Oleh: Darmiwandi.,S.Ag.,MH
Sore tadi, penulis sengaja berhenti sesa’at di Banda Tangah. Sedang berhenti, ada kendaraan yang lalu lalang di samping kiri penulis. Ada yang menyapa penulis dengan kelason mobilnya dan ada pula yang lewat tanpa menghiraukan siapa-siapa. Di antara sekian banyak kendaraan yang lewat, ada satu kendaraan yang mendahului penulis. Mobil yang lewat itu bukan Xenia, bukan Avanza dan tidak pula mobil mewah sekelas Fortuner, Fajero dan Innova tetapi mobil tersebut adalah Tiper biasa.
Penulis melanjutkan perjalanan pulang menuju rumah, ternyata mobil Tiper tadi berhenti di Simpang Padang. Penulis perhatikan mobil yang sedang berhenti itu, tak lama kemudian sopirnya turun dan mengambil batu untuk mengganjal roda mobil bagian belakang. Penulis turun pula dari mobil dan bercengkrama sesaat, penulis bertanya; “ Baa kok baranti dan baganja lo? (kenapa berhenti dan di ganjal pula rodanya?). Sopir itu menjawab; “ Ambo ka barangkek malam, kwatir kalau ambo lanjuik an jalan ka ateh, maluncua ka bawah beko, karano jalan masih buruak” ( Kalau saya lanjutkan ke atas, saya kwatir, kalau mobil mundur dan tidak tertahankan sedangkan jalan masih belum bagus”). Saya mau pergi mengantarkan barang “sertu’” ke pariaman. Lanjut sopir tadi.
Darimana “sertu” itu? Dia menjawab; dari tambang si Hen. Kemudian penulis bertanya lagi, Bagaimana dengan tambang yang di atas? Dia menjawab, “alat berat sedang rusak. Ooh..jawab penulis.
“Tambang yang di atas” yang kami maksud adalah tambang yang ada di ujung lokasi SMA Junjung Sirih. Nama daerahnya, penulis tidak ingat. Tetapi yang populer di sebut masyarakat Nagari Paninggahan adalah “Tambang” saja. Kerena lokasi tersebut adalah lokasi tambang kerikil.
Mungkin ada sebagian dari pembaca yang tidak kenal dengan lokasi tambang yang ada di Nagari Paninggahan. Termasuk sebagian dari masyarakat Paninggahan yang kurang tahu dengan perkembangan Nagari Paninggahan, maka penulis mendiskripsikan jalan menuju tambang kerikil tersebut.
Bila kita menuju Paninggahan dari daerah Solok, di Sumani ada simpang tiga menjelang jembatan Panjang di sumani arah ke Singkarak, kita belok kiri. Kita akan bertemu dengan Nagari Saningbakar dan selanjutnya kita akan berjumpa dengan Nagari Muaro Pingai. Kira-kira 500 meter setelah gerbang perbatasan Nagari Muaro Pingai dengan Nagari Paninggahan, kita akan berjumpa dengan simpang tiga.
Simpang tiga tersebut terkenal dengan sebutan “Simpang Padang”. Kalau kita belok kiri dari simpang Padang tersebut, sampailah kita di Pasar Nagari Paninggahan. Tetapi kita harus menuju jalan yang mendaki di simpang itu untuk menuju Tambang Kerikil.
Kita lanjutkan perjalanan yang mendaki dan masih kurang baik itu, dan sampailah kita di puncak malereng. Di Puncak malereng, ada Kantor Camat Junjung Sirih. Pas di samping pagar Kantor camat, ada jalan belok kiri. Kira-kira 50 meter dari simpang itu, kita akan melihat Kantor Kapolsek Junjung Sirih. Berhadapan Langsung dengan Kantor Polsek itu, ada sebuah pondok kecil, di sanalah penulis siang malam melihat mobil Tiper lalu lalang. Dari pondok yang berada di hadapan Kantor Polsek tersebut menuju jalan Tambang diperkirakan 2 KM lagi, yaitu setelah melewati SMAN Junjung Sirih baru kita sampai di Tambang Kerikir yang terbentang luas.
Seberapa luasnya? Penulis tidak pula bisa memperkirakannya karena penulis bukanlah tukang ukur.
“Tambang Kerikil” bagi penulis, bukan hanya terbayang kerikil yang di tambang, tetapi penulis melihatnya dari segi agama dan ekonomi, terutama ekonomi Islam.
