Oleh: DARMIWANDI, S.Ag. MH.
“Tak di sangka dan tak di duga” apalagi telah direncanakan sebelumnya, Minggu pagi tanggal 23 Februari 2020 kira-kira jam setengah delapan, terdengar suara seorang laki-laki mengucapkan salam “Assalaamu’alaikum”, Kami jawab; “Wa’alaikumussalam”. Awalnya penulis tudak tahu siapa yang datang karena terhalang oleh si FREED yang sedang parkir di halaman rumah, Sekian detik setelah itu, barulah penulis melihat bahwa yang datang adalah seorang mamak kami yang menjadi Tongganai di dalam kaum kami yakni Mak enek Mawi.
Mak enek Mawi adalah salah seorang dari tiga orang mamak penulis yang masih hidup. Dua orang lagi yaitu Mak. H. Agus. B dan Mak.H. Ir. Abu Bakar Bulek. Keua mamak ini tidak berada di kampung. Mak. H, Agus, B sedang barada di Jakarta dan tinggal bersama anak-anak dan cucu beliau. Sedangkan Mak. H. Ir. Abu Bakar Bulek, beliau tinggal di Payakumbuh. Mak H. Abu Bakar Bulek ini pernah menjadi Wali Nagari Paninggahan yang pertama setelah berubahnya sistem pemerintahan kembali bernagari tahun 1999. Beliau menjadi Wali Nagari setelah beliau Pensiun dari Kepala Kantor Wilayah Kehutanan Provinsi Jambi. Yang sebelumnya menjadi Kepala Kantor Wilayah Kehutanan Provinsi Sumatera Barat dan Provinsi Sumatera Selatan.
Mak enek Mawi yang baru datang, kami persilahkan masuk rumah dan duduk di kursi yang biasa penulis duduk sambil membaca dan menulis. Sementara istri menyuguhkan dua gelas air putih, dua piring lontong, kami berbicara ringan-ringan saja tentang maksud beliau datang ke rumah. Ternyata kedatangan beliau adalah mengajak penulis untuk pergi ke Padang Palak untuk melihat tukang yang sedang memperbaiki atap beranda Rumah Gadang “Rajo Mudo” Suku Pinyalai. Sambil bicara, lontong yang disuguhkan, kami selesaikan juga. Lontong belum habis, penulis memesan kepada istri agar dibuatkan dua gelas kopi dengan ukuran setengah saja. Lontong habis, maka kopi minta di minum pula. Kopi tak bisa di minum sendirian, maka harus ditemani oleh sebatang sigaret. Sebatang sigaret belum sempat dihabiskan, kami langsung menuju Padang Palak dengan honda beliau. Tidak menghabiskan waktu 3 minit, kami telah sampai di halaman Rumah Gadang
Penulis sekilas akan menginformasikan tentang rumah Gadang si Minangkabau secara umum sebelum penulis menorehkan Rumah Gadang kami secara singkat.
Di Minangkabau, subuah sebutan khusus tentang sebuah rumah besar yaitu Rumah Gadang. Disebut demikian bukan saja karena bentuk fisiknya yang besar, tetapi juga kreana rumah ini didiami oleh keluarga besar, jadi bukan hanya karena keluarga inti (ibu, ayah, dan anaknya yang belum kawin.) saja yang tinggal di rumah ini, tetapi juga didiami oleh mereka yang mempunyai hubungan darah melalui ibu. Jika seorang anak perempuan menikah, maka ia akan tinggal di rumah gadang ibunya, dan suaminya akan ikut tinggal di sana dan disebut “Urang Sumando”. Rumah Gadang juga disebut dengan nama lain oleh masyarakat dengan nama rumah Bagonjong atau Rumah Baanjuang.
Pada masyarakat Minangkabau, dikenal dua aliran dalam adat, yang disebut laras yaitu laras bodi chaniago yaitu aliran adat yang demokrasi, dan laras koto piliang yaitu aliran adat yang aristocrat. Kedua system adat ini juga berpengaruh pada bentuk rumah yang terdapat di Minangkabau.
Rumah Gadang sebagai tempat tinggal bersama mempunyai ketentuan-ketentuan tersendiri. Contohnya saja seperti jumlah kamar yang bergantung pada jumlah perempuan yang tinggal di dalamnya. Rumah Gadang biasanya dibangun di atas sebidang tanah milik keluarga induk dari suku atau kelompok tertentu secara turun menurun dan hanya dimiliki dan diwarisi dari dan kepada perempuan kelompok tersebut.
