memfhoto) mereka yang sedang bekerja.
Bapak-bapak sedang mengayunkan cangkul. Mereka membuat dan memperbaiki kalangan bawang dan ibu-ibuk menanam bawang. Penulis bukan hanya melihat apa yang tampak di mata penulis tetapi penulis melihat di balik itu semua. Kehidupan bertani bukanlah kehidupan yang mudah dan ringan. Bertani membutuhkan perhitungan dan enegri yang cukup banyak.
Lokasi yang sedang penulis lihat dan pehatikan ini, yaitu Malereang dalam jorong Gando Nagari Paninggahan. Para petani tidaklah setiap tahun atau setiap bulan menanam bawang, karena mereka melihat dan memperhitungkan hari atau musim. Apabila musim panas atau kemarau, penulis melihat tidak ada seorangpun petani yang menanam bawang di daerah ini, karena lokasi ini adalah daerah perbukitan dan bukan daerah persawahan, mereka mengharapkan hujan yang turun dari langit untuk menyirami dan menyuburkan tanah pertanian mereka.
Bararti, daerah ini adalah daerah musiman untuk bertanam bawang. Miskipun mereka sesekali bisa bertanam bawang, tetapi pada umumnya bawang yang mereka tanam itu selamat dan berhasil.
Mereka berhasil karena bawang mereka selamat. Tetapi penulis berbagi pengalaman bagi petani yang berhasil bertanam bawang termasuk petani yang gagal/rugi. Karena bagaimanpun sebuah usaha, kita akan dihadapkan dengan dua hasil, pertama untung dan kedua rugi.
Bagi yang selamat bawangnya, orang lain bisa mengatakan dia beruntung. Tetapi benarkah itu? Bisa benar bisa salah. Kenapa bisa dikatakan salah? Karena modal yang dikeluarkan untuk memanam bawang bukanlah modal yang sedikit. Dana untuk membeli bijo bawang, dana mencangkul/mengolah tanah, dana untuk pupuk, dana untuk menyemprot, dana upah menanam, dana upah menyiangi, dana upah panen, dana upah mengangkut, dana upah membersihkan, dana upah mengangkutnya ke pasar dan belum termasuk dana/uang selama mengolah dan memelihara bawang mereka, yang tidak tahu siang maupun malam. Sampai di pasar, harga murah.
Pada segi bawang kurang selamat; Apabila ada gejala serangan hama atau ulat, jam 3 dini hari (masih tengah malam), mereka telah turun ke ladang untuk menyemprot bawang mereka. Bagaimanakah kalau bawang mereka tidak selamat? Entah berapa kerugian yang mereka tanggung. Kadang-kadang bawang yang ada di ladang itu mereka biarkan saja dan mereka datarkan saja dengan tanah, karena percuma di bawa pulang, jangankan buahnya, daunnya saja tidak ada.
Waktu usaha pertanian mereka berhasil atau selamat, meraka akan mengulangi lagi bertanam bawang. Bagimana dengan yang gagal? Apakah mereka putus asa dan jera untuk menanam bawang? Tidak!. Miskipun rugi/tidak berhasil, para petani tidak ada yang putus asa untuk bertani. Pada hari ini mereka gagal, tetapi mereka masih punya keyakinan bahwa besok mereka akan berhasil. Berhasil dan gagal bagi seorang petani merupakan bagian dari kehidupan mereka. Mereka tidak pernah putus asa. Namun, kadang-kadang mereka merasa kesal kepada pengambil kebijakan atau pemerintah yang seolah-olah tidak memperhatikan nasib petani. Di antara yang membuat para petani mengeluh dan mengupat adalah harga pupuk yang mahal, harga obat-obat pertanian yang melambung tinggi, yang lebih parah lagi, di saat para petani sangat butuh obat-obat pertanian dan pupuk, selain harganya yang sulit dijangkau, barang yang akan di beli tidak ada pula.
“Petani”. Apa yang mereka olah siang dan malam? Apakah kertas yang bertumpuk? Atau barang-barang mewah yang meraka bersihkan? Atau kain-kain baru dan cantik yang mereka susun? Atau hanya duduk-duduk di belakang meja dengan kursi berputur untuk menyusun uang yang disetorkan orang? TIDAK!.
Meraka bergelimang dengan tanah, hujan dan panas tidak meraka hiraukan, terik matahari yang menyengat tidak mereka acuhkan. Air hujan adalah bagian dari air mandi mereka. Mereka berangkat ke ladang/ke sawah tanpa memikirkan apakah matahari akan terbit di pagi hari atau tidak. Mereka pulang, tidak tahu apakah matahari telah menutup cahayanya atau belum, yang ada dalam hati dan pikran mereka adalah pekerjaan mereka. Bertani/ batani/batahani. Tahani air hujan, tahani sengatan matahari.
“Petani”. Meraka tidak pernah menghitung kelebihan hari apa lagi kelebihan jam meraka bekerja. Mereka tidak pernah menghitung, bahwa mereka harus bekerja dari jam sekian sampai jam sekian. Seorang petani yang makan upah kepada petani yang lain, juga tidak pernah bilang tambah upah saya karena kelebihan jam kerja, bahwa jam saya lebih sekian minit atau sekian jam karena harus diselesaikan juga. Mereka dengan kesadaran dan dengan keikhlasan hati, pekerjaan yang tinggal ini diselasaikan saja.
