Oleh: Darmiwandi, S.Ag. MH.
“ Mukernas PKP ( Antara Cinta, Cita dan Realita)
“Ayah…dima ayah yah?.
Ayah di rumah nak. Japuik adik yah, uni kia pai ka Padang Panjang.
Jadih nak. Ayah barangkek lai. Adik naik ojek malakik ka simpang kantua ayah dih? Kalau lai ado ojek dik.
Jadi yah”
Itulah komunikasi singkat penulis dengan anak gadis bungsu pada siang hari di hari Sabtu tanggal 16 Juli 2022. Si bungsu sekolah di MAN 2 Koto Baru Solok. Dimana dia pulang ke rumah setiap hari. Karena menempuh jarak yang cukup jauh, maka kami harus berangkat sebelum jam 6 pagi agar dia tidak terlambat masuk lokal. Pergi sama, dan pulang juga sama kecuali bila ibunya pergi ke solok dan sama pulang dengan ibunya.
Tidak menunggu 5 minit setelah kami telphonan, penulis langsung menuju Solok menjemput si bungsu. Pintu rumah ditutup, pintu si putih dibuka. Kunci masuk, mesin berbunyi, kayu bulat diputar dan rodapun langsung bergerak ke belakang karena mundur sambal keluar dari pagar. Kepala si putih menghadap ke arah selatan. Gas diinjak, rodapun langsung menjalankan tugasnya.
Alhamdulillah, dalam waktu yang tidak lebih dari 45 minit, penulis telah melihat si bungsu berdiri di tepi jalan. Pintu dibukanya dan dia langsung naik. Apakah kami langsung pulang?. Tidak. Ternyata ibunya menitipkan pesan untuk membeli nenas di depan kampus UMMY Solok.
Si putih diarahkan dulu ke pasar Solok untuk mencari dan membeli nenas sesuai dengan pesanan. Setelah kami cari lokasi yang tunjukan, ternyata orang tidak ada menjual nenas. Gas ditegas pelan-pelan juga sambal melihat orang menjual nenas. Biasanya di Tanah Garam ada orang yang menjualnya, namun tidak juga kelihatan oleh kami. Apakah orangnya tidak berjualan atau kami yang tidak melihatnya? Allaahu A’lam.
Perjalanan menuju pulang terus kami lanjutkan. Sampailah di pasar Sumani sambal melihat orang menjual nenas. Awalnya kami tidak melihatnya tetapi di tepi jalan arah ke Paninggahan, tampak orang menjual nenas. Penulis turun dan membeli nenas tersebut sebanyak 6 buah. Sebenarnya yang dipesan 10 buah. Karena ada 8 dan 2 dari 8 itu busuk, maka penulis beli saja 6. Nenas naik dan penulispun membawanya.
Dari sekian banyak nama simpang di Nagari Paninggahan, ada 1 simpang yang lazim disebut dengan simpang Padang. Apakah simpang itu benar simpang jalan menuju Kota Padang? Sampai saat ini masih menjadi wacana sejak puluhan tahun yang lalu. Entah kapan akan menjadi kenyataannya, penulis menanggapinya antara pesimis dan optomis. Perjalan dari Sumani menuju Paninggahan, sampailah kami di simpang Padang itu sekitan jam 4.
Sampai di simpang Padang, kami tidak langsung ke rumah, tetapi menuju lokasi acara Mukernas PKP di Lapangan Bola Kaki Gando. Beberapa meter sampai di lapangan tersebut, mobil kami tidak boleh masuk melalui jalan di tepi tanah lapang bola kaki itu. Dengan penuh pengertian, penulis memutar mobil kembali menuju Simpang Padang untuk menuju jalan ke rumah.