Rumah Gadang, di samping sebagai tempat tinggal, juga dapat berfungsi sebagai tempat musyawarah keluarga, tempat mengadakan upacara-upacara, pewarisan nilai-nilai adat, dan merupakan representasi dari budaya matrilineal. Rumah Gadang sangat dimuliakan dan bahkan dipandang sebagai tempat suci oleh masyarakat Minangkabau. Status rumah Gadang yang begitu tinggi ini juga melahirkan berbagai macam tata krama. Setiap orang yang ingin naik ke rumah Gadang harus terlebih dahulu mencuci kakinya.
Bentuk rumah Gadang sendiri dapat diibaratkan seperti bentuk kapal. Kecil di bawah dan besar di atas. Bentuk atapnya mempunyai lengkung ke atas, kurang lebih setengah lingkaran, dan berasal dari daun Rumbio (nipah). Bentuknya menyerupai tanduk kerbau dengan jumlah lengkung empat atau enam, dengan satu lengkungan ke arah depan rumah.
Setiap elemen dari rumah Gadang memiliki makna simbolis tersendiri. Unsur-unsur dari rumah Gadang meliputi:
• Gonjong, struktur atap yang seperti tanduk
• Singkok, dinding segitiga yang terletak di bawah ujung gonjong
• Pereng, rak di bawah singkok
• Anjuang, lantai yang mengambang
• Dindiang ari, dinding pada bagian samping
• Dindiang tapi, dinding pada bagian depan dan belakang
• Papan sakapiang, rak di pinggiran rumah
• Salangko, dinding di ruang bawah rumah
Ketika kita membicarakan tentang arsitektur rumah Gadang, pasti yang akan pertama kali terbayang adalah bentuk atapnya yang runcing. Atap ini disebut sebagai atap gonjong. Ciri khas bentuk atap gonjong ini selalu ada di setiap rumah khas Minangkabau, bahkan pada rumah modern mereka. Dahulunya atap rumah Gadang dibuat dari bahan ijuk yang dapat tahan hingga puluhan tahun. Namun, belakangan atap rumah banyak berganti dengan atap seng.
Bentuk gonjong yang runcing diibaratkan seperti harapan untuk mencapai Tuhan dan dindiang, yang secara tradisional terbuat dari potongan anyaman bambu, melambangkan kekuatan dan utilitas dari masyarakat Minangkabau yang terbentuk ketika tiap individu menjadi bagian masyarakat yang lebih besar dan tidak berdiri sendiri.
Di depan bangunan Rumah Gadang juga didirikan babarapa buah Rangkiang. Rangkiang ini sering disebut dengan istilah lumbuang. Bangunan kecil ini pun dibuat bergonjong seperti arsitektur rumah gadang. Hanya saja desain dibuat sederhana, dengan 4 atau 6 buah tiang, berdinding anyaman bambu, tanpa pintu, dan diatap bergonjong dua. Uniknya, bangunan ini sengaja dibuat tanpa pintu. Sebagai gantinya dibuatkan singkok yang berada di bagian atas salah satu dindingnya. Sehingga untuk menyimpan atau mengambil padi, biasanya digunakan tangga bambu yang disimpan di kolong apabila sudah tidak digunakan lagi.
Di Nagari Paninggahan, jumlah Rumah Gadang ini cukup banyak. Menurut sepengetahuan penulis, jumlahnya puluhan buah. Ada yang masih berdiri kokoh dan banyak juga yang tidak di bisa di manfaatkan lagi karena sudah rusak berat. Rumah Gadang yang rusak berat, ada yang yang diperbaiki dan dibangun kembali oleh kaum rumah gadang tersebut serta ada pula yang dirobohkan dan belum terbangun lagi. Berapakah jumlah yang sedang atau dibangun kembali? Penulis belum mengadakan penelitian tentang itu. Dan berapakah jumlah rumah Gadang yang dirobohkan dan belum dibangun kembali? Yang pasti jumlah lebih dari tiga buah.
Rumah Gadang yang telah diperbaiki atau dbangun kembali oleh kaumnya, konstruksi dan struktukturnya sudah agak berbeda denngan sebelumnya. Kalau tiang Rumah Gadang sebelumnya di buat dari kayu tetapi Rumah Gadang yang sekarang telah dibangun dengan tiang beton. Selain itu, Rumah Gadang sebelumnya yang mempunyai ruang di bawah dipergunakan untuk tempat tinggal, tetapi sekarang telah dimanfaatkan untuk berdagang dalam rangka membantu perekonomian keluarga dari rumah gadang tersebut.