Masalah upah-mengupah (makan upah) sesama petani adalah suatu hal yang biasa. Karena seorang petani dengan petani yang lainnya saling membutuhkan. Selain upah mengupah, ada lagi kebiasaan dari para petani yaitu Kongsi. Dimana mereka saling bekerjasama dalam mengerjakan pekerjaan secara bergiliran. Hari ini di ladang/sawah si A dan besok di ladang/sawah si B, begitulah seterusnya. Artinya apa? Jiwa gotong royong dan kerjasama sangat tinggi dalam jiwa para petani.
“Makan petani” (nasi dan sambal). Jangan sepelekan dan remehkan. Karena akan menyinggung perasaan penulis sendiri. Nasi dan sambal yang di makan oleh masyarakat Paninggahan yang mayoritas kehidupan mereka bertani cukup elit dan mewah. Bagaimanapun miskin dan susahnya kehidupan mereka, mereka tidak mau dan tidak suka memakan nasi yang berasal dari beras yang kwalitasnya murah. Jangan disuguhkan kepada mereka nasi yang rasanya hambar, warnanya menguning dan apa lagi baunya kurang sedap.
Bagi mereka, biarlah sambal hanya sayuran dan dihiasi dengan samba lado bauwok, asalkan nasinya enak, harum dan bersih. Kalau masalah sambal, apa yang tidak bagi para petani. Mereka tidak keberatan membuat sambal rendang, kalio, pangek bilih, dan berbagai macam sambal enak lainnya. Setelah mereka makan, kopi/teh dan gula telah tersedia pula, tentu saja diringi dengan rokok sebatang sambil menikmati embusan angin yang sepoi-sepoi. Suasana seperti ini, bisa dilihat baik petani sedang sendiri, dengan kelurganya apalagi sedang bersama-sama (manyarayo urang).
Keberhasilan seorang petani memang terasa tidak tampak, sebagian dari rumah meraka kelihatan sederhana dan bergelimang dengan tanah. Tanah apa? Adalah tanah yang terbawa oleh bawang ke rumah. Sampah berserakan? Iya. Sampah itu adalah daun bawang yang belum sempat mereka bakar dan bersihkan. Bawang yang mereka bawa ke rumah bukan hanya mereka gantungkan di dinding atau di teras rumah, tetapi juga mereka gantungkan di dalam rumah mereka.
Barusan bawang sampai di rumah, sebagian masyarakat yang ada disekitar yang panen bawang sudah ada yang berdatangan ke rumah yang panen bawang tersebut. Apakah mereka mau meminta bawang atau memninjam barang? Tidak. Mereka yang datang ingin menumpang mencari rezki kepada yang punya bawang untuk mendapatkan upah dari mengocek bawang. Ada yang per karung dan ada pula per kilo. Jasa per karung bawang yang bersihkan atau dikocek itu berfariasi. Hasil jerih payah dari mengocek bawang, bisa untuk belanja sendiri bagi anak-anak dan bisa untuk membantu ekonomi rumah tangga bagi ibuk-ibuk yang telah berkeluarga. Bahkan ada yang lebih dari itu, jasa dari mengocek bawang untuk biaya kelangsungan sekolah anak-anak mereka.
Penulis bisa bicara tentang makan upah mengocek bawang, karena penulis dalam melanjutkan pendidikan juga sering makan upah, makan upah menyabit, makan upah mencangkul, makan upah membajak sawah, termasuk makan upah mengocek bawang. Ada satu pengalaman penulis tentang biaya hidup dari bawang ini, memilih satu demi satu bawang yang berserakan di jejeran orang jual beli bawang di pasar Paninggahan. Bawang yang tekumpul, penulis jual lagi kepada yang menjual bawang eceran. Dapat uang Rp.50,- atau Rp.100,- itulah bagian dari belanja sekolah penulis yang sedang duduk di bangku SD dulu. “Eksperience the Best Teacher”!!!
Sebagian dari masyarakat Paninggahan memang telah banyak berhasil, baik dari tingkat pendidikan maupun tingkat ekonominya. Ada tingkat pendidikannya S1, S2, S3 bahkan tidak seorang yang menjadi Profesor. Ada yang pedagang, ada pengusaha, ada pegawai, ada Hakim, ada pengecara, ada guru dan lain sebagainya. Sebagian dari mereka yang berhasil tersebut, penulis yakin bahwa mereka berasal dari kehidupan yang orang tuanya bertani dan juga merasakan bagaimana susah senangnya hidup bertani.
Lupakah kita sebagai anak petani yang pernah mengalami susah senangnya hidup bertani???, Dan apakah kita masih peduli kepada masyarakat Nagari Paninggahan yang menggantungkan hidupnya bertani?? Penulis hanya menggambarkan sebagian kecil yang pernah penulis alami sebagai anak petani dan hidup bertani.
Bawang tumbuh di tanah, tanah sawah atau tanah ladang. Sebagian kita hidup sukses dan sejahtera karena asalnya berladang bawang di atas tanah nagari Paninggahan. Sekarang…, sebagian kita sudah di Tanah Abang, di tanah orang. Setinggi apapun kita, JANGAN LUPAKAN JASA TANAH. “TANAH PANINGGAHAN”.(red)