Sekitar pukul 5, penulis pergi menuju lapangan Gando sendirian dengan Vario lama karena si bungsu tidak mau ikut. Diam au istirahat dulu. Tidak lebih dari 7 minit, penulis telah sampai di tepi lapangan Gando. Vario ditepikan dan dihentikan. Melihat suasana di jalan tepi lapangan apalagi yang ada di dalam lapangan, penulis cukup terkejut karena begitu banyak atau ramainya orang. Kalau puluhan, mungkin masih bisa dihitung tetapi sudah bilangan ratusan.
Bukan hanya orang, tetapi beberapa buah tenda telah tegak dengan kokoh dan indahnya. Di sebelah selatan berdiri beberapa tenda buat stand untuk masyarakat yang menjual dan mempromosikan hasil karya dan kerjanya. Begitu pula di sebelah Utara, juga tegak bebarapa buah tenda untuk masyarakat berjualan. Ada yang menjual kain, ada pula yang menjual makanan, minuman dan lain sebagainya. Sepertinya lapangan bola kaki sama dengan pasar murah. Di tengah-tengah lapangan berdiri beberapa tenda besar yang sangat banyak kursi dan meja di bawahnya. Selain kiri kanan dan tengah lapangan, di sebelah barat berdiri kokoh dan megah sebuah panggung yang besar. Di atas panggung itulah kelihatan dan kedengaran orang sedang menyanyi menghibur pengunjung yang jumlahnya ratus orang. Saat melihat dan mendengar suasana seperti itu, penulis masih berdiri di tepi lapangan sambil memainkan HP untuk memoto dan memvediokan suasana yang sangat meriah.
Mendengar pemandu acara menyebut dan memanggil salah seorang penyanyi terkenal dari Sumatera Barat, yakni YONA IRMA, maka penulis turun dan mendekati panggung dengan perlahan. Penulis ingin melihat seorang penyanyi ini karena selama ini hanya melihat dan mendengarnya di Youtube.
Yona Irma diminta untuk menyanyikan lagu yang berjudul “Arek-Arek Lungga”. Bukan terlalu memuji, suaranya memang luar biasa tetapi style nya biasa-biasa saja. Apa dan bagaimana yang penulis lihat di Youtube, sama dengan yang dilihat langsung. Penyanyi Sumbar yang terkenal namun penampilan sederhana. Bersahaja dan bersahabat dengan masyarakat banyak.
Apakah hanya Yona Irma penyanyi yang dihadirkan oleh panitia acara? Tidak. Kalau tidak salah, ada 6 orang dan mungkin saja lebih yang diundang. Penyanyi-penyanyi terkenal dan luar biasa juga. Masalahnya hanya penulis yang tidak kenal dengan mereka, sehingga penulis lupa dengan nama mereka kecuali Kalek dan Ipank.
Setelah Yona Irma menyanyi, penulis kembali lagi ke tempat semula. Tidak lama kemudian, penulis pulang ke rumah.
Dalam perjalanan menuju tempat berdiri semula, penulis melihat dan memperhatikan masyarakat yang sangat banyak. Masyarakat yang hadir bukan hanya generasi muda tetapi para orang tua dan tokoh-tokoh masyarakat tidak ketinggalan pula.
Satu hal yang menjadi perhatian dan catatan penting bagi penulis adalah Tidak adanya masyarakat khususnya generasi muda apalagi yang tua-tua baik laki-laki maupun perempuan yang BERJOGET DAN BERGOYANG YANG BERLEBIHAN sebagaimana yang sering kita lihat. Apakah tidak ada yang berjoget? Ada, tetapi biasa-biasa saja. Artinya TIDAK ADA YANG TIDAK ENAK DIPANDANG MATA. Masyarakat sangat sopan miskipun dipancing ataupun diajak berjoget oleh penyanyi. Sebagaimana ungkapan mengatakan; TIDAK ADA YANG SUMBANG SALAH dalam suasana hiburan yang sangat menghibur di sore itu.
Bagaimanakah di waktu malam harinya?. Pada malam itu penulis juga hadir dalam acara pembukaan dan hiburan sampai selesai.
Bersambung……………..