Pada tahun 1980-an, saat penulis hampir setiap pagi bahkan sampai siang hari mengelilingi sebagian besar nagari Paninghahan karena bejojoh (berjualan) goreng dan sampai ke muaro. Penulis menaiki banyak Rumah Gadang yang di huni banyak orang. Kadang-kadang dalam satu Rumah Gadang tersebut terdapat dua orang Kepala Keluarga. Rumah Gadang tersebut masih kuat dan indah.
Suasananya ramai dan menggembirakan. Anak-anak kecil berlariang di ruangan tengah, sedangkan orang tua mereka duduk di bawah jendela sambil melayangkan pandangan keluar yang ditemani segelas kopi panas dan seikat rokok daun anau dan atau tarusan. Siapakah yang bisa membayangkan dan merasakan hal yang demikian? Hanya orang yang pernah berpengalaman hidup di atas rumah gadang dengan berbagai romantikanya. Kenapa di sebut romantika? Karena dalam rumah gadang tersebut bukan kita dengan istri dan anak kita saja yang tinggal. Kita punya mamak rumah dan pembayan. Sedangkan bagi mereka yang lahir dan hidup di dalam rumah mewah, lantai beralaskan keramik dan memiliki kamar pribadi yang begiru luas, maka bagaimana suasana hidup dalam rumah gadang, mereka akan cuek dan acuh saja.
Itu tahun 1980-an. Bagaimanakah dengan kondisi rumah gadang itu sekarang? Berjalanlah penulis tanpa sengaja mengujungi sebagian rumah gadang yang ada di Nagari Paninggahan, sebut sajalah di Padang Palak, terus ke tambak, ke Koto Baru, ke Ganting, Parumahan bawah, ke Tabiang, ke Data, ke Batua, ke ondoh, ke Kampung Tangah, Ke Darek an, ke ribu-ribu, ke Gando, ke Telago dan daerah lainnya. Ternyata cukup memprihatinkan. Rumah Gadang yang berdiri megah, indah dan kuat itu telah usang, tidah berpenghuni lagi, papan dindingnya entah kemana, atapnya sudah berserakan.
Kalaupun berdiri, kita sudah bisa melopati tanpa ada lagi yang menghalangi. Bila penulis melihat dari depan, maka yang ada di belakang rumah gadang itu akan tampak dengan jelas. Berdiri tanpa penghuni. Tidak ada lagi dinding yang mengelilingi. Bajanjang naik, batanggo turun. Jenjang dan tangganya telah hilang. Jangankan ukiran indanya yang tampak, papannya pun entah dipergunakan untuk apa dan siapa.
Ada lagi yang sangat memprihatinkan. Dahulu sebagian kita yang telah berhasil dan menjadi orang sukses sekarang ini hidup dan dihidupkan dalam rumah gadang yang di bangun oleh nenek moyang kita. Entah dari mana uang beliau dapatkan, entah dari mana kayu beliau angkut, entah siapa tukang yang sehebat itu serta dengan tenaga apa belaiu bantingkan tulang untuk mendirikanya. Kita hanya menikmatinya saja. Bagaimanakah kondisinya sekarang? Kalau yang penulis gambaran di atas masih mendinglah karena masih berdiri miskipun tanpa dinding lagi. Tetapi sekarang, Rumah Gadang itu tidak tampak lagi bangkainya. Yang tampak hanyalah tanaman batang pisang dan batang pokat yang menjulang, satu satu ada juga berdiri bangunan, tetapi rumah pribadi. Kenapa hal ini sampai terjadi dan seperti ini? Apakah keturunan dari rumah gadang itu semuanya telah mati? Apakah semua kaumnya adalah orang yang melarat dan tidak punya uang? Atau hati dan matanya telah tertutupi dengan kehidupan pribadi? Tolong jawab saja bagi orang yang masih punya rasa peduli.