Menurut pandangan tauhid, manusia sebagai pelaku ekonomi hanyalah sekadar pemegang amanah. Oleh sebab itu, manusia harus mengikuti ketentuan Allah dalam segala aktivitasnya, termasuk aktivitas ekonomi di bidang pertambangan kerikil. Ekonomi Islam sebenarnya telah muncul sejak Islam itu dilahirkan. Ekonomi Islam lahir bukanlah sebagai suatu disiplin ilmu tersendiri melainkan bagian integral dari agama Islam. Ketika seseorang memahami tentang ekonomi Islam secara keselruhan, maka ia harus mengerti ekonomi Islam. Sebagai ajaran hidup yang lengkap, Islam memberikan petunjuk terhadap semua aktivitas manusia, termasuk aktivitas tambang.
Tambang adalah (cebakan, parit, lubang di dalam tanah) tempat menggali hasil dari dalam bumi berupa biji logam batu bara, dsb.
Tambang adalah penggalian ke bawah permukaan tanah dengan maksud pengambilan bahan galian yang mempunyai arti ekonomis. Bahan galian itu dapat berupa bijih yang akan menghasilkan berbagai macam logam, atau berbagai macam bahan non logam (belerang, garam, gips, fosfat, asbes, dan lain lain), minyak dan gas bumi, batu bara, batu, pasir, kerikil, dan tanah.
Kegiatan penambangan kerikil di Nagari Paninggahan Kecamatan Junjung Sirih Kabupaten Solok memberikan dampak terhadap tingkat pendapatan masyarakat, hal ini terlihat pada masyarakat pengangguran, bahwa adanya kegiatan penambang kerikil memberikan keuntungan yang sangat besar sehingga bisa mencukupi kebutuhan hidupnya.
Pada dasarnya tingkat kehidupan ekonomi sebahagian masyarakat di Nagri Paninggahan ditentukan oleh kesempatannya memperoleh sumber pendapatan, kesempatan kerja, dan kesempatan berusaha. Kesempatan kerja dan berusaha memberikan dampak positif bagi warga sekitar sehingga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat dan keluarga pekerja pada khususnya.
Terlepas dari dampak negatif dari Tambang kerikil yang ada di Nagari Paninggahan, apakah dampak negatif rusaknya jalan yang dilewati siang malam oleh mobil yang mengangkut kerikil dan menimbulkan debu-debu jalan yang membuat sebagian rumah masyarakat di pinggir jalan menjadi kotor, penulis melihat bahwa Tambang kerikil adalah Sumber Daya Alam (SDA) yang ada di Nagari Paninggahan yang belum tentu di daerah lain.
Penulis juga berandai-andai sebagaimana banyak orang hanya pandai berandai-andai, Andaikan Tambang Kerikil yang terletak di Jorong Gando Nagari Paninggahan ini bisa di kelola dengan baik dan benar serta adanya dukungan dari pemerintah yang penuh, dalam arti memberikan pembinaan, pengawasan apalagi di bantu dengan SDM yang ahli tentang pertambangan tanpa mengutamakan kepentingan pribadi, penulis yakin betul, Tambang Kerikil ini sangat besar manfaatnya kepada masyarakat Nagari Paninggahan, baik untuk sarana dan prasarana serta bisa menjadi motivator bagi anak Nagari Paninggahan untuk memiliki ilmu di bidang pertambangan.
8Penulis sering ngobrol dengan pemilik Tambang Kerikil, Beliau itu adalah teman seangkatan waktu SD dulu. Beberapa tahun yang lewat, beliau di angkat menjadi penghulu/Datuk. Nama dan Gelar beliau adalah B. Dt. Majo Endah. Beliau menuturkan, cukup banyak sumbangan yang telah beliau berikan kepada Nagari Paninggahan baik moril maupun materil terutama bantuan tanah dan kerikil kepada masyarakat nagari Paninggahan, namun..seolah-olah apa yang telah beliau berikan itu, sebagian masyarakat menutup mata. Manfaat dari tambang kerikil juga telah banyak membantu perekonomian masyarakat. Biaya hidup keseharian termasuk biaya sekolah anak-anak dari pekerja tambang. Penulis hanya bisa menerima dan mendengar apa yang beliau sampaikan. Sesekali tentu penulis tanggapi juga.
Tambang Kerikil adalah Sumber Daya Alam( SDA) salah satu karunia Allah kepada Nagari Paninggahan. Mau dan mampukah SDM nagari Paninggahan yang begitu banyak untuk mengolah dan mengelolanya dengan baik dan benar sehingga bermanfaat bagi umat???. Sama-sama kita tunggu…!!! (***)