Penulis kembali kepada Rumah Gadang kami. Rumah Gadang yang terletak di dusun Padang Palak. Padang Palak memiliki 8 rumah gadang (dahulu). Di antara yang 8 itu, salah satunya adalah rumah gadang penulis. Waktu kecil, penulis pernah tinggal di rumah gadang ini bersama orang tua penulis. Masih dalam ingatan penulis, bahwa yang tinggal di atas rumah gadang ini bukan hanya bapak dan amak penulis tetapi juga ada keluarga kami lainnya, seperti tuo malah, angah bana, angah kinah. Di bawah rumah gadang itu dmanfaatkan oleh etek dan dunsanak untuk mengayang lapik pandang dan tempat kami bermain. Indahkah zaman itu? Suatu hal yang sulit diungkapkan!, keindahan yang sulit untuk dikembalikan dan di ulang lagi.
Tahun berjalan, musim pun berganti. Yang kuat telah berangsung lemah dan rapuh. Yang indah telah memudar. Semula berdiri kokok, akhinya goyoh. Angin kencang datang, rumahpun ikut bergoyang. Tidak kuat berdiri, satu per satu telah berjatuhan. Tahun 1980-an, Rumah Gadang kami roboh.
Apakah roboh sendiri atau ada yang merobohkan? Yang pasti merobohkan bukanlah angku atau anduang kami yang mendirinya dahulu. Yang merobohkannya adalah kami. Kenapa kami robohkan? Karena kwatir mendatang bahaya kalau masih berdiri. Atapnya sudah jatuh satu per satu. Dindingnya telah lepas dengan sendirinya. Andaikan “angin dulu” datang, tidak tertutup kemungkinan, “angin dulu” itulah yang akan merobohkannya. Sebelum “angin dulu” yang merobohkan, maka mamak-mamak kami sepakat untuk melucuti papan dan atapnya. Tonggaknya direbahkan dan di susun dengan rapi. Berapa lama robohnya rumah gadang kami? Sehari? Sebulan? Atau setahun?. Sepengetahuan penulis, rumah gadang kami roboh lebih dari setahun. Adakah pemikiran dan hati dari mamak dan orang tua kami untuk membangunnya kembali? Itulah yang patut kami contoh dan tauladani. Beliau sangat bertanggungjawab tentang rumah gadang dan anak kemenakan beliau.
Penulis memiliki angku dan mamak. Semua beliau tidak ada yang hartawan dan melioner. Namun, angku dan mamak kami masih di pandang dan disegani oleh orang banyak terutama kaluarga kami dalam naungan rumah gadang. Tanpa menyebutkan nama belaiu satu persatu, penulis sebutkan saja di antara beliau, adalah: Angku Pakih Kutar, Mamak H. Agus.B, Mak. H. Ir. Abu Bakar Bulek, Mak. Syarifuddin, Mak. Ramidin (mak Kasek) dan mak. Bermawi (mak enek).
Berkat kegigihan dan kepedulian hati dan pikiran beliau dan rasa kekekompakan mamak rumah, rang sumando serta acik-acik dan uni kami, Alhamdulillah, pada sekitar tahun 1990-an, Rumah Gadang yang telah dirobohkan dan sudah sama datar dengan tanah, beliau tegakkan dan bangun kembali dengan kemampuang yang beliau miliki masing-masing. Yang punya uang, turun dengan uangnya. Yang punya tenaga turun dengan tenaganya. Yang tidak punya uang dan tenaga, turun dengan keceriaan dan kegembiraannya ( itulah anak-anak dan cucu-cucu). Mande-mande dan uni-uni turun dengan nasi dan peminum air nya. Bangun! Roboh? Bangun lagi!.
Akan cukup panjang kalau penulis memaparkan tentang perjalanan Rumah Gadang kami ini, namun akan penulis persingkat saja dengan kutipan beberap percakapan kami di dalam group WA “RUMAH GADANG RAJO MUDO PADANG PALAK”. Insya Allah, pada tulisan sambungannya akan penulis ulas lagi.
Pagi tadi, penulis bersama mak.enek Mawi dan Angah Mariana, kemenakan (can), adik (deni, del) serta urang sumando ( Jon dan In ) mendampingi tukang bekerja, yaltu kakak Darlis. Penulis menyampaikan kepada dunsanak melalui WA Group. Apa yang penulis sampaikan, mendapatkan tanggapan dan respon positif dari kemanakan, uda, adik, dan kakak-kaka. Lainnya. Ada yang menanggpi melalui WA dan ada pula yang menelphon penulis langsung.
Kutipan WA kami:
Ade Candra:Maaf mamak kami.kamanakan sadang sayuik d rantau baru.insyaallah kok lai barasaki insuk.kami akan lanjuik an perjuangan mamak kami������������doa yg bisa kami labihannya mamak.
Darmiwandi: Jaso dan usaho angku2 dan anduang2 awak akan kito lanjutkn basamo2 sasuai dg keadaan awak masiang2..
Era Puspita Sari: Assalamualaikum wr…wb…apo kaba dunsanak kasadonyo… semoga keluarga besar awak Rumah Gadang Padang Palak dalam keadaan sehat dan selalu dalam perlindunganNya…amiin….
Era Puspita Sari: Maaf sabalunnyo ambo agak talambek malaporkan iuran rumah gadang periode Januari 2020.
Era Puspita Sari: Ambi laporkan iuran rumah gadang nan takumpua di bulan Januari 2020 sabanyak Rp. 600.000.
Era Puspita Sari: Total keseluruhan iuran nan takumpua sampai bulan Januari 2020. Era Puspita Sari: “untuk bulan februari kini ko alun ado iuran nan masuk lai…..��”
Era Puspita Sari: Manuruik info dari menek Mawi awak samo amak di kampung, uang 8 juta nan lah dikirim masih kurang untuk mamelok an atok , sahinggo info kini ko ado pinjaman di toko bangunan Mak Mai 3 juta samo 750 rb ka Joni untuk kayu samo bali junjungan….
Era Puspita Sari: Semoga dunsanak kasadonyo dan ambo selalu diberi kesehatan dan kelapangan rejeki sahinggo bisa menyisihkan rejekinya untuk mamelok an rumah gadang awak …
Da Man: Daftar sumbangan untuk kelanjutan pembangunan rumah gadang awak ditransfer ke rek.BRI An.Era Puspita Sari : 1163-01-008214-507
Era Puspita Sari: Alhamdulillah….
Da Man: Isilah ma nan lai ado rasaki
Darmiwandi: Yo era..balambek2 sjo awak..kalau di totalkan mangarajoan sadonya, baik yg bagian lua, bagian dalam. atok ado yang bocorn dindiang ari, plafon, dapua, kamar mandi dan WC, kamar2, dam bagian balakang, dll. mako tarusan juta pitih mgkin habis. sedangkan mamelok an barando sajo, mahabihkan pitih sekian baleh juta. Oleh sebab itu..balambek2 sjo awak, yg paralu bergerak sesuai dgn kemampuan dan keadaan awak masing2..Doa dan harapan..niat baik awak untuk melanjuikan bangkalai.
Era Puspita Sari: Iyo menek….amiin….
+62 823-8624-6289: Alhamdulillah ado rski sgtek����
Da Man: Daftar sumbangan untuk kelanjutan pembangunan rumah gadang awak ditransfer ke rek.BRI An.Era Puspita Sari : 1163-01-008214-507
SUMBANGAN UNTUK BULAN Februari 2020 :
1.Yuherman : 500.000
2.Dandi : 100.000
3. Era Puspita : 50.000
4. Menek Sep : 100.000
5.Axxell dan Atun : 150.000
6.Novizar : 200.000
Catatan :
1.Sumbangan sukarela berapa adanya karena kebersamaan lebih diutamakan
2.Laporan sumbangan akan dilaporkan secara transparant
3.Sumbangan yg tidak bisa ditransfer bisa dikumpulkan di masing2 daerah
4.Motonyo : Dek Basamo Makonyo Bisa
“ MAMBANGKIK BATANG TARANDAM”.
APA YANG DI BANGKIT? DAN SIAPAKAH YANG MEMBANGKIT? UNTUK SIAPAKAH YANG AKAN DI BANGKIT? UNTUK NAMA DAN KEPENTINGAN DIRI PRIBADI KITAKAH? KALAU TIDAK ADA UNTUNGNYA BUAT PRIBADI, APA GUNANYA MEMBANGKITKAN?
RUMAH GADANG ADALAH SIMBOL ORANG MINANGKABAU. SEKARANG SIMBOL ITU SUDAH HAMPIR HABIS DAN PUNAH. SEMENTARA ORANG YANG BERDUIT SANGAT BANYAK TAK TERBILANG JUMLAHNYA. KEMANAKAH BELIAU-BELIAU…???
BAREK, KALAU DI ANSUA AKAN RINGAN.
BANYAK, KALAU DI ANSUA AKAN SEGETEK.
SIAP, KALAU DI MULAI AKAN SALASAI.
Terima kasih dan mohon maaf!.






